Cerpen Utami Panca Dewi (Suara Merdeka, 21 Agustus 2016)

Kebun Kelapa Bapak ilustrasi Hery Purnomo
Kebun Kelapa Bapak ilustrasi Hery Purnomo

Jadi, kebun kelapa itu akan dijual untuk kepentingan pakde Parsidi pergi ngulon—menjalankan rukun Islam yang kelima. Kebun itu sebelumnya memang milik bapak. Warisan dari simbah untuk anaknya yang wuragil. Kebun yang berdampingan dengan kebun milik pakde Parsidi, anaknya simbah yang pertama. Kedua kakak bapak yang lain tidak mendapatkan warisan karena meninggal dunia sewaktu masih bujang. Namun semenjak bapak menggadaikan kebun itu kepada pakde—demi kelanjutan studiku di Perguruan Tinggi—surat tanah kebun kelapa itu akhirnya dikuasai pakde.

“Beruntung Pakdemu masih mengizinkan Bapak mengambil nira dari pohon kelapa yang tumbuh di kebun itu, Le. Jadi simbokmu masih bisa menitis dan mengolah legen menjadi gula merah untuk sangu kuliahmu. Begitupun dengan kelapanya,” begitu kata bapak saat melepas surat tanah demi mendapatkan pinjaman uang sepuluh juta rupiah, agar aku bisa merasakan bangku kuliah.

Bapak memang lelaki Jawa tulen, yang selalu memandang setiap anugerah atau musibah dari sisi baiknya. Saat kecil aku pernah terserempet sepeda motor hingga kakiku patah. Bapak malah berkata bahwa masih untung cuma kakiku yang cidera, bukan nyawaku yang melayang ke alam baka. Pun saat bajing-bajing mulai berkeliaran menyambangi buah kelapa kami, menghabisi daging buahnya—menyebabkan buah kelapa menjadi jomblo tanpa isi. Bapak hanya berkata bahwa mungkin bapak kurang bersedekah, sehingga alam mengambil kembali hasil bumi kami melalui tupai-tupai itu. Untunglah beberapa hari kemudian datang kang Midi Kachir yang memburu kawanan tupai dengan senapan anginnya. Dia bagaikan pahlawan bagi pemilik kebun kelapa seperti kami.

Pohon kelapa di dalam kebun bapak rata-rata sudah tua, legen yang dihasilkan tak lagi bisa memenuhi bumbung yang dipasang bapak di tangkai manggar. Dan bapak selalu gagal melakukan peremajaan pohon kelapa di kebunnya. Aku tak pernah tahu penyebabnya, namun tunas kelapa yang ditanam bapak selalu mati, sebelum pupus daunnya sempat melebar menentang cahaya matahari. Berlainan betul dengan kebun milik pakde Parsidi. Tunas kelapa yang ditanam pakde selalu bisa tumbuh dengan subur. Di saat bapak menebangi pohon yang telah tua untuk dijual glugunya, pakde justru bisa memanen lebih banyak kelapa dari pohon yang tidak diambil legennya.

“Urip iku wang sinawang Le, kehidupan orang lain bisa saja tampak bahagia menurut pandangan kita. Namun bisa jadi pandangan kita salah,” begitulah kalimat yang selalu bapak ucapkan diikuti dengan ajakan untuk mensyukuri setiap nikmat yang diberikan Gusti Allah.

Namun saat kebun yang tergadai itu benar-benar dijual pakde, aku benar-benar tak bisa menerimanya. Apalagi hanya dengan alasan sepele, yakni karena bapak tidak bisa melunasi hutangnya kepada pakde tepat waktu. Kemana hilangnya rasa persaudaraan itu? Apakah luntur tergerus zaman yang disesaki keinginan untuk memenuhi kebutuhan materi?

