Cerpen Ardy Kresna Crenata (Koran Tempo, 01-02 Oktober 2016)

kisah-kasane-ilustrasi-munzir-fadly
Kisah Kasane ilustrasi Munzir Fadly

MASIH dengan tangan berlumuran darah, Kasane meraih ponselnya yang kembali berdering. Di layar ponsel, nama seseorang yang dicintainya muncul: Murayama Saki. Kasane tahu perempuan itu kini sedang menunggunya di Stasiun Akihabara; mereka telah berjanji untuk bertemu di sana tepat pukul tujuh, dan dari sana mereka akan berjalan sebentar ke Don Quixote—di sana mereka akan naik ke lantai 8 di mana teater AKB48 berada. Ia merasa bersalah, dan tergerak untuk menerima panggilan tersebut dan melontarkan permintaan maaf. Akan tetapi, ia tahu, saat ini ia sebaiknya tak melakukannya.

Kasane menaruh ponselnya di meja dan membiarkannya terus berdering. Untuk beberapa lama, ia terdiam menatap televisi, mencoba menerka-nerka apa yang sedang dipercakapkan dua orang perempuan yang muncul di sana, juga memikirkan apakah sesuatu yang dipercakapkan itu benar-benar penting atau tidak. Ponselnya berhenti berdering saat dua orang itu berciuman. Kasane menikmati adegan ini, meski air mukanya datar saja.

Ke kamar apartemen ini, hampir dua jam yang lalu, Kasane masuk sebagai tamu. Si tuan rumah adalah seorang lelaki yang dikenalnya lewat goukon, sebuah acara ngobrol-ngobrol yang diikuti sejumlah lelaki dan perempuan yang sedang sama-sama mencari pasangan. Ia saat itu sebenarnya tidak berniat ikut serta; ia ada di sana karena seorang teman baiknya, Ruri, membutuhkan kehadirannya untuk membantunya mengatasi rasa gugup. Tiga hari setelahnya ia dan si lelaki bertemu di Shinjuku; mereka berpapasan saat Kasane sedang menuju halte sedangkan si lelaki ke kantornya—konon si lelaki melupakan sesuatu yang sangat penting di kantornya itu. Si lelaki mendesaknya memberikan alamat surel; sesuatu yang juga dilakukannya tiga hari sebelumnya. Kasane sedang buru-buru dan ia mengabulkan permintaan si lelaki untuk mengenyahkannya.

Kasane tahu lelaki itu menyukainya. Dari cara si lelaki menatapnya di goukon tempo hari itu, Kasane sudah bisa memastikannya. Ruri beberapa kali mengatakan padanya bahwa ia memang memesona; bahwa sosoknya yang tinggi semampai mampu membuat lelaki-lelaki yang mengamatinya menelan ludah, sambil di benak mereka mungkin membayangkan melakukan hal-hal nakal dan brengsek dengannya. Di sebuah pasca-persenggamaan, di kamar apartemennya, Saki membisikkan di telinganya betapa ia mungkin akan tersiksa rasa cemburu seandainya postur tubuh Kasane yang menggiurkan itu juga didukung raut muka dan cara bicara seorang hostess. “Sebab dengan itu kamu akan membuat lelaki-lelaki yang kamu temui menyukaimu dalam sekejap.” Begitu Saki menambahkan. Kasane tak membantahnya, meski di saat yang sama juga tak membenarkannya. Jujur saja ia lebih suka dirinya tak menonjol dan tak tertarik perhatian siapa pun.

Tiga belas hari setelah meeru pertama si lelaki tiba di ponselnya, Kasane kembali bertemu—lebih tepatnya berpapasan—dengannya di Shinjuku. Waktu yang nyaris sama, dan trotoar yang juga nyaris sama. Kali ini mereka mengobrol sebentar; si lelaki terlihat jauh lebih percaya diri sebab dalam tiga belas hari sebelumnya Kasane selalu membalas pesan-pesannya. Ia selalu tersenyum saat menatap Kasane. Sepasang matanya, yang selalu terlihat segar dan tajam itu, beberapa kali membuat Kasane terpaksa mengalihkan matanya ke hal-hal lain.

Meski di luar terkesan dingin dan tak peduli, Kasane sebenarnya tipe orang yang sulit mengabaikan orang-orang yang baik kepadanya. Itulah kenapa setiap kali lelaki itu mengiriminya meeru Kasane selalu membalasnya. Apa-apa yang dikatakan si lelaki di meeru tak pernah sesuatu yang buruk atau kurang pantas; bahasa yang digunakannya juga santun, meksi tentu tidak kaku. Kasane menghargai upaya si lelaki untuk senantiasa menjaga diri ketika berinteraksi dengannya, dan karena itulah ia tak pernah keberatan mengetik pesan-pesan balasan yang beberapa di antaranya lumayan panjang; pasalnya meeru yang dikirim si lelaki sebelumnya jauh lebih panjang.

Ia ingat, di salah satu meeru, si lelaki itu bercerita tentang seekor anjing tipe husky yang dulu pernah dipeliharanya, yang suatu ketika tiba-tiba menghilang dan muncul bertahun-tahun kemudian dalam keadaan kurus-kering dan penuh bekas luka. Lelaki itu berkata ia sangat berharap saat itu si anjing bisa bicara dalam bahasa manusia, atau ia tiba-tiab diberi kemampuan untuk memahami bahasa anjing. “Dengan itu aku bisa tahu ke mana saja ia pergi dan apa saja yang dilaluinya selama itu sampai-sampai ia jadi seperti itu—memprihatinkan dan membuatku sedih,” tambahnya. Beberapa minggu kemudian konon si anjing mati, dan si lelaki menguburnya di halaman belakang rumah dengan tangannya sendiri. Si lelaki mengaku setiap tahunnya ia memperingati kematian anjingnya itu dengan menulis semacam surat yang ditujukannya pada si anjing. Tentu saja, surat-surat itu disimpannya sendiri.

Kasane tidak punya banyak teman lelaki dan ia tidak pernah menjalani hubungan yang intim dengan lelaki. Tidak pernah. Tapi dari Saki, maupun dari Ruri, ia kerap mendengar cerita-cerita tentang lelaki; seperti apa makhluk yang satu ini melihat perempuan yang lainnya dan yang lainnya. Tidak selalu buruk, memang, tapi apa-apa yang disimaknya dari Saki dan Ruri itu telah membuatnya yakin ia tak menyukai lelaki; ia bahkan memutuskan untuk sebisa mungkin menghindarkan diri dari menjalin hubungan yang istimewa dengan lelaki—siapa pun itu. “Apa-apa yang ditunjukannya mungkin baik, bahkan manis dan menarik simpati. Tapi kita tak pernah tahu seperti apa diri yang tersembunyi di baliknya. Bisa jadi begitu busuk,” begitu pernah ia bicara, kepada dirinya sendiri, saat bercermin. Lama-lama Kasane menegaskan bahwa setiap lelaki memiliki potensi untuk berbohong, terutama saat berhadapan atau berinteraksi dengan perempuan. Karena itulah cerita sedih si lelaki tentang anjing tipe husky tadi dianggapnya bualan semata.

Meskipun begitu, Kasane tetap merespons si lelaki seolah-olah ia percaya kisah itu benar ada. Jika ditanya kenapa ia melakukannya, ia akan menjawab seperti ini: bahkan bualan sekalipun perlu dihargai dengan baik jika ia disajikan dengan cara yang baik. Kasane mengakui cara si lelaki bercerita dan bertutur sangatlah rapi, membuatnya mudah mengikutinya dan merasa nyaman. Mungkin lelaki itu terbiasa menulis, atau membaca novel-novel bagus, atau bisa jadi ia justru seorang penulis, begitu Kasane menduga. Di meeru balasannya itu sendiri Kasane mengatakan ia tidak menyukai anjing atau binatang mana pun tetapi secara spontan ia merasakan dorongan yang kuat untuk membayangkan anjing itu dalam benaknya dan di sana ia menghampirinya dan memeluknya. Si lelaki kemudian mengirim meeru balasan seperti ini: Di peringatan kematiannya nanti aku akan mengajakmu ke rumah orang tuaku. Di halaman belakang rumah itu, di tempat aku menguburkan anjingku itu, kita akan berdoa bersama-sama.

Setelah obrolan dengan si lelaki itu selesai, Kasane jadi memikirkan meeru tersebut. Pergi ke rumah orang tua si lelaki, duduk berdoa di halaman belakang rumah itu. Bukan sesuatu yang buruk, memang, tapi ia tak menginginkannya. Ia lantas teringat bahwa dalam tiga tahun terakhir ia selalu menemani Saki berdoa di depan makam ibunya; dengan tangan tertangkup dan kepala tertunduk ia memejamkan mata dan membayangkan ibunya Saki itu masih hidup dan berdiri di depannya, persis di hadapannya, dan tersenyum menatapnya. Apa arti kehidupan ini bagi orang-orang yang sudah mati? Begitu ia bertanya-tanya di kali terakhir, lima bulan lalu. Saki selalu begitu hening saat melakukan ritual ini. Mengamatinya, Kasane jadi semakin yakin ia memang sudah semestinya mencintainya.

“Menurutmu mana yang lebih tepat? Merelakan kepergian seseorang dan melupakan bahwa ia pernah ada dalam kehidupan kita, atau berusaha sebisa mungkin agar seseorang itu kembali ada di kehidupan kita?” tanya Ruri, padanya, suatu malam. Ia tahu konteks pertanyaan tersebut adalah hubungan percintaan yang kandas antara dua orang yang sudah lama bersama dan saling mencintai. Tapi malam itu, sebab teringat pada ritual tahunan Saki dan kisah sedih anjing lelaki, ia jadi mengarahkan pertanyaan tersebut ke kematian, ke konteks yang lain lagi. Ia berdiri sendirian, di halte. Ketika menengadah ia mendapati langit begitu hitam. Ia lantas bertanya-tanya akan seperti apa kehidupan ini di matanya jika ia adalah langit yang hitam itu.

 

SEBELAS hari sebelum menyadari ia mulai menyukai si lelaki, Kasane berkencan dengan Saki dan di kencan mereka itu Saki memintanya berjanji untuk menemaninya menonton aksi panggung AKB48 malam ini, hampir satu bulan kemudian. Kasane sebenarnya ingin menolaknya, atau setidaknya menghindar dan menghindar, tetapi ia sudah terlalu sering melakukannya dan ia entah bagaimana bisa merasakan bahwa saat itu Saki benar-benar berharap ia mengabulkan permintaannya itu; seperti Saki akan ngambek dan mendiamkannya berminggu-minggu lamanya jika ia tak melakukannya. Meski terpaksa, sebab ia sama sekali tak tertarik menyaksikan sekumpulan perempuan bernyanyi dan menari dekat di hadapannya, ia mengatakan ia berjanji; ia, malam ini, akan menemani Saki memasuki teater AKB48 di Don Quixote di Akihabara. Ia begitu bahagia melihat Saki di depan matanya tersenyum. Senyum yang bersinar-sinar. Di obrolan mereka beberapa hari kemudian Saki memberitahu Kasane bahwa di tanggal mereka akan bertemu di Stasiun Akihabara itu, yakni malam ini, Tim B mungkin akan merayakan ulang tahun Mayuyu, anggota AKB48 kesayangannya. Kasane saat itu tertawa kecil dan geleng-geleng kepala, sebab tak menyangka seseorang yang dicintainya ini sampai sebegitu sukanya pada AKB48; Saki tentulah tahu betul kapan Mayuyu akan berulang tahun dan ia melakukan perhitungan sambil melihat kalender di ponsel dan mencocokkannya dengan jadwal manggung AKB48—khususnya Tim B.

Seharusnya malam ini ia memenuhi janjinya. Di Stasiun Akihabaram ia akan menunggu Saki, dan setelah Saki muncul mereka akan berjalan riang sambil bergandengan tangan, bahkan mungkin berciuman sekali-sekali. Tapi kini ia ada di sini, di apartemen si lelaki; jauh dari Akihabara. Si lelaki itu sendiri sudah tergeletak tak bernyawa di lantai dapur, dengan darah merah-kental mungkin masih membual dari perutnya. Kasane sudah menikamnya, berkali-kali. Kini ia sedang memikirkan apa yang harus dilakukannya dengan mayat si lelaki.

 

TENTU saja Kasane tak pernah menduga ia akan menjadi seorang pembunuh. Dengan tangannya sendiri, dengan maksud melakukan perlawanan, ia telah meraih pisau yang kebetulan berada dalam jangkauannya, dan tanpa pikir panjang ia telah menusukkan pisau itu ke perut si lelaki, dan ia kembali melakukannya hingga lebih dari lima kali. Ketika ia tersadar apa yang dilakukannya itu bisa menghilangkan nyawa si lelaki, ia membelalak, dan meletakkan pisau itu. Dan pisau itu jatuh kelantai dengan bunyi kering yang seperti menyayat kulit pipi. Kasane mendorong si lelaki, dan si lelaki ambruk. Setelah si lelaki tak lagi bergerak Kasane mengenakan kembali celana dalamnya yang tertahan di lutut. Tak lama kemudian ponselnya kembali berdering, dan ia bergegas ke ruang televisi.

