Cerpen Agus Noor (Kompas, 07 Agustus 2016)

Anjing Bahagia yang Mati Bunuh Diri ilustrasi Hartono Wibowo
Anjing Bahagia yang Mati Bunuh Diri ilustrasi Hartono Wibowo/Kompas

Koruptor atau bukan, ada baiknya kalian menyimak cerita anjing Pak Kor ini. Setiap orang punya nasibnya sendiri-sendiri, tetapi kalau ada anjing yang nasibnya lebih beruntung dari manusia, sudah sepantasnya kalau kami iri.

Sebleh, seorang pemulung, menemukan anjing yang sekarat di tempat pembuangan sampah. Tubuh anjing itu bobrok oleh borok, belepotan lumpur penuh kutu dengan kepala belepotan darah terkena bacokan. Begitu menyedihkan anjing itu, sampai maut pun tak berani mendekat. Sebleh membawa anjing itu bukan tersebab kasihan, tapi karena ia berpikir bisa menjual anjing itu ke penjual daging anjing. Sebleh mengikat kedua kaki anjing itu, kemudian berhari-hari menjemurnya di atap seng, berharap luka penuh kutu di kulit anjing itu mengering dan ia bisa menjualnya dengan harga sedikit mahal. Kalau pun tak laku, ia bisa menyembelih anjing itu untuk anak istrinya yang belum tentu setahun sekali makan daging.

Tempat tinggal Sebleh mendempet tembok belakang kediaman Pak Kor. Sebenarnya satpam rumah Pak Kor telah berkali-kali menyuruh Sebleh membongkar rumah liarnya itu. Karenanya Sebleh begitu gugup ketika melihat Pak Kor muncul. Ia langsung pasang wajah mengiba, berharap Pak Kor tak mengusirnya. Ternyata Pak Kor bertanya soal suara anjing yang didengarnya terus-menerus mengerang sepanjang malam. Sebleh menunjuk anjing yang dua hari lalu ditemukan itu. Siang begitu terik, dan anjing itu terus menguik menggeliat kepayahan di atas seng panas seperti digoreng hidup-hidup. Wajah Pak Kor terlihat begitu terguncang. Lalu tanpa banyak cing-cong mengeluarkan uang dari dompetnya, 500 ribu, langsung diserahkan pada Sebleh. “Biar anjing ini saya rawat,” kata Pak Kor.

Mendapat rezeki nomplok yang sama sekali tak diduganya, Sebleh langsung membungkuk-bungkuk dan setelahnya tak henti-henti menceritakan kebaikan Pak Kor pada tetangganya. “Kalau saya jual ke warung sengsu, paling dapat lima puluh ribu,” kata Sebleh. “Benar-benar beruntung kita punya tetangga sebaik Pak Kor. Meski kaya, beliau tidak sombong. Ia masih mau menyempatkan menengok kita yang begini melarat. Kalau semua orang kaya di negeri ini sebaik Pak Kor, pasti enggak ada orang miskin yang kelaparan.”

Hari itu, dengan uang pemberian Pak Kor, Sebleh langsung pergi ke restoran Padang yang terkenal paling enak. Sebleh mengembat empat potong rendang sekaligus, membawa pulang banyak lauk-pauk untuk anak istrinya. Tapi tak membagi secuil pun untuk tetangganya.

***

Advertisements