Archive for October, 2016

Burung Sirin
October 30, 2016


Cerpen Kiki Sulistyo (Media Indonesia, 30 Oktober 2016)

burung-sirin-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Burung Sirin ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

BURUNG itu jatuh dari langit. Seperti ada yang menembak. Bulu-bulunya berlepasan di udara sebelum tubuhnya menimpa tanah. Bagaimana burung bisa jatuh sementara tak ada suara letupan?

Sirin berjalan ke arah burung yang jatuh itu. Tepat di jalan tanah yang menghubungkan sungai di dekat rumah dengan jalanan lebih besar yang mengarah ke jalan yang lebih besar lagi, Sirin melihat semak-semak mimosa. Diperhatikannya semak-semak itu. “Kalau kau ketemu mimosa berdaun empat, kau bakal mendapat keberuntungan,” Sirin ingat kata temannya, tapi ia tidak ingat nama temannya itu. (more…)

Advertisements

Perempuan yang Tergila-gila pada Mesin Cucinya
October 30, 2016


Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 30 Oktober 2016)

perempuan-yang-tergila-gila-pada-mesin-cucinya-ilustrasi-suara-merdeka

Perempuan yang Tergila-gila pada Mesin Cucinya ilustrasi Suara Merdeka

“Akan kutunjukkan sesuatu,” katanya sambil menyeret tanganku menuju ruang dapur.

“Lihatlah!” serunya riang.

Di depan kamar mandi, di sebelah pintu, aku melihat benda terkutuk itu. Sebuah mesin cuci dengan penutup di bagian atas. Persis ibu-ibu gemuk yang mendekam karena kekenyangan.

Aku pun bertanya. “Mesin cuci? Kamu beli mesin cuci? Untuk apa?” (more…)

Mayat Mengambang di Malioboro
October 30, 2016


Cerpen Indra Tranggono (Jawa Pos, 30 Oktober 2016)

mayat-mengambang-di-malioboro-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Mayat Mengambang di Malioboro ilustrasi Bagus/Jawa Pos

DATANGLAH ke Malioboro! Anda akan menyaksikan peristiwa yang menakjubkan. Di sini waktu terasa berhenti. Mati. Dan keajaiban dari peradaban yang tenggelam pun akan menyergap Anda. Juga, makhluk-makhluk aneh yang selama ini hanya Anda percayai sebagai mitos!

Begitu bunyi teks iklan yang terpahat di layar televisi. Huruf-huruf itu menyatu dengan gambar-gambar dengan berbagai imaji. Mengaduk perasaan. Membuncahkan rasa penasaran.

***

Ada mayat mengambang di Malioboro. Seorang polisi langsung mengevakuasi dan membawa mayat itu ke pinggir. Jenis kelamin mayat itu perempuan. Dari wajahnya yang masih segar, ditaksir usianya sekitar 23 tahun. Tubuhnya langsing. Kulitnya kuning. Rambutnya pendek, agak ikal. Wajahnya manis. (more…)

Terumbu Tulang Istri
October 30, 2016


Cerpen Made Adnyana Ole (Kompas, 30 Oktober 2016)

terumbu-tulang-istri-ilustrasi-iyan-sagito-kompas

Terumbu Tulang Istri ilustrasi Iyan Sagito/Kompas

Apakah tubuh menggiring perahu atau perahu menyeret tubuh, dari tepi ke tengah laut? Kayan tak pernah bertanya. Satu hal ia tahu, tubuh dan perahu seakan memiliki rasa pedih dan ngilu yang sama—pedih dan ngilu yang meluncurkan mereka dalam satu garis lurus di atas landai ombak, di laut utara, saban pagi, saat matahari memanjat langit di terang timur.

Ini ritual sederhana, seperti hukuman pada harapan sia-sia. Jelang cahaya, Kayan keluar pondok, menyapa dingin, menghirup asin, menuju pantai. Ia lepas perahu dari ikatan. Meloncat naik, dan bersatulah tubuh bersama perahu menuju lapang lautan. Di tengah laut, ketika garis cahaya menyelip di bawah gelombang, tubuh Kayan terlontar dari perahu. (more…)

Alangkah Gelap Pagi Itu, Jan
October 29, 2016


Cerpen Yetti A.KA (Koran Tempo, 29-30 Oktober 2016)

alangkah-gelap-pagi-itu-jan-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Alangkah Gelap Pagi Itu, Jan ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

IA keluar rumah pukul lima pagi dan ditemukan mati dua jam kemudian di bawah batang kelapa. Lalu kau berkata, berhenti meratap, Sare!

 

KAU sama sekali tidak bersedih atas kematian suamiku. Kau hanya marah karena kematian itu mengoyak harga dirimu. Berhari-hari kau mengunjungi rumahku, duduk di pangkal tangga, mengasah kuduk bermata tajam dan berkilat putih. Berkali-kali kau berkata, Semua akan kubalaskan, Jan, semua pasti kubalaskan. (more…)

Tapis Mastoh
October 23, 2016


Cerpen Arman AZ (Media Indonesia, 23 Oktober 2016)

tapis-mastoh-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Tapis Mastoh ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

DI LANTAI papan serambi rumah panggung, duduk beralas bantal tipis kumal, Mastoh khusyuk menyulam. Sesekali dibenahinya letak kacamata yang melorot ke hidung. Benang emas mengekori jarum yang berulang kali dicucuk dari bawah kain kemudian ditarik ke atas hingga membentuk pola tertentu.

Hangat cuaca bersekutu dengan sepoi angin membuat kantuk mudah hinggap di pelupuk mata. Satu-dua kendaraan melintas di jalanan depan rumah, menggetarkan siang yang lengang. Sal baru saja pulang. Dua bulan belakangan dia kerap singgah. Mastoh mafhum hajat apa yang diusung Sal. Janda bertubuh tambun itu mengincar tapisnya. Sal pernah keceplosan, ada kolektor mencari tapis tua yang ditenun-disulam dengan tangan. Mastoh punya tapis macam itu. Sal berniat membelinya, tapi Mastoh enggan melego. (more…)