Malam Lebaran


Cerpen Amir Yahyapati ABY (Suara Merdeka, 03 Juli 2016)

Malam Lebaran ilustrasi Toto

Malam Lebaran ilustrasi Toto

Gerimis di senja itu membuat orang-orang menumpuk di teras warungku. Dua Angkudes (angkutan desa) yang berhenti hampir bersamaan menumpahkan penumpangnya, pada berebut mencari tempat berteduh. Warung peninggalan mertuaku yang sengaja dibikin berteras luas dan memanjang agar orang-orang yang mau bepergian atau yang datang dari kota bisa berteduh di situ. Orang-orang menyebut warungku adalah pangkalan Angkudes dan ojek sepeda motor. Dan imbasnya, mereka yang berteduh banyak jajan di warungku.

Tahun-tahun belakangan ini, cuaca seringkali mengingkari siklusnya. Ini bukan musim penghujan, tapi kilat berpijaran serupa sulur-sulur api yang menyebar dan menancap ke pasak bumi. Kemudian tidak berapa lama disusul suara geluduk yang memekakkan telinga. Mendung tebal menyungkup di atas bukit Lindur. Angin terus-menerus berkesiur susul-menyusul; memilin, menerabas dan mengayun ranting-ranting pohon mahoni dan sonokeling yang berjejer di sepanjang jalan desa, hingga menimbulkan suara kemerosak di mana-mana. Air makin lama makin deras tumpah ke bumi. Dan orang-orang yang berdesakan di teras warungku sebagian ada yang masuk ke dalam. Tetapi mereka tidak memesan apa-apa. Ini bulan Ramadan, dan biasanya warungku mulai buka pukul 04.30. Sore. Kalau pun mereka membeli biasanya minta dibungkus untuk dibawa pulang. Atau memesan makanan ketika azan maghrib berkumandang untuk berbuka puasa.

“Kang Hadi, bungkuskan lontong tiga. Satu lontong pecel. Daun pakisnya yang banyak dan taogenya sedikit saja. Yang dua lontong semur kutuk (ikan gabus). Dengan kepala ikan kutuk semua,” pesan langgananku.

“Minumannya apa, Lik Darji?”

“Satu kolak dan dua wedang ronde.”

Ketika namaku disebut, lelaki tua dengan wajah kuyu dan kelelahan—mungkin baru datang dari perjalanan jauh, yang sejak petir pertama kali berkelebatan di langit telah masuk ke warung, nampak terkejut dan terperangah. Lama ia menatapku. Seperti aku benda yang berharga dan menakjubkan untuk dilepaskan begitu saja dari pandangannya.

Dua anakku Tohir dan Adnan berlarian dan berkejaran dari rumah masuk ke warung. Mereka masih memakai pakaian baru yang dibeli tadi pagi. Sarung batik tulis halus dari Lasem, baju koko putih dengan motif bordir kembang-kembang warna pink dan biru langit, dan kopiah bundar yang identik disebut kopiah haji. Adnan anakku nomor dua mengejar Tohir, seperti ada yang ingin direbut. Tohir anak sulungku terus berlari dan bersembunyi di kolong meja warung untuk menghindari sambaran tangan Adnan yang ingin merebut kopiah yang dikenakan. Dan Adnan selalu gagal merebut kopiah dari kakaknya. Badan Adnan yang tambun tidak bisa mengimbangi kegesitan kakaknya yang memiliki tubuh kerempeng, yang terus berkelit.

“Aku nggak mau kopiah ini,” kata Adnan sambil mengibar-ngibarkan kopiah warna kuning. “Aku mau kopiah warna hijau yang dipakai kakak.” Dan meledaklah tangis Adnan.

Nani istriku mencoba melerai mereka. Istriku yang harus bertanggung-jawab, karena yang menemani mereka membeli pakaian baru. Sementara tangis Adnan kian menjadi-jadi.

“Makanya, kalau membelikan sesuatu harus sama dan sewarna,” kataku yang kutujukan kepada Nani.

“Dia sendiri yang memilih kopiah,” elak istriku. “Tohiiir, sudahlah mengalah, berikan kopiahnya kepada adik. Besok aku belikan lagi yang berwarna hijau.” Akhirnya Tohir mau mengalah.

“Lebaran masih lama kok sudah dibelikan baju baru, Kang Hadi?” Tanya Lik Darji. “Puasanya kan baru tiga hari?!”

“Tradisinya begitu, Lik. Menyambut Lebaran mereka dapat tiga stel pakaian baru. Satu jatah dari kakeknya, yang dua dari aku dan istriku. Pada hari puasa pertama mereka dapat kiriman uang dari kakeknya yang ada di Jakarta. Dikirimkan lewat Pak Mulyono yang bekerja di Jakarta, yang pulang kampung kemarin.”

