Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 02 Oktober 2016)

tombak-penenun-ilustrasi-bagus
Tombak Penenun ilustrasi Bagus

KAMI berkenalan pada 2008 dan laki-laki penenun itu datang bersama seorang pegiat teater yang juga laki-laki. Pertemuan pertama kami langsung diisi dengan materi perbincangan yang absurd: manusia adalah pohon-pohon dan pohon-pohon yang berpenyakit takkan ditebang sebab ia akan mati oleh dirinya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, pegiat teater itu saya masukkan namanya ke dalam daftar seniman yang baik budinya dan… sungguh saya lupa alasan mengapa tak memasukkan si penenun di waktu yang sama, sebagaimana saya sudah lupa cerita tentang pohon penyakitan itu. Keparatnya, beberapa hari sebelum cerita ini disiarkan, penenun itu juga mengikuti jejak temannya masuk ke daftar yang sama!

Perkenalan yang terjadi pada akhir April delapan tahun lalu itu menyeret saya pada beberapa keadaan yang tentu saja saya nikmati hingga hari ini: membuat pementasan, memproduksi film pendek, begadang, ngopi, dan tentu saja mendiskusikan iklim berkesenian di daerah—yang biasanya akan kami kaitkan dengan politik atau hal-hal lain yang mampu kami kaitkan. Meskipun begitu, mereka tetap “gagal” menyeret saya menjadi perokok.

Dan… terjadilah tiga hal ini:

Pertama, tiga bibit seri yang selama ini saya tanam di punggung saya dan tak pernah menunjukkan tanda-tanda kehidupan, tiba-tiba saja menumbuhkan daun muda beberapa bulan setelah kedatangan mereka.

Kedua, penenun itu diam-diam membeli sebuah lempeng besi berkualitas baik untuk ia upahkan kepada seorang pandai besi di depan kantor saya (kebetulan empat tahun lalu saya mendirikan semacam lembaga pendidikan dan kebudayaan).

Ketiga, malam hari setelah seri-seri itu menumbuhkan daun pertamanya, saya bermimpi didatangi malaikat. Ia mengklaim sebagai pesuruh Tuhan yang mengurusi kesenian dan tetek-bengeknya—sungguh saya baru tahu kalau malaikat seperti itu.

Tidak itu saja, ia juga mengklaim telah berperan besar menumbuhkan bibit-bibit seri di punggung saya, sebab, katanya lagi, kelak pohon seri itu akan menjadi penanda terkait tabiat seniman yang ada di sekitar saya.

Ia pun membisikkan sesuatu di telinga saya. Yang menyebalkannya lagi adalah ia mengatakan bahwa saya akan lupa dengan sebagian kecil isi bisikan itu sampai kemudian waktunya tiba. Dan itulah yang membuat istri saya geram sebab ia seperti mendapatkan cerita tanpa ending.

“Ceritakan saja apa yang Ayah ingat!”

Saya mengangguk. Saya tahu dia kesal.

“Katanya profesi seniman itu tidak lebih mulia dari tukang sol sepatu,” ujar saya apa adanya.

“Jadi ia menghinamu?”

“Katanya lagi, kepentingan yang mendompleng sebuah etos yang agung tidak akan pernah berhasil. Sehebat apa pun hasutan dan kebencian disebarkan, orang baik tetap orang baik!” Saya tak ingin terpancing oleh pendapatnya.

“Aku tak mengerti apa yang sebenarnya hendak disampaikan malaikat itu, Yah! Dia seperti malaikat-malaikatan yang sok tahu. Sepertinya mimpimu itu tidak layak dipercayai.”

Lambat-laun, ketiga pohon seri di punggung saya makin tinggi—walaupun tidaklah tinggi-tinggi amat, daun-daun di beberapa dahannya sungguh sedap di pandang karena warna hijaunya yang menyejukkan dan kerimbunannya yang menenteramkan.

Hubungan kami—saya, penenun, pegiat teater dan teman-teman seniman yang lain—pun makin hangat. Kami kerap membuat acara-acara seni swadana-swadaya untuk memuaskan hasrat berkesenian. Ada alasan remeh lain, sebenarnya, bahwa itu adalah ajang untuk terus berkumpul, membincangkan apa pun—tentu saja makin hangat dan seru—dengan ditemani kopi hitam dan camilan yang bisa apa saja.

Saya lupa, entah pada tahun (ke)berapa, pandai besi di depan kantor saya tampak sibuk sekali menajamkan ujung sebuah pisau yang menurut saya ukurannya cukup besar dan lebar.

“Ini mata tombak,” jawabnya.

Saya terperangah. Wah di tahun 2016 ini masih ada yang membuat tombak. Untuk apa? Tapi pertanyaan itu hanya berputar di dalam kepala.

Di waktu yang berdekatan, ketiga pohon seri itu mulai berbunga. Saking senangnya, istri dan kedua putri kami ingin memberi mereka masing-masing sebuah nama. Untuk menghormati saya sebagai si empunya, mereka pun meminta pendapat saya.

“Walaupun nama-nama usulan Ayah terdengar tidak lazim, pohon-pohon seri itu memiliki perawakan yang khas sehingga mereka pas dipanggil dengan nama-nama itu,” ujar istri saya sok filosofis.

Kedua putri kami pun setuju. Mereka kini menyapa pohon-pohon seri itu dengan nama-nama yang lama-kelamaan terdengar lazim, apalagi ternyata, kata mereka, perangai ketiga pohon seri itu sangat baik: senang bercanda, suka menggendong mereka, dan sesekali menghadiahi mereka permen, cokelat, dan boneka barbie.

Mungkin karena keadaan yang kondusif, tidak membutuhkan waktu lama bagi ketiga pohon seri itu untuk berputik dan berbuah. Saban pagi dan petang istri dan kedua putri kami sering sekali memetik buah-buahnya yang merah atau yang hijau kemerah-merahan. Kalian tahu, bukan, bagaimana nikmatnya buah seri yang matang. Bulir-bulir kecil di dalam dagingnya akan terasa kesat begitu buahnya digigit dan isinya yang manis tumpah di lidah.

Saya juga tak tahu—benar-benar tidak tahu—kalau penenun itu baru saja mengupah pandai besi di depan rumah saya dengan bayaran yang cukup besar atas tombak pesanannya yang sudah jadi. Di tahun itu, kalau tidak salah, ia baru saja menghadiahi saya kain tenunannya yang begitu indah. Yang saking indahnya saya pigura dan letakkan di dinding ruang tengah, sekitar satu meter di atas TV 29 inci yang sering kami nyalakan bakda magrib. Alangkah baiknya ia, pikir saya waktu itu. Artinya, kebaikannya setara dengan pegiat teater itu—yang saya pikir tak perlu saya ceritakan di sini saking mulia budi keduanya.

Setahun kemudian, bakda magrib, dari jarak yang sangat jauh—kalau tidak salah 1349 tahun cahaya—penenun itu melesakkan tombak mengilap dan mahatajam ke arah saya. Tentu saja saya tak menyadari hal itu dan saya benar-benar tak ada pikiran tentang itu sebab sore harinya, tak sampai satu jam sebelum tombak itu lepas dari tangannya, kami masih berbincang hangat seputar kesenian di beranda rumah si pegiat teater.

Bakda isya, saya merasa ada yang salah dengan punggung saya. Benar saja, ketika saya bertanya kepada istri saya yang sedang menyuapi putri-putri kami dengan bubur kacang hijau yang ia masak sore tadi, ia langsung menghampiri punggung saya. “Ada tombak, Yah!” serunya.

“Menancap?” tanya saya, cemas.

“Ya, menancap!” jawab putri pertama saya dengan suara nyaring.

“Tapi tidak melukai Ayah,” timpal putri kedua saya.

Saya merasa lega sekaligus bingung sekaligus cemas juga, tentunya.

“Ia menancap di pohon seri yang kedua,” ujar putri tertua saya lagi. “Yang tengah,” suaranya lebih nyaring dari yang pertama.

Dahi saya mengernyit, mencoba mengingat-ingat pohon seri yang mana.

“Di tubuh pohon seri yang….” Suara istri saya menggantung.

“Yang mana?” teriak saya agak emosi. “Apa yang itu lagi? Cabut saja tombak itu dari tubuhnya!” seru saya lagi, “Nanti dia keburu mati!”

Istri saya bergeming. Pandangan-cemasnya berpindah-pindah dari wajah saya ke punggung saya atau sebaliknya.

“Ayo cabut, cepat!” saya mulai panik.

“Justru kalau dicabut ia akan mati, Yah!” ujar putri sulung saya. Ia memandangi wajah dan punggung saya berganti-gantian.

“Yang mana yang tertombak itu?” tanya saya lagi. Kali ini suara saya berubah agak beringas.

“Yang tengah, Yah,” jawab istri saya berusaha tenang. “Kan tadi sudah dibilang.”

“Namanya?” desak saya. “Nama pohonnya?” suara saya meninggi.

Istri saya celingak-celinguk, mencoba membedakan.

“Apakah Pegiat Teater?”

“Bukan, Yah!” seru putri pertama saya.

“Bukan pula pohon yang Ayah beri atas nama Ayah sendiri!” sambung adiknya.

“Pohon yang itu lagi, Yah…” Suara istri saya terdengar tidak bersemangat.

Saya pun sama herannya dengan perempuan yang sudah enam tahun mendampingi saya itu. Bagaimana mungkin selalu pohon seri yang kedua yang diserang. Dulu, ia pernah diserang hama ulat bulu, dulu lagi ia pernah dikapak oleh entah orang mana, dulu dulu dulunya lagi beberapa rantingnya juga patah setelah daun-daunnya yang hijau menjadi cokelat dan kering beberapa hari sebelumnya.

Keesokan harinya saya mendatangi pandai besi di depan kantor saya dan katanya ia tidak bisa mengingat dengan baik siapa yang memesan tombak yang masih tersangkut di punggung saya itu sebab bulan ini ia dan anak buahnya mengerjakan 17 pisau, 11 mandau, dan 4 tombak.

Namun… hari ini saya bersorak girang karena sesuatu yang menyala di dalam kepala saya. Sinarnya terang dan menghangatkan. Saya bergegas meninggalkan kantor, memutar starter Avanza dan mengendarainya agak lebih cepat dari biasa. Sesampai di rumah saya mencari-cari istri saya. Saya memanggil panggilan-sayangnya beberapa kali sebelum ia keluar dari dapur dengan daster cokelat-lusuhnya (dress yang selalu membuatnya sangat nyaman walaupun berulang-ulang saya katakan kalau ia kurang menarik dengan tampilan seperti itu).

“Akhirnya rahasia itu terkuak juga, Bunda!” saya mengguncang-guncangkan bahunya.

“Rahasia apa?” ia melepaskan tangan saya dari bahunya sebelum bergegas ke meja makan dan menuangkan segelas air putih, “Minum dulu!”

Saya cuma minum seteguk sebelum melanjutkan kata-kata saya: “Ayah baru saja mendapatkan semacam hidayah.”

Istri saya menatap saya dengan sebelah mata dipicingkan. Hidayah? Mungkin itu kata yang hendak ia sangsikan.

“Ayah baru saja teringat bisikan malaikat waktu itu, Bund!”

“Malaikat yang mana? Kamu ngigau!”

“Itu, malaikat yang dulu datang di mimpi Ayah.”

“Malaikat? Mimpi? Kapan? Dulu itu kapan?”

“Yang itu, Bund… yang waktunya hampir bersamaan dengan tumbuhnya pohon-pohon seri ini!” saya menunjuk ke punggung saya yang rimbun. “Tahun…”

“Tahun 2008!” cetusnya.

“Nah Bunda ingat sekarang? Malaikat yang dalam mimpi Ayah itu! Malaikat yang kata Bunda tak perlu kita percayai! Ingat, kan?” berondong saya tak sabaran.

“Trus?” ekspresi istri saya berubah antusias. “Sekarang Ayah ingat bisikannya?” Ingatannya mulai tersambung dengan cerita saya.

Sampai hari ini saya masih penasaran, seperti apa nian rupa tombak yang telah membuat penenun itu sekarat. Dan saya masih berusaha menyanggah bisikan malaikat yang mengatakan bahwa pohon seri takkan bisa tumbang kecuali oleh dirinya sendiri. Apakah benar kabar burung bahwa penenun itu gemar memasang topeng demi kepentingannya yang tak jelas apa? Apa benar penenun itu membuat tombak untuk membunuh dirinya sendiri. Ah, susah dipercaya itu! ***

 

 

Puncak Kemuning, Mei-Juni 2016

BENNY ARNAS lahir di Lubuklinggau, 8 Mei 1983. Baru saja menerbitkan buku kumpulan cerpen bahasa Inggris The Old Man’s Flower Garden (Agustus 2016).

Advertisements