Archive for September, 2016

Merawat Peti Ingatan
September 25, 2016


Cerpen Putu Oka Sukanta (Media Indonesia, 25 September 2016)

merawat-peti-ingatan-ilustrasi-pata-areadi

Merawat Peti Ingatan ilustrasi Pata Areadi

SUATU hari saya menerima email dari seorang kandidat doktor sebuah universitas di ‘Negeri Kanguru’. Setelah membacanya, saya terhenyak ke perut kursi. Saya menjadi sedikit emosi, terasa ada yang berubah, suhu badan naik, dan kepala tidak nyaman. Padahal suratnya, walau agak panjang, intinya sangat sederhana. Kalau bersedia, katanya, tolong ia diperkenalkan dengan keluarga eks-Tapol 1965, terutama generasi kedua atau ketiganya. Ia yang bernama Maria S itu, akan melengkapi data lapangan tentang dampak yang dialami oleh mereka.

Saya menarik napas panjang, pikiran menerawang, hinggap, dan terbang tidak menentu di langit kehidupan. Burung-burung beterbangan, asap knalpot mencucuk hidung dan suara bising bersahut-sahutan entah dari mana datangnya. Saya merasa tertekan. Saya tidak menjawab e-mail-nya. Saya seperti mendengar kembali suara Mbak Inuk yang menuduh saya sebagai makelar, mempromosikan kesakitan, mengobok-obok luka lama menjadi pameran dunia yang tidak mendatangkan apa-apa bagi korban. Keuntungan diraup oleh pihak lain. “Mana buktinya kita diuntungkan?” suaranya serak cempreng seolah tikaman pisau di gendang telinga, sakitnya menjalar ke sekujur tubuh. (more…)

Advertisements

Rahasia Ibu
September 25, 2016


Cerpen Damanhuri Armani (Suara Merdeka, 25 September 2016)

rahasia-ibu-ilustrasi-putut-wahyu-widodo

Rahasia Ibu ilustrasi Putut Wahyu Widodo

Di Sebuah Toko Buku

Rahasia Membutuhkan Kata. Itu judul buku yang beberapa tahun lalu kudapati teronggok di sebuah rak toko buku di kotaku.

Sebenarnya bukan karena aku betul-betul pecinta buku, apalagi buku sastra, jika aku akhirnya membeli buku itu. Bukan, sama sekali bukan. Karena kalau aku seorang penyuka buku, sikapku pasti tidak instrumentalistik hanya membeli buku yang kuanggap memiliki nilai praktis. Jika aku pecinta sastra, tentu saja bukan buku telaah sastra itu yang aku beli; tapi justru buku sastra.

Aku pasti akan membeli buku-buku puisi Sapardi atau Sutardji. Aku akan membeli buku-buku prosa Seno Gumira, Budi Darma, Remy Sylado atau Umar Kayam—nama-nama pengarang dengan reputasi menjulang tapi hanya satu-dua buku karya mereka yang terselip di rak bukuku. (more…)

Lelaki dalam Kereta ke Barat
September 25, 2016


Cerpen Isbedy Stiawan Z.S. (Jawa Pos, 25 September 2016)

lelaki-dalam-kereta-ke-barat-ilustrasi-bagus

Lelaki dalam Kereta ke Barat ilustrasi Bagus

LELAKI itu sudah di gerbang stasiun kereta, saat petang beranjak. Sesekali ia menggerakkan kepalanya. Menengok ke belakang. Tak ada sesiapa. Ia ingin ke kota lain. Ransel yang sejak tadi di punggung, ia pindahkan. Kini dalam jinjingan. Di dalam tas itu; pakaian, sabun, shampoo, sikat, dan pasta gigi. Juga sebungkus gundah.

Hari-hari terakhir ia memang galau. Entah kenapa. Mungkin dia seorang yang tahu, tapi tak paham cara menyelesaikannya. Hidup ini misteri. Seperti salju luruh, kanal kehilangan air. Dan gigil yang tak sudah-sudah pergi. “Bukan soal cinta kalau aku gundah,” gumam dia.

