Penjaga Menara


Cerpen Bayu Pratama (Koran Tempo, 02-03 Juli 2016)

Penjaga Menara ilustrasi Munzir Fadly

Penjaga Menara ilustrasi Munzir Fadly

MALAM ini giliran jaga Benjor dan Jorben. Mereka bukan saudara kembar. Cuma kebetulan saja memenuhi syarat menjaga menara paling besar yang jadi landmark di kota ini. Hari ini hari Selasa. Dan seperti Selasa-Selasa yang biasanya, beberapa alat penting pasti rusak, tidak bisa digunakan, atau apa pun istilahnya, selama 24 jam pada hari Selasa di kota ini.

“Kopi?” tanya Jorben kepada Benjor.

“Tunggu sampai jam 12-lah. Jatah kopinya sedikit.”

“Saya sudah bikin duluan. Tapi, iya, jatah kopinya sedikit.”

“Tinggal berapa?”

“Satu.”

“Buat saya berarti.” Benjor melihat jam tangannya. “Tiga jam lagi,” katanya kemudian.

“Saya sudah bikin duluan. Atur saja.”

Uap mengepul dari kopi Jorben. Tubuhnya dibalut selimut tebal. Hari ini agak dingin, dan hari Selasa biasanya memang dingin di kota ini. Benjor menyulut rokoknya dengan khidmat. Perlahan dikeluarkannya asap rokok dari mulutnya kemudian cepat-cepat menghirupnya lagi melalui hidung. Mengisap lagi, ujung rokoknya menyala merah.

“Hari ini lampu mati lagi.”

Benjor mengembuskan banyak asap rokok dari mulutnya tanpa menghirupnya lagi, kemudian mengulang kata-katanya.

“Hari ini lampu mati lagi.”

“Hari Selasa,” jawab Jorben. “Biasanya juga dingin di hari Selasa,” lanjutnya kemudian.

“Biasa, hari Selasa.” Benjor terus mengisap rokoknya.

“Kadang saya terpikir, menara tinggi ini…. Setiap hari Selasa mati lampu, menaranya gelap. Siapa tahu ada pesawat atau helikopter yang tiba-tiba nabrak.”

“Mereka punya senter sendiri. Aman.”

“Ini hari Selasa.”

“Haha. Kau benar. Ini hari Selasa. Senter juga bisa mati.”

Jorben membuka selembar koran. Ketika memegangnya, dia tahu perbuatannya akan sia-sia. Dia hanya ingin menyibukkan dirinya walaupun matanya tidak bisa melihat dengan jelas dalam penerangan yang kurang. Api di lampu minyak meletup ketika seekor laron tidak sengaja masuk dan membakar dirinya di api itu. Jorben memperbaiki posisi selimutnya. Terasa lebih dingin karena Benjor membuka jendela. Mengisap rokoknya di sana.

“Kau tahu cerita soal orang yang tidak suka lampu itu?” tiba-tiba Benjor bertanya.

Mata Jorben samar-samar melihat halaman depan koran. Dia ingat apa yang dia baca pagi tadi: foto di halaman depan menampakkan gambar close-up seorang laki-laki yang diberangus oleh aparat berbaju preman. Wajah laki-laki itu menyeringai, lipatan di samping bibirnya membuat dirinya terlihat keras. Matanya cekung, dengan lingkaran hitam. Entah, Jorben ingat pagi tadi dia melihat laki-laki itu sebagai orang dengan banyak masalah. Jorben ingat tadi pagi dia merasa kasihan. “Yah, beritanya di mana-mana,” jawab Jorben dengan suara kasihan.

“Saya kenal dia. Namanya Berjon. Nama kami agak-agak mirip, tapi kami bukan saudara.”

“Kenal di mana?”

“Teman lama. Saya juga lupa teman dari mana. Sudah lama sekali rasanya. Tapi saya ingat dia.”

“Bagus punya teman. Lama, baru.”

“Yah, yang ini lama. Kau tahu bapaknya?”

“Tidak. Saya bukan temannya. Siapa bapaknya?”

“Yah, saya juga lupa bapaknya. Tapi bapaknya punya banyak jasa buat tempat ini. Kau tahu Jalan Biji Wijen yang dulu gelap itu? Bapaknya yang pasang lampu jalan di sana. Nah, sekarang saya ingat. Mungkin bapaknya semacam pegawai PU atau semacam itu. Beberapa jalan lain dia juga yang pasangi lampu. Waktu dulu, saya lupa saya masih kecil atau sudah agak besar, saya ingat bapaknya si Berjon dipanggil ke tempat wali kota dan diberi penghargaan. Kalau tidak salah, penghargaan bakti warga namanya, atau semacam itu.”

“Penghargaan bakti warga?” Jorben menyeruput kopinya.

“Yah, kalau saya tidak salah ingat. Atau mungkin salah. Yang jelas penghargaan buat warga-warga yang suka berbakti.”

“Aneh juga. Bapaknya punya bakti masang lampu jalan. Anaknya suka bikin rusak lampu jalan.”

“Bukan lampu jalan. Tapi semua lampu. Kau tahu Berjon itu?”

“Tidak, saya bukan temannya. Kenapa Berjon?”

“Yah, dia benci bapaknya. Waktu dulu, saya lupa saya masih kecil atau sudah agak besar, saya ingat ada cerita kalau Berjon itu digagahi bapaknya. Kata orang-orang, itu karena Berjon bikin ibunya meninggal waktu dia dilahirkan. Tapi itu kata orang-orang. Benar-tidaknya saya tidak tahu. Waktu itu saya masih kecil, atau mungkin sudah agak besar. Tapi saya ingat saya belum mengerti hal-hal semacam itu waktu itu.”

“Kasihan juga kalau omongan orang-orang benar.”

“Iya, kasihan.”

“Orang-orang bisa benar, kadang-kadang.”

“Nah. Orang-orang di tempat saya kecil dulu itu seringnya salah. Tapi mereka memang sering kumpul bicara soal seseorang.”

Angin berembus lebih kencang. Jorben memperbaiki posisi selimutnya kemudian menyeruput kopi. Benjor melakukan isapan panjang terakhir kemudian membuang puntung rokoknya ke bawah jendela. Sejenak Benjor melihat puntung rokok itu. Ujungnya masih menyala dan mengeluarkan asap. Benjor melihat jam tangannya.

“Dua setengah jam lagi.”

“Kopi saya dingin. Dispenser mati, jadi air panasnya mungkin sudah dingin. Ini hari Selasa.”

“Bah! Saya lupa ini hari Selasa.”

“Ada kompor di atas. Tapi lampu minyaknya cuma satu. Kalau mau naik bawa lampu minyak yang ini. Tapi di sini jadi gelap.”

“Nanti saja. Dua setengah jam lagi.” Benjor melihat jam tangannya.

Mereka berdua diam sejenak. Dingin semakin bertambah.

“Berjon pernah menyerang lampu rumah tempat saya tinggal waktu saya kecil.”

Jorben memperbaiki posisi selimutnya lagi. “Kau jadi sering ingat dia,” balasnya kemudian.

“Yah.” Benjor mengambil kotak rokoknya di meja, mengeluarkan satu batang, kemudian kembali ke jendela. Nyala api korek membakar ujung rokok Benjor, mulai menyala merah dan bergerak membakarnya. “Saya kenal dia. Teman lama.”

“Beberapa hari yang lalu. Lebih tepatnya sekitar dua hari atau lebih sehari lagi dari hari ini saya baca di koran soal orang yang menyerang semua tiang lampu jalan dengan linggis, memanjat, dan memecahkan semua lampu yang sedang nyala. Katanya, orang itu menyerang dan memecahkan lampu-lampu itu dengan membabi buta. Di taman kota, café-café, plaza, alun-alun kota, gedung pemerintahan, rumah ibadah, dan sebagainya. Awalnya aparatur kerepotan menangkap orang itu karena dia berpindah ke sana ke mari seperti kijang. Seperti melompat ke sana ke mari dengan sangat sakti. Tapi akhirnya dia berhasil juga ditangkap di Jalan Palawija. Entah kenapa dia agak kerepotan memanjat lampu merah di sana karena dari pinggir jalan, tiangnya melengkung sampai ke tengah. Orang itu ditarik paksa saat sedang bergelantungan dengan erat di tengah-tengah tiang yang melengkung. Orang-orang ketakutan, terutama yang wanita, dan terutama yang masih muda.

“Ada juga fotonya di pajang di halaman depan koran itu. Sekali pandang, saya tahu itu Berjon. Nama kami mirip tapi kami bukan saudara. Ingatan saya langsung terbang ke masa lalu. Ke masa saya masih kecil, atau sudah agak besar. Berjon pernah menyerang rumah tempat saya tinggal. Waktu itu saya sekeluarga kaget karena tiba-tiba ada sesuatu yang menabrak gerbang. Setelah itu ada orang teriak-teriak. Saya dan bapak membuka pintu. Dan di luar ada Berjon dengan linggisnya melompat-lompat berusaha memecahkan lampu di teras rumah. Cuma waktu itu dia masih kecil, lebih kecil dari saya. Lompatannya belum cukup tinggi dan saya kira linggis itu terlalu berat buatnya.”

“Dia masih pakai linggis.” Jorben melihat lagi foto di halaman depan koran. Kali ini dia ingat linggis yang dipegang laki-laki itu. Tadi pagi dia melihat linggis itu.

“Yah, dia benci bapaknya.”

Benjor melihat jam tangannya. “Dua jam lagi.”

“Semakin dingin.”

“Saya bikin sekarang saja.” Benjor membuang rokoknya yang masih menyala sembarangan.

“Bawa lampu minyaknya.”

“Minta tolong tutup jendelanya.”

Jorben bangun dari duduknya tanpa melepas selimut. Dia berjalan agak kesusahan karena selimut itu. Sesampainya di jendela, Jorben sejenak melihat rokok yang dibuang Benjor. Menyala merah dan masih mengeluarkan asap. Cahaya bulan terlihat lebih jelas karena ruangan jadi gelap gulita, Jorben sepintas melihat seseorang berdiri di luar menara.

“Ada orang di luar.”

Benjor turun membawa kopi sambil menenteng lampu minyak. “Siapa?” tanyanya.

“Tidak tahu.”

Lampu tiba-tiba menyala.

“Sudah hari Rabu?”

Benjor melihat jam tangannya. “Belum. Masih hari Selasa.”

“Mungkin nyala lebih cepat. Tumben.”

Benjor dan Jorben melihat ke luar jendela. Seseorang berlari sambil berteriak dengan gila. Benjor menyeruput kopinya. Jorben menutup jendela. (*)

 

 

Bayu Pratama lahir di Aiq Dewa, Lombok Timur, 2 Mei 1994. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Mataram. Kini terlibat di Komunitas Akarpohon.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: