Cerpen Jeli Manalu (Media Indonesia, 28 Agustus 2016)

Nama untuk Ayah ilustrasi Pata Areadi
Nama untuk Ayah ilustrasi Pata Areadi

“BARU jam empat, kenapa pagi sekali, Bu?”

“Kita harus ke sebuah tempat.”

“Apa kita akan bertemu Ayah?”

“….Ya.”

“Aku merindukan Ayah.”

“Kita semua merindukan Ayah.”

“Aku sayang Ayah. Apa Ayah juga sayang sama kita?”

Ibu menembakkan matanya ke mataku. Aku menatap mata ibu dengan caraku. Setiap menanyakan perihal perasaan ayah kepada kami, ibu selalu memberi petunjuk melalui tatap mata yang tidak kusukai. Mungkin ibu sengaja melakukan itu, agar aku berhenti merecoki pikirannya. Memang, ibu bukan tipe orang yang senang mengobrol. Ibu lebih sering diam, kalau tidak berdoa, ia baca kitab suci. Aku tidak tahu apakah karena ibu memang tidak terlalu gemar bicara atau ada penyebab lain?

Seluruh beban keluarga merupakan tanggung jawab ibu, walau hari-hari tertentu, ibu akan menjumpai orang asing, lalu membawa uang. Hari-hari lain, ibu bekerja keras di ladang kecil belakang rumah. Hasil ladang biasanya ibu tukarkan dengan teri, beras, telur, atau apa saja. Anehnya, setiap hendak belanja, ibu akan pergi ke kedai yang jauh sekali, sementara di sebelah rumah ada warung yang bahkan isinya lebih lengkap.

“Kenapa tak beli di samping rumah saja, Bu?”

“Ibu sudah langganan di sana.”

“Tapi warung itu sangat jauh, Bu. Guruku bilang, lebih baik belanja ke warung tetangga daripada ke tempat lain yang tidak kita kenal. Lagi pula, warung paling ujung itu sombong. Warung di samping rumah selalu menanyakan kabar Ayah.”

Ibu mengabaikanku. Aku galau dan sangat kesal. Terkadang kurasakan ia seperti bara yang hampir membakarku. Jika begini, aku akan mendinginkan diriku dengan cara yang tak perlu diketahui orang. Aku anak laki-laki, namun sesekali, aku layak menangis di balik selimut.

Orang-orang menyebutku anak cerdas. Selalu rangking satu, dan murid kelas unggulan. Mata pelajaran kesukaanku; matematika, agama, olahraga. Teman-teman sering memintaku mengajari mereka dengan pelajaran yang menurutku sama sekali tidak sulit.

Ada juga kelebihan lain yang kudapatkan bukan dari sekolah. Sewaktu akan naik kelas, aku pernah membawa kerajinan tangan berupa alat perang-perangan yang ketika ditekan tombol merah, maka musuh bisa pingsan, bisa pula gosong.

Suatu malam karena penasaran terhadap suara-suara aneh dari ruang kerja ayah sewaktu ia masih sering di rumah, diam-diam aku mengintip. Aku kaget. Tanpa sepengetahuan ayah dan ibu, aku mengatur lubang pengintaian. Melalui celah itulah kuperhatikan gerak-gerik ayah sampai hafal. Sewaktu ayah tak ada, aku mencuri bahan, lalu mencobanya di kamarku yang tertutup.

Ketika besar nanti, aku bercita-cita jadi pengusaha yang memiliki pabrik pembuat mainan, seperti mobil tempur, kereta cepat yang di tiap-tiap sisinya ada senapan yang bekerja otomatis jika ada lawan yang tertangkap kamera. Dan cita-cita tertinggiku adalah menciptakan pesawat untuk mengunjungi Tuhan.

Akan tetapi, itu hanya angan-angan yang muncul ketika berjumpa dengan ayah, kemudian tenggelam sendiri ketika matahari yang hampir kuning di timur mengusir ayah selama berbulan-bulan bahkan tahunan. Aku tidak tahu, apa cita-citaku itu akan bangkit di menit-menit setelah nanti kulihat kembali wajah ayahku. Sebab dari kelas IV sampai kelas V, ayah sudah tak pernah lagi menginjak rumah. Sekarang aku kelas VI.

“Duduklah,” kata ibu, “sebentar lagi Ayah datang,” lalu ibu memesan sarapan.

Sambil terus mengawasi ibu yang kulihat pergi ke kamar kecil sebelum makanan selesai disajikan, tiba-tiba ada yang meninju lenganku.

“Apa kabar?” tanya pria yang di pipi sampai dagunya tumbuh ijuk-ijuk kasar agak keriting. Di kepalanya ada sehelai kain buruk. Tubuhnya juga dilindungi jaket tebal dan bau. Ia sangat berantakan dan horor.

“Apa kabar, Armand?”

Berupaya mengisutkan badan sambil meremasi celana merahku, kupandangi kamar mandi yang belum juga memunculkan ibu. Ibu pernah menasihatiku supaya menyingkir dari godaan orang tak dikenal. Tapi, tadi ibu menyuruhku agar tidak ke mana-mana.

Ketika tertunduk melawan tubuh gemetaran, dan aku tahu lelaki di hadapanku menyadarinya, pelan-pelan pria yang lebih mirip setan itu melepaskan sebagian rambut di wajahnya.

“Sudah lama, Mas?” tanya ibu yang sudah berada di belakangku.

Apa kau ayah?

“Kau sungguh Ayahku?” tanyaku ragu-ragu, tapi malah meledakkan perasaan ke pelukan yang kadang ada dan tiada itu.

“Kau sudah sangat tampan, Armand.”

“Dan Ayah sudah sangat seram. Seperti penjahat.”

“Dulu,” kataku sambil membuka tas, lalu mengambil foto keluarga, “Ayah ganteng sekali. Rambutnya tidak sepreman ini.”

“Sekarang, Ayah bekerja lebih keras.”

“Memangnya apa pekerjaan Ayah?”

“Um…”

“Ayah teman-temanku juga bekerja sangat keras. Sering pulang malam, kadang ke luar kota, bahkan ada yang ke luar negeri. Mereka sangat rapi. Pakai dasi, dan baju warna putih. Memangnya, apa pekerjaan Ayah?”

“Membela kebenaran.”

“Membela kebenaran? Tapi sepatu Ayah kok jelek sekali? Di TV, pembela negara bajunya loreng-loreng. Sepatunya lars.”

“Pembela kebenaran menurut ajaran agama.”

“Aneh. Memangnya berapa gaji membela kebenaran menurut agama?”

“Tidak ada.”

“Tidak ada? Untuk apa bekerja kalau tidak mendapat gaji? Asal Ayah tahu saja, hanya aku yang tak punya uang saku di sekolah. Kawan-kawanku, uang jajannya, kalau tidak 20 ribu, 50 ribu juga ada. Mereka sering membayariku.”

“Sudah, sudah, habiskan makananmu,” ibu langsung menghentikan pembicaraan kami. Kulihat adikku merengek dalam dekapan ibu. Ayah menggendongnya sebentar, lalu menyerahkannya kembali ke tangan ibu. Kemudian ayah menumpahkan seluruh kopi hitam ke liang mulutnya. Setelah itu ayah menyerahkan uang dalam keadaan digulung-gulung. Aku tahu perjumpaan dengan ayah akan segera berakhir. Yang tidak aku tahu adalah apakah kami akan berjumpa lagi atau tidak.

“Ayah, guru dan teman-temanku sering menanyaimu. Hari ini, hari pertama memulai kelas baru. Apa Ayah akan ikut denganku? Sekali ini saja, Ayah, ayolah.”

“Maafkan Ayah, Armand. Waktunya hampir tiba. Ayah pergi sekarang.”

“Tapi di luar, basah, Ayah.”

Ayah diam saja. Ia mencium ibu, pipi adikku, dan hanya meremas bahuku. Dari garis bagian bawah mata ibu, kudapati sungai seperti jalanan yang digenangi hujan gerimis bercampur angin.

Air dingin beterbangan di kepala serta jaket hitam ayah. Yang kutahu jaket itu tidak mampu melindungi ayahku. Ayah mulai jauh dariku. Tubuhnya kian samar dalam terpaan hujan yang makin deras. Aku mendesak pemilik warung supaya meminjamkan payung. Awalnya ia tak mau. Namun karena aku menangis hingga menarik-narik ujung tangannya, ia luluh akhirnya.

“Ayah!” aku mengejar ayah, “payung, Ayah, payung!”

Tapi ayah tak menggubrisku. Ia tuli pada seruan anak sulung yang teramat menyayanginya.

“Ayah! Apa kau sayang kepadaku? Apa kau sayang pada kami?”

Aku tergelincir di tanah licin, dan saat aku hendak berdiri, yang tampak di mataku hanyalah hutan dipenuhi daun-daun melambai. Jantungku berdenyut sakit. Sakit sekali. Saat itulah aku sadar kalau ayah sungguh tak sayang kepada kami.

***

Kami bertiga tiba di sekolah. Aku masuk ke lapangan dan mengikuti upacara bendera. Ibu dan adik perempuanku menunggu di kantin sambil menonton. Ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa semangat, dari jauh kuperhatikan langkah ibu yang mondar-mandir. Kadang ia menatap ke arahku, kadang ke arah TV. Aku cemas dan tak konsentrasi di barisan.

Sesaat kemudian, sewaktu pelajaran belum dimulai, ibu mendatangiku dengan wajah pucat. Tanganku ditarik. Aku diajak pulang tanpa memberitahu wali kelas. Melihat ibuku yang tampak tidak biasa, apapun ceritanya, aku menurut saja.

Sesampai di rumah, ibu mengunci semua pintu, jendela, mematikan ponsel, dan mematikan TV. Setelah itu, ibu langsung berwudu, dan kudengar ia menjerit-jerit sambil mendekap Alquran. Lalu ibu berlari ke arahku, menciumiku, dan memelukku erat-erat.

“Apa yang terjadi, Bu?”

Meski sudah malam, ibu belum juga menjawabku. Kegiatan kami hanya diam, tidak berselera makan, tak dapat tidur, dan lebih banyak berdoa. Kami mengurung diri selama dua hari. Pada hari ketiga, kami dilanda kengerian yang mendalam. Ada yang menggedor-gedor di pintu.

Orang-orang berseragam menggeledah isi rumah. Barang-barang milik kami, tidak boleh kami sentuh. Mereka sangat cerewet kepada ibuku. Bertanya ini dan itu. Padahal ibu belum sempat makan walau sesendok nasi, kecuali hanya mencicip kuah sayur yang masih mendidih di atas kompor. Lalu ibuku dibawa. Sementara dariku dan dari adikku, orang-orang itu meminta air liur dan beberapa helai rambut.

Setelah orang-orang jahat itu pergi, aku menyalakan TV. Ada nama yang mirip dengan nama ayahku. Susanto alias Tanto alias Sukarjo. Aku sendiri lupa yang mana nama ayahku. Katanya, orang itu meledakkan tubuhnya sendiri di dekat pos polisi. Tapi aku tak percaya. Ayahku pembela kebenaran. Ia bekerja untuk Tuhan. Ia bahkan rela tidak digaji. Apa yang lebih mulia dari itu?

Sebab tak mau ayahku dicap macam-macam, aku mencocokkan gambar yang diperkirakan itu ke gambar ayah yang selalu kusimpan di dalam tas. Sama sekali tidak mirip. Sungguh kejam orang-orang yang tega menyusahkan ibuku.

Ketika kubayangkan air mata ibu, dan tak sengaja menekan tombol yang membuat rasa nyeri di dahiku, tiba-tiba aku ingat pria yang tiga pagi lalu pergi menembus hujan dengan jaket tebal yang sangat bau. (*)

 

 

2016

Jeli Manalu lahir di Padangsidempuan, 2 Oktober 1983. Penikmat sastra dan giat menulis cerpen. Ia tinggal di Rengat, Riau.

 

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com dan cerpenmi@yahoo.co.id

Advertisements