Cerpen Wihambuko Tiaswening Maharsi (Koran Tempo, 10-11 September 2016)

talauma-ilustrasi-munzir-fadly
Talauma ilustrasi Munzir Fadly

MENGHABISKAN waktu dengan orang yang tak kau sukai itu membutuhkan tenaga ekstra besar. Sungguh. Berapa makian yang susah payah kau telan kembali karena ia acap kali membuatmu naik pitam? Tapi ini kewajibanmu. Kau satu-satunya orang yang bisa ia andalkan di kota ini. Dan ia satu-satunya anak dari seorang lelaki yang, kata ibumu, berjasa banyak bagi keluargamu. Lelaki itu menebus ayahmu keluar dari penjara.

Kau sendiri tidak pernah bertemu dengan lelaki itu secara langsung, jadi tidak pernah tahu seperti apa orangnya. Ibumu sekali pernah bercerita bahwa ia bertubuh tinggi dan rupawan. Ia juga lelaki yang bertanggung jawab. Tak seperti ayahmu, imbuhnya.

Kau menatap ibumu penuh curiga. Tak pernah sekalipun kau mendengarnya memuji seorang lelaki. Pada ayahmu ia hanya melontarkan celaan. Ayahmu miskin karena lebih menyayangi idealismenya dibanding aku dan kau, katanya. Kau, tentu saja, seperti yang sudah-sudah, tak terlalu ambil pusing mendengar hal-hal semacam itu asalkan ayahmu selalu punya waktu untuk sekadar mengajarimu membuat kandang ayam dari bambu. Lagi pula kau masih terlalu ingusan untuk memahami mengapa orang tuamu yang kerap bertengkar dan saling melempar makian masih tidur seranjang.

Ayahmu dijebloskan ke penjara karena perbuatannya sendiri dan tak ada yang membelanya. Setiap kau tanyakan apa yang sebenarnya terjadi ibumu marah-marah tak karuan. Berbagai makian pada ayahmu ia lontarkan. Kau sendiri belajar memahami, di kemudian hari, bahwa demi memperoleh kebebasan berekspresi kau harus kehilangan kebebasan kelayapan. Saat kau mulai memahami dan memaklumi mengapa ibumu kadangkala menangisinya sambil memaki, ia datang membuka gerbang membawa ransel berisi pakaian dan ibumu menyambutnya dengan lengan terentang. Tak kau temukan lagi kemarahan. Mereka berpelukan. Kau hanya memandang.

Bagian itu adalah bagian yang kau tak pernah bisa pahami. Di tengah kebingungan, hatimu dirambati kehangatan yang tak bisa kau gambarkan. Lelaki yang berjasa membuat ibumu urung berpisah bertahun-tahun dengan ayahmu adalah ia yang membuat ibumu merasa berhutang budi.

 

“TOLONG fotokan dong, Kak!”

Kau diam saja. Ini sudah kelima kalinya, barangkali, ia meminta kau mengambilkan fotonya. Ia mengajakmu, memintamu menemaninya lebih tepatnya, hanya untuk menjadikanmu tukang ambil gambar. Meski mendengus, kau tetap menerima uluran tangannya. Kamera dengan spesifikasi melebihi apa yang kini kau miliki itu hanya untuk memotret orang berpose, yang hasilnya kemudian diunggahnya di media sosial. Kau lagi-lagi merasa mau naik pitam.

Kau memandang pendar cahaya yang keluar dari layar kecil kamera. Ia molek, tampak seperti seorang model. Rambutnya bergelombang manis. Bibirnya tebal manis. Alisnya agak terlalu besar untuk matanya yang sipit, tapi tetap tampak manis. Kakinya jenjang. Dadanya membusung, atau dibusung-busungkan, kau tak bisa membedakan. Ia pun berpose. Dan pose yang diambilnya membuatnya tampak seperti seorang model profesional. Ia mungkin sudah ratusan kali mencoba berbagai gaya di depan cermin di dalam kamar ketika tak seorang pun melihat. Atau, mungkin juga ia telah berkali-kali bergaya di depan teman-temannya, dan mereka beramai-ramai memberikan saran.

