Museum Luka


Cerpen Yudhi Herwibowo (Jawa Pos, 10 Juli 2016)

Museum Luka ilustrasi Bagus

Museum Luka ilustrasi Bagus

SEJAK sang kekasih meninggalkannya, Araning memutuskan satu hal yang tak pernah dipikirkan sebelumnya. Ia tahu–mungkin—orang-orang akan menganggapnya gila. Tapi sekarang ini ia tak mau memikirkan orang lain. Orang-orang itu tak tahu seberapa banyak ia telah dilukai oleh laki-laki, yang semuanya nyaris dicintainya dengan tulus. Seperti kekasih terakhirnya itu, yang tanpa tanda-tanda apa pun, tiba-tiba saja berkata, “Kupikir ini tak akan berhasil. Sebaiknya kita sudahi saja hubungan ini.”

Dan Araning tak bisa berucap apa-apa. Sampai laki-laki itu pergi dari hadapannya, ia hanya bisa menahan tangis. Tapi ia tak ingin menangis sekarang. Ia bosan menangis gara-gara hal seperti itu. Membuatnya terlihat lemah. Ia ingin berdiam diri saja di sini. Memandangi apa yang ada di sekelilingnya, seperti lukisan perempuan yang tengah termenung di depan jendela, yang tepat ada di depannya. Entah kenapa, ia merasa lukisan itu begitu mirip dengan keadaannya sekarang.

Tak hanya itu, Araning juga memandangi vas bunga yang mulai layu, dua pigura foto dirinya dan kekasihnya yang sedang berpelukan mesra, hingga hiasan kaca hadiah kekasihnya beberapa bulan lalu. Sungguh, melihat itu semua malah membuatnya tak bisa menahan air mata.

Tapi Araning menguatkan hatinya. Ia tak mau menangis lagi kali ini. Jadi ia kemudian memilih sesegera mungkin mengemasi semua barang yang diingatnya berkaitan dengan kekasihnya, termasuk lukisan perempuan yang termenung itu. Karena walau ia yang membeli lukisan itu, kekasihnyalah yang memilihkannya.

Araning kemudian membawanya ke ruang belakang yang seharusnya menjadi garasi. Di situlah, saat ia meletakkan barang-barang itu, matanya melihat barang-barang milik kekasih-kekasihnya terdahulu. Semuanya tergeletak begitu rupa, tak terawat dan dipenuhi debu tebal. Tiba-tiba Araning merasa kalau ruangan ini begitu sesak dengan luka.

Selama ini Araning memang paling enggan ke ruangan ini. Ruangan ini seperti terpisah dari rumahnya. Mungkin karena ia tak memiliki mobil, dan semua urusan kebersihan rumah sudah ada yang mengurus, ia jadi tak harus sering-sering ke sini. Namun kini ia malah memutuskan duduk di tengah ruangan, di sekeliling barang-barang milik kekasihnya. Anehnya, sekarang ia tak lagi ingin menangis. Ia pikir, mungkin luka yang berkali-kali dialami selama ini sudah membuatnya imun.

Lalu, di saat seperti itulah pikiran untuk menata semua yang ada dalam garasi ini tiba-tiba muncul begitu saja. Ini membuat Araning merasa konyol. Tapi, bagaimanapun, semua yang ada di sini, dulu pernah begitu menyenangkan. Itulah alasan ia tak mau membuang ataupun membakarnya. Toh, ia sadar, ia tak pernah bisa mengelak dari luka yang sudah terjadi.

Jadi malam itu juga, Araning mulai menata ruangan itu. Sampai menjelang dini hari semuanya baru dapat tertata rapi. Kini, saat ia tersenyum puas melihat semuanya, sebuah pikiran nakal muncul di benaknya. Ruangan ini begitu nampak seperti museum, jadi sepertinya cocok bila ia menamainya Museum Luka. Dan mungkin suatu waktu nanti, ia juga bisa mengundang para mantan kekasihnya itu untuk singgah.

***

WALAU Araning sering merasa wajahnya biasa-biasa saja, sebenarnya ia cukup manis. Ia juga cerdas dan memiliki karir yang cukup bagus. Saat masih menjadi mahasiswi, ia sudah bekerja dan mengontrak rumah sendiri. Bahkan sejak beberapa tahun terakhir ini, ia sudah bisa membeli sebuah rumah yang cukup besar di pinggir kota.

