Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 25 September 2016)

sejarah-ilustrasi-jeihan-sukmantoro
Sejarah ilustrasi Jeihan Sukmantoro/Kompas

1.

Ceritakan padaku apa yang terjadi sebelum aku lahir. Aku ingin berenang, tenggelam dalam sejarah. Agar aku tahu arah yang benar dalam meneruskan langkah.

Sejarahku mentok, berhenti sebelum aku lahir. Jadi biar pun sejarahku ngelotok, sampai tahu berapa ekor nyamuk sudah terbunuh dalam kamar ini, aku tetap saja buta ke masa lalu. Maka terus-terang sejarahku tidak afdol. Dan itu membuat panca inderaku cacat. Timpang.

Mataku, kupingku, mulutku, alat peraba, penciuman, terutama perasaanku tidak komplit. Semua yang tertangkap jadi tidak bulat, lengkap, tuntas, tapi hanya sebagian-sebagian. Bahkan celakanya, tak jelas, itu sebagian besar atau sebagian kecil?

Karena itu tolong las bolong-bolongku! Tambal, sulam, supaya air yang kuciduk tidak berceceran dan akhirnya sudah capek-capek turun ke lembah, mendaki bukit bawa air untuk menyirami tanaman di kebun, sampai di rumah emberku kosong. Semua akan marah. Aku bisa frustrasi dan seluruh tanamanku terancam mati.

Jadi ayolah, ceritakan sejarah yang lengkap, jangan ada yang ketinggalan. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Sejarah bukan cerita fiksi untuk menobatkan seorang pelaku jadi pahlawan. Juga bukan sebaliknya! Sejarah bukan tuduhan jaksa untuk menyeret seorang bandit narkoba ke vonis pidana mati.

Sejarah biarkan jadi sejarah saja. Jangan diubah, direnovasi, dipugar atau dimanfaatkan untuk keperluan lain. Biarkan sejarah tetap bagai bianglala peristiwa, prisma berwarna Newton, supaya jadi cermin putih yang mampu menampilkan bayangan semua orang dengan jujur tak memihak.

Ayo cepat, jangan tunda-tunda lagi! Tuturkan sejarah selengkapnya dengan sederhana, apa adanya. Jangan didandani dengan emosi. Jangan meniru gaya para pembawa berita di TV swasta yang sudah membawakan berita yang ditulis menurut kemauan pemilik TV dan dibaca dengan ironi yang sudah dipesan untuk kemenangan kompetisi politik.

Paparkan saja sejarah seadanya. Biarkan pahit tetap pahit, manis terus manis, lepas saja apa adanya. Tak perlu dikomentari, jangan dipandu dengan interpretasi.

Advertisements