Bulan Merah


Cerpen Wendoko (Koran Tempo, 03-04 September 2016)

Bulan Merah ilustrasi Munzir Fadly

Bulan Merah ilustrasi Munzir Fadly

KREET, Kreeet. Lia membuka matanya. Suara itu sangat mengganggu, seperti memaksa masuk ke dalam tidurnya.

“Ling, itu kamu?”

Kreet…. kreeet.

Lia bangkit dari ranjang. Beberapa jenak ia berjuang mengakurkan matanya dengan cahaya lampu 8 watt di kamar itu. Lalu ia melihat sesosok tubuh duduk di kursi goyang kecil di dekat lemari. Sosok itu adalah anak perempuan kecil berambut poni dan mengenakan daster panjang untuk tidur.

“Ling, itu kamu?”

Lia bergerak ke tombol lampu di dinding, di ujung ranjang.

Jangan nyalakan lampu, Lia. Kau tahu mataku tidak tahan dengan cahaya yang terlalu terang.

“Baiklah,” kata Lia. Ia tak jadi menyalakan lampu. “Tapi berhenti menggoyang-goyangkan kursi itu, Ling. Bikin merinding!”

Kau takut apa, Lia?

“Eh… tidak! Tapi suara itu bikin bulu kudukku merinding. Mungkin karena itu kursi tua dan mulai rusak.”

Suara derak kursi goyang berhenti.

“Ada apa, Ling?” Lia duduk di tepi ranjang, di depan anak perempuan itu. Lalu, seperti teringat sesuatu, ia memandang ke jam dinding di atas meja belajar, di samping kursi goyang itu. “Uh, sudah lewat jam dua belas malam. Ada apa, Ling?”

Aku hanya kesepian.

“Hmm, baiklah. Tapi lain waktu, jika kamu butuh teman mengobrol, lebih baik memberi tahu lebih dulu. Jangan masuk begitu saja ke kamarku.”

Bukankah besok, maksudku hari ini, kamu libur?

“Benar. Hari ini hari Sabtu, dan sekolahku libur pada hari Sabtu. Tapi aku tidak suka kamu datang malam-malam dan mengganggu tidurku.”

Maaf, Lia.

“Sudahlah.” Tiba-tiba Lia merasa tidak enak melihat anak perempuan itu menunduk dengan sedih.

“Kamu tidak bisa tidur, Ling?”

Sejak dulu aku selalu susah tidur. Tapi malam ini aku betul-betul tidak bisa tidur. Karena itu aku kemari.

“Hei, kamu memakai baju yang kemarin, ya?”

Lia, apa maksudmu?

“Aku tahu, itu baju yang kau pakai tiga hari lalu waktu kamu datang kemari. Aku ingat, karena warnanya sama dan agak kotor di bagian bahu dan pinggang.”

Mata Lia bersinar-sinar seperti baru saja menemukan sesuatu.

“Baju itu belum dicuci, ya?”

Anak perempuan itu tak menjawab. Kening Lia mengerut. “Atau jangan-jangan kamu tidak punya baju yang lain?”

Baju-bajuku memang tidak banyak, Lia.

“Hah? Kenapa kamu tidak minta kepada orang tuamu?”

Lagi-lagi Lia merasa tidak enak. Dalam cahaya remang-remang di kamar itu, ia melihat anak perempuan di depannya menunduk dengan wajah sedih. Lia merasa bersalah. Anak perempuan itu sangat mirip dengan dirinya. Sama-sama berwajah bulat dan agak pucat, bermata sipit dan berambut poni. Anak perempuan itu baru berumur tujuh tahun. Jadi dua tahun lebih muda dibandingkan dirinya.

“Maaf, Ling. Aku tak bermaksud membuatmu sedih. Tapi jika baju-bajumu tidak banyak dan kamu mau memakai baju-bajuku, aku tidak keberatan.”

Orang tuamu?

“Ah, mereka tidak akan tahu. Mungkin baju-bajuku terlalu besar untukmu. Tapi….”

“Lia! Lia!”

 

LIA terkejut. Ia memasang telinganya.

“Lia! Lia!”

“Hah, itu suara Ayah!”

“Lia! Dengan siapa kamu bicara?” Lalu disusul suara langkah-langkah kaki menaiki tangga kayu.

“Ling, cepat sembunyi!”

Ya….

Lia rebah di ranjang dan pura-pura tidur. Pintu kamarnya dibuka. Hening sejenak, tapi ia bisa mendengar dengus napas ayahnya. Lalu ia mendengar langkah-langkah kaki mendekat di lantai papan kayu di kamar itu, dan langkah-langkah itu berhenti di samping ranjang. Lia menutup mata rapat-rapat dan berusaha mengatur tarikan napasnya. Agak lama ayahnya berdiri di samping ranjang. Lia bisa mengenali dari dengus napas bercampur bau rokok itu. Lalu ia mendengar ayahnya menjauh, menutup pintu, dan menuruni tangga.

Lia menunggu beberapa saat sampai suasana benar-benar hening.

 

“LING….”

Aku di sini.

Anak perempuan itu masih duduk di kursi goyang kecil.

“Sebaiknya kita tidak bicara terlalu keras, Ling.”

Aku selalu bicara pelan-pelan. Suaramu yang terlalu keras, Lia.

“Baiklah, aku bicara pelan-pelan.”

Lia duduk di tepi ranjang. Kursi goyang itu kembali berderak-derak.

Berhenti, Ling! Jangan menggoyang-goyangkan kursi itu.

Maaf. Uh, kursi ini nyaman. Aku suka duduk di kursi ini.

Lia tak menjawab.

Dulu aku punya kursi seperti ini.

Sekarang?

Sudah tidak ada. Mungkin rusak dan ayahku membuangnya.

Kamu tidak minta dibelikan lagi?

Lagi-lagi anak perempuan itu menunjukkan wajah sedih, dan Lia merasa bersalah. Entah kenapa, tiap kali melihat wajah sedih anak perempuan itu, ia merasa sedang menyakiti dirinya sendiri.

Kalau kamu mau, kamu boleh ambil kursi itu.

Kursi ini punyamu, Lia.

Kursi itu sudah tidak muat untuk ukuran tubuhku. Ayah membelinya ketika umurku belum genap tujuh tahun. Sebetulnya waktu kami pindah ke rumah ini, Ayah tidak mau membawa kursi itu, tapi aku merasa sayang jika ditinggalkan begitu saja. Kamu boleh memiliki kursi itu, Ling.

Terima kasih. Tapi aku lebih suka duduk-duduk di kursi ini di kamarmu.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh di atas plafon.

Suara itu….

Mungkin tikus atau kucing. Hampir tiap malam tikus atau kucing bikin gaduh di atas plafon.

Suruh tikus atau kucing itu diam.

Kamu saja. Nanti aku berteriak terlalu keras.

Diaaammm!

Suara gaduh itu berhenti.

Nah, tikus atau kucing itu sudah pergi. Kamu suka rumah ini, Lia?

Lia terdiam agak lama.

Sebetulnya tidak. Aku lebih suka rumahku yang dulu. Rumah ini sudah tua dan jelek. Lihat plafon di kamarku. Warnanya kusam dan kotor bekas bocor. Dinding-dinding juga berwarna kusam. Rumah ini tidak punya banyak jendela. Hanya jendela besar di ruang depan dan jendela nako di kamarku, sehingga agak panas dan gelap. Tapi Ayah suka rumah ini. Kata Ayah, rumah ini peninggalan Kakek.

Kalau begitu, kenapa kamu pindah kemari?

Aku sudah mengatakan padamu, Ling. Karena rumah yang dulu dijual.

Ya, kamu sudah mengatakan padaku. Maksudku, kenapa rumah itu dijual?

Hhhh, aku juga sudah mengatakan padamu. Karena Ayah tidak bekerja lagi. Sudah tiga tahun. Jadi rumah yang dulu terpaksa dijual.

Kenapa ayahmu tidak bekerja lagi?

Entahlah, Ling. Aku tidak tahu.

Anak perempuan itu diam.

Dulu, waktu masih bekerja, Ayah selalu berangkat pagi-pagi sebelum aku bangun dan pulang larut malam setelah aku tidur. Aku hanya bertemu Ayah pada hari Sabtu dan Minggu. Itu pun jika Ayah tidak sedang ke luar kota. Lalu suatu hari Ayah berhenti dari pekerjaannya.

Kenapa?

Tidak tahu, Ling. Aku pernah bertanya, tapi Ayah merengut. Sejak itu aku tidak bertanya lagi. Aku tahu Ayah masih terus mencari pekerjaan, tapi sampai hari ini Ayah belum bekerja lagi.

Anak perempuan itu diam.

Dulu, waktu masih bekerja, Ayah sering marah-marah dan bertengkar dengan Ibu. Ibu sering menangis, dan aku juga menangis. Aku takut pada Ayah, dan aku merasa Ayah tidak sayang padaku dan Ibu.

Anak perempuan itu masih diam.

Tapi sekarang aku tahu, Ayah sangat sayang padaku dan Ibu. Aku juga sangat sayang pada Ayah.

Jadi sekarang ibumu yang bkerja?

Ya, sejak dua tahun yang lalu. Ibu juga berangkat pagi-pagi, tapi tidak pernah pulang larut malam. Aku kasihan pada Ibu.

Anak perempuan itu diam.

Oh ya, kamu memanjat terali besi itu lagi?

Anak perempuan itu tak menjawab.

Terali besi di tempat menjemur pakaian itu, di belakang kamarku. Dengan begitu kamu bisa menyeberang kemari.

Aku memang suka memanjat terali besi itu….