Perempuan hanya bagai lampu jalan. Terkadang ada dalam gemerlap sangat, namun kesempatan lain amat pekat. Tetapi, ia tahu bahwa cinta adalah perkara rumit-rumit gampang. (more…)

Sejarah
September 25, 2016


Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 25 September 2016)

sejarah-ilustrasi-jeihan-sukmantoro

Sejarah ilustrasi Jeihan Sukmantoro

1.

Ceritakan padaku apa yang terjadi sebelum aku lahir. Aku ingin berenang, tenggelam dalam sejarah. Agar aku tahu arah yang benar dalam meneruskan langkah.

Sejarahku mentok, berhenti sebelum aku lahir. Jadi biar pun sejarahku ngelotok, sampai tahu berapa ekor nyamuk sudah terbunuh dalam kamar ini, aku tetap saja buta ke masa lalu. Maka terus-terang sejarahku tidak afdol. Dan itu membuat panca inderaku cacat. Timpang.

Mataku, kupingku, mulutku, alat peraba, penciuman, terutama perasaanku tidak komplit. Semua yang tertangkap jadi tidak bulat, lengkap, tuntas, tapi hanya sebagian-sebagian. Bahkan celakanya, tak jelas, itu sebagian besar atau sebagian kecil? (more…)

Forum Keluarga
September 24, 2016


Cerpen Dewi Kharisma Michellia (Koran Tempo, 24-25 September 2016)

forum-kekeluargaan-ilustrasi-munzir-fadly

Forum Keluarga ilustrasi Munzir Fadly

BILA kau membaca tulisan ini, perlu kau ketahui bahwa ini adalah isi kepalaku yang terekam secara otomatis ke dalam bentuk tulisan ketika aku menyentuh logam di tanganku. Ini adalah teknologi kuno di zamanku, tapi di zamanmu mungkin saja berbeda, maka kupikir perlu dijelaskan. Logam ini kuperoleh dari orang tuaku pada kelahiranku yang kedua. Saat itu umurku seratus dua puluh tahun. Selain merekam, logam ini bisa menganalisis isi pikiranku dan secara otomatis menerjemahkan sandi keluarga kami ke dalam bahasa Indonesia.

Serangkaian kejadian menjadi alasan mengapa aku perlu merekam pikiranku saat ini dan menyampaikan ini kepadamu. Dunia sedang bergejolak hebat. Tubuh-tubuh meledak dalam berita televisi yang disiarkan langsung dari lokasi kejadian. Dan penyiar televisi yang menyiarkan kejadian itu sekejap, kemudian lenyap. Sebagian penduduk di suatu negara mati karena epidemi. Dataran itu ditinggalkan penghuninya dan mereka lebih memilih mengapung-ngapungkan diri di perairan. (more…)

Mata Kuning Muda
September 18, 2016


Cerpen Farizal Sikumbang (Media Indonesia, 18 September 2016)

mata-kuning-muda-ilustrasi-pata-areadi

Mata Kuning Muda ilustrasi Pata Areadi

AKU bertemu dengan Angku Mudin pada siang hari. Angku terlihat sudah sangat tua kini. Seluruh rambutnya sudah memutih. Kulit tubuhnya mengkerut. Tulang pipinya menonjol. Punggungnya sedikit membungkuk. Tak ada lagi yang tersisa dari tubuh kukuhnya yang dulu. Yang abadi mungkin kesetiaannya saja. Kesetiaan pada pekerjaannya sebagai pembersih rumput sekaligus penjaga makam pahlawan itu.

“Sudah pulang dari rantau kau Buyung,” kata Angku Mudin dengan suara bergetar saat melihatku muncul di depannya. Angku Mudin lalu menatapku tajam. Dan aku merasa, sangat merasa, bahwa tatapan mata itu masih ada rupanya. Tatapan yang menyimbolkan bahwa Angku adalah salah seorang pasukan harimau itu. Mata itu, kuning muda. Tajam sorotnya. Mata yang sangat aku takutkan dulu. (more…)