“Aku kelihatan gemuk tidak, Kak?”

Kau menggeleng. Memang ia tak tampak gemuk. Sekalipun dilihat dari jarak puluhan meter ia sama sekali tak tampak gemuk. Lagi pula, tampak gemuk bukannya pertanda baik, mengurangi prasangka orang bahwa hidupmu tidak bahagia?

Andai saja orang bisa tampak gemuk semudah mengubah pose berfoto tentu kau akan berfoto diri lantas mengirimkan hasil bidikan itu ke nomor ponsel ibumu; setiap kali melihat gambar profilmu ia mengatakan kau tampak seperti orang kurang makan.

“Ulangi, Kak! Aku kelihatan gemuk!”

Bibirnya mengerucut. Kau sering sekali melihat perempuan memasang tampang seperti itu sebagai gambar profil media sosial mereka. Kau pun mengambil gambarnya lagi. “Kau tidak capek?”

“Sebentar lagi, Kak. Aku malas pulang ke rumah tumpanganku.”

“Kenapa?”

“Banyak peraturannya. Aku sudah bukan mahasiswa lagi. Aku malas diatur-atur.”

Kau mendengus. “Waktu masih menjadi mahasiswa kau suka diatur-atur?”

Ia terdiam menatap wajahmu. “Lapar tidak, Kak?”

Kau mendengus lagi. Pancinganmu tidak mengenainya. Entah kepalanya terlalu bebal atau perempuan itu sebenarnya bisa mencium adanya bahaya. Saat itu kau berpikir betapa perempuan memang seharusnya hanya memiliki dua dari tiga hal: kemolekan, kebaikan hati, atau otak. Dua saja, jangan lebih, atau lelaki akan makin merasa tidak berguna.

Kalian berdua menyantap donat dan menyeruput kopi dingin. Ketika dingin kopi mengaliri kerongkongan, kau sempat memikirkan mantan pacarmu. Ia yang membuatmu menyukai kopi yang sudah dingin. Ia juga yang mempunyai kebiasaan menyelipkan buku ke dalam tasmu. Kadang kau baca, lebih banyak tidak. Kau tentu saja terlalu sibuk untuk menekuri bacaan seperti itu. Waktumu habis untuk menggambar, memotret, dan memikirkan pacarmu yang suka menyelipkan buku tapi entah sedang berada di mana karena ia seorang penulis perjalanan.

Mengingatnya kadang membuatmu sedih sekaligus bergairah.

 

KAU teringat percakapan dengannya suatu pagi. Saat itu kau sedang memikirkannya sedangkan ia sedang berada di kamar hotel bersama seorang lelaki. Mungkin teman tidurnya sedang tidur maka pacarmu menyelinap ke dalam kamar mandi dan meneleponmu. Ia meminta maaf karena telah melakukan kesalahan. Kau tak merasa ingin naik pitam.

Kau menutup telepon setelah menenangkan ia yang menangis tersedu-sedu di seberang. Tak ada orang yang tak melakukan kesalahan, pikirmu ketika itu. Orang tua saja bisa berbuat kesalahan, apalagi cuma seorang pacar. Kau kembali ke mejamu, membuka laptop, dan mulai menyelesaikan denah gedung yang akan dicetak biru hari itu.

Pacarmu mengirimkan kartu pos setiap kali berada di tempat yang berbeda. Persis seperti yang dilakukan ayahmu sebelum LSM tempatnya bekerja ditutup. Kau menggantungnya di dinding kamar seperti menggantung cetakan foto di kamar gelap, dalam posisi terbalik hingga tak tampak gambarnya; tertera namamu diikuti alamat yang terus berganti tergantung di mana kau tinggal waktu itu, cap pos dari tempat asal kartu dikirimkan, dan berbagai ucapan, kadang puisi. Kau hafal satu per satu ucapannya. Kau tak pernah bosan membacanya. Kadang kau lupa dari mana ia dikirimkan, tapi kau selalu ingat kata-katanya. Kata ibumu dulu, itu menunjukkan bakatmu. Kau terlalu perasa untuk menjadi seorang arsitek. Seharusnya kau menjadi penulis.