Lia memandang anak perempuan di depannya sambil menarik napas. Sudah sebulan ia mengenal anak perempuan itu, setelah ia dan orang tuanya mendiami rumah ini enam bulan yang lalu. Sebuah rumah tua berlantai dua di gang sempit yang sesak, di mana rumah-rumah lain saling berimpit di kanan-kiri dan belakang gang. Rumah ini sangat berbeda dengan rumahnya yang dulu, yang punya taman hijau, banyak jendela, dan berada di kompleks pemukiman yang sejuk. Tapi rumah itu sudah dijual….

Lia teringat, selama satu bulan ini anak perempuan itu sering datang ke rumahnya.

 

HEI! Bulan itu berwarna merah.

Lia berdiri dan berjalan mendekat ke dua jendela nako di samping ranjang. Di balik jendela, di atas atap-atap rumah, bulan kelihatan bundar dan merah di langit yang hitam pekat.

Kenapa bulan bisa berwarna merah?

Hening sejenak.

Kata orang tuaku, bulan berwarna merah ketika Raja Iblis menuntut korban manusia.

Lia menoleh. Anak perempuan itu seperti menatap ke arahnya. Tapi tidak! Anak perempuan itu sedang menatap ke bulan bundar dan merah di balik jendela. Wajah anak perempuan itu pucat. Lia tahu wajahnya memang agak pucat, tapi sekarang wajah itu kelihatan lebih pucat. Suara anak perempuan itu serak. Lia tahu suaranya memang agak serak, seperti sedang sakit tenggorokan. Tapi sekarang suara itu lebih serak.

Kata orang tuaku, jika bulan berwarna merah berarti akan ada yang mati. Hari ini, entah di mana di kota ini, seseorang atau beberapa orang akan mati. Dulu bulan itu juga berwarna merah ketika beberapa serdadu mendatangi rumahku. Topi mereka lucu, seperti punya penutup leher….

Lia diam dan mendengarkan.

Sore itu aku tengah bermain petak umpet dengan kakak lelakiku. Aku bersembunyi di gudang. Ada perjanjian di antara kami, jika salah seorang dari kami sudah tidak bisa menemukan orang yang lain, dia harus berteriak, ‘Aku menyerah.’ Sore itu aku tidak mendengar kakakku berteriak. Jadi aku tidak keluar dari gudang. Sampai berjam-jam, sampai tubuhku pegal dan aku haus dan lapar. Lalu aku keluar dari gudang. Hari sudah gelap. Orang tua dan kakakku tidak ada, tapi di rumahku ada beberapa serdadu yang sedang mabuk….

Lia diam dan mendengarkan.

Mereka menangkapku, lalu mengoceh dalam bahasa yang tidak kupahami sambil mengguncang-guncang tubuhku. Aku menangis, lalu seorang serdadu menempeleng mukaku. Aku menangis makin keras dan serdadu itu menempeleng lagi. Lagi dan lagi. Mungkin pukulan terakhir terlalu keras, karena aku jatuh menubruk lantai….

Lia diam tak bergerak.

Kukira aku pingsan. Waktu aku sadar, serdadu-serdadu itu entah ke mana. Orang tua dan kakakku juga tidak ada. Ibuku pernah berkata, apa pun yang terjadi, aku tidak boleh pergi dari rumah. Dengan begitu, mereka dapat menemukanku. Karena itulah aku tidak ke mana-mana….

Lia diam tak bergerak.

Lalu suatu hari Ayah dan kakakku kembali ke rumah. Aku bertanya ke mana Ibu, tapi mereka tidak menjawab. Mungkin mereka marah, karena sejak itu mereka tidak mau berbicara denganku. Mereka kelihatan sedih dan aku tidak tahu kenapa. Tapi aku bertemu Ibu dan dia memelukku erat-erat. Lalu Ibu pergi. Aku tidak boleh ikut, katanya, karena aku harus menjaga Ayah dan Kakak. Lalu suatu hari Ayah memelukku dan dia menangis. Katanya, dia tidak pernah marah padaku. Tapi Ayah juga pergi. Lalu suatu hari Kakak memelukku dan dia menangis. Katanya, sore itu dia berkali-kali berteriak, ‘Aku menyerah.’ Aku tidak mendengarnya, karena aku bersembunyi di gudang. Gudang di samping tempat menjemur pakaian itu, tempat kita bertemu pertama kali….

…Katamu, kamu menyeberang ke rumah ini dengan cara memanjat terali besi itu.

Aku tidak pernah berbohong. Kamu yang berkata begitu, Lia. Aku hanya mengatakan bahwa aku suka memanjat terali besi itu. Aku adik kakekmu. Dulu kakekmu selalu menjagaku. Sekarang aku akan menjagamu. Aku tidak pernah pergi dari rumah ini. (*)

 

 

Wendoko tinggal di Jakarta. Buku-buku puisinya, antara lain Jazz! (2012) dan Catatan si Pemabuk (2014).

One Response

  1. Ternyata Ling adalah (arwah) neneknya Lia 😮 Keren, cerpennya dark, misterius plus aroma mistis/ horror..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: