Cerpen Arman A.Z. (Jawa Pos, 28 Agustus 2016)

Jimat Datuk ilustrasi Bagus
Jimat Datuk ilustrasi Bagus

KAMI telah ikhlas jika malaikat maut datang menjemput Datuk. Ketimbang berminggu-minggu tergolek di kasur, tersiksa antara hidup dan mati, kami pasrah ditinggalkan beliau. Bukan berarti kami tak menyayangi Datuk atau ingin dicap sebagai anak cucu durhaka. Kami hanya ingin yang terbaik untuknya. Kami harap surga akan lebih indah jika Datuk ditempatkan di sana.

Dua bulan lalu Datuk opname. Saat itu kondisinya belum anjlok seperti sekarang. Di rumah sakit, beliau ngotot minta pulang. “Aku mau mati di rumah saja, bukan di sini,” keluhnya pada kami dan perawat.

Tak ada penyakit medis dalam tubuh Datuk. “Ini faktor umur. Beranjak tua, organ-organ tubuh manusia kian aus,” jelas dokter. Usia Datuk memang delapan puluhan lebih. Seizin dokter, Datuk kami bawa pulang. Kami diimbau merawat dan menjaga pola makannya.

Bisik-bisik beredar di antara famili yang membesuk Datuk. Kata mereka, barangkali Datuk punya simpanan, sejenis jimat atau susuk dalam tubuhnya. Orang-orang zaman dulu lazim memiliki benda macam itu untuk keperluan berbeda-beda. Benda itu harus dibuang agar tak mengganjal jalan Datuk menuju ajal, dan hanya orang pintar atawa dukun yang bisa mencabutnya.

Meski kurang percaya pada hal-hal klenik, tak kusanggah pendapat mereka. Bisa jadi begitulah bentuk simpati mereka pada kami. Tapi kalau obrolan klenik kian melantur, aku menyingkir ke kamar atau teras belakang. Pernah ada yang datang membawa sekebat daun kelor untuk dikibas-kibaskan di atas ubun-ubun dan sekitar tubuh Datuk. Tapi, hingga daunnya kering kecokelatan, tak ada efek apa-apa.

Pernah pula ada orang pintar didatangkan seorang famili. Sembari menggenggam teko plastik berisi air putih, orang itu menggumamkan jampi-jampi, kemudian memberi tahu bahwa air itu untuk diminum Datuk. Sampai kering air di teko, pun tiada perubahan.

Datuk masih bertahan, tergolek di kasur bagai mayat hidup. Tubuhnya kurus kering, tinggal kulit membebat tulang. Kelopak matanya cekung. Perut dan dadanya kembang kempis, susah payah menghirup melepas udara. Jika minta minum atau hendak buang air, Datuk selalu bergumam. Kami harus mendekatkan telinga ke mulutnya agar bisa mendengar yang diucapkannya.

Kami lakukan yang terbaik buat Datuk. Tiada keluh terlontar dari mulut kami selama merawat beliau; mengganti baju koko kusam dan kain sarung yang warnanya pupus dengan pakaian yang baru, atau melap sekujur tubuhnya dengan air hangat. Kami telah kebal dari rasa jijik saat mengangsurkan pispot ke selangkangan Datuk jika ingin kencing atau berak. Kerap kupergoki sudut-sudut mata Datuk basah, menangis tanpa isak, saat kami lakukan itu semua. Entah beliau sedih atau bahagia. Inilah cara kami membalas bakti pada Datuk, hibur ibu penuh haru.

***

SEBAGAI cucu pertama, aku punya banyak kenangan bersama Datuk. Beliau doyan membaca. Setiap pagi, dengan kacamata tebal bertengger di pucuk hidung, dilahapnya isi koran dari halaman muka hingga akhir. Jika tak ada kesibukan berarti di siang hingga petang, dia baca lagi buku-buku tua simpanannya atau buku koleksi papa. Sebisa mungkin kami tak mengusiknya. Bukankah kebahagiaan yang sederhana dapat berbentuk apa saja?

Di usia senja, ingatan Datuk belum sepenuhnya tumpul. Dia ingat halaman buku yang berisi kalimat atau kisah yang di sukainya. Beberapa tahun lalu, teman-teman kuliahku sempat bengong tak percaya. Untuk membuktikan, kucomot buku tua koleksi Datuk. Kami sibak halaman buku itu dan memang tepatlah yang diucapkan Datuk.

Teman-teman Datuk banyak yang tinggal nama. Hanya Opa Jung dan Opa Radi yang tersisa. Meski tinggal satu kota, lumayan jauh jarak antar rumah mereka. Aku yang selalu disuruh Datuk menjemput dan mengantar mereka pulang. Saking seringnya datang, kedua opa itu sudah kuanggap kakek sendiri. Kalau sedang kumpul, bisa berjam-jam mereka membincangkan sejarah dan kondisi terkini. Melirik mereka ngobrol bagai melihat para pemegang saham negeri ini sedang menggelar rapat luar biasa.

Menjelang negeri ini merdeka, umur Datuk 10 tahun. Saat itu bersama bocah-bocah sebaya, Datuk kerap jadi kurir pengantar makanan dan obat-obatan untuk para gerilyawan di tengah rimba. Datuk menolak ketika kupuji sebagai pahlawan cilik. “Aku ikut perang bukan untuk dapat titel pahlawan,” sanggah Datuk. Dua tahun setelah peristiwa pem bunuhan beberapa jenderal di Jakarta, Datuk menikah.

Sayang, nenek keburu meninggal saat aku masih kecil.

***

TAK seperti biasa, hari ini papa menjemput Opa Jung dan Opa Radi. “Ini ikhtiar juga. Siapa tahu setelah mereka bertemu, ada perubahan…,” ujar papa gamang. Terasa olehku ada gelisah campur pasrah dalam kalimat itu. Barangkali papa tak tahan mendengar mama terisak-isak hampir tiap hari, melihat kondisi orang tuanya yang tersisa. Terbungkuk-bungkuk Opa Radi melangkah, sementara Opa Jung berjalan tegak memakai tongkat rotan. Keduanya langsung menuju ke kamar Datuk yang letaknya dekat pintu masuk rumah. Kami pasang telinga, berusaha mendengar percakapan tiga lelaki di balik kain gorden kuning. Tak ada kalimat yang tertangkap jelas oleh kami. Percakapan mereka tersendat-sendat dan seperti berbisik-bisik.

Opa Jung dan Opa Radi keluar kamar. Wajah mereka nampak iba bercampur gelisah. Mereka teguk teh yang telah disiapkan di meja. Kami menahan napas. Opa Radi mencabut dompet buruk rupa di saku kanan belakang celananya, mengeluarkan buku telepon yang sudah lapuk, lalu meminjam ponsel papa. Aku nyengir melihat papa salah tingkah karena Opa Radi tak menyahut saat ditanya hendak menghubungi siapa. Opa Radi keluar dan duduk sendiri di teras. Diteleponnya beberapa orang. Basa-basi menanyakan kabar, mencari tahu siapa yang bisa dihubungi, sesekali ngedumel sendiri, mengucap syukur, dan minta dikabari secepatnya.

Tak lama Opa Radi kembali bersama kami. Disandarkan punggungnya ke sofa seraya menghela napas. Dicetuskannya sebuah nama dan sebuah kota. “Sudah. Dia masih hidup…,” cetus Opa Radi seraya beradu pandang dengan Opa Jung.

“Tidak ada jalan lain, kita harus ke sana menjemputnya…”

Kami celingukan, tak memahami maksud dua lelaki uzur ini. Dalam hati, aku mengeluh sangsi, dukun mana lagi yang hendak diusung ke mari?

***

Saat masih bujang, Datuk mencintai seorang gadis. Raudah, namanya. Keadaan saat itu membuat mereka tak bisa menyatu. Setelah Raudah dinikahi lelaki lain, mereka jarang bersua, hingga akhirnya Datuk menikahi nenek dan mereka jalani hidup masing-masing.

Aku nyaris tak percaya dan mesem kecut mendengar kisah itu. Mama membocorkannya padaku setelah papa, Opa Jung, dan Opa Radi pergi keluar kota. Mama dan papa baru tahu setelah diajak Opa Jung dan Opa Radi bicara delapan mata di teras belakang, beberapa saat sebelum berangkat. Tentulah orang tuaku kaget bukan kepalang. Sebegitu yakin Opa Jung dan Opa Radi bahwa ini urusan perasaan, urusan ingatan. Oleh mereka, papa dan mama dilarang banyak tanya atau komentar.

Teringat saat-saat bersama Datuk membuatku tak habis pikir bahwa dengan orang terdekat pun kita tak tahu isi hatinya. Sulit kupahami bahwa Datuk masih memendam ingatan pada wanita yang pernah dicintainya sekian tahun lalu. Ingin nian kukorek kisah cinta Datuk, namun beliau tidur pulas.

***

Dua mobil hitam masuk beriringan lalu berhenti di garasi. Perhatianku tertuju ke mobil berplat luar kota di belakang mobil papa. Penumpangnya keluar satu per satu. Di bangku depan seorang sopir dan lelaki paro baya. Dari pintu tengah muncul seorang ibu muda, bocah perempuan, dan seorang nenek berkerudung hijau muda. Tak sia-sia tiga hari mereka pergi.

Aku tersenyum canggung menyambut tamu asing namun penting itu. Nek Raudah berjalan dituntun ibu muda dan bocah perempuan. Tubuh Nek Raudah ringkih, wajahnya tirus dan kulitnya penuh kerut. Beberapa helai rambut putih menyembul dari sela kerudungnya. Mereka duduk di ruang tamu. Kedua orang paro baya itu, yang kemudian kuketahui adalah putri dan mantu Nek Raudah, nampak santun. Karena baru kali ini berjumpa, suasana terasa canggung. Terlebih dibebani mengurus kisah cinta sepasang manusia uzur yang tak menyatu, dan salah satunya sedang sakit tua. Dalam situasi itu, Nek Raudah jadi semacam juru selamat bagi kami semua.

“Pak Jung sudah cerita panjang lebar,” kata mantu Nek Raudah. “Kami juga kaget mendengar kisah ini. Sebagai ikhtiar bersama, kami sepakat harus kemari.”

Tak lama berbasa-basi, Nek Raudah tertatih masuk kamar dituntun putrinya. Opa Jung dan Opa Radi telah lebih dulu menemui Datuk di dalam kamar. Tak butuh waktu lama, terdengar sesengukan tiga wanita, silih berganti kalimat-kalimat dalam nada rendah, pasrah, sekaligus memberi kekuatan. Ingin nian aku mengintip dari balik gorden, namun lirikan mata papa melarangku.

Gorden tersibak. Nek Raudah keluar diapit anaknya. Kali ini langkahnya lebih lemah. Matanya sembab. Dibantu mantunya, perlahan dibimbing dan diletakkan Nek Raudah di sofa. Opa Jung dan Opa Radi menyusul, membiarkan mama menemani Datuk.

Terbata-bata Nek Raudah mendedah kisah masa lalunya bersama Datuk. Lazimnya orang uzur menceritakan masa lalu, melantur berputar-putar ke sana kemari, menjauh dari topik obrolan. Kami cuma bisa sabar menyimak.

Dahulu mereka pernah saling menyukai, hingga sempat berencana menikah. Situasi berubah setelah berita kudeta di Jakarta merembet ke daerah. Informasi simpang siur datang bergulung-gulung. Terjadi penggeledahan dan penangkapan di mana-mana. Hingga akhirnya orang tua Datuk melarang Datuk menikahi Nek Raudah karena keluarga Nek Raudah dituduh terlibat organisasi terlarang. Kami semua bungkam ketika tangis Nek Raudah pecah. Tersedu-sedan Nek Raudah ceritakan, bapak ibunya raib entah ke mana setelah ditangkap, bahkan hingga saat ini beliau tak tahu di mana kubur orang tuanya.

Berulang-ulang papa dan mama menawari tamu jauh ini bermalam, namun berkali pula ditampik. Mereka berdalih akan menginap di rumah famili yang lama tak disambangi. Setelah mereka pamit, papa, Opa Jung, Opa Radi, dan aku duduk diam; sibuk dengan pikiran masing-masing. Opa Jung menghibur, Datuk punya cara sendiri mempertemukan kami dengan saudara baru.

Malamnya aku sulit tidur. Pikiranku masih hilir mudik ke sana-kemari. Kubayangkan cerita mama tadi; jemari Nek Raudah menggenggam jemari kiri Datuk. Genggaman yang lama, seperti saling mengingatkan, saling menguatkan. Sebegitukah kekuatan cinta Datuk? Cinta macam apa pula yang dimilikinya; menikahi nenek, beranak-cucu, hingga nenek wafat lebih dulu; ternyata ada wanita lain terkunci dalam hatinya. Selain itu, kebencian dan syak wasangka telah menetak cinta Nek Raudah dengan Datuk, juga dengan orang tuanya.

“Kelak kau akan mengerti, Anak Muda,” cetus papa sebelum masuk ke kamar Datuk untuk bergiliran jaga, membiarkanku melongo di depan televisi.

***

Sepekan setelah Nek Raudah pergi, ketika pagi baru melek, malaikat maut datang menjemput Datuk. Seorang famili, perawat di rumah sakit, memastikan Datuk telah tiada. Bahagia dan sedih campur aduk di hati kami. Sedih karena takkan melihat beliau lagi. Bahagia karena berakhirlah penderitaannya.

Aku tak tahu apatah kehadiran Nek Raudah ada kaitannya dengan kepergian Datuk. Aku tak tahu apatah malaikat maut sengaja menunda ajal Datuk agar bisa bersua Nek Raudah, memandangnya untuk terakhir kali. Yang jelas, bukan daun kelor yang dikipas di atas kepala, jampi-jampi, bukan pula jimat atau susuk yang mengganjal kepergian Datuk. Ada yang belum selesai dalam kehidupan Datuk, dan itu terpendam sekian lama dalam liang gelap ingatannya.

Datuk pergi dengan senyum kecil tersaput di bibirnya. Kupikir pertemuan dengan Nek Raudah adalah momen paling membahagiakan di hari-hari terakhirnya. Bukankah kebahagiaan yang sederhana bisa berbentuk apa saja? ***

 

 

Bandar Lampung, 2015-2016

Advertisements