Cerpen Arianto Adipurwanto (Koran Tempo, 20-21 Agustus 2016)

Mantra ilustrasi Munzir Fadly
Mantra ilustrasi Munzir Fadly

BERKELILING mencari para pemburu babi yang dilihat istrinya siang tadi, Maq Colaq memasuki sebuah kampung, tempat rumah-rumah berjejer dan orang-orang berjalan hilir-mudik.

Ia melihat perempuan-perempuan yang membawa sesuatu yang seperti labu coklat di atas kepala mereka berjalan ke arahnya.

Ia memandang sekeliling. Rumah-rumah itu persis seperti rumah para warga dari kampung awalnya, sebelum ia dan istrinya pindah ke Lelenggo—beratap daun kelapa, bertiang bambu, dan berdinding anyaman bambu. Penghuni kampung itu semakin lama semakin banyak yang keluar dari rumah, dan terdengar olehnya suara tabuhan gamelan. Hanya saja setelah berusaha keras mencari sumber suara itu, ia tidak menemukannya. Ia menduga sedang ada upacara.

Suara gamelan di kampung yang baru ia temukan terdengar persis seperti suara gamelan yang sering ia dengar tengah malam dari rumahnya. Itu membuat ia berpikir kampung itu berada dekat dari rumahnya. Ia segera sadar bahwa setelah bertahun-tahun tinggal di Lelenggo, ia telah berkeliling sampai tempat terjauh dari rumahnya, dan yang ia temukan hanyalah hutan belantara, tidak ada kampung.

Maka, dengan penuh rasa ingin tahu, ia mengikuti perempuan-perempuan yang membawa labu coklat itu. Pasti di sana, pasti di sana, pasti di sana, begitu selalu ia mengira setiap melewati tikungan, tetapi para penabuh gamelan tidak juga kelihatan. Ketika ada perempuan pembawa labu yang menempuh jalan berlawanan dengannya, ia baru sadar mereka tidak membawa labu itu ke satu tujuan.

Tanpa sengaja, ia melihat sesuatu yang aneh di labu yang mereka bawa. Samar-samar tampak olehnya sepasang mata, hidung, dan mulut. Demi meyakinkan diri, ia berhenti dan memerhatikan perempuan yang mendekatinya. Sepasang mata di labu itu berkedip ketika sepasang mata dari wajah perempuan itu berkedip. Dan tatkala perempuan itu berbicara, mulut di labu itu juga membuka, hanya saja suara dari mulut labu itu sedikit terlambat, mengingatkan Maq Colaq pada suara yang terdengar ketika ia berteriak menantang orang yang telah mengambil anaknya pada malam ketika anaknya hilang.

Suara itu terdengar seperti sendawa.

Ia seperti baru bangun dari tidur, dan di sekelilingnya tiba-tiba terdengar lebih banyak lagi dahan suara serupa. Sekarang mata, hidung, dan mulut dari labu itu tampak sangat jelas. Persis seperti perempuan yang membawanya.

Maq Colaq berjalan cepat, tidak sabar untuk segera pergi dari kampung yang entah berapa jauh dari rumahnya ini. Ia setengah berlari sambil sesekali melihat ke belakang. Pada saat ia melihat ke belakang untuk ke sekian kalinya ia menubruk seorang perempuan lain. Tubuhnya hampir saja terjatuh. Sedang perempuan itu terus berjalan seakan-akan tidak terjadi apa pun padanya.

Maq Colaq terheran-heran. Dunia macam apakah tempatnya sekarang? Seolah-olah ingin menjawab pertanyaannya itu, ia melihat sesuatu yang aneh pada diri perempuan yang tadi ia tabrak. Cara berjalannya pelan, berat, seperti ada beban di kedua kakinya. Benar saja, ketika Maq Colaq melihat ke tubuh bagian bawah perempuan itu, kedua betisnya membengkak sangat besar, mengingatkannya pada bentuk perut istrinya ketika mengandung anaknya yang telah hilang. Kedua bengkakan itu bergerak-gerak setiap kali perempuan itu melangkah. Maq Colaq akan lama memandangi perempuan itu jika tidak ada pemandangan yang lebih menarik di dekatnya.

Sebuah rumah, yang paling berbeda dengan rumah lainnya, berdinding bata mentah, diurapi tanah liat, retak-retak di beberapa bagian, dan bertiang batang pinang. Pelan-pelan pintu rumah itu terbuka, dan seorang laki-laki, yang mungkin pemiliknya, duduk di rangka pintu.

Maq Colaq bersembunyi. Dari tempat persembunyiannya, ia pandangi laki-laki itu, lama, dan semakin lama, ia bertambah heran.

Laki-laki itu bertubuh tinggi dan kurus, kepalanya kecil, hanya matanya yang terlihat segar, menyala, dan bergairah, seolah-olah itu bukan matanya, melainkan mata orang lain.

