Archive for July, 2016

Dua Malam di Kota Kata-Kata
July 31, 2016


Cerpen Dinar Rahayu (Media Indonesia, 31 Juli 2016)

Dua Malam di Kota Kata-Kata ilustrasi Pata Areadi

Dua Malam di Kota Kata-Kata ilustrasi Pata Areadi

“HIDUP ini perih,” sapanya sambil menciumku. Usianya empat puluh sekian dan sudah malang melintang di dunia pertunjukan. Selalu girang, walau kacamatanya baru diganti dari kacamata minus ke lensa progresif. Perutnya agak maju, tapi masih bisa tertutup kaus overall hitam. Celana juga hitam.

“Tapi kolorku biru,” begitu ia bilang kalau tatapanku sudah tampak menggambarkan sesuatu. Aku kenal cukup lama dan ia sudah tahu pasti kalau mataku sedang membentuk karakter demi tulisanku berikutnya. Secara keseluruhan dirinya adalah kebalikan dari diriku. Di atas kepalaku hujan dan petir sering turun bertubi-tubi dan dirinya adalah pelangi dan matahari. (more…)

Advertisements

Terbang
July 31, 2016


Cerpen Kartika Catur Pelita (Suara Merdeka, 31 Juli 2016)

Terbang ilustrasi Farid

Terbang ilustrasi Farid

“Ibu tak ingin kau jadi pilot. Setelah kehilangan Ayah, lalu abangmu, Ibu tak ingin kehilanganmu karena terbang!”

Padahal sejak kecil ia suka diajak Ayah terbang. Padahal ia paling senang melihat ayahnya terbang. Padahal ia bangga memiliki Ayah dan Abang yang pintar mengemudikan pesawat terbang.

Demi Ibu, ia akhirnya memupus cita-cita yang sudah kadung mendarah daging. Demi Ibu, selepas SMA, ia urung mendaftar ke sekolah penerbang. (more…)

Hitler dan Neraka yang Dibuatnya
July 31, 2016


Cerpen Risda Nur Widia (Jawa