Cerpen Faisal Oddang (Kompas, 16 Oktober 2016)

sebelum-dan-setelah-perang-sebelum-dan-setelah-kau-pergi-ilustrasi-mangu-putra-kompas
Sebelum dan Setelah Perang, Sebelum dan Setelah Kau Pergi ilustrasi Mangu Putra/Kompas

PERANG yang baru saja selesai telah mengubah banyak hal kecuali cinta kita, Arung. Saya harus pergi. Makassar setelah Ventje Sumual menyerah dan Permesta dibubarkan, bukan lagi Makassar yang membuat leluhur saya datang sebagai pedagang kulit penyu, ratusan tahun yang lalu. Nyawa saya terancam, kau tahu itu. Dan cinta? Cinta tidak pernah cukup dijadikan alasan untuk bertahan. Karena itu saya memilih pergi. Ketika surat ini kau baca, barangkali saya sudah tiba di Tiongkok. Tidak usah khawatir, ada Hanafi yang membantu kepulangan saya. Surat ini saya tulis ketika dia tiba-tiba menghubungi untuk menjemput, demi keamanan, katanya. Aku meremas tanpa menyelesaikan surat itu, setelah menghela napas panjang, setelah gagal menahan air mata yang tiba-tiba jatuh. Dan, tentu saja, setelah menyesali semuanya.

***

Dia memperkenalkan diri sebagai Malia. Kutahu bukan nama aslinya bahkan sebelum dia mengakui.

“Arung,” kataku meraih tangannya siang itu di bekas kantor harian Indonesia Timur, tempatku pernah bekerja sebelum berhenti terbit awal 1950, lima puluh tahun sebelumnya. Ia memperkenalkan diri sekaligus mengatakan maksudnya untuk mencari data mengenai koran-koran yang didirikan komunitas Tionghoa di Makassar.

“Aku tidak bisa membantu banyak. Dan sini, Nona lihat sendiri, tidak ada yang tersisa.”

“Tuan Huang Sung Chie tidak mungkin salah mengusulkan orang,” tepisnya.

“Aku hanya wartawan biasa, Nona. Mantan wartawan, tepatnya.”

Matanya jelas tidak memercayai mataku sekaligus apa yang aku ucapkan waktu itu. Huang Sung Chie adalah pendiri beberapa koran Tionghoa di Makassar—dan aku bertahun-tahun menjadi bawahannya. Bahkan sejak ia menjabat pimpinan redaksi Pemberita Makassar hingga pada 1947 menerbitkan koran baru bernama Neraga Baru serta Majalah Timur Raja yang menjadi cikal-bakal harian Indonesia Timur.

“Saya tidak pernah salah memercayai orang, dan saya memercayai Bung.”

“Kata orang bijak, selalu ada yang pertama untuk semua hal, Nona.”

“Yang jelas, Bung harus tahu, saya tidak akan salah kali ini.”