 

KASANE ingat tiga belas hari yang lalu lelaki itu memberi tahunya lewat meeru bahwa ia sedang berdiri di depan pintu apartemennya dan ia membawa sesuatu yang mungkin akan disukainya. Awalnya Kasane mengira si lelaki mengerjainya, tetapi ketika ia mengintip lewat lubang di bagian atas pintu ia memang mendapati si lelaki di sana; berdiri memangku sesuatu yang tertutupi kain hitam. Kasane bimbang. Ia tahu sebagai bentuk kesopanan ia harus membuka pintu dan membiarkan lelaki itu masuk, tetapi seumur hidupnya sampai detik itu ia belum pernah berduaan di kamarnya—atau di kamar siapa pun—dengan seorang lelaki, dan itu membuatnya cemas—juga gugup. Pada akhirnya Kasane membuka pintu, tetapi ia segera keluar dan menutupnya. Si lelaki lantas meminta Kasane menarik kain hitam yang menututpi sesuatu yang dibawanya itu dan setelah Kasane melakukannya terkuaklah sesuatu itu: sebuah kue tar besar dengan lilin yang belum dinyalakan dan terbungkus plastik kaku. “Selamat ulang tahun, Kasane-san,” kata si lelaki, dan terang saja kasane bingung sebab hari ulang tahunnya masih seminggu lagi. Lagi pula dari mana lelaki ini tahu tanggal ulang tahunku, pikiranya. “Terlalu cepat seminggu, memang, tetapi aku ingin jadi orang pertama yang mengucapkannya tahun ini, di hadapanmu,” jelas si lelaki. Kasane tak tahu apa yang mesti dikatakannya. Bahkan, ia tak tahu apakah saat menyimak perkataan si lelaki itu mulutnya tertutup atau terbuka. Satu hal saja yang ia tahu: kecurigaannya seminggu sebelumnya bahwa ia mulai menyukai si lelaki terbukti benar.

Terus saling berkirim meeru setiap hari, Kasane mulai merasa di suatu titik rasa sukanya pada si lelaki bisa saja melebihi rasa sukanya pada Saki, dan ini membuatnya cemas. Akan tetapi, mungkin karena ia sedang mabuk kepayang, Kasane tak sedikit pun menahan diri. Sedikit-sedikit si lelaki mulai menggodanya dan ia tak menilai itu menjijikkan; ia tetap membalas setiap meeru kiriman si lelaki bahkan sesekali membubuhkan emoticon imut. Ketika suatu hari, si lelaki meneleponnya, ia mengangkatnya. Mereka kemudian bicara panjang lebar dan tertawa-tawa dan di akhir percakapan si lelaki mengajaknya bertemu, malam ini, di sebuah restoran Italia di Shinjuku. Meski sedikit ragu Kasane menerima ajakan tersebut. Dan di hari yang disepakati itu, mereka pun bertemu; mereka mulai makan ketika langit masih cukup terang dan meninggalkan restoran itu ketika langit mulai gelap. Si lelaki membawanya ke kamar apartemennya, dan di sana mereka kembali mengobrol sambil sedikit minum-minum, sambil sesekali tertawa-tawa. Kasane tak pernah menyangka, tak pernah menyangka, lelaki itu akan mencoba memerkosanya.

 

UNTUK kesekian kalinya ponsel di meja itu kembali berdering. Kasane mengabaikannya. Ia malah mengambil remote control dan menonaktifkan mode diam dan selanjutnya menaikkan volume televisi hingga begitu tinggi. Ia menyadari ia telah melupakan sesuatu yang teramat penting. Dan ia pun menyadari, setelah ini ia tak akan bisa menjalani hidupnya dengan cara yang sama. Tak akan, sebab ia telah melakukan sesuatu yang tak mungkin dilupakannya.

“Tapi aku masih sangat mencintai Saki,” ujarnya, dan segera rasa bersalah membuatnya sesak.

Ia mengaktifkan kembali mode diam, dan keheningan membuatnya teringat pada mayat si lelaki. Aku harus segera melakukan sesuatu, pikirnya. Meski ia belum tahu apa yang dimaksudnya dengan “sesuatu” itu. (*)

 

 

Ardy Kresna Crenata tinggal di Bogor. Ia bergiat di Wahana Telisik Seni-Sastra dan Rumah Belajar.

Advertisements