Lelaki tua itu makin terperanjat. Kini lelaki tua itu menatap nanar kedua anakku. Dan mata itu, sorot mata yang seakan-akan menyimpan bom waktu rindu.

***

Kabar tentang lelaki tua yang setiap sore berziarah ke makam ibuku cepat tersebar ke seluruh kampung. Bagi orang kampung perbuatan lelaki tua itu sangat aneh. Kalau ziarah ke kubur kerabat biasanya dilakukan satu kali dalam seminggu, dan waktunya pada kamis sore atau jumat pagi. Gunjingan dan kasak-kusuk dari orang-orang sepantarannya yang pernah mengenalnya makin liar menebar dengan nada pedas dan menghina: “Darso, Darso, setelah tidak punya apa-apa dan siapa-siapa akhirnya pulang juga dan mohon ampun di pusara istrinya.”

Ya, Lelaki tua yang baru menjadi pergunjingan hangat itu adalah; menjadi terkejut dan terperangah ketika namaku disebut Lik Darji, lelaki tua itu makin terperanjat ketika Tohir dan Adnan pada berebut kopiah haji baru yang uangnya dari pemberian kakeknya di Jakarta. Lelaki tua itu adalah ayah kandungku! Lelaki yang telah menghilang puluhan tahun dariku. Lelaki yang hampir kulupakan dan kuhapus dari memori hidupku.

Tetapi kepulangan Ayah ke kampung halaman tidak ke rumahku, atau ke rumah Harun dan Romlah. Ia memilih ke rumah adik bungsunya, Lik Muhtar, yang rumahnya berada lebih ke atas—dari rumahku berjarak 1 km. Itu saja Ayah tidak mau di rumah Lik Muhtar, tapi menempati kamar kecil yang ada di surau di depan rumah paman. Dan ketika gunjingan itu semakin santer, aku dan Romlah menemui Ayah agar mau pindah di antara rumah kami. Ayah menolak dengan alasan surau yang ditempatinya dekat makam Ibu.

Sebenarnya, telah berkali-kali aku titip pesan lewat Pak Mulyono agar Ayah mau pulang ke kampung halaman. Tetapi Ayah selalu menolak pulang. Pak Mulyono adalah orang sekampungku yang bekerja sebagai sopir truk sampah di Jakarta. Dan Ayah hidup sendirian di gubuk kardus dekat pembuangan sampah. Ia bekerja sebagai pemulung. Ia sudah sering sakit-sakitan di lingkungan kumuh penuh bau busuk yang menyengat itu.

Setiap kali keinginanku kuutarakan kepada Harun, adikku nomor dua, selalu menjadi perdebatan yang sengit, bahkan ujungnya menjadi pertengkaran hebat. Harun selalu marah setiap membicarakan tentang Ayah. Bahkan ketika aku hampir menyusul ke Jakarta, manakala Pak Mulyono memberi kabar tentang Ayah yang sakit keras, Harun tetap tak luluh hatinya dan terus menentang kepergianku. Tetapi batalnya aku menyusul Ayah ke Jakarta bukan karena tentangan Harun, melainkan Adnan anakku nomor dua juga sedang sakit.

“Untuk apa kau susul Ayah?! Apa yang masih kau harapkan dari dia? Apa?!”

“Dia Ayah kita. Aku, kau dan Romlah adalah tetap sebagai anak-anaknya.”

Harun tersenyum sengau dan mencibir. “Sayangnya aku belum bisa menjadi seperti Kang Hadi. Kang Hadi yang memiliki hati Malaikat, Kang Hadi yang… Aku belum bisa melupakan masa kanak-kanakku yang getir. Aku belum bisa melupakan perjuangan Ibu yang keras, berjuang sendiri membesarkan kami, sementara Ayah pergi dan bersenang-senang dengan… Bagiku lelaki itu sudah mati!”

“Harun!” Teriakku meninggi. “Nanti kau kualat!”

“Ayah macam begitu tak bisa menjadi sebab kualat anaknya,” kata Harun dengan nada meninggi pula.

Begitu bekunya hati Harun. Dan Harun selalu menolak pemberian uang dari Ayah; agar uang itu dibelikan pakaian baru buat lebaran cucu-cucunya. Harun memberikan uang itu kepada Romlah. Sebetulnya aku telah berpesan kepada Pak Mulyono agar Ayah tidak usah mengirim uang kepada kami. Sebaiknya uang itu untuk keperluannya di Jakarta. Tetapi Ayah tetap memaksa mengirim uang setiap bulan puasa tiba.

Samar-samar kenangan lama itu mulai terkuak kembali. Kenangan masa kecil bersama Ayah, Ibu dan Harun. Waktu itu Romlah belum lahir. Kenangan indah dan manis bersama mereka ketika pergi ke pasar malam, pergi ke pantai Bandengan bermain-main pasir dan ombak, atau hanya sekedar jalan-jalan keliling kota di sore hari, dan pulangnya mampir ke warung Pak Jayus yang kini menjadi mertuaku, menikmati lontong semur kutuk yang cukup kondang di lereng bukit Lindur. Masih kuingat keceriaanku dan tawa Harun ketika naik komedi putar di pasar malam itu. Biasanya aku menaiki kuda-kudaan dan Harun lebih senang menaiki gajah-gajahan. Sementara Ayah dan Ibu menunggu di bawah sambil menikmati jagung bakar. Ah, rasanya kejadian itu seperti baru kemarin.

Sejak Ibu mengandung Romlah, itulah awal malapetaka menggerogoti ketentraman keluarga kami. Entah setan mana yang telah mempertemukan Ayah dengan perempuan itu. Pesona penyanyi orkes Fajar Kelana telah menyedot Ayah ke lembah-lembah nafsu yang paling hina. Ayah khianat dan mengejar-ngejar biduan orkes itu. Ayah jarang pulang dan pergi berpindah-pindah dari satu kota ke kota yang lain mengikuti pertunjukan orkes Fajar Kelana.

Ayah sudah tidak mengurus pekerjaannya lagi. Semua pekerjaan diserahkan kepada orang kepercayaannya. Mengurus penggilingan padi, 4 truk ekspedisi, 3 tempat sawah yang cukup luas. Waktu itu Ayah termasuk orang terpandang di kampung kami.

Hanya sesekali Ayah pulang. Kepulangannya selalu menimbulkan keributan di rumah. Sering marah-marah tak jelas kepada Ibu, dan sering pula kulihat memukul Ibu. Kepulangannya meminta uang dari Ibu, karena semua pendapatan dari penggilingan padi dan 4 truk ekspedisi yang memegang Ibu. Kalau Ibu menolak permintaannya maka Ayah tak segan-segan menggamparnya. Sesudah mendapatkan uang Ayah pergi lagi mengikuti show orkes Fajar Kelana dari kota ke kota yang lain, padahal ia bukan anggota rombongan orkes itu.

Kelakuan Ayah dari hari ke hari tidak menjadi berubah tapi makin gila dan menjadi-jadi. Setiapkali pulang ke rumah semakin fantastis jumlah uang yang diminta dari Ibu. Kalau Ibu tidak bisa memenuhi, maka Ayah akan menjual barang apa saja yang berharga. Mula-mula 1 truk, kemudian menyusul truk ke 2, 3 dan 4. Lalu penggilingan padi beserta tempatnya yang cukup luas ikut terjual. Semua itu untuk bersenang-senang dan memanjakan perempuan itu. Tetapi yang paling cepat menguras uang Ayah, karena ia terjebak dalam bara api judi. Ayah sering kalah judi, dan kalau pun menang uangnya dihabiskan untuk berfoya-foya.

Menjelang kelahiran Romlah, Ayah pergi bersama perempuan itu ke Jakarta. Ayah mengikuti kemauannya, yang katanya akan mengembangkan karier di Ibukota. Dan kepergian Ayah ke Jakarta menjual sawah di tiga tempat yang ukurannya sangat luas. Hanya rumah yang tidak terjual karena peninggalan orangtua ibuku.

Habislah semua ladang penghidupan Ibu. Untuk membesarkan kami yang masih kecil-kecil Ibu menjadi buruh tani di sawah. Sepulangnya Ibu bekerja di sawah biasanya membuat makanan kecil, dan aku sebagai anak paling besar yang menjajakan keliling kampung.

HPku berdering. Siapa malam-malam begini menelepon. Kutengok jam dinding, jarum pendek telah menunjuk ke angka 1. Pukul 1 malam. Aku belum tidur karena sedang menonton bola. Kusambar HP dan kupencet tustnya. Telepon dari Lik Muhtar, mengabari Ayah sakit kritis. Kupacu motorku sekencang mungkin, menembus kabut dan dingin bukit Lindur. Kupacu seluruh kekhawatiranku untuk menolak keadaan Ayah saat ini: “Tuhan, jangan ambil sekarang. Berilah kami kesempatan untuk saling mengenal kembali sebagai satuan keluarga.”

Di kamar yang kecil di surau itu Ayah hanya ditemani Lik Muhtar. Sengal nafas Ayah yang tinggal satu dua, mata yang memejam dan membuka itu, ternyata masih mampu mengenali kedatanganku.

“Mendekatlah, Nak. Peluklah aku…,” suaranya lirih dan hampir tak terdengar. Kupeluk Ayah erat-erat, dan kurasakan tanganku menghangat kejatuhan butiran airmata. “Bukakan pintu maaf untukku, Nak. Mintakan maaf pada adik-adikmu. Kalau boleh aku minta satu permintaan…”

Lama Ayah terdiam. Lama aku menunggu mulut itu mengucap keinginannya. Dan kurasakan tubuh Ayah semakin dingin. Akhirnya mulut itu dengan terbata-bata berkata: “Boleh kan kalau aku meninggal dimakamkan dekat makam ibumu…” Sesudah berkata begitu tubuh Ayah makin beku, dan sengal nafasnya pelan-pelan menghilang.

Malam itu juga kutelepon Romlah dan Harun. Harun menjawab teleponku dengan mengucap Innalillahi wa innailaihi rojiun. Sesudah itu ia mematikan telepon. Kutunggu kehadiran Harun malam itu ke rumah Lik Muhtar tapi tak kunjung datang. Hingga sampai menjelang pemakaman Ayah, Harun tetap tak menampakkan batang hidungnya. Lalu ku-sms Harun tentang wasiat Ayah terakhir untuk dikubur di samping makam Ibu, Harun menjawab dalam smsnya begini: “Dia tak layak dikubur di samping makam Ibu!”

***

Selepas shalat maghrib, gema takbir terus berkumandang dan bersahut-sahutan dari corong speaker masjid dan surau-surau. Sejak sore tadi mobil hias sudah berjejer di sepanjang jalan yang akan takbir keliling desa, kemudian dilanjutkan menuju alun-alun kecamatan dan bertemu iring-iringan mobil hias dari desa-desa lain. Setiap malam lebaran begini biasanya kami punya tradisi berkumpul. Sebagai anak paling tua rumahku yang selalu untuk berkumpul seluruh keluarga Harun dan Romlah. Untuk merayakan habisnya bulan puasa, aku menggelar acara makan yang cukup istimewa. Beraneka macam buah dan panganan aku hidangkan. Aku juga menyediakan tiga nampan nasi kuning dengan lauk-pauk sambal goreng hati, perkedel, acar, mie, dan setiap nampan berisi satu ekor opor ayam utuh. Tetapi acara yang paling seru dan ditunggu anak-anak adalah pembagian hadiah uang. Aku, Harun, dan Romlah membagi-bagi uang kepada mereka.

“Kenapa setiap acara pelepasan jenazah, para ustad yang mengisi sambutan selalu menekankan tentang hutang-piutang si mati,” tanya Harun memecah kesunyian di antara kami, lalu dijawabnya sendiri, “karena hutang-piutang almarhum adalah salah satu kunci yang menentukan mudah dan sulitnya perjalanan menuju kepada-Nya. Dan hutang-piutang Ayah, hutang Ayah yang tidak bisa dihitung dengan apa pun; hutang kasih sayang, hutang harta benda yang seharusnya untuk membesarkan anak-anaknya ternyata dirampas dan hanya untuk kesenangannya sendiri. Jalan terberat dan penghalang Ayah menuju kepada-Nya, kuncinya pada keridaan anak-anaknya untuk mengikhlaskan semua hutang-piutangnya. Itulah satu -satunya cara yang bisa melempangkan perjalanan Ayah ke alam baqa.”

Aku terpaku dan tertegun. Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Harun sungguh menakjubkan.

“Besok, ya, selain aku ziarah ke makam Ibu juga ziarah ke makam Ayah. Aku akan berikrar bahwa di antara aku dan dia sudah tidak ada hutang-piutang lagi. Dendam dan benci yang kupelihara selama ini ternyata seperti pisau lipat yang secara sembunyi-sembunyi akan menohok diriku sendiri.” Mata Harun tampak membasah.

Di luar, gema takbir semakin syahdu menusuk-nusuk kalbu. Seluruh persendian tubuhku serasa terlolosi, merasakan getaran kalimah asma Allah yang agung.Kurasakan malam lebaran kali ini adalah malam lebaran yang paling indah dari lebaran-lebaran yang pernah aku lalui.

Dan malam itu, dalam mata batinku kusaksikan; Ayah dan ibu sedang berbaring berdampingan dalam damai menikmati indahnya cahaya bulan di langit. (92)

 

 

Catatan:

Judul cerpen ini aku pinjam dari judul puisi Sitor Situmorang yang cuma berisi satu baris; “bulan di atas kuburan”.

 

Amir Yahyapati ABY, lahir di Kudus 23 Desember 1962. Menulis sejak tahun 1980, dan sejak tahun itu pula karyanya berupa cerpen dan puisi telah dimuat di Majalah sastra Bahana (Brunei Darussalam), The Jakarta Post, Mutiara, Panji Masyarakat, Suara Merdeka, Wawasan, dll.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: