Cerpen Zaidinoor (Kompas, 14 Agustus 2016)

Roh Meratus ilustrasi I Made Ananta Wijaya
Roh Meratus ilustrasi I Made Ananta Wijaya

Belantara ini seperti memiliki kutukan. Rojik adalah orang ketiga yang dijemput ajal. Mayatnya terbujur kaku di hadapan kami. Seluruh tubuhnya menguning. Persis seperti dua teman kami sebelumnya. Sekarang yang tersisa hanya Budir dan aku. Dan hidup kami tak lebih dari undian mengerikan. Menduga-duga giliran siapa yang akan mati.

Tak ada siapa pun yang bisa dimintai pertolongan. Jarak antara permukiman warga lokal dan pondok kami hampir 10 kilometer. Tak mungkin kami berdua membopong tubuh Rojik naik turun gunung hanya untuk menguburkannya di permukiman sana. Kami menguburkan Rojik tepat di samping pondok.

Setelah penguburan Rojik, kami duduk di teras pondok. Sore ini mulai gerimis. Budir menyalakan rokok. Ia tampak gelisah. “Aku sudah tak tahan lagi berada di tempat busuk ini,” katanya. Jari tempat rokoknya terselip gemetar.

“Bagaimana dengan kontrak kita yang tinggal setahun lagi? Kan tanggung…”

“Persetan dengan kontrak itu. Kalau kita tetap bertahan, kita akan mati konyol di sini. Kau tak lihat Rojik, setelah seharian meriang, besok paginya ia kejang-kejang. Dan sore ini kita sudah menguburkannya!” kata Budir.

“Besok pagi-pagi aku akan pulang. Terserah kau mau tetap tinggal atau pulang bersamaku. Kalau aku lebih memilih hidup daripada kontrak itu!” ujar Budir yang kemudian berdiri dan masuk ke dalam pondok.

Sebenarnya aku pun kecut juga. Bagaimana tidak? Satu per satu anggota tim kami meninggal dunia. Dalam satu tahun, ada saja yang mati. Namun, apa mau dikata. Kalau mengikuti Budir yang ingin pulang berarti pekerjaan kami selama tiga tahun di sini sia-sia belaka. Padahal, kontraknya tinggal satu tahun lagi.

Dulu, sebagai orang yang hanya memiliki ijazah SLTA dan tanpa keterampilan apa-apa, aku langsung menyetujui pekerjaan yang ditawarkan sebuah perusahaan perkebunan sawit. Mereka ingin membuka perkebunan baru. Pekerjaannya cukup mudah. Dalam kontrak disebutkan bahwa selama empat tahun tugas kami hanya memasang patok batas lahan yang akan dibuka. Selain itu kami juga harus memberi tanda silang pohon-pohon yang berdiameter tertentu di kawasan lahan tersebut.

Setelah pekerjaan itu selesai, lahan akan dibuka. Selama pembukaan lahan, kami difasilitasi oleh perusahaan mengikuti training di luar negeri. Saat perkebunan sawit siap, training kami juga selesai. Dan kami akan masuk dalam jajaran manajemen perkebunan baru itu.

Setelah meneken kontrak, aku bersama empat orang lainnya diterbangkan ke Kalimantan dan langsung diantar ke pedalaman Meratus. Namun, baru satu tahun berada di Meratus, Mamat, salah seorang anggota tim, mendadak sakit. Awalnya meriang biasa, tiga hari kemudian Mamat meninggal dunia. Tahun kedua Kharis juga mengalami hal serupa. Ia juga tewas dalam keadaan menderita. Dan pada akhir tahun ketiga ini Rojik yang kami kuburkan. Sekarang hanya tinggal berdua. Tahun keempat hanya tinggal beberapa hari lagi. Apakah ini berarti yang akan mati hanya antara aku dan Budir? Ini menakutkan sekali.

***

Saat aku bangun, aku tak mendapati Budir. Aku memanggil-manggil namanya. Tak ada jawaban. Kuperhatikan sekeliling, baju dan tas Budir juga tidak ada. Ternyata lelaki itu tak membuang waktu. Mungkin pagi-pagi sekali ia telah meninggalkan pondok. Sepeninggal Budir tak mungkin aku menyelesaikan pekerjaan ini sendirian. Dan lebih tak mungkin lagi aku tinggal sendiri di belantara ini! Tinggal aku satu-satunya manusia yang akan mati. Berarti aku tak punya pilihan selain meninggalkan pondok ini.

Aku mengemasi barang-barang dan segera meninggalkan pondok. Langkahku cepat menuruni teras dan berjalan ke arah dusun terdekat. Aku berharap bisa menyusul Budir. Kemungkinan besar, lelaki itu pasti akan istirahat di sana sebelum mencari orang yang bisa mengantarkannya ke kota kabupaten.

Perlu waktu satu jam lebih untuk sampai ke dusun. Pagi sudah mulai menaik. Bajuku basah oleh peluh. Baru saja memasuki dusun, aku langsung disambut oleh serombongan orang. Mereka setengah berlari mendekatiku.

“Lelaki yang penampilan mirip Anda itu teman Anda?” tanya salah seorang dari mereka begitu sudah di hadapanku.

“Ia punya tas yang seperti ini?” aku bertanya balik sambil menunjukkan ranselku pada mereka.

Mereka mengangguk. “Berarti Budir telah sampai di dusun ini,” pikirku.

“Di mana dia?”

“Di teras rumah tetua, meninggal dunia.”

***

Tak kusangka Budir yang kemarin sore masih segar bugar sekarang sudah kaku menjadi mayat. Mulutnya berbusa. Matanya tak bisa terpejam. Seorang lelaki paruh baya duduk bersimpuh di samping mayat Budir. Lekat matanya memandang wajah Budir yang menguning.

“Tetua, ini teman si mayit,” salah seorang dari rombongan yang mengantarku memberi tahu lelaki itu.

Tetua memandangku yang berdiri terpaku. “Roh Meratus…,” katanya seperti berdesis. Aku bergidik ngeri. Ia kemudian berdiri perlahan. Mendekatiku yang masih terpaku. Entah kenapa, aku tertunduk manakala mata kami saling bertumbuk.

“Kau salah satu dari orang-orang yang kabarnya memberi tanda silang pohon-pohon besar di hutan sana?” tanya tetua.

“Saya satu-satunya yang tersisa…,” kataku masih menunduk.

“Anak muda, aku tak tahu apa maksud kalian bertahun-tahun di belantara sana. Namun, melihat keadaan temanmu yang meninggal ini, tampaknya Meratus merasa terganggu,” ujar tetua.

Aku merasa ada hawa dingin menyelusup tubuhku. Tiba-tiba aku menggigil. Perkataan tetua tak lagi jelas terdengar. Penglihatanku mulai buram. Sesaat kemudian, aku merasa kepanasan. Dahiku mulai berkeringat. Baru dua-tiga buliran keringat, hawa dingin menyergap lagi. Beberapa detik kemudian, aku kembali diserang hawa panas. Dingin, panas, dingin lagi, panas lagi, keduanya kurasakan bergantian secara cepat. Entah berapa lama aku dalam keadaan seperti itu.

Tiba-tiba tubuhku terguncang. Dan zeppp!.. “Anak muda! Sadarlah!” ternyata tangan tetua mengoyang-goyang bahuku. Penglihatanku mulai terang. “Kau juga sudah terkena murka Roh Meratus!” kata sang tetua.

Deg! Jantungku serasa terhenti. “A… apakah aku juga akan mati?” aku bertanya terbata.

“Jika beruntung kau masih punya waktu beberapa jam lagi sebelum nasibmu sama dengan temanmu itu,” katanya sambil memandang mayat Budir yang masih di teras.

Sang tetua memerintahkan beberapa orang untuk mengurus mayat Budir. Ia kemudian bergegas masuk ke dalam rumah dan keluar dengan menyandang butah [1].

“Kita harus mencari ular tadung [2] yang berkeliaran searah dengan matahari terbit, hanya itu satu-satunya peluangmu untuk selamat.”

Aku segera mengkuti langkahnya dengan lunglai.

***

Kondisiku makin lama makin parah. Aku tak tahu berapa lama kami mencari dan bagaimana tetua bisa menangkap ular tadung sebesar pergelangan tangan itu hidup-hidup. Di bawah sebatang pohon meranti yang tak bisa dipeluk oleh satu orang dewasa, aku terbaring tak berdaya. Suara air di pancur sayup terdengar. Samar kulihat tetua mencengkeram leher ular dengan tangan kanannya. Ia kemudian mendekatiku dan meletakkan butah tak jauh dari tempatku berbaring.

Masih memegang ular, tangan kirinya mengambil panci dari dalam butah. Ia juga menyalakan api. Semuanya dilakukan dengan cepat. Api menyala, ia mengambil air di pancur dengan panci dan langsung merebusnya.

Api yang besar membuat air cepat mendidih. Saat air menggelegak di dalam panci, tetua berkata pelan, “Ular, izinkan aku merebusmu hidup-hidup. Harap kau himung [3] karena akan dijadikan tatamba [4].”

Selesai berujar tetua langsung memasukkan ular itu dalam air yang sedang mendidih. Di dalam panci ular menggeliat-geliat berontak. Namun, hanya sebentar, sang ular kemudian ikut menggelegak bersama air. Dalam pandanganku yang berkunang-kunang, badan ular itu membesar dan memerah jambu di dalam panci. Ular itu matang!

“Minumlah ini kalau kau ingin selamat!” perintah tetua tegas sambil menyodorkan air seduhan ular tadi dengan sendok kayu.

Tanpa memedulikan rasa jijik, segera sendok demi sendok kureguk. Pada sendok keempat, ada hawa hangat menjalar dalam tubuhku. Keringat mulai mengucur. Aku merasa ringan. Sendok di tangan tetua langsung kuambil. Segera aku menyeduh dan meminum sendiri, kali ini tak kuhitung lagi berapa sendok yang kureguk.

Kami kembali berjalan pulang. Kondisiku sudah sepenuhnya normal. Tetua melangkah di depanku. Tak kusangka, dalam keadaan kritis ternyata kami telah sangat jauh memasuki belantara. Aku memperhatikan pohon-pohon besar yang kami lewati. Sinar matahari bahkan hampir tak bisa menembus ke bawah.

Aku merasa asing di tempat ini. Pohon-pohon yang berlumut itu, sulur-sulur yang bergantungan, semak-semak yang rimbun itu… Oh… ternyata belantara ini adalah tempat menakjubkkan. Bayangkan, di lumut batang pohon itu udang-udang kecil berloncatan lincah. Belum pernah aku melihat udang hidup di batang pohon!

“Kau tahu anak muda, tempat ini merasa terancam dengan keberadaan…” tetua menghentikan langkahnya dan mengambil sesuatu dalam butah. “Roh Meratus meniupkan wisa [5] ke tubuh kalian, sayang kawan-kawanmu yang lain terlambat,” sambungnya kemudian melemparkan gulungan kertas yang diambil dari butah. Sigap kutangkap gulungan itu.

“Itu peta yang kuambil dari ranselmu. Ternyata kalian memasang patok-patok dan memberi tanda pohon-pohon besar untuk ditebang. Dan perlu kau ketahui anak muda, tempat ini juga termasuk wilayah yang akan kalian pasangi patok-patok itu,” katanya dingin.

Perlahan kubuka gulungan peta di tanganku. Dari peta terlihat jelas, pekerjaan kami tinggal sedikit lagi. Jika saja semuanya lancar, maka kami akan sampai di tempat ini dan selesailah kontrak kerja kami. Dalam waktu yang singkat, mungkin alat-alat berat akan didatangkan! Pohon-pohon ini, sulur-sulur ini, lumut-lumut ini, udang-udang ini…akan bagaimana?

“Tetua, izinkan aku tinggal di sini dan bersama kaummu menjaga tempat ini…” Akhirnya setelah lama hanya diam, aku menatap mata tetua mantap. (*)

 

 

Keterangan

[1] Butah: Sejenis baku yang biasa digunakan oleh laki-laki

[2] Tadung: Salah satu jenis ular berbisa, termasuk jenis kobra.

[3] Himung: Senang.

[4] Tatamba: Penyembuh

[5] Wisa: Hawa beracun, biasanya terdapat di pedalaman belantara. Masyarakat Kalimantan juga menyebutnya penyakit kuning. Ada yang menganggap penyakit ini adalah malaria.

 

 

Zaidinoor, lahir 22 Agustus 1984 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Menyelesaikan S-1 di Institut Agama Islam Negeri Antasari Banjarmasin. Pernah menjadi jurnalis di tabloid lokal, Urbana, dan asisten koordinator area Kalselteng, salah satu lembaga survei politik di Indonesia. Sekarang tinggal di sebuah desa di kaki pegunungan Meratus di Hulu Sungai Tengah bersama istri tercinta sambil belajar bertani.

Advertisements