Seharusnya tidak semudah itu pakde memutuskan untuk menjual satu-satunya aset yang dimiliki bapak. Mengingat rumah limasan yang kami tinggali pun terletak di bagian kebun sebelah depan. Kalau tanah itu benar-benar dijual, lantas kami mau tinggal di mana? Bapak terlalu naif dengan mengatakan bahwa kelak aku pasti akan menjadi orang sukses, yang bisa membeli apapun yang kumau. Maka saat pakde mengetuk pintu rumah untuk mengatakan maksudnya, akulah satu-satunya anak yang menentang. Kedua adikku meringkuk di kamar tengah dalam dekapan simbok. Sementara bapak sendiri hanya mampu bersedekap sambil tertunduk gamang.

“Kalau memang kebun bapakmu tidak boleh dijual, ya kamu harus melunasi hutang bapakmu, Le!”

Seperti diguyur kuah jangan ndesa yang biasa dibuat simbok untuk menemani nasi liwet, saat mendengar ultimatum dari pakde. Pedasnya tidak hanya memerahkan telinga, tetapi tembus sampai ke hatiku, menimbulkan nelangsa berkepanjangan. Terbayang kuliahku yang pasti akan berhenti di tengah jalan, karena tidak ada lagi sumber kehidupan yang bisa dipakai bapak untuk membiayainya. Masih terngiang jelas pesan almarhum simbah putri saat aku masih kecil.

“Le, kamu jangan mau hanya menjadi wong nderes. Kamu harus sekolah yang tinggi supaya jadi orang yo Le…”

Kalau tidak ingat bahwa aku ini adalah anak lelaki bapak satu-satunya, aku pasti sudah menangis. Tapi untuk apa? Hanya memberi contoh yang buruk kepada adik-adikku. Sependek ingatanku, pakde memang tidak pernah bersikap manis kepada bapak. Demikian juga terhadap simbah putri. Mulanya aku tak tahu mengapa bisa demikian. Setelah aku besar, simbok memberi tahuku bahwa pakde Parsidi dan bapak memiliki satu ayah tetapi lain ibu. Pakde Parsidi merasa tak adil jika simbah kakung mewariskan kebun kelapanya kepada bapak, dengan luas yang sama pula.

Sejak simbah putri tiada, sikap permusuhan yang ditunjukkan pakde semakin menjadi-jadi. Saat simbok membuat geplak dan srundeng untuk dijual, pakde Parsidi ikut-ikutan menyuruh mbokde Parsidi mengolah dan menjual makanan yang sama. Simbok tak mempermasalahkannya. Simbok yakin, rezeki ada yang mengatur. Justu mbokde Parsidi yang merasa malu hati dan tidak enak dengan kelakuan suaminya.

“Bagaimana? Kamu sanggup melunasi hutang bapakmu sekarang?” Pertanyaan pakde mengagetkanku dan memaksa kepalaku untuk menggeleng lesu.

Maka, akhirnya kebun kelapa bapak pun terjual untuk sangu pakde Parsidi pergi naik haji. Para tetua kampung dan sebagian besar penduduk kampung berduyun-duyun ke rumah pakde untuk memberikan ucapan selamat dan doa. Sementara hanya segelintir orang yang mengantarkan keluargaku, pindah ke sebuah rumah kontrakan kecil.

“Ikhlas Le, ikhlas. Semuanya milik Gusti, dan akan kembali kepada Gusti…”

Tetapi sungguh, kata-kata ikhlas itu gampang diucapkan tetapi sangat sulit untuk dijalankan. Kuliahku terpaksa berhenti di tengah jalan. Sebagai sulung, aku harus ikut memikirkan kelanjutan pendidikan adik-adikku. Dan penyebab kandasnya cita-citaku adalah pakde. Larangan dari swargi mbah putri, agar aku tidak menjadi wong nderes, justru seperti menjadi sebuah doa. Aku benar-benar menjadi seorang pengambil nira, di kebun milik pakdeku sendiri. Aku harus menelan pahitnya kenyataan, bahkan saat sedang menelan air nira yang sangat manis.

“Berikan doa yang terbaik untuk pakdemu Le,” pinta bapak.

Simbok memberikan bekal serantang srundeng untuk lauk, seandainya selama menjalankan ibadah, pakde merasa tidak cocok dengan lauk yang disajikan catering hotel. Namun bekal itu ditolak olehnya. Pakde sudah membawa bekal srundeng dari kelapa yang dipetik dari kebunnya sendiri, dan dimasak oleh istrinya sendiri.

“Tidak usah membekali macam-macam. Kalau kalian cuma mau minta didoakan saat aku di depan Hajar Aswad, nanti aku doakan. Tapi ingat, doa saja tidak cukup. Pintu rezeki akan terbuka kalau kita mau berusaha. Kau kira kekayaanku jatuh sendiri dari langit?”

Begitulah pakde Parsidi. Aku harus menutup telinga kanan dan kiri, kalau tidak mau sakit hati. Sebentar lagi akan ada gelaran “Haji” di depan namanya. Mungkin nantinya akan lebih banyak lagi nasihat-nasihat berbumbu kata-kata pedas, yang keluar dari bibir pakde. Sebagai keponakannya, aku hanya butuh gumpalan kapas yang lebih tebal, agar bisa mengangguk-angguk dengan hati yang tetap dingin.

Sore itu, sepulang dari nderes, lamat-lamat aku menangkap suara tangisan mbokde Parsidi di ruang tamu sempit dalam rumah yang dikontrak bapak.

“Aku harus memintakan maaf atas segala kesalahan suamiku kepada keluarga kalian,” ucap mbokde tersendat-sendat.

“Iyo, iyo De, tak seorang pun di dunia ini yang luput dari berbuat salah. Justru karena itulah Gusti Allah telah membuka pintu ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang memohon ampun. Tentu saja aku sebagai manusia biasa telah memaafkan segala kesalahan Kang Parsidi itu….”

Masih banyak lagi kata-kata yang terucap dari bibir bapak, ditingkah sedu sedan dari bibir mbokde Parsidi. Setelah tangisnya agak reda, kalimat-kalimat yang keluar dari mulut perempuan tua itu yang justru mengagetkanku. Bahwa sebenarnya sejak dulu, pakde Parsidi-lah yang sengaja mengguyurkan satu jerigen besar minyak tanah ke pupus kelapa yang ditanam bapak, hingga pohon kelapa itu layu dan mati. Pakde juga yang memengaruhi para tengkulak agar membeli dengan harga rendah kelapa-kelapa dari kebun milik bapak. Sehingga simbok memutuskan untuk mengolah kelapa yang muda menjadi geplak dan kelapa yang tua menjadi srundeng. Intinya mbokde Parsidi sangat takut kalau-kalau Pakde belum sempat bertobat, karena sekarang sudah tidak ada kesempatan lagi…

“Memangnya apa yang terjadi dengan Pakde?” tanyaku masih belum mengerti akan makna pengakuan mbokde di antara sedu sedan tangisnya.

“Pakdemu telah berpulang, Le. Saat sedang makan, Pakde tersedak parutan kelapa dalam srundeng yang kumasak sendiri.”

Mbokde kembali menangis. Sementara aku hanya mampu tertegun sambil menatap kedua bumbung di tanganku yang penuh berisi air nira. (92)

 

 

Utami Panca Dewi, seorang guru SMP yang aktif menulis sejak 2011. Karya-karyanya berupa cerpen pernah dimuat di majalah Kartini, Femina, Gadis, Pikiran Rakyat, Nova dan beberapa lainnya. Ia meraih juara II lomba cerber Femina tahun 2015/2016. Kelahiran Kulonprogo, DIY, ini sekarang mukim di Jl. Taman Lembayung No. 41 Sendangguwo, Semarang.

Advertisements