Rinjani: Pada Suatu Hari yang Malas


Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 16 Oktober 2016)

rinjani-pada-suatu-hari-yang-malas-ilustrasi-hery-purnomo-suara-merdeka

Rinjani Pada Suatu Hari yang Malas ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

Pada masa tuanya waktu seakan berjalan malas. Detak jam ikut-ikutan lesu memutar momentum di tubuh waktu. Bahkan rasa lambat diperparah dengan suasana ruangan tak terawat. Terlalu banyak debu yang menelingkupi perabotan rumah; menyaput ganas guci-guci mungil, piring dan gelas hias, patung-patung kurcaci yang terbuat dari kaca; yang membeku di etalase tua. Apabila kau melirik ke arah timur ruangan 5×6 itu, terdapat kalender usang yang telah lima tahun tak diganti.

Selain pemadangan muram itu, ada satu ruangan yang masih terlihat hidup: serambi rumah. Reva memiliki serambi yang tak terlalu besar. Hanya berukuran 2×3. Dan terdapat bunga melati, sedap malam, serta bonsai. Ruangan itu sedikit redup karena terhalangi rindang pohon akasia berusia 30 tahun. Di serambi, Reva sering duduk menghabiskan waktunya di kursi goyang yang terbuat dari rotan. Kursi yang mengelurkan decit lembut dan menghadirkan kantuk. Di sana Reva duduk menekur; menerawang sesuatu dengan sepasang mata yang mirip gundu.

Sembari duduk malas, Reva biasanya memeluk foto berwarna kekuningan. Foto yang tidak kalah tua seperti dirinya. Di dalam bingkai foto, terdapat sosok suaminya dengan setangkup senyum. Foto itu berlatarkan gunung dan kawah berwarna biru. Foto itu diambil di atas ketinggian 3.726 mpl, ketika mereka berada di Gunung Rinjani merayakan bulan madu. Sudah terlampau lama untuk diingat. Bahkan otak tuanya sedikit kabur mengawang-awang apa yang terjadi. Reva mendesah seraya melirik foto itu. Tersenyum. Garis-garis kendur wajahnya menegang; menampilkan sisa kecantikan di masa muda.

“Kalau kau masih hidup, Tarno,” katanya. “Hari ini kita seharusnya kembali naik ke Gunung Rinjani merayakan pernikahan yang ke-30.”

Suaminya memang sudah meninggal. 27 tahun lalu. Dua tahun setelah menikah dan dikaruniai dua anak kembar. Tarno meninggal dalam kecelakaan pesawat saat pulang menyelesaikan tugasnya di Humbrug. Kematian yang mendadak. Bahkan sering Reva merasa kalau Tarno belum benar-benar mati. Tapi sudahlah. Pada cerita pendek ini penulis tidak akan berkisah tentang hal itu. Cerita ini akan mengisahkan tentang janji Tarno untuk merayakan hari pernikahannya yang ke-30 di Gunung Rinjani. Karena selain kenangan pahit atas kematian itu, Tarno juga meninggalkan janji kepada Reva kalau: 30 tahun ke depan apabila Tarno masih hidup dan sehat; ia ingin naik ke Gunung Rinjani bersama. Kenyataannya sebaliknya. Janji tak dapat ditepati.

Mengingat janji itu, ada yang bekelindan di kepala Reva: naik ke Gunung Rinjani sendiri. Tetapi itu seperti pepatah: Si pungguk merindukan bulan. Sebuah angan-angan muskil yang sulit dilakukan. Kini Reva telah berusia di ujung 50-an. Bila ia naik, bisa saja udara 12 ̊C menghantam saraf-sarafnya; mengutuknya menjadi seekor anak kucing tak berdaya. Bisa juga tulang-tulangnya rontok saat mendaki. Keinginan itu semakin tak dapat Reva lakukan karena kedua anaknya tak mengijinkannya. Dunia memang bukan diciptakan untuk orang-orang tua sepertinya. Akhirnya Reva berpuas diri duduk di serambi membayangkan kenangan manis yang pernah terjadi.

***

Bulan Juli hingga Agustus cukup aneh apabila hujan turun. Kemarau seharusnya menguasai musim. Tapi hari itu ketika matahari sudah mulai tua dan naik sekitar 60 derajat di timur; mendung tiba-tiba menyingkap. Awan putih serupa gula-gula kapas yang dahulu pernah Tarno belikan untuknya di distrik Mitte, Berlin, berubah menjadi tumpukan asap hitam sisa perang di kota Aleppo: Suriah. Udara menjadi lembab. Desir angin merontokan beberapa helai daun akasia yang telah menguning. Juga beberapa kelopak bunga sedap malam dan sepatu. Tubuh Reva yang tua bergidik ketika desir angin menubruknya. Reva sadar: Dirinya sudah benar-benar tua. Padahal dahulu sekacau apapun cuaca, bisa dihadapi. Terbukti di masa muda, sebelum menikah, Reva telah menaklukan beberapa gunung. Seperti Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 mpl; Gunung Kerinci yang tingginya sampai 3.805 mpl. Semua bisa Reva lawan.

Tapi kini kenyataannya ia renta dan menjadi mengecewakan. Reva akhirnya mengalah. Ia tinggalkan kursi malasnya. Reva tidak mau menjadi sumber beban bagi anak-anaknya. Kini Reva memang hidup sendiri. Dua anaknya telah menikah dan ikut dengan suami masing-masing. Beberapa kali Reva pernah diajak untuk hidup bersama. Reva menolak. Ia tidak mau menjadi beban. Ia ingin bebas. Seperti di kala muda. Ia ingin menjadi seorang wanita kuat yang dapat menaklukan apa saja.

Limbung Reva melangkah menuju kamar; melewati perabotan, hiasan-hiasan, dan kalender yang semuanya telah tua. Sejenak Reva tercenung melihat foto kecil di etalase lemari. Ia melihat foto dirinya dengan Tarno sebelum menikah. Senyum simpul Reva kembali tertarik. Dadanya berat: sesaak. Ingatannya meloncot seperti seekor anak kelinci yang bermainan di padang rumput; mengais-ngais kenangan. Reva memejam mata; mencoba membayangkan hal-hal yang terjadi di masa itu. Latar foto itu berada di padang rumput kecoklatan. Jauh di belakang padang itu, terdapat danau biru. Foto itu mungkin diambil 35 tahun lalu di Sagara Anakan yang tereletak di bawah kaki Gunung Rinjani. Reva masih ingat di padang rumput luas itulah pertama kali bertemu Tarno. Ketika itu, ia bersama lima kawannya, termasuk Tarno yang baru dikenal, menaiki Gunung Rinjani untuk pertama. Karena belum mengenal medan, Reva selalu sial. Misal ketika ia melewati hutan, beberapa kali kulitnya terkena bulu-bulu beracun jelateng. Bahkan ia mengalami montain sick. Tarnolah yang dengan sabar membantunya.

“Aku pernah mengalami hal semacam itu, kata Tarno. Kau percaya kalau alam memiliki kekuatan dan bahasa?”

Reva yang letih tak menggubris perkataan Tarno. Reva terlalu sibuk memikirkan hal-hal tak penting. Pikiran-pikiran negatif yang membuat kondisinya memburuk. Selain itu Reva merasa tidak enak karena hampir separuh perjalanan merepotkan Tarno. Memang sejak melewati pos pertama di Desa Senaru, Reva sudah merasakan tubuhnya kurang baik. Karena memaksakan, akhirnya tumbang. Tapi tumbangnya Reva tidak dianggap sebagai kekalahan oleh Tarno. Tarno berulangkali menyatakan: alam memiliki kekuatan khusus; kekuatan yang bisa menjadi energi positif pada tubuh.

“Alam memiliki energi tak langsung yang merasuki pikiran,” kata Tarno. “Semakin kita berpikir buruk dan menolak energi alam, bertambah tidak teratur energi di tubuh kita. Karena ketidakteraturan inilah, kita lemas atau mual. Ahh, kau pasti lebih tahu dari aku!”

Memang Reva telah banyak menadaki gunung. Tetapi setiap pendakian gunung yang dipikirkan oleh Reva—mungkin sama seperti banyak orang—hanya satu tujuan: lekas sampai puncak. Lalu membuktikan kepada kawan-kawan yang mayoritas pria, kalau ia dapat menaklukkan medan berat. Reva tidak pernah memahami soal energi alam. Setelah mendengarkan ucapan Tarno, Reva mencoba untuk tidak melawan kekuatan alam. Reva mencoba untuk menyeimbangkan langkahnya dengan hembusan napas, tarikan angin, dan gugur daun-daun bayur dan beringin. Rasa mual dan mulas menghilang. Sesampainya di lembah Sagara Anakan, mereka berfoto berdua dengan latar danau serta lembah rumput di dalam foto itu. Kemudian sejak saat itulah, hubungan khusus Reva dan Tarno terjalin. Hingga mereka menikah dan berbulan madu di Rinjani.

Sambil meremas jari-jari keriputnya, Reva mengingat semua itu. Bahkan ketika Reva menyadari kalau cincin kawin yang dikenakannya tidak pernah lepas dari jarinya: menyingsingkan rasa sedih. Banyak sekali kenangan yang tertuang di tempat itu. Tidak hanya kenangan manis. Reva memiliki kenangan buruk: ketika Tarno menghilangkan cincin nikahnya di danau Sagara Anakan. Tarno tidak sengaja mejatuhkan cincinnya ke danau sedalam 230 m itu. Limbung akhirnya Reva meninggalkan ruangan yang murung itu. Reva melenggang menuju kamar.

***

Hujan turun deras seperti yang dipikirkan Reva. Di antara derai hujan, Reva dibekap kenangan puluhan tahun di Rinjani. Reva ingin menitikan air mata, serta meminta maaf kepada Tarno tidak bisa datang ke sana. Dan tempat saat kesedihan benar-benar memuncak, seorang mengetuk pintu rumah Reva. Air mata tidak jadi Reva tumpahkan. Reva menghampiri ruang tengah. Di depan pintu, berdiri seorang wanita cantik. Wanita itu bersama seorang bocah kecil yang terlihat tampan. Reva menyambut bingung: “Anda siapa?”

“Ahh, kau tidak mengenalku, Reva?” Sahut wanita itu. “Aku Rinjani. Gunung yang pernah kau daki puluhan tahun lalu. Ini anakku, Sagara. Kau masih ingatkan?”

Reva merasa bertemu dua orang sinting; merusak hari tuanya dan hari jadi pernikahannya. Tetapi ketika seorang bocah bernama Sagara menunjukan cincin Tarno yang hilang, Reva terperanjat.

“Dahulu Om Tarno menjatuhkannya, jadi aku menyimpannya. Puluhan tahun aku menunggu, tapi dia tak datang.” Setelah memberikan cincin itu kepada Reva, anak itu memberikan sekuntum bunga anggrek.

“Selamat hari jadi pernikahan, Tante.”

Reva masih tidak percaya dengan yang terjadi. Reva menganggap semua ini hanya mimpi. Tetapi sosok cantik bernama Rinjani menambahkan.

“Ahh, mungkin kau bingung. Tapi memang beberapa kali kami mengunjungi rumah orang-orang yang dahulu pernah mendaki. Kami berkunjung ingin menemui mereka; mengetahui kabarnya.”

“Kau bohong!”

“Kau boleh menganggapnya begitu. Terserah. Kami hanya ingin merayakan hari jadi pernikahamu,” kata Rinjani. “Soal bagaimana keadaan tempat itu sekarang: Tentu tempat itu kosong karena kami tinggalkan. Tapi karena kami berhasil menghentikan waktu di seluruh pulau Lombok, kau tidak perlu risau.”

Rinjani dan Segara mengisahkan berbagai hal yang terjadi selama ia tidak ke sana. “Sebenarnya rencana untuk mendatangimu sudah terpikir 30 tahun lalu, ketika kau dan Tarno ingin mengunjungi. Aku tahu kalian pasti sudah tua, dan di antara kalian sudah ada yang mati. Maka kini giliran kami yang mendatangimu.”

***

Paginya Reva mendapat teguran kerasa dari anak-anaknya karena tidur di ruang tamu. Reva mencoba menjelaskan kemarin dirinya merayakan hari jadi pernikahan bersama sosok gunung serta danau yang berubah menjadi manusia. Dua anaknya menyatakan apa yang dialami Reva sebagai penyakit tua: “Ibu hanya kelelahan dan terlalu sedih belum bisa menerima kematian ayah.” Reva tidak membantah. Reva malah berpikir: Apakah segala kejadian nyata? Tapi ketika menemukan cicin Tarno yang hilang di saku bajunya, Reva tersenyum-senyum sendiri. (92)

 

 

Risda Nur Widia. Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Bukunya kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015). Cerpenya telah tersiar di berbagai media.

 

2 Responses

  1. temanya ap????

    Like

  2. menceritakan kenangan tanpa masalah yang greget hanya akan membuat cerita jadi membahas hal itu-itu saja, itu-itu lagi. interaksi tokoh hanya pada benda-benda semakin membuat suasana cerita terasa monoton. bahkan sedikit aneh ketika anaknya baru datang keesokan paginya, padahal hari pernikahan Reva dan Tarno sudah lewat. pun dengan klimaks dan endingnya terlalu biasa untuk cerita yang tidak neko-neko. namun cukup menarik membahas tentang pendaki gunung ketika mereka mencapai usia senja. ada prediksi dan imajinasi yang ditawarkan pada pembaca. asek!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: