Cerpen Yetti A.KA (Jawa Pos, 09 Oktober 2016)

ia-terus-mengguntingi-ujung-jarinya-ilustrasi-bagus-jawa-pos
Ia Terus Mengguntingi Ujung Jarinya ilustrasi Bagus/Jawa Pos

SEINGATKU, malam ketika Nona Kecil membakar dirinya di meja makan, Kiral terbahak sambil mengguntingi ujung jari-jarinya satu per satu. Aku tidak mungkin lupa jeritan Nona Kecil di antara kobaran api yang menyambar gaun dan dengan cepat bergerak ke ujung rambutnya yang halus—khas rambut anak-anak—dan panjang. Bagaimanapun ia seorang anak kecil yang tidak tahu persis apa yang ia lakukan. Ia hanya gegabah melampiaskan rasa tertekannya dan bermain-main dengan sebatang lilin yang tengah menyala. Namun, ketidakwarasan benar-benar tengah menyelimuti keluarga ini. Di saat Nona Kecil terus menjerit, Kiral malah mencari-cari potongan jari yang jatuh di dekat kakinya. Beruntung, seseorang menerobos pintu dan mengambil tubuh Nona Kecil yang menggeliat-geliat dan mulai menguarkan aroma daging panggang.

Sudah puluhan tahun lamanya dan aku tetap saja bertanya-tanya siapa orang yang mengambil tubuh Nona Kecil itu dan di mana mereka sekarang berada? Aku sama sekali tidak bisa melihat wajahnya ketika itu. Seolah wajah itu ditutupi cahaya pelindung dan tidak satu mata pun bisa mengintip ke dalamnya.

***

KIRAL meyakini kalau orang yang menerobos pintu, lalu membawa pergi Nona Kecil, adalah seorang malaikat—atau kemungkinan lainnya iblis. Dengan keyakinannya itu ia semakin sering gemetar dan itu membuatnya tambah senang mengguntingi ujung jari-jarinya. Ia acap bergumam, “Ose, awas kau! Ose, awas kau!” seolah Nona Kecil masih berlari-lari di antara gerabah-gerabah besar di ruang tamu atau melempari genteng tetangga untuk sekadar menghilangkan pikirannya tentang apa yang telah terjadi dalam rumahnya pada malam itu. Ia menghidupkan Nona Kecil di mana-mana; di kamarnya, dapur, ruang tengah, kamar mandi. Ia ketakutan tiap berpikir Nona Kecil sudah tidak ada dan cepat-cepat berkata, “Ose, cepatlah keluar!”, “Di mana kau, Ose?”, “Aku berjanji akan memukulmu kalau kau sengaja main-main, Ose!”

Ose –Osean—tentu saja nama dari Nona Kecil. Aku menulis nama itu di dinding khusus tempat mencatat nama-nama dalam keluarga ini saat bayi Ose masih memiliki kulit putih dan lembut hingga aku mengira ia tumpukan mentega putih dan aku tidak berani menyentuhnya untuk sekian lama karena aku takut ia segera lumer. Begitu tumbuh agak besar, Nona Kecil menyukai manisan buah-buahan secara gila-gilaan.

Aku ingat mulutnya berdecap-decap tiap mencuri potongan-potongan manisan apel atau salak atau jambu biji dari wadah penyimpanan dan aku mengawasinya dari jarak tidak lebih dari dua meter. Ia mengingatkan aku kepada Kiral kecil yang suka mencuri buah labu di gudang untuk diukir menjadi sebuah boneka, padahal saat itu musim sulit, dan itu pertama kali ia mendapat hukuman berat, yakni ujung-ujung jarinya digunting satu per satu oleh ibunya saat boneka itu ditemukan membusuk di tempat tidurnya tepat ketika semua orang di rumah itu mengalami kelaparan hebat.

Kejadian itu sudah lama sekali berlalu. Kelaparan serupa tidak pernah lagi terjadi di waktu-waktu selanjutnya dan ibunya sembuh dari ketidakwarasannya, tapi Kiral seolah masih tetap berada di sana. Ia yang tidak berhenti mencuri labu. Ujung-ujung jarinya yang selalu dipotong oleh ibunya. Ia kerap berteriak-teriak dalam mimpinya dan kadang melolong meratapi jari-jarinya yang gundul.

Aku tidak pernah berpikir meninggalkan Kiral dengan segala kemelut hidupnya itu, meski mudah saja jika aku mau melakukannya. Membayangkan kemungkinan aku meninggalkannya malah membuatku terluka. Bagiku, Kiral segalanya. Baik dulu maupun sekarang. Aku mengenang dengan baik seluruh baunya; bau bayi, bau anak-anak, bau remaja, dan bau ketika ia menjadi seorang ibu. Bau-bau yang tidak pernah aku miliki, sebab aku hanya punya satu bau yang aku sendiri tidak mengenalnya, tapi seseorang berkata kepadaku, baumu busuk, dan aku mengingatnya baik-baik biar aku tidak pernah lupa dan tidak beranjak dari tempat seharusnya aku berada.

Karena itu pula, setelah malam Nona Kecil membakar dirinya itu, aku tidak pergi, melainkan tetap berada di sini bersama bau Kiral yang sudah berubah lagi, bersama bau Nona Kecil yang kadang menyergap di saat tidak terduga hingga aku merasa ia memang tak ke mana-mana dan ada di sini, di sebuah sudut, di tempat gelap, di balik lemari, atau di mana pun tempat ia merasa bisa mengamankan manisan buah-buahan curiannya dan memakannya de ngan tenang.

Kadang aku menangis sendiri jika membayangkan Nona Kecil melakukan semua itu. Kadang aku tidak tahan bila berhadapan dengan kenyataan yang sesungguhnya bahwa pada malam itu telah terjadi ketegangan di meja makan; bahwa Kiral mengintrogasi Nona Kecil dan memaksanya untuk mengakui telah mencuri dan merusak manisan apel yang disiapkan untuk seorang pemesan; bahwa Nona Kecil sama sekali tidak mengelak, hanya saja ia tidak mau membuka mulutnya untuk menjawab “ya” atas tiap tuduhan yang ditimpakan kepadanya; bahwa Kiral menjadi sangat marah dan dengan kalap ia menyeret kursi Nona Kecil ke dekatnya lalu Kiral mengambil gunting di lemari dan kembali lagi dengan tergesa dan di hadapan Nona Kecil ia memotong satu demi satu ujung jarinya karena ia tidak bisa menahan gejolak dirinya tiap kali menyadari Nona Kecil melakukan pencurian, sebab itu selalu mengingatkannya pada hari saat jari-jarinya diguntingi oleh ibunya.

“Kau harus dihukum, Ose!” katanya dan, sekali lagi kukatakan, Kiral memang tidak mengguntingi ujung jari Nona Kecil, melainkan miliknya sendiri, tapi itu membuat Nona Kecil begitu terguncang, terlebih ketika darah mengalir di jari-jari Kiral yang sudah gundul dan perempuan itu berkata, “Kau mau melakukannya untukku, Ose? Ayo, guntingi ujung-ujung jariku!” Nona Kecil seketika gemetaran dan mengambil sebatang lilin di depannya—sebenarnya aku tak tahu apa Nona Kecil memang sengaja ingin membakar dirinya atau tidak—dan membiarkan api membakar ujung gaunnya.

“Kau harus dihukum, Ose. Kau harus dihukum!” teriak Kiral sebelum ia terbahak pendek dan semakin sibuk dengan jari-jarinya yang merah dan basah.

***

KEYAKINAN Kiral yang lain dan ini terjadi saat-saat ia sadar kalau Nona Kecil memang tidak lagi bersamanya adalah satu waktu mereka pasti akan bersama kembali. Karena itu pula Kiral tidak mengubah apa pun. Ia membiarkan semua sebagaimana adanya. Kamar Nona Kecil tetap dibiarkan persis seperti sebelum ia diambil seseorang itu. Setiap pagi Kiral merapikan tempat tidur Nona Kecil. Mengganti sprai dan sarung ban tal yang berdebu. Mencuci tirai-tirai satu bulan sekali.

Menyusun ulang boneka-boneka dan membersihkan jaring laba-laba.

Ia juga mengisi jadwal-jadwal harian Nona Kecil. Kiral tahu pukul berapa Nona Kecil makan setangkup roti di pagi hari, tahu kapan waktunya Nona Kecil mandi pagi dan sore, kapan Nona Kecil pergi ke sekolah dan akan pulang pukul berapa, kapan latihan ini dan itu, butuh ini dan itu, harus ini dan itu. Tiap mendengar sebuah suara dari benda dalam rumahnya, Kiral akan berkata sedikit keras, “Kau pulang, Ose?” Jika tidak ada jawaban, maka Kiral mulai panik dan pergi ke lemari untuk mengambil gunting. Tiap memotong satu ujung jari, ia berkata, “Lihat ini, Ose! Ini yang kau inginkan, bukan? Kau ingin aku memotongi semua jariku. Lihatlah, Ose!”

Namun begitu, ada waktu Kiral tahu persis kalau Nona Kecil tidak akan pernah kembali. Saat-saat begitu, Kiral terlihat lemah, tidak mampu marah, tidak mampu menggerakkan tubuhnya, dan ia hanya terisak-isak karena tidak bisa menahan rasa sunyi. Saat-saat itu rasanya aku ingin sekali memeluknya. Berada lebih dekat lagi dengannya. Hanya saja, aku selalu tidak bisa melangkah lebih dekat kepadanya begitu aku ingat bauku: bau yang busuk.

***

Nona Kecil memang tidak pernah kembali sampai hari ini. Begitu juga orang yang membawanya, tak pernah muncul untuk sekadar memberi tahu siapa dirinya dan di mana keberadaan Nona Kecil. Semua tetap menjadi misteri dan Kiral tidak terlalu ingin lagi memecahkannya. Begitu juga denganku. Perhatianku sepenuhnya sudah tertuju kepada Kiral. Aku mencermati tubuhnya yang perlahan menjadi bungkuk di tahun-tahun kesendiriannya. Bahu kirinya lebih tinggi ketimbang bahu kanan yang entah sejak kapan menjadi mirip bonggol batang pisang dan itu seperti terjadi begitu saja dalam satu malam.

Rambutnya dengan cepat menjadi putih, lebih sering tergerai berantakan. Dua matanya seperti api kecil yang nyaris padam dan lebih banyak terpejam, bahkan saat duduk menghadap meja makan sambil mengguntingi ujung-ujung jarinya dan kadang mengoceh, “Ose, tetap duduk di sana!”, “Ose, jangan bergerak sedikit pun!”, “Kau menangis, Ose?”, “Diamlah, Ose!”

Dan malam ini aku menemukan Kiral tertidur di kursinya. Rambutnya makin putih dan sebagian menutupi wajah. Tak ada yang aneh dengannya. Semua seperti yang kukenal. Paling tidak, itu yang kupikirkan sebelum aku melihat seluruh jari-jarinya hilang.

“Kenapa kau terus melakukan ini?” ratapku. Seketika Kiral membuka mata dan menatap bayanganku dalam kaca. ***

 

 

GP, 2016

YETTI A.KA, buku kumpulan cerpen terbarunya Penjual Bunga Bersyal Merah (2016). Tinggal di Padang, Sumatera Barat.

Advertisements