Suatu hari kau bertemu dengan seorang perempuan. Ya. Perempuan lain, selain pacarmu. Kau menyukainya. Kau sadar kau menyukainya. Ia tak seperti pacarmu. Ia kadangkala terlihat seperti seseorang dari masa yang jauh sekali, pada saat potret belum berwarna. Kau menyukai semua tentangnya: caranya memandang, caranya berpikir, caranya bicara. Senyumnya tertahan tiap kali menceritakan tentang kebodohan yang pernah dilakukannya. Matanya bercahaya saat kau lontarkan pendapatmu pribadi tentang dirinya. Ia menangisi tanah lapang, bagian dari kenangan masa kecilnya yang sebentar lagi akan hilang. Hilang, karena gambarmu telah menjadi cetak biru dan siap dibentuknyatakan ke atasnya.

Kau menyukai dirimu sendiri saat bersamanya. Kau, yang selalu dikatakan lebih mirip ibumu, dan kau sadari betul kalau kau memang mirip ibumu, mencium perempuan asing dari masa yang jauh itu karena kau tiba-tiba merindukan bibir seseorang. Perempuan itu beraroma magnolia, dan aroma yang sama yang pernah kau tahu hanyalah dari botol parfum yang telah kosong di meja rias ibumu dan tak pernah dibuangnya karena ayahmu yang menghadiahkannya suatu hari.

Kau tidak ingin melepaskan bibirmu tapi kepala perempuan itu menjauh darimu. Wajahmu memerah. Pun wajahnya, tapi kau pura-pura tak tahu lantas mulai membicarakan hal-hal yang kau sukai agar ia menganggapnya sebagai ciuman sambil lalu hingga ia tak perlu membencimu karena menciumnya tanpa permisi. Hanya saja kau lantas menciumnya lagi.

Kau pernah menonton Almost Famous?

Oh! Betapa kau tak ingin malam itu berakhir!

Pacarmu yang cerdas dan menggairahkan banyak lelaki itu tak pernah mempertanyakan mengapa kau begitu pendiam setelah malam itu. Mungkin ia sendiri sibuk dengan pikirannya tentang lelaki lain. Aku mencium seorang perempuan, katamu. Rupanya kau tak bisa menahan perasaan itu sendirian. Wajah pacarmu memerah, urat pipinya tampak mengencang. Siapa dia, tanyanya. Aku tidak tahu, jawabmu. Apakah kau akan bertemu dengannya lagi, tanyanya. Aku juga tidak tahu, jawabmu. Aku tidak mempunyai nomor teleponnya, ujarmu lagi.

Kau tak paham mengapa sebuah—okelah, dua—ciuman justru dinilai lebih dari sekadar pertemuan kelamin. Kau jatuh cinta lagi, itu persoalannya, sedang urusanku dengan lelaki lain hanya karena kau sedang berada jauh dariku, ujarnya sambil menangis. Ia lantas memaki-makimu, seperti yang biasa dilakukan ibumu pada ayahmu ketika mendapatinya bermain gila dengan perempuan lain.

Pacarmu memutuskanmu. Kau merasa sedih tapi tak terlalu dibuatnya merana.

Ibumu memang berhutang budi, tapi kau juga merasa ibumu menyukai ayah si perempuan muda yang tak kau sukai itu, yang sedang asyik berfoto diri sambil mengunyah donat di hadapanmu.

“Kau merasa cantik kalau kaumendapat banyak gambar jempol di media sosial?” Kau mulai tidak tahan.

Lagi-lagi perempuan yang kau anggap bebal itu memilih untuk tidak menjawab pertanyaanmu.

“Kak, boleh tidak nanti aku ikut pulang ke rumahmu?”

Kau menghela napas. Apabila kau menolak permintaan itu ibumu akan kecewa.

 

KETIKA ibumu menikah lagi beberapa tahun setelah ayahmu meninggal karena sakit paru-paru, kau memutuskan untuk tinggal sendiri meski tetap berada satu kota dengan mereka. Waktu itu usiamu masih belasan tapi kau sudah bekerja di sebuah biro arsitek sebagai drafter. Kau tidak mau datang pada saat perayaannya dengan alasan sibuk menyelesaikan pekerjaan. Kau tidak paham mengapa kau harus merayakan sebuah hari ketika cinta ibumu pada ayahmu tak lagi sama. Ibumu tidak memaksamu. Ibumu tahu cintamu padanya tidak cuil sedikitpun. Kau hanya perlu lebih kuat menjadi seorang lelaki.

Kau tak membenci ibumu setelah itu, kau memahami kebutuhannya sebagai perempuan. Kau hanya tak mau tinggal satu atap dengan lelaki entah siapa dan memanggilnya ayah. Setelah dua tahun mereka bercerai. Kata ibumu lelaki itu tak berhasil membuatnya berhenti merindukan ayahmu.

Kau kemudian berpindah ke sebuah kota lagi, kota yang membesarkanmu dan mengajarimu banyak hal, kota yang mempertemukanmu dengan perempuan yang menjadi pacarmu, juga perempuan lain selain pacarmu; kota yang kemudian membuatmu paham beberapa hal: bahwa hati seseorang tak bisa tinggal di satu tempat terlalu lama; bahwa ada kalanya cinta berhenti; bahwa cinta sangat mungkin berpindah rumah.

Teleponmu berdering suatu hari. Ibumu memintamu menemani seseorang. Ia baru menginjak kota yang sama denganmu. Dan ia adalah anak dari seorang lelaki yang telah menebus ayahmu ke luar dari penjara dulu sekali. Jadi ibumu bertemu kembali dengan lelaki rupawan itu dan jatuh cinta padanya? Atau jangan-jangan ibumu telah lama jatuh cinta padanya tapi tidak berani mengutarakannya karena ia telah memiliki ayahmu? Pikiran itu terus mengganggumu.

Ia pun menginap di rumahmu dan belum menimbulkan banyak masalah di hari pertama. Kau berikan kamar tamumu dan kau pinjamkan satu handuk besar padanya. Ibumu senang sekali kalian mudah menjadi akrab. Kau tidak berkeberatan menampung satu perempuan di rumahmu sementara waktu, asal ia tak mengganggumu. Kau tidak terlalu suka menonton televisi. Satu-satunya televisi di rumahmu teronggok begitu saja di atas meja dengan kabel masih tergulung rapi dan tak pernah kau nyalakan sejak dikeluarkan dari kardus. Kau membeli perangkat itu karena kau butuh satu titik sebagai pusat kau hadapkan furniturmu. Kau tak ingin sofamu menghadap ke jendela atau kompor.

Perempuan manis tapi bebal itu mengulur rol kabel dari dalam kamarnya untuk mencolokkan kabel televisi dan keributan pun dimulai. Untuk pertama kalinya sejak bertemu dengannya kau mengeluarkan makian. Kau lega bukan kepalang, meski hanya satu kata dan kau teriakan dari dalam kamar pula. Dan itu cukup membuatnya menangis lantas mengadu pada ibumu.

Ibumu tak pernah mengomelimu sebelumnya.

Setelah itu perlahan-lahan hidupmu berubah.

Hukuman bagimu untuk perbuatanmu membuat perempuan itu menangis adalah menampungnya tinggal lebih lama sebelum ia mendapatkan tempat tinggal yang tak banyak peraturannya, seperti yang ia kehendaki. Sedetik kau merasa kalau kau akan menampung perempuan itu selamanya atau paling tidak sampai ada lelaki yang mau membawanya pergi dari sana. Kau pun sontak merasa telah begitu berumur.

Ia mulai mempunyai teman dan satu dua teman perempuannya mulai sering menginap di rumahmu. Kau pun mulai terbiasa mendengar mereka bersenda gurau dalam kamar. Salah satu dari mereka ada yang menyukaimu. Kadang anak dari lelaki yang kau duga disukai ibumu itu sengaja meninggalkan kalian berdua di dapur atau ruang tengah. Kau tetap saja diam meski duduk bersebelahan. Kau tidak pernah mencoba membuka pembicaraan pun ia. Perempuan itu ternyata tak bebal, ia tak pernah hilang akal. Ia tak pulang ke rumahmu suatu malam tapi temannya itu ia tinggalkan di sana.

“Suka nonton film ya, Mas?”

Kau melihat wajahnya sekilas. Kau bisa membayangkan melingkarkan lengan padanya ketika kalian berada dalam sebuah gedung bioskop atau di depan layar tancap.

“Lumayan. Kau suka juga?”

 

BEBERAPA minggu kemudian kau sudah berpacaran dengannya. Kau jadi merasa mudah sekali menyukai perempuan, meski mungkin kau juga mudah merasa bosan.

Ibumu akhirnya memintamu untuk berbagi tempat tinggal karena perempuan merepotkan itu betah tinggal di sana. Kau tak habis pikir. Kau tahu kau dan keluargamu berhutang banyak pada ayahnya yang pernah menebus ayahmu keluar dari penjara tapi kali ini kau merasa ibumu sudah keterlaluan. Kau menelepon ibumu. Kau mendengar ia begitu bahagia menganggap kau telah melunaskan segala hutang budi pada lelaki rupawan itu.

Kendati begitu tanpa banyak cakap, kau memilih angkat kaki. Kau mempunyai cukup uang untuk menyewa satu apartemen studio di pusat kota. Lagipula sebenarnya sudah sejak lama kau ingin mulai berjalan kaki ke tempat kerja. Kau masih berpacaran dengan teman dari perempuan bebal nan merepotkan itu dan menikmati waktu menonton bioskop bersamanya. Ia tipe perempuan yang tidak banyak cakap di dalam dan, sayangnya, juga luar gedung tentang film yang ditontonnya. Tapi selama tak menimbulkan persoalan kau tak berkeberatan.

Sejak kembali berpacaran hatimu perlahan-lahan melunak.

Kau mulai sering berkomunikasi dengan ibumu, kau mulai kurang sebal pada perempuan yang kau anggap bebal itu—dan kau sadar itu karena kau makin jarang bertemu dengannya. Kau mulai menepis anggapan bahwa ia bebal. Ia sama sekali tak bebal. Ia hanya suka orang lain mengiranya bebal. Kau pernah dijebak untuk bercakap meski hanya beberapa kata dengan ayahnya, si lelaki rupawan yang selalu kau hindari, melalui telepon, dan kau terpaksa melakukannya, dan kau mulai bisa menilai ia sebenarnya tak terlalu merepotkan—tak seperti anaknya—sampai saat ia berkelakar untuk menjodohkannya dengan anaknya. Kau tentu saja menolak. Saat mukamu merah padam perempuan itu tertawa-tawa, sementara pacarmu cemberut di sebelahmu.

Adakalanya kau merasa terlalu banyak perempuan di sekitarmu.

Namun sejenak kau merasa memiliki keluarga kembali.

 

PADA suatu siang, setelah mengantar pulang pacarmu dari menonton bioskop, kau turun dari bus kota lantas berjalan pulang melalui trotoar yang setiap hari selalu kau lalui.

Kau melihat seorang perempuan sedang berjalan menujumu. Kau mencium aroma magnolia.

“Hei! Kamu masih ingat aku? Aku sudah menonton Almost Famous!” (*)

 

 

Wihambuko Tiaswening Maharsi tinggal di Yogyakarta.

Advertisements