Yang membuat Maq Colaq heran bukan kondisi tubuh laki-laki itu, tetapi bahwa ia merasa pernah melihat laki-laki itu, entah di mana, entah kapan. Ia pandangi laki-laki itu untuk membangkitkan ingatannya.

Di atas kepala laki-laki itu, tergantung di palang pintu, sebuah botol hitam, persis seperti miliknya. Lama sekali ia pandangi botol itu, mencari persamaan dan perbedaan dengan miliknya. Tak sedikit pun ada perbedaan. Melihat botol itu sama saja dengan melihat miliknya sendiri. Maka, pelan-pelan ia keluar dari tempat persembunyiannya, dan laki-laki itu tiba-tiba saja melihat padanya.

Mata itu bukan saja segar dan terlihat bergairah, namun juga mampu membuat Maq Colaq merasa seperti diguyur air yang sangat dingin. Tubuhnya menggigil. Untuk pertama kalinya ia merasa begitu takut. Merasa laki-laki itu akan berdiri dan membunuhnya, ia berlari secepat kilat, menubruk perempuan-perempuan berwajah labu coklat. Dan….

Ia berpapasan dengan dua anak yang memiliki wajah yang sangat mirip. Mereka mengusung seekor babi besar. Setiap mengayunkan langkah, mereka bersenandung riang. Maq Colaq tidak bisa menangkap apa yang mereka nyanyikan.

Ia berlari sampai keluar kampung dan memasuki kabut tebal. Masih terdengar olehnya suara tabuhan gamelan yang membuatnya berpikir bahwa kampung itu berada tidak jauh dari rumahnya.

Naq Colaq, yang sedang duduk di berugaq, langsung menghentikan tangannya yang sedang menyusup di sela-sela rambutnya, mencari kutu.

“Ada apa?”

Maq Colaq telah menghilang ke dalam rumah.

“Ada apa?”

Maq Colaq sedang berusaha meraih botol penuh jelaga miliknya.

“Ada apa? Ada apa?”

Maq Colaq telah duduk bersila, memejamkan mata, komat-kamit, merapalkan mantra.

Naq Colaq mengumpat-umpat, lanjut mencari kutu.

Berjam-jam kemudian, ketika malam turun, dan suara burung hantu di kejauhan mulai terdengar, Maq Colaq masih duduk bersila. Ia seperti telah tertidur. Naq Colaq pelan-pelan masuk, dan naik ke tempat tidur. Sampai ia tertidur dan terbangun lagi dan tertidur sampai terbangun lagi, suaminya masih dalam posisi semula. Lampu teplok yang menggantung di dinding membuat tubuh suaminya berkilauan. Keringat yang melumuri tubuh itu membuat Naq Colaq berpikir bahwa suaminya sedang terlibat dalam sebuah pertempuran. Maka ia ikut merapalkan mantra.

Terdengar derakan dahan-dahan, suara puluhan burung hantu, dan desisan ular seperti biasa. Angin menderu-deru menabrak dinding. Naq Colaq memejamkan mata. Dalam mimpi, ia mengunjungi dunia yang dikunjungi suaminya.

Ia merasakan dirinya hadir di tempat itu, suatu negeri penuh manusia aneh, dan suaminya berlari ke sana-kemari, dikejar kabut. Kabut putih, berpilin-pilin, dan sedikit lagi akan menelannya. Ia merapalkan mantra, untuk bumi dan langit, untuk penguasa bumi, untuk penguasa langit, sementara suaminya terus dikejar. Karena ia sendiri tidak merasakan keberadaan tubuhnya, ia hanya mampu melihat apa yang dialami suaminya, ia tidak bisa membantu apa pun.

Di depan matanya, perempuan-perempuan berkepala dua berteriak-teriak kesetanan. Suara yang keluar dari dua mulut itu saling menggemakan, seakan-akan memberikan tenaga kepada kabut, membuatnya semakin tebal, semakin cepat, dan semakin kuat. Suaminya menjadi begitu lelah dan jatuh.

Seketika ia terbangun, dan lampu telah padam. Lama baru ia bisa melihat suaminya, masih bersila, tidak lagi berkomat-kamit. Naq Colaq turun, meraba tubuh suaminya, dan rasa dingin langsung menjalari tubuhnya.

Di luar kesadarannya, mulutnya masih merapalkan mantra. Tidak melihat tanda-tanda suaminya akan terbangun, ia mengambil kapur dari pebuan, lalu mengoleskannya di kuku kedua ibu jari kaki suaminya.

Pelan-pelan Maq Colaq membuka mata dan melihat sekeliling. Ia seperti telah tertidur ribuan tahun.

Tiba-tiba dari luar terdengar suara anak-anak bernyanyi, suara menguik-uik, dan riuh tabuhan gamelan. (*)

 

 

Advertisements