Archive for August, 2016

Nama untuk Ayah
August 28, 2016


Cerpen Jeli Manalu (Media Indonesia, 28 Agustus 2016)

Nama untuk Ayah ilustrasi Pata Areadi

Nama untuk Ayah ilustrasi Pata Areadi

“BARU jam empat, kenapa pagi sekali, Bu?”

“Kita harus ke sebuah tempat.”

“Apa kita akan bertemu Ayah?”

“….Ya.”

“Aku merindukan Ayah.”

“Kita semua merindukan Ayah.”

“Aku sayang Ayah. Apa Ayah juga sayang sama kita?”

Ibu menembakkan matanya ke mataku. Aku menatap mata ibu dengan caraku. Setiap menanyakan perihal perasaan ayah kepada kami, ibu selalu memberi petunjuk melalui tatap mata yang tidak kusukai. Mungkin ibu sengaja melakukan itu, agar aku berhenti merecoki pikirannya. Memang, ibu bukan tipe orang yang senang mengobrol. Ibu lebih sering diam, kalau tidak berdoa, ia baca kitab suci. Aku tidak tahu apakah karena ibu memang tidak terlalu gemar bicara atau ada penyebab lain? (more…)

Apartemen Malaikat
August 28, 2016


Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 28 Agustus 2016)

Apartemen Malaikat ilustrasi Suara Merdeka

Apartemen Malaikat ilustrasi Suara Merdeka

Setelah bertahun-tahun bus itu melaju seakan tanpa tujuan akhir, aku dan Sapono diturunkan di gedung tua dengan gerbang berlogo ayam jago. Sapono membawa barang berupa sekeping white board dan spidol warna hitam yang baunya tidak enak. Papan itu digantung begitu saja di lehernya untuk dapat berkomunikasi, karena ia tidak memiliki kepala. White board itu didapat secara gratis ketika malaikat Sapono menumpang bus pelintas dua dunia.

Jika Anda belum mendengar alasan bagaimana aku, yang manusia biasa, terjebak di alam gaib ini dan tidak bisa pulang dan terpaksa mengikuti kemana malaikat bernama Sapono pergi, sebaiknya tidak perlu mendengar lebih jauh tentang ini. (more…)

Jimat Datuk
August 28, 2016


Cerpen Arman A.Z. (Jawa Pos, 28 Agustus 2016)

Jimat Datuk ilustrasi Bagus

Jimat Datuk ilustrasi Bagus

KAMI telah ikhlas jika malaikat maut datang menjemput Datuk. Ketimbang berminggu-minggu tergolek di kasur, tersiksa antara hidup dan mati, kami pasrah ditinggalkan beliau. Bukan berarti kami tak menyayangi Datuk atau ingin dicap sebagai anak cucu durhaka. Kami hanya ingin yang terbaik untuknya. Kami harap surga akan lebih indah jika Datuk ditempatkan di sana.

Dua bulan lalu Datuk opname. Saat itu kondisinya belum anjlok seperti sekarang. Di rumah sakit, beliau ngotot minta pulang. “Aku mau mati di rumah saja, bukan di sini,” keluhnya pada kami dan perawat.

Tak ada penyakit medis dalam tubuh Datuk. “Ini faktor umur. Beranjak tua, organ-organ tubuh manusia kian aus,” jelas dokter. Usia Datuk memang delapan puluhan lebih. Seizin dokter, Datuk kami bawa pulang. Kami diimbau merawat dan menjaga pola makannya. (more…)

Surat untuk Ado
August 28, 2016


Cerpen Putu Oka Sukanta (Kompas, 28 Agustus 2016)

Surat untuk Ado ilustrasi Bunga Jeruk

Surat untuk Ado ilustrasi Bunga Jeruk

Ado, ini surat aku tulis sepulang dari rumahmu. Engkau telah membawa aku ke kawah kerinduan yang luka. Sisa langit kelam, desing letupan di telinga, petir cambuk api seolah tersimpan di pembuluh darah halus bola matamu yang liar seperti ketika engkau menarikan tari Baris Bali. Tidak hanya itu Ado, aku masih sempoyongan ketika meninggalkan rumahmu, sebab pukulan kata-katamu yang mengentak di pangkal sanubari. Engkau dengan ringan tanpa perasaan bersalah apalagi berdosa membuka obrolan kita dengan ucapanmu, “Saya sengaja melupakannya. Terlalu berat untuk dibawa-bawa terus. Mengingat terus masa lalu seperti dililit spiral kawat berdurinya sejarah. Saya mau membebaskan langkah untuk kehidupan yang lebih baik.” Dan engkau mengarahkan mukamu ke arahku seolah menantang.

“Ayo kamu mau bilang apa?” (more…)

Cerita Kecil tentang Jalan Masa Kecilku
August 27, 2016


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 27-28 Agustus 2016)

cerita-kecil-tentang-jalan-masa-kecilku-ilustrasi-munzir-fadly

Cerita Kecil tentang Jalan Masa Kecilku ilustrasi Munzir Fadly

HUBUNGAN apakah yang terjalin antara seseorang dengan sebuah jalan? Aku mencoba memahaminya, dan tahu bahwa jalinan itu menjangkau ruang batin yang teramat dalam. Kadang, hanya dengan membayangkan seruas jalan, ingatan kita akan terhantar ke banyak nama dan peristiwa. Karena itu, aku tak heran dengan tindakan seorang saudaraku yang baru bertugas di Jakarta. Suatu kali saat melintas di Terminal Rawamangun, mendadak ia putuskan membeli tiket bus jurusan Sumatera. Ia masih berpakaian dinas waktu itu—baju-celana loreng. Akibatnya, baru mencecahkan pantat di kursi rumah—setelah dua hari dua malam di kursi bus—si komandan meneleponnya, minta dia segera balik ke Jakarta!

“Terasa ada yang menarikku naik Gumarang, entah apa. Setiap lewat Rawamangun perasaan itu muncul, dan kulawan. Tapi aku tak tahan lagi. Melihat bus Sumatera masuk-keluar terminal, jalan di depan rumah ini terbayang terus,” ia menceritakan kepulangannya yang tak biasa itu, dan menyatakan siap menghadap komandan. (more…)

Hajar Aswad
August 21, 2016


Cerpen Zaenal Radar T (Media Indonesia, 21 Agustus 2016)

Hajar Aswad ilustrasi Pata Areadi

Hajar Aswad ilustrasi Pata Areadi

PEKERJAAN saya adalah merayu orang-orang yang berada di sekitar Kabah, terutama yang berwajah Asia dan mengerti bahasa Indonesia. Saya menawarkan, apakah mereka sudah mencium Hajar Aswad? Ini saya lakukan terutama kepada jemaah yang sedang sendirian. Jemaah yang sepertinya ingin sekali mencium dan mengelus batu hitam yang letaknya di pojokan bangunan Kabah, tapi mereka tidak sanggup atau belum dapat kesempatan. Tak mudah mendekati Hajar Aswad, apalagi mencium atau sekadar mengelusnya.

Siapa saja yang setuju dengan penawaran saya, dengan gerak refleks dan sejurus kode kepada teman-teman saya, maka kami langsung berupaya menggerakkan orang yang setuju dengan penawaran tadi. Saya dan teman-teman (sekitar empat atau lima orang) sudah hafal di luar kepala, bagaimana caranya agar orang yang meminta bantuan bisa mendekatkan tubuhnya mengarah ke sudut Hajar Aswad, sampai akhirnya dia mampu meraba-raba dan mencium batu hitam itu. (more…)