Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 30-31 Juli 2016)

Ayoveva ilustrasi Munzir Fadly
Ayoveva ilustrasi Munzir Fadly

SETIAP orang hanya memiliki satu kali kesempatan tinggal di Ajjar. Begitu seseorang jatuh ke dalam dosa, ia akan terusir dari perdesaan berpagar hutan pinus segar itu dan tidak diperbolehkan kembali. Hukum Tuhan juga menyatakan: siapa pun yang menolak keindahan cinta, juga dipersilakan meninggalkan kawasan penuh bunga biru dan kupu-kupu ungu itu.

Ajjar memiliki satu Tuhan, 72 malaikat, 35 nabi, dan 135 iblis. Orang-orang Ajjar paham bahwa di area mereka tumbuh 75 pohon yang belum diberi nama dan 375 pohon bernama unik semacam kacaromatra, harakano, dan juguransomatone. Di luar pohon-pohon itu, ada satu pohon terbesar bernama Milhik. Pohon Milhik bisa bicara. Di ranting-ranting pohon itu bergelantungan ular-ular kuning yang masih sangat ranum.

Tuhan orang-orang Ajjar tidak pernah digambarkan sebagai Zat yang mahakejam. Tidak pernah menghukum umat dengan bencana banjir, mengaduk-aduk bumi sesuka hati, atau memorak-porandakan perdesaan tanpa belas kasih. Tuhan orang-orang Ajjar membiarkan para perempuan menjadi kepala desa, tidak melarang siapa pun bersaing menjadi pemimpin, mengajari siapa pun membuat peraturan-peraturan indah, dan menciptakan matahari yang meneduhkan hati.

Sesekali Tuhan memberikan salju di perdesaan itu. Salju yang tidak terlalu dingin. Salju dengan serbuk-serbuk halus yang selalu mengingatkan siapa pun kepada keindahan dunia saat kali pertama diciptakan.

Meskipun agama orang-orang Ajjar tidak bernama, siapa pun boleh memberi nama berbeda-beda pada perintah dan larangan Tuhan itu. Tidak ada yang bertikai karena agama. Tidak ada yang menganggap agama satu lebih baik dari agama lain. Tidak ada perselisihan demi Tuhan. Tuhan tidak pernah dibela oleh siapa pun.

Nabi orang-orang Ajjar tak memuja pakaian. Tidak berjubah merah, kuning, hijau, atau biru. Tak mengenakan sorban putih, jingga, merah, atau ungu. Mereka tampil apa adanya sebagaimana rakyat biasa.

Tidak ada dosa di Ajjar. Apa pun—juga ikan-ikan bersisik perak dan burung-burung bersayap merah muda—memancarkan cahaya lembut yang membuat orang hidup dalam naungan kebahagiaan dan cinta.

“Hanya orang-orang bodoh yang meninggalkan Ajjar dan lebih memilih mengembara ke kota-kota tidak terduga,” kata Tuhan kepada Pohon Milhik.

“Ya, hanya orang-orang bodoh yang tidak mensyukuri cinta-Mu.”

“Aku tidak menciptakan penyakit di tempat ini. Aku tidak menciptakan sampar. Aku tidak menciptakan kolera. Aku tidak menciptakan lepra.”

“Ya, Kau justru menciptakan hujan yang tabah menyanyikan lagu-lagu pemujaan kepada-Mu.”

“Semua benda—batu-batu berlumut, jamur, kucing berbulu kuning, cacing, semut berkepala besar, buah-buahan setengah manis, dan embun—kutitahkan untuk mengabdi kepada manusia.”

“Ya, aku pernah mendengar manusia yang Kauciptakan dengan cinta-Mu hanya layak menjadi raja.”

“Tetapi kelak tidak semua manusia mematuhi titah-Ku.”

“Aku tidak percaya.”

“Akan ada yang meninggalkan-Ku.”

“Aku tidak percaya.”

“Akan ada yang memusuhi-Ku.”

“Aku tidak percaya.”

“Akan ada yang bersekongkol dengan iblis.”

“Aku tidak percaya.”

“Akan ada yang terus-menerus berusaha membunuh-Ku.”

“Aku tidak percaya.”

Tuhan terdiam beberapa saat. Pohon Milhik menunduk.

“Lalu apa yang kaupercaya?”

“Aku percaya tidak akan pernah ada manusia yang berani membunuh-Mu. Aku percaya Kau tidak pernah menciptakan kematian-Mu.”

Tuhan, yang dalam pemahaman Pohon Milhik bisa tampil dalam bentuk apa pun, tersenyum. Pohon Milhik juga tersenyum.

“Kau keliru,” bisik Tuhan kepada Pohon Milhik, “pengetahuanmu tidak cukup untuk memahami ketakaburan manusia. Pengetahuanmu hanya cukup untuk memahami keindahan dan cinta.”

 

POHON Milhik dan ular-ular belum tahu siapa manusia yang akan meninggalkan Ajjar. Kejadian-kejadian di perdesaan itu tidak bisa diramalkan. Di Hujjaarrr E—nama kitab suci orang-orang Ajjar—tidak ada nubuat-nubuat yang menggambarkan pada suatu masa manusia akan jatuh ke dalam dosa. Tidak ada pula ganjaran berupa surga atau hukuman keras berupa neraka.

Karena apa pun yang terjadi di Ajjar berbeda dari kawasan lain, para arkeolog sering menyebut Ajjar sebagai perdesaan kuno. Jika di perdesaan lain, orang sudah menggunakan sepeda, teropong, dan senapan, di Ajjar siapa pun pergi ke arah mana pun masih berjalan kaki, semua dipandang dengan mata telanjang, dan membunuh apa pun dengan lembing atau ketapel.

Apa yang menyebabkan Ajjar menjadi perdesaan kuno? Jawabannya terletak pada geografi yang unik. Pertama, Ajjar dikelilingi oleh hutan pinus. Kedua, hutan pinus ini dikelilingi oleh sungai yang lebar dan berarus deras. Ketiga, sungai ini dikelilingi oleh bukit-bukit yang terjal. Keempat, selalu bukit-bukit ini dibungkus oleh kabut yang sangat tebal.

Tak hanya itu di hutan pinus ada ular-ular berbisa, di sungai ada buaya-buaya ganas, di bukit ada macan-macan liar, dan di kabut yang sangat tebal pasukan iblis bersayap hitam siaga membunuh siapa pun yang tersesat. Karena itu mustahil jika ada yang berani meninggalkan Ajjar.

“Akulah yang akan meninggalkan Ajjar,” kata Ayoveva, salah satu perempuan cerdas di perdesaan itu kepada Pohon Milhik, “Cinta dan kebahagiaan hanya tipuan dunia. Siapa pun tidak boleh terpenjara di Ajjar.”

 

POHON Milhik dan ular-ular tidak percaya kepada keputusan Ayoveva. Ayoveva adalah juru pikir yang kritis. Sepanjang hidup, misalnya, ia mempertanyakan kepada diri sendiri maupun orang lain, mengapa Pohon Milhik tumbuh di tengah-tengah perdesaan dan jumlah ular yang bergelantung di dahan selalu berkurang satu dan sesaat kemudian bertambah tiga setiap tahun. Ia juga meneliti mengapa lima tahun sekali pada siang hari muncul dua matahari sekaligus dan malam hari tumbuh tiga rembulan dengan ukuran berbeda-beda. Karena itulah sangat tidak masuk akal jika tiba-tiba Ayoveva ingin keluar dari Ajjar dan cepat atau lambat berurusan dengan buaya-buaya, macan, atau kabut menyesatkan di luar perdesaan.

“Apakah ada iblis yang mengajakmu meninggalkan Ajjar?”

Ayoveva menggeleng.

“Apakah ada agama lain yang akan kauanut di luar Ajjar?”

Ayoveva menggeleng.

“Apakah ada Tuhan lain yang lebih menjanjikan kebahagiaan dan cinta yang bisa kaurasakan di Ajjar?”

Ayoveva tetap menggeleng.

Ular-ular yang bergelantungan di ranting Pohon Milhik mulai tidak sabar. Mereka bersama-sama mendesis. Mereka berebutan menggugat keinginan Ayoveva.

“Jangan-jangan di perdesaan baru kau ingin jadi satwa manis?” desis seekor ular.

“Jangan-jangan kau ingin jadi nabi?” desis ular lain.

“Jangan-jangan kau ingin jadi malaikat?”

Karena Ayoveva terus-menerus menggeleng, Pohon Milhik kemudian mengeluarkan pertanyaan yang mematikan, “Jangan-jangan kau ingin jadi Tuhan?”

Ayoveva tidak menggeleng tetapi juga tidak mengangguk. Ia merasa harus segera meninggalkan makhluk-makhluk konyol itu.

“Kalian tidak paham,” kata Ayoveva dalam hati, “Segala yang diceritakan nenek moyang kita tentang batas-batas wilayah Ajjar belum tentu benar. Kalian juga tak paham alasan terbesarku keluar dari Ajjar adalah memburu keindahan lain perwujudan Tuhan.”

 

AYOVEVA memulai pengembaraan dengan doa pendek, “Tuhan, bebaskan aku dari bisa ular di hutan pinus, gigitan buaya di sungai berarus deras, dan iblis bersayap hitam di bukit terjal berkabut.”

Tak ada jawaban.

Di luar dugaan, suara Ayoveva didengar oleh Amoratu, Raja Iblis.

“Pejamkanlah matamu, Ayoveva. Aku akan melindungimu.”

Ayoveva menurut. Ia menyangka Tuhan telah menjawab doanya yang tulus.

“Apakah Kau akan memperlihatkan berbagai keindahan wujud-Mu yang lain, Tuhan.”

“Akan kuperlihatkan kepadamu apa pun yang kauinginkan. Sekarang pejamkan matamu. Berjalanlah ke timur,” kata Amoratu.

Ayoveva menurut. Ia menembus hutan pinus dan hanya bertemu tiga ekor ular yang tak menyemburkan bisa. Ia menyeberangi sungai berarus deras dan sama sekali tidak bertemu dengan buaya. Ia mendaki bukit dan hanya bertemu dengan seekor macan jinak. Ia menembus kabut dan menemukan perdesaan baru di tepi danau.

Perdesaan itu bernama Rachaoke. Para wisatawan dari luar kota menyukai kawasan ini karena di setiap sudut tumbuh aneka bunga dalam gradasi warna kuning, biru, dan jingga. Adapun satwa-satwa berkaki empat yang berkeliaran di jalan-jalan hampir semua diberi pakaian warna-warni. Di Rachaoke, hidup seperti perayaan karnaval yang tidak kunjung henti. Warung-warung makan buka sepanjang siang sepanjang malam. Para penyanyi dan penari keliling juga menghibur siapa pun tak kunjung henti.

“Kau akan jadi malaikat di tempat ini. Sebentar lagi di bahumu akan tumbuh sepasang sayap,” kata Amoratu.

 

AYOVEVA tidak peduli apakah ia akan berubah menjadi malaikat atau tidak. Ia hanya ingin membuktikan betapa di luar Ajjar ada kebahagiaan, cinta, dan wujud lain Tuhan yang lebih indah.

Ia yakin-seyakinnya apa pun yang dilakukan tidak keliru.

 

“AYOVEVA keliru,” kata Filar, kepala para malaikat, kepada Pohon Milhik, “Ia memang pencari ulung. Tetapi ia tidak membaca Kitab Hujjaarrr E dengan tuntas. Ia tidak tahu betapa permukaan Rachaoke menawarkan keserbasenangan. Makin ia masuk ke ceruk Rachaoke, ia hanya akan bertemu dengan kesengsaraan.”

“Bagaimana sampai ia tidak tahu?”

“Karena Tuhan memang membiarkan ia tidak tahu.”

“Mengapa Tuhan membiarkan ia tidak tahu?”

“Karena Tuhan memberikan kebebasan kepada siapa pun menentukan apa pun yang mereka inginkan.”

“Termasuk bebas melawan Tuhan?”

“Termasuk bebas melawan Tuhan.”

“Termasuk bebas membunuh Tuhan?”

“Hmm, apakah kausangka manusia bisa membunuh Tuhan?”

Pohon Milhik tidak berani menjawab. Pohon Milhik berdoa agar Ayoveva diselamatkan dari kesengsaraan.

 

TUJUH tahun tinggal di Rachaoke, Ayoveva merasa mendapatkan hal-hal tersembunyi. Misalnya saja, segala yang dianggap indah di Ajjar dinilai buruk di Rachaoke. Membunuh di Ajjar mendapat hukuman mati. Di Rachaoke membunuh justru dianggap sebagai tindakan paling heroik. Berdoa di Ajjar dianggap sebagai keindahan tiada tara. Di Rachaoke berdoa dimaknai sebagai perbuatan nista para pecundang.

Pikiran-pikiran Ayoveva juga berubah. Perempuan lembut hati itu mulai jadi pengembara pemarah. Ia mengkritik apa pun yang dianggap keliru. Ia kerap mengamuk.

“Pemimpin perdesaan ini sangat keji,” Ayoveva berkata dalam hati ketika ia melihat kepala desa tanpa alasan yang jelas menusukkan lembing ke lambung perempuan yang tidak bersedia dicumbu.

Bukan hanya itu. Kepala desa juga sangat gampang menerima suap dari para pembunuh sehingga mereka tidak pernah dihukum. Pekerjaan utama kepala desa hanyalah menindas rakyat.

Yang menyebalkan, agama dijadikan sebagai sumber segala sumber hukum yang digunakan sebagai alat penindas rakyat. Para pemuka agama menafsirkan ayat-ayat sesuka hati hanya untuk menghukum dan menjadikan rakyat sebagai makhluk lemah. Agama bisa dengan gampang digunakan untuk menebas leher. Agama bisa dengan mudah digunakan untuk mencambuk atau merajam. Di hadapan pemuka agama, rakyat hanya debu.

“Para pemuka agama telah memalsukan makna ayat-Mu, ya Tuhan. Mengapa Kau diam saja?”

 

TUHAN sesungguhnya tidak pernah diam. Lewat pengembara paling hina di Rachaoke, Tuhan memberi perintah-perintah tersembunyi kepada Ayoveva. Ayoveva mendapatkan semua isyarat Tuhan ketika bersama-sama pengembara itu berada di pinggir sungai paling jernih di perdesaan itu.

“Saat kelaparan tak bisa lagi dikenyangkan dengan makanan, aku selalu menatap sungai ini,” kata pengembara itu.

“Mengapa?” tanya Ayoveva.

“Sungai ini selalu tahu kebutuhan siapa pun yang menatap kejernihannya dengan takjub.”

“Ia akan tahu kebutuhanku?”

“Kau lapar juga?”

“Aku kedinginan.”

“Hanya kedinginan?”

“Ya. Hanya kedinginan dan sedikit mual.”

“Bohong. Ada hal-hal lain yang kauinginkan tetapi kau tak mau mengatakan kepada siapa pun bukan?”

“Kau tahu keinginanku?”

“Tentu saja tidak tahu. Aku juga selalu menyembunyikan keinginanku kepada orang lain. Tapi rasanya kali ini aku tak ingin menyembunyikan keinginanku kepadamu.”

“Apa keinginanmu?”

“Aku ingin berkunjung ke taman terindah di Rachaoke.”

“Apa keindahan taman itu?”

“Itu semacam taman yang bisa menjawab apa pun yang kita pertanyakan di dunia ini.”

“Ia semacam surga.”

“Bukan.”

“Ia semacam kawasan yang bisa menghapuskan penderitaan?”

“Ya, semacam itulah….”

“Ia semacam wujud Tuhan yang lain?”

“Ya semacam itulah….”

“Ia semacam puncak cinta dan kebahagiaan manusia?”

“Ya semacam itulah….”

“Apa yang kauinginkan di taman itu?”

“Aku hanya ingin bertanya apakah kebahagiaan dan cinta itu benar-benar ada.”

“Kau belum bisa mendapatkan kebahagiaan itu di dunia?”

“Tentu saja belum. Kalau sudah mendapatkan kebahagiaan aku tak akan duduk tafakur di pinggir sungai ini.”

“Kau ingin kutemani memasuki taman itu?”

“Percuma.”

“Mengapa percuma?”

“Karena siapa pun tak akan pernah bisa ke taman itu bersama-sama. Datang bersama-sama pun, pada akhirnya, kita tidak akan sendiri saat memilih jalan yang memungkinkan kita sampai ke taman.”

“Bagaimana agar kita sampai ke taman itu?”

“Kau harus berenang ke timur.”

“Mengapa tak ke barat?”

“Jika ke barat kau hanya akan sampai ke Ajjar. Kau ingin ke Ajjar?”

“Tidak. Baiklah Aku percaya kepadamu. Aku akan berenang sekarang.”

Ayoveva kemudian berenang ke timur. Ayoveva yakin akan segera bertemu dengan wujud Tuhan yang lain.

 

AKHIRNYA sampai juga Ayoveva di akhir sungai dan agar sampai di kawasan serupa taman terindah di Ajjar itu, ia harus berhadapan dengan 119 jalan yang semua mengarah ke kegelapan. Yang membuat Ayoveva gigrik, semua jalan digenangi darah. Semua jalan dipenuhi mayat-mayat berlumut.

“Darah siapa yang terus-menerus mengucur ini, ya Tuhan?”

Tak ada jawaban.

“Mayat-mayat siapa yang terus-menerus tumbang di sini, ya Tuhan?”

Tak ada jawaban.

“Apakah Kau yang membunuh mereka? Mengapa Kau begitu buas, Tuhan?”

Tak ada jawaban.

“Mengapa di tempat ini Kau begitu sewenang-wenang? Mengapa Kau terus-menerus menciptakan kesengsaraan?”

Karena masih tak ada jawaban, Ayoveva menduga Tuhan memang ingin menunjukkan betapa Rachaoke bukan surga yang bisa menggantikan Ajjar. Meskipun demikian, Ayoveva tidak yakin Tuhan begitu tega menciptakan jalanan berdarah dan penuh mayat untuk meneror makhluk seringkih dirinya.

“Tetapi siapa yang memiliki kekuatan menciptakan kematian yang mengerikan kecuali Tuhan?” tanya Ayoveva dalam hati.

Persoalan yang kemudian muncul, jalan mana yang harus dilalui? Memilih satu jalan dari 119 jalan bukan persoalan mudah. Ayoveva kemudian bertanya kepada semesta dan mendapatkan jawaban yang kian membingungkan.

“Mana jalan yang paling menyenangkan?”

“Tak ada.”

“Mana jalan yang paling menyakitkan?”

“Semua jalan menuju rasa sakit.”

“Mana jalan menuju kehampaan?”

“Tak ada.”

“Mana jalan menuju cinta?”

“Tak ada.”

“Mana jalan menuju Tuhan?”

“Tak ada.”

“Mana jalan menuju kegelapan?”

“Semua jalan menuju kegelapan.”

Mendapat jawaban semacam itu, Ayoveva tak bertanya kepada siapa-siapa lagi. Ayoveva memilih salah satu jalan dari 119 jalan itu.

“Apakah Kau memang sudah tak punya jalan yang indah lagi, Tuhan?”

 

SANGAT sulit untuk sampai di taman. Tak hanya melewati jalanan penuh bangkai, Ayoveva harus menembus aneka pagar berpedang tajam. Begitu pagar terlewati, Ayoveva harus memasuki labirin penuh lumpur.

Karena harus melewati rintangan semacam itu berkali-kali, Ayoveva nyaris tidak sanggup menatap keindahan taman di depan mata. Dalam pandangan yang lamur itu, Ayoveva merasa bertemu dengan Pohon Milhik dan Malaikat Filar.

“Di mana aku?” tanya Ayoveva kepada Pohon Milhik.

Tak ada jawaban.

“Di mana aku?” tanya Ayoveva kepada Malaikat Filar.

Tak ada jawaban.

“Mengapa kalian tidak menjawab pertanyaanku?”

Tetap tak ada jawaban.

Malaikat Filar hanya mengepak-ngepakkan sayap. Pohon Milhik hanya menggerak-gerakkan dedaunan biru. Ular-ular yang bergelantungan di dahan mematung.

“Apakah aku berada di Ajjar kembali?”

Tak ada jawaban.

“Apakah aku tidak bisa berpaling dari cinta dan kebahagiaan yang menjemukan? Apakah aku tidak boleh merasakan rasa sakit? Apakah aku tidak boleh merasa hampa?”

Pohon Milhik dan Malaikat Filar tetap diam. Ayoveva menduga Pohon Milhik dan Malaikat Filar memang tidak diperbolehkan menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh yang ia ajukan. Ayoveva yakin begitu Pohon Milhik dan Malaikat Filar menjawab mereka akan binasa. Sayap Malaikat Filar akan rontok. Pohon Milhik akan roboh.

“Baiklah kalian tidak perlu menjawab pertanyaanku. Aku sudah tahu pada akhirnya ke mana pun aku pergi, aku hanya akan sampai di Ajjar. Aku hanya akan mendapatkan cinta dan kebahagiaan yang telah diberikan untukku. Dan aku membenci semua ini karena aku tak diberi kesempatan meraih cinta dan kebahagiaan yang kuinginkan. Aku ingin mencari cinta yang menakjubkan itu. Aku tak ingin hanya diberi kebahagiaan yang tak tergantikan oleh apa pun itu. Kalau Tuhan adil dan pengasih, Ia akan memenuhi keinginanku.”

 

TUHAN tak mendengarkan keluhan Ayoveva. Tuhan, sebagaimana waktu-waktu sebelumnya, hanya bilang kepada Pohon Milhik, “Hanya orang-orang bodoh yang meninggalkan Ajjar.”

“Ya, hanya orang-orang bodoh yang tidak mensyukuri cinta-Mu.”

“Tetapi kelak tidak semua manusia mematuhi titah-Ku. Akan ada yang meninggalkan-Ku. Akan ada yang memusuhi-Ku. Akan ada yang bersekongkol dengan iblis. Akan ada yang terus-menerus berusaha membunuh-Ku.”

“Aku tidak percaya.”

Tuhan terdiam beberapa saat. Pohon Milhik menunduk.

“Lalu apa yang kaupercaya?”

“Aku percaya tidak akan pernah ada manusia yang berani membunuh-Mu. Aku percaya Kau tidak pernah menciptakan kematian-Mu.”

Ayoveva gemetar mendengarkan percakapan tak terduga yang belum pernah dia dengar sebelumnya itu. Ia merasa terteror. Ia merasa dihajar habis-habisan. Ia merasa menjadi satwa paling sengsara yang tak bakal terselamatkan. (*)

 

 

2016

Triyanto Triwikromo lahir di Salatiga, 15 September 1964. Buku-buku kumpulan cerita termutakhirnya adalah Sesat Pikir Para Binatang (2016) dan Bersepeda ke Neraka (2016).

Advertisements