Cerpen Rilda A.Oe. Taneko (Koran Tempo, 16-17 Juli 2016)

Madonna and Child ilustrasi Munzir Fadly
“Madonna and Child” ilustrasi Munzir Fadly

LANA mengerjapkan mata. Ruang yang sepenuhnya putih. Dinding, lemari, meja dan lampu berdiri. Langit-langit yang tinggi. Dia tidak berada di kamarnya sendiri. (Dinding kamarnya dicat warna magnolia. Satu temboknya dipenuhi stiker dekorasi: sebuah pohon, beberapa burung, dan selarik kalimat puitik. Langit-langitnya rendah.)

Dia di Bygdoy Alle.

Mereka tiba senja kemarin. Dari Manchester ke Gardamoen, mereka menumpang pesawat SAS. Lalu Flytoget, kereta ekspres bandara, mengantar mereka sampai ke stasiun Nationaltheatret.

Bygdoy Alle terletak tak jauh dari stasiun itu.

Apartemen yang mereka tempati terletak di dekat Nasjonalbiblioteket, dengan dua kamar dan sebuah ruang terbuka untuk dapur, ruang duduk dan ruang makan. Setibanya di apartemen, sebelum membuka koper, Lana langsung pergi berbelanja di Kiwi.

Awalnya Mark menawarkan untuk menginap di Radisson Blu. Tapi Lana keberatan. Jika menginap di hotel, Mark tetap saja akan memesan dua kamar. Dan ini jelas lebih memalukan. Lana menjadikan dapur sebagai alasannya untuk lebih memilih apartemen.

Lana menggeliat. Perlahan dan pelan ia mengelus perutnya. Akhirnya. Ia merasa hamil. Menstruasinya berhenti sejak lebih dari tiga bulan lalu. Ia merasakan ada yang tumbuh di dalam rahimnya. Ada yang bergerak. Perutnya membuncit.

Ia diberi sedikit bubuk gerusan batu dari Magharet Sitti Mariam, gua susu di Bethlehem, oleh seorang teman. Mukjizat yang bertahun-tahun dinantikannya. Lana tersenyum. Lirih ia melantunkan ayat pertama dari Surat Maryam. Kaf. Ha. Ya. ‘Ain. Sad.

Tak akan ada lagi kekecewaan demi kekecewaan yang ia rasakan setiap kali menstruasinya datang. Ia benci melihat darahnya sendiri.

Di samping tempat tidur, terdapat sebuah jendela berbingkai putih yang panjang, menghadap ke apartemen seberang. Lana membuka tirai dan jendela lebar-lebar, membiarkan angin pagi masuk ke kamar. Matahari sudah tinggi.

Seorang lelaki di apartemen seberang juga sedang membuka jendela. Mereka bertatapan beberapa saat. Laki-laki itu tersenyum.

Lana beranjak ke dapur.

Ia mengambil karton jus jeruk dari kulkas, memasukkan dua keping roti biji-bijian ke toaster, lalu meraih sebuah alpukat di mangkuk buah. Lana membelah alpukat menjadi dua dan melepaskan bijinya. Pantulan cahaya matahari menembus tirai dan bergerak-gerak di ruangan. Naik-turun. Naik dan turun. Lama juga.

Lana membalik badan, memandang ke arah jendela. Jika ia buka tirai itu, apa kelanjutan yang akan terjadi? Apa ia harus balas tersenyum pada laki-laki di apartemen seberang yang sedang memantul-mantulkan cahaya matahari ke apartemennya itu? Lalu apa?

Lana membuka keran air, menenggak tablet kehamilan, lalu mengelap mulutnya dengan punggung tangan. Roti sudah melompat dari toaster. Ia mengoleskan alpukat ke roti, lalu menaburkan sedikit garam dan lada bubuk. Sambil mengunyah, Lana menimbang-nimbang untuk membuka tirai atau tidak.

Morning.

Mark sudah bangun. Sudah lama Mark tak pernah menghampirinya, walau sekadar mencium kening atau menggenggam tangan. Mark langsung menuju jendela dan membuka tirai. Gerak-gerak pantulan cahaya serentak lenyap.

I’ll be at work until late today.

Lana mengangguk. Sebenarnya Mark tidak ingin ia ikut. Perjalanan kerja, alasannya. Ia akan sibuk seminggu penuh dan tak akan bisa menemani Lana. Tapi Lana memaksa. Saat itu, Lana ingin sekali pergi dari kota tempat mereka tinggal.

Ia sadar Mark tidak senang dengan kehadirannya.

Sejak di Bandara Manchester, di pesawat, di Flytoget dan di stasiun Nationaltheatret, Lana memperhatikan seorang perempuan yang beberapa kali tertangkap mencuri pandang pada Mark.

Mark pun beberapa kali melirik perempuan itu.

Seorang perempuan berambut pendek-pirang, berponi dan berumur jauh lebih muda dari dirinya.

 

LANA berjalan menyusuri Henrik Ibsen Gate, melewati patung-patung yang berdiri di pinggir jalan. Winston Churchill, Alfred Nobel dan Henrik Ibsen. Ia menuruni tangga dari istana, berjalan ke Karl Johan Gate dan berbelok ke Universitetsgata. Matahari bersinar terik. Lana berpeluh.

Nasjonalgalleriet adalah tujuannya. Yang sangat ingin dilihat Lana bukanlah Skrik karya Edvard Munch. Ia mencari Madonna. My Lady. The Virgin Mary. Maryam.

Kaf. Ha. Ya. ‘Ain. Sad.

Lana berpindah dari satu ruang pamer ke yang lain. Setelah itu, ia pergi ke ruang menggambar. Mother and Child, sebuah patung karya Gustav Vigeland, diletakkan di tengah ruang. Lana membuka tas ransel, mengeluarkan buku gambar dan pensil. Ia mulai membuat sketsa.

Di tahun-tahun awal perkawinannya, Lana menjadi senang membeli majalah yang menampilkan desain kamar anak. Ia juga kerap mengunjungi toko-toko perlengkapan anak. Lana sudah tahu seperti apa kamar anaknya nanti, kereta bayi yang akan ia beli, juga merek peralatan mandi dan popok. Tahun kelima, di saat cuaca baik, kadang Lana duduk di taman bermain anak-anak. Diam-diam Lana menilai. Lana sudah tahu ia ingin menjadi orang tua seperti apa. Bukan yang hanya sibuk dengan telepon genggam. Bukan yang asyik berbincang dengan teman. Lana ingin menjadi orang tua yang bermain bersama anak-anaknya.

Sepuluh tahun setelah menikah, Lana menjadi gandrung pada karya-karya yang berjudul Madonna and Child. Di tiap kota yang ia singgahi, Lana senantiasa berkunjung ke galeri seni, lukisan dan foto, demi mencari-cari sosok Maryam, juga sosok Isa.

Ia juga mulai membaca Surah Maryam. Setidaknya tiga kali dalam seminggu.

Sekarang, tak hanya Maryam yang dicarinya, tapi semua karya yang menampilkan sosok ibu. Meski hanya perempuan-perempuan kebanyakan, bagi Lana, mereka tampak kuat.

 

SAAT ia membuka jendela kamar, lelaki di apartemen seberang sudah berdiri di jendelanya, melambaikan tangan. Seorang pria muda berambut gondrong pirang-kecokelatan. Lana mengernyit dan berlalu ke dapur. Di dapur, ia temui kembali pantulan-pantulan cahaya matahari bergerak-gerak, naik dan turun. Seperti Aurora Borealis. Cahaya Utara.

Mark tidak pulang malam tadi.

Bukankah Mark sudah bilang ia akan sibuk sekali? Salah Lana juga mengapa ia tetap memaksa ikut. Tapi dokternya-lah, GP (General Practitioner) yang mendampingi mereka bertahun-tahun ini, yang membuat Lana ingin pergi.

I’m really sorry to say this. Kamu tidak hamil.

Tidak mungkin. Menstruasiku tidak datang lebih dari tiga bulan.

Stres atau depresi, bisa menyebabkan menstruasi berhenti. Berdoalah. Inshallah, Allah akan mendengar.

Aku sering membaca Surah Maryam sekarang.

Air mengucur dari keran. Lana memasukkan satu tablet kehamilan ke mulutnya. Pria di apartemen seberang sepertinya keras kepala sekali. Tak juga ia berhenti. Lima belas menit, mungkin lebih.

Lana bekaca di cermin di dalam lift, merapikan kerah kemeja birunya dan menyisir rambut hitam sebahunya dengan jari-jari tangan. Di lantai dasar, ketika pintu lift terbuka, Lana melihat bayangan seorang wanita muda terpantul di cermin. Lana berbalik. Perempuan itu, berdiri di depannya dan tampak terkejut. Lana berpura-pura keluar gedung, untuk diam-diam kembali ketika pintu lift telah menutup. Lantai dua, lantai tiga…. Perempuan itu berhenti di lantai tiga. Satu lantai di bawah apartemennya. Mungkin Mark masih meringkuk tidur di sana.

Patung-patung lelaki berjajar di depan Radhus. Orang suci, tukang batu, tukang kayu, tukang bangunan. Mereka mengenakan baju. Sementara di seberang, di taman antara Radhus dan dermaga, ada sosok-sosok perempuan telanjang, anak-anak kecil di sisi mereka. Sosok ibu-ibu dan anak-anak mereka. Jalur trem memisahkan antara ranah produksi dan reproduksi. Kultur dan natur.

Di dekat dermaga ada banyak pengemis Romani. Pakaian mereka berwarna-warni. Beberapa menawarkan balon berbentuk bunga pada anak-anak yang bergandeng tangan dengan orang tua mereka. Lana menggeleng pada seorang pengemis yang menghampirinya. Ia juga menggeleng pada seorang pegiat gereja yang menawarkan sandwich cuma-cuma.

Perempuan itu menyapanya dalam bahasa Tagalog. Musta?

I’m Indonesian.

Ah, aku pikir kamu orang Filipina.

Kita mirip memang.

Ya, tentu saja.

Lana duduk di bangku kayu yang menghadap ke sebuah patung perempuan. Ia mulai membuat sketsa. Mulai dari seorang anak.

Semua orang menyalahkannya. Ambisinya dalam berkarier, kata mereka, yang membuat Lana tidak juga mengandung. Lana tidak pernah mengucap sepatah kata pun untuk membela diri. Lebih baik begitu, pikirnya. Toh ia dan Mark sudah berupaya.

Semua orang mengasihani Mark. Pastilah, mereka bilang, Mark ingin memiliki keturunan.

Sesekali Lana menengadah ke arah patung. Satu waktu ekor matanya menangkap bayangan seorang laki-laki. Pria dari apartemen seberang.

Bergegas Lana memasukkan buku gambar dan pensilnya ke ransel. Ia beranjak ke arah Nobel Peace Center. Ada satu ruang pameran yang sedang diperbaiki, tiket masuk hanya setengah harga, kata penjual tiket. Lana menyerahkan NOK 50 padanya.

Laki-laki itu mengikutinya.

Lana cepat naik ke lantai dua, lekas-lekas melewati beberapa ruang: ruang Nobel Laureates terkini, ruang seluruh Nobel Laureates, ruang Alfred Nobel, ruang tentang pengungsi Suriah, dan kembali turun untuk cepat menuju pintu keluar. Ia menghilang di antara kerumunan orang yang berlalu-lalang di dekat Radhus.

Ketika sudah merasa aman, Lana kembali berjalan menuju Nasjonalgalleriet.

Di tempat seramai ini, ia tidak perlu takut, pikir Lana. Apalagi ada beberapa polisi berjaga-jaga di dekat Nationaltheatret. Tapi tetap saja Lana menggegaskan langkahnya.

Miss Hammersley, please. I need to talk to you.

Pria itu tahu namanya. Nama keluarga Mark.

Lana berbalik. Bagaimana kau tahu namaku?

Pria itu terdiam. Ia tampak ragu. Saat bicara, ia gugup.

Elena, my wife…. your husband….

Wanita muda berponi itu bernama Elena, pikir Lana. Ternyata ia bersuami.

Pria itu menatapnya. Aku tidak yakin kalau kamu tahu… tentang mereka….

Lana tahu. Lebih dari tiga bulan yang lalu. Seorang teman, yang juga salah satu manajer di perusahaan milik keluarga Mark, menemuinya, bercerita. Seorang karyawati baru, kata teman itu. Dia kerap tidak mampu menepati target penjualan dan menangis, ketakutan kalau Mark akan memecatnya.

Teman itu membawa Lana ke sebuah kompleks perumahan, menunjukkan satu rumah yang tampak asri. Mark yang membelikan rumah itu. Juga mobil yang diparkir di depan rumah.

Sejak itu Lana berhenti menstruasi.

Lana dan pria itu bertatapan. Seperti cermin, mereka saling membaca luka yang sama.

Pria itu mengulurkan tangan. Nikolay Kalugin.

Mata laki-laki berwarna hijau. Serupa Cahaya Utara.

Lana menyambut uluran tangannya. Panggil aku Lana.

Boleh aku berjalan bersamamu, Lana?

Lana mengangguk. Mereka melangkah ke Nasjonalgalleriet.

Di ruang menggambar, Lana meneruskan sketsanya. Mother and Child masih berdiri di tempat yang sama. Nikolay duduk di sisinya.

Elena ingin sekali mempunyai anak.

Sama sepertiku, pikir Lana. Bahkan juga Koko, gorila itu.

Tapi aku tidak bisa memberikan itu padanya. Maafkanlah Elena.

Lana menoleh.

Aku mandul.

Sama seperti Mark, pikir Lana. Tak ada cara lain, kata GP mereka, selain mencari donor sperma. Tapi Lana memilih meminum bubuk batu dari gua di Bethlehem. Lana memilih membaca Surat Maryam. Lana memilih untuk percaya bahwa ia hamil.

Sementara Mark memilih selingkuh. Tak hanya sekali ini.

Perlahan Lana mengelus perutnya. Kaf. Ha. Ya. ‘Ain. Sad. (*)

 

 

Rilda A.Oe. Taneko berasal dari Lampung dan kini menetap di Inggris. Buku cerita pendeknya, Kereta Pagi Menuju Den Haag (2010).

Advertisements