Laki-laki pertama yang menambat hatinya adalah teman kuliahnya. Ia laki-laki lugu yang hanya suka melukis. Karena di kosnya, ia tak bisa menyalurkan hobinya itu, Araning membiarkannya memakai satu ruangan di rumahnya untuk dijadikan studio. Itulah awal pertama Araning mempunyai kebiasaan memasang lukisan di rumahnya. Ia sebenarnya tak cukup memahami lukisan, ia hanya setuju saja dengan selera kekasihnya. Sampai saat kekasihnya itu lulus dan kembali ke kota, hubungan keduanya berakhir begitu saja. Hampir 30 lukisan ditinggalkan kekasihnya. Araning sempat berpikir, kalau mantan kekasihnya itu menjadi pelukis ternama, ia pastilah akan kaya raya. Kini, setelah berjam-jam Araning membersihkan lukisan-lukisan berdebu itu, ia memajangnya beberapa di dinding, dan menyediakan meja khusus untuk beberapa yang tak bisa dipajang.

Hampir dua tahun setelah itu, Araning mulai membina hubungan dengan laki-laki lain. Ia seorang fotografer yang suka memotret apa pun. Semua sudut di rumah ini pernah dipotretnya. Di puncak cinta mereka, Araning bahkan membiarkan kekasihnya itu memotretnya dalam keadaan telanjang. Tapi setahun berselang, kekasihnya itu harus pindah ke ibu kota karena menerima tawaran kerja yang menggiurkan. Hubungan keduanya pun berakhir begitu saja. Kini, kumpulan foto-fotonya yang tersimpan dalam beberapa pigura dan album foto, masih tersimpan dengan baik. Araning memilihnya beberapa untuk dipajang di dinding. Beberapa yang lain dibiarkan tetap berada di album-album itu.

Kekasih Araning selanjutnya adalah seorang gamer. Ia tak meninggalkan banyak barang di rumahnya. Hanya beberapa konsol game yang sudah rusak, beberapa majalah game, dan kaos-kaos bergambar karakter-karakter game yang tak dikenalinya. Dulu, kekasihnya itu meminta putus tanpa alasan yang jelas. Namun Araning tahu, kekasihnya itu sebenarnya sudah kepincut dengan gamer perempuan di komunitasnya.

Kekasih Arianing setelah dialah yang mungkin menjadi kekasih yang paling dicintainya. Ia seorang penyair, dan gemar membuat kata-kata yang indah. Dulu di ulang tahunnya, kekasihnya itu pernah menghadiahi sebuah puisi indah yang ditato di tubuhnya. Tentu hanya tato temporer, tapi ini membuat perasaan Araning begitu melayang. Ia ingat bagaimana ia mengikuti kata demi kata yang ditulis kekasihnya itu hampir di semua bagian tubuh kekasihnya. Tapi Araning tahu, lelaki romantis memang cenderung berhati dua. Ini berdasarkan riset yang pernah dibacanya.

Hanya beberapa bulan membina hubungan dengannya, ia tahu kalau kekasihnya membina hubungan dengan perempuan lain. Ia memang tak pernah bisa membuktikan siapa perempuan itu, tapi ia tahu dari aroma tubuh kekasihnya. Ia hapal aroma kecut kekasihnya, jadi mudah sekali bila ada aroma wangi samar yang ada ditubuhnya. Pada akhirnya Araning ingat pertengkaran yang terjadi di antara mereka. Kekasihnya kemudian memilih pergi tak lagi kembali.

Sejak pertengkaran itu, cukup lama Araning tak membina hubungan dengan laki-laki lain. Mungkin ia begitu terluka. Tapi Araning sadar, semua yang sudah terjadi, kadang memang tak bisa kembali. Mungkin ini adalah waktu yang tepat baginya untuk introspeksi. Setidaknya karena itu semua, ia sekarang menjadi lebih sabar dan dewasa menghadapi apa pun.

Kekasih Araning selanjutnya adalah seorang pegawai negeri sipil. Dari kekasihnya yang ini, Araning tak menemukan apa-apa yang menjadi peninggalannya. Mungkin karena ia hanya membina hubungan yang singkat saja dengannya, jadi ia tak tahu kegemaran kekasihnya yang sebenarnya. Kegiatan mereka hanya makan malam diiringi perbincangan tentang keadaan kantor yang menyebalkan. Sungguh, walau pahit untuk diakui, Araning merasa kenangan tentang kekasihnya ini nyaris tak ada. Sisi positifnya, ia tak menorehkan luka yang dalam padanya.

Namun, setelah itulah, Araning jatuh cinta begitu dalam. Kekasihnya kali ini adalah laki-laki yang malam ini mencampakkannya. Ia seorang dokter yang baik, yang tak ragu ditempatkan di daerah-daerah terpencil. Hatinya sempat menempatkan laki-laki ini sebagai kekasih paling sempurna yang pernah mengisi hatinya. Hidupnya lurus, dan tak neko-neko. Jadi tak heran bila Araning sempat berpikir kalau inilah pelabuhan terakhir baginya. Tapi harapan itu ternyata hanya ia yang menginginkannya.

Kini, setelah menyusun dan merapikan semuanya, Araning dapat tersenyum lega. Luka sepertinya tak lagi membuatnya menangis. Ia senang melihat semuanya sekarang. Barang-barang yang selama ini dihindarinya ternyata tak semenakutkan bayangannya. Araning tahu, kehidupannya hari ini dibentuk dari semua masa lalunya. Mungkin sekarang ia menjadi orang yang lebih kuat, lebih pengertian, atau–mungkin—lebih baik melakukan sebuah ciuman panjang.

Tapi, Araning kemudian sadar, kalau masih ada satu luka lagi yang tak ada di sini.

***

SUNGGUH, Araning sebenarnya sama sekali tak berharap melanjutkan ini semua: Museum Luka-nya. Ia menganggap ini mungkin sekadar hiburan baginya, atau sekadar pelariannya. Bisa dibayangkan, bila ia tak merepotkan diri menata semua ini, mungkin ia akan menghabiskan malam dengan menangis seperti yang sudah-sudah.

Apalagi sejak ia membuat Museum Luka ini, semua seperti menjadi lebih baik. Ia sepertinya tak terlalu bersedih. Ia bahkan lebih sering menertawakan dirinya. Misalnya saat ia memandang satu lukisan milik kekasih pertamanya, ia akan tersenyum dan membayangkan saat kekasihnya itu sedang melukis dengan bertelanjang dada. Saat itu, ia akan mencowel tinta dengan jarinya dan membuat lingkaran di dada kekasihnya. Ini akan membuat kekasihnya membalas, dan ia hanya bisa melarikan diri sambil berteriak-teriak histeris.

Atau saat ia melihat stetoskop milik kekasihnya yang dokter itu. Ia akan teringat saat suatu kali kekasihnya memintanya mendengarkan stetoskop itu saat ia menempelkan ujung stetoskop lainnya di dadanya. Katanya dengan tampang serius, “Kau dengar, kan? Ada namamu di situ?”

Sungguh, membayangkan itu semua, Araning merasa luka tak akan lagi benar-benar bisa melukainya. Walau ia sadar jauh di lubuk hatinya, ia sebenarnya telah mengingkari sesuatu. Sesuatu yang merupakan luka yang sudah lama sekali dipendamnya, dan tak ingin dikenangnya sedikit pun. Tapi ke beradaan Museum Luka ini, seperti membuat luka itu terkulik dan menyeruak kembali.

***

JADI, pada akhirnya, Araning memutuskan datang ke rumah itu: rumah kakeknya, tempat ia tumbuh. Rumah itu sudah sejak 10 tahun lalu diwariskan kepadanya. Tapi tak pernah sekali pun ia datang berkunjung. Selama ini, ia sudah merasa cukup membayar seseorang untuk merawat segala sesuatunya.

Dengan langkah ragu, Araning masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke arah kamar yang dulu merupakan kamarnya. Semua perabotan masih seperti dulu. Hanya saja kini beberapa telah ditutup dengan kain putih. Di sudut kamar, masih dilihatnya beberapa kardus yang tersusun rapi. Araning mengambil satu yang tertutup paling rapat.

Di Museum Luka, Araning mulai membuka kardus itu. Ada belasan boneka berbagai macam. Seiring tangannya yang mengeluarkan boneka-boneka itu satu demi satu, ia seperti terlempar ke masa lalunya. Tangannya tiba-tiba bergetar. Sepenggal ingatannya kembali hadir, ingatan yang selalu ingin dilupakannya. Ingatan saat kakeknya—yang selama ini menjadi pengganti ayah dan ibunya—memeluk tubuh kecilnya dari belakang, menciuminya, dan mulai mengangkat roknya.

Tubuh Araning seperti terhempas ke belakang. Kini, di tengah-tengah Museum Luka, ia menangis sejadi-ja dinya. (*)

 

 

YUDHI HERWIBOWO, aktif di buletin sastra Pawon, Solo. Buku terbarunya Halaman Terakhir, sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng (Noura).

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: