Cerpen Karta Kusumah (Koran Tempo, 13-14 Agustus 2016)

Bolehlah Kami Menumpang Mandi ilustrasi Munzir Fadly
Bolehlah Kami Menumpang Mandi ilustrasi Munzir Fadly

Kalau ada sumur di ladang, bolehlah kami menumpang mandi. Kalau ada umur yang panjang, bolehlah kami menumpang mandi. Kalau hari bakal terus panas berdengkang, bolehlah kami menumpang mandi.

ITU pantun? Jelas bukan. Itu adalah keluh-kesah, bisa juga harapan, atau angan-angan, yang ditulis Ivan.

Sudah genap enam hari Ivan tidak mandi dan itu membuatnya kehilangan satu-satunya kemewahan yang bisa ia banggakan. Memang, pernah ada seorang lelaki yang berasal dari Dehzagh, sebuah kota kecil di Iran, yang bahkan tidak mandi selama lebih dari 60 tahun dan ia menjadi terkenal karenanya. Lelaki itu biasa dipanggil Amoo Hadji. Konon, ia tidak mandi karena patah hati setelah berpisah dengan perempuan yang ia cintai. Tidak mandi, menurutnya, adalah satu-satunya cara agar ia bisa menjalani sisa hidupnya hanya seorang diri. Dengan tidak mandi, ia yakin orang-orang akan enggan berada di dekatnya dan dengan itu pula ia berharap tidak akan mempunyai teman. Kepada kerabatnya yang prihatin padanya dan memaksanya mandi, ia selalu beralasan bahwa ia akan sakit bila menyentuh air. Badannya akan gatal-gatal dan kepalanya seakan dihinggapi jutaan kunang-kunang. Sekali dua kali karib-kerabatnya bisa menerima alasan tersebut dan membiarkan ia teguh pada pendiriannya, namun pada kali ketiga, mereka mengumpatinya dengan kata-kata yang kira-kira sama artinya dengan: Mati anjinglah, kau!

Menjadi jorok, bagi Amoo Hadji, barangkali telah menjadi gaya hidup. Tidak hanya tak ingin mandi, ia juga punya kebiasaan lain yang membuat orang-orang bergidik bila menyimaknya secara langsung. Ia tidak ingin makan makanan yang bersih namun akan mengunyah roti yang sudah sekian lama mendekam di tempat sampah. Ia tidak ingin minum minuman yang disediakan orang untuknya namun akan menyauk air comberan dan menenggaknya dengan gembira. Ia tidak menghisap rokok yang biasa orang lain hisap namun akan menggulung kotoran ternak yang sudah kering dan memasukkannya ke pipa hisap dan kemudian menghajarnya hingga tandas.

Ketika aku berusaha menghibur ketidakbisaan Ivan mandi dengan menceritakan perihal Amoo Hadji itu, Ivan berkomentar, “Aku mandi, maka aku ada.”

Aku mengerti apa yang Ivan maksud.

Biasanya, sebelum banjir menghantam Korong Kasai yang salah satu akibatnya adalah sumur menjadi terus-menerus mengeluarkan bau busuk, Ivan adalah seseorang yang selalu tampak berkilau, menerbarkan semerbak wangi melati, dan berambut basah seperti selalu diminyaki. Itu semua bisa terjadi karena Ivan selalu mandi lebih dari empat kali dalam sehari. Setiap selesai mandi dan menyemprotkan parfum wangi melati dan memoleskan minyak kemiri ke rambutnya, ia akan sengaja menuju ke suatu tempat di mana teman-temannya banyak berkumpul. Di hadapan teman-temannya yang berkumpul itu ia akan berjalan mondar-mandir seakan memastikan bahwa semua orang harus memerhatikannya dan wangi melati yang melekat di tubuhnya tersebar dengan merata.

Jika kondisi perasaan teman-temannya sedang baik, pasti ada di antara mereka yang menyimak Ivan bertingkah begitu yang akan bertanya, atau minimal menanggapinya dengan basa-basi: “Sabun baru, Van?” atau “Mandinya lama ya, Van?” atau “Seru merancapnya?”

Nah, pertanyaan tentang merancap inilah yang kumaksud mengapa mandi menjadi satu-satunya kemewahan yang bisa ia banggakan.

Ivan senang merancap dan menceritakan pengalaman setiap kali ia selesai merancap pada teman-temannya dan teman-temannya selalu antusias mendengarkan ceritanya. Mula-mula, ia akan berkata, “Salah satu kebahagiaan yang aku selalu berharap itu tidak akan terunggut dariku adalah pengalaman yang diberikan merancap kepadaku.” Kemudian, ia akan mencari posisi duduk yang paling nyaman dan mengedarkan pandangannya ke seluruh teman-teman yang siap menyimak ceritanya dan beginilah dua di antara sekian banyak pengalamannya merancap yang sempat aku ingat. Ia tidak pernah memberi judul untuk cerita-ceritanya itu, aku menyertakan judul hanya sebagai pengingat bagiku akan perbedaan satu cerita dengan cerita yang lain.

 

Burung yang Sendiri di Rimba Belantara

SEEKOR burung melayang merendah dari ketinggian langit yang tengah diserbu garis-garis cahaya senja. Burung itu hanya sendiri dan rimba belantara di bawahnya membentang begitu luas seperti hendak melahapnya. Tapi burung itu tidak peduli. Ia terus melayang merendah, merendah, merendah, dan terus merendah. Pohon-pohon di rimba belantara itu menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri seiring angin yang berembus. Angin itu berembus sepoi-sepoi, namun pohon-pohon itu melambai seperti kala diterjang angin yang membadai.

Amboi. Burung itu merasa pohon-pohon itu melambai untuk menyambut kedatangannya yang sendiri. Barangkali telah sekian lama pohon-pohon di rimba belantara itu tak merasakan bagaimana gelinya (atau nyerinya?) ketika cakar-cakar burung hinggap dan mencengkeram salah satu cabang di pohon-pohon itu. Barangkali pohon-pohon itu merindukan pekik burung di senja hari yang terdengar baginya bagai nyanyian pilu seorang kekasih yang rindu. Atau barangkali pohon-pohon itu hanya ingin melambai, tanpa alasan apa pun.

Burung itu terus merendah dan kini hinggap di salah satu pohon. Ia berdiam di sana sekian lama. Hanya diam. Hingga kemudian pohon itu bergetar dan menanggalkan daun-daun yang sebenarnya masih hijau. Daun-daun hijau yang gugur satu-satu dengan pelahan itu diterpa cahaya senja yang kini lebih terlihat pekat berkilauan, pekat tapi berkilau. Burung itu membiarkan pohon itu terus menanggalkan daun-daunnya. Dan ketika ia merasa cukup, burung itu melompat dan dengan sekali sentak ia mengembangkan sayap dan kemudian melayang berputar-putar di ketinggian sambil memekik (atau bernyanyi?).

Pohon-pohon kembali melambai. Sekian lama burung itu hanya memekik, memekik, dan memekik, sambil berputar-putar di ketinggian. Barangkali ada yang ia tunggu. Barangkali ada yang ia kenang. Semacam, apakah ada di antara pohon-pohon di rimba belantara itu yang pernah mengenalnya atau bahkan sempat menciptakan beberapa kenangan yang manis dengannya? Atau jika memang ada di antara pohon-pohon itu yang mengenalnya dan menciptakan beberapa kenangan manis dengannya, apakah pohon itu masih bisa membayangkan dengan jelas semua kenangan yang pernah mereka ciptakan? Ataukah semua pohon-pohon di rimba belantara itu memang mengenalnya dan masing-masing pohon itu memang pernah menciptakan kenangan manis bersama burung itu dan masih mengingatnya, namun justru burung itulah yang meragukan ingatannya sendiri?

Kemudian burung itu menggeleng, seakan menemukan jawaban yang ia cari dan mendapatkan saat yang tepat atas penungguannya, dan langsung menukik menuju salah satu pohon yang ada di rimba belantara itu. Sesampainya di cecabang pohon, ia melakukan kembali apa yang telah ia lakukan pada pohon yang lain: diam, dan menikmati pohon itu bergetar dan menanggalkan daun-daun, dan kemudian menukik kembali ke ketinggian. Burung itu terus-menerus mengulang tahap demi tahap yang ia lakukan di kala senja itu hingga seluruh pohon yang ada rimba belantara itu selesai ia hinggapi dan waktu entah telah berapa lama berlalu.

 

Belut yang Mati di Pematang Sawah

IA seekor belut yang santun sebagaimana belut-belut lain yang ada di komplek persawahan itu. Setiap pagi ia akan keluar dari sarangnya yang berada di salah satu pematang sawah—yang tanahnya setiap kali ada petani lewat akan meninggalkan jejak sedalam dua senti, dan jika dalam sehari ada lebih dari empat petani yang lewat di pematang sawah itu sarangnya akan menjadi tidak nyaman lagi untuk ditempati. Hal pertama yang ia lakukan setelah keluar dari sarangnya adalah menengadahkan kepala ke langit dan berusaha menyerap sebanyak-banyaknya cahaya matahari pagi.

Ia gemar melakukan itu. Selain karena telah terbiasa menjalani rutinitas pagi itu sejak ia masih hidup bersama ibunya, ia menjalani rutinitas itu karena menurutnya itu adalah salah satu cara agar ia semakin bersyukur atas segala yang telah Ibu Alam berikan padanya; jika kebetulan ada satu-dua ekor belut yang lewat dan menyapanya, ia akan berhenti sejenak, berjalan melata menghampiri si penyapa dan kemudian berbincang dengan mereka.

Perbincangan mereka, tentu saja, tidak akan jauh-jauh dari perbincangan yang biasa terjadi di antara sesama belut di komplek persawahan itu. Misalnya, kabar mengenai seekor belut yang pada suatu malam menjadi saksi anaknya menelan cacing yang ternyata hanya bungkus bagi sebongkah mata kail yang disodorkan pemancing, atau perkara banjir yang tiba-tiba menerjang dan menenggelamkan sarang mereka sebelum mereka sempat tahu apa yang mesti mereka lakukan. Atau tentang bagaimana susahnya mencari makanan untuk mereka santap bila cuaca panas tidak reda lebih dari tiga minggu. Sebagai sesama belut, perbincangan mereka akan selalu berlangsung dengan rasa haru dan simpati, karena mereka tahu nasib kurang mujur yang menimpa satu di antara mereka juga tidak menutup kemungkinan akan terjadi pada mereka.

Lalu pada suatu ketika, ia ditemukan mati di lubang sarangnya. Separuh badannya menjulur keluar dari lubang dan separuh lagi terbenam di dalam air. Belut-belut lain ramai berkumpul di sekitar sarangnya dan, dari pandangan mata mereka, ia bisa tahu bahwa teman-temannya itu sangat terpukul dengan kematiannya. Dari perbincangan yang sempat ia curi dengar sebelum jiwanya mengapung ke angkasa, ia mati tersengat listrik. Manusia kini tidak lagi memburu mereka dengan cara memancing, namun telah tega membunuh mereka dengan cara yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Ia tidak pernah menyangka bahwa ia tidak akan lagi bisa menikmati matahari pagi untuk selamanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa setelah membunuhnya, si pembunuh membiarkan saja dirinya tergeletak di pematang sawah itu. Dan sebelum jiwanya benar-benar menghilang ke dalam gumpal-gumpal awan, timbul satu pertanyaan dalam dirinya: Mengapa manusia tidak pernah berhenti mencari cara untuk bisa melahap semua yang ada di alam semesta?

 

BEGITULAH. Mampu menceritakan pengalamannya merancap dan menyenangkan teman-temannya dengan cerita adalah satu-satunya kemewahan yang Ivan punya. Tanpa mandi, ia tidak akan mampu merancap. Tanpa merancap, ia tidak akan punya cerita yang ia bagikan kepada teman-temannya. Dan tanpa cerita, baginya, ia tidak berarti apa-apa.

Maka sore ini, setelah genap enam hari lebih sedikit ia tidak mandi, ia memutuskan untuk mengambil langkah pasti agar ia bisa mandi. Aku yakin ia telah memikirkan langkahnya itu dengan baik-baik dan dari jauh hari. Dengan rambut kusut dan muka yang seperti sepatu tidak disemir, ia melangkah ke warung dan pulang ke rumah dengan membawa segalon air minum dan dua gelas air minum kemasan.

“Biaya hidup semakin mahal. Bahkan untuk mandi pun aku mesti membayar Rp. 5.000,” ujarnya ketika lewat di hadapanku dan kemudian melemparkan dua gelas air minum kemasan itu. “Ini, cucilah mukamu. Dan sadarlah, bahwa cuci muka kali ini kau membayar Rp. 1.000.” Kemudian ia berlalu ke kamar mandi.

Dari luar aku mendengar Ivan bernyanyi, riang sekali. Tujuh menit kemudian tiba-tiba ia berhenti bernyanyi dan kamar mandi itu terasa sangat hening. Aku bergegas ke luar, menuju tempat di mana teman-teman kami berkumpul, dan berkata pada mereka, “Aku yakin, kali ini cerita Ivan tentang pengalamannya merancap akan lebih melantur dari sebelum-sebelumnya. Kumohon kalian lebih bisa bersabar dan, seperti biasa, berpura-puralah menyukainya.” (*)

 

 

(Kasaiangan, Juli 2016)

Karta Kusumah lahir di Palembang, menetap di Padangpariaman. Berkiprah di Komunitas Seni Nan Tumpah.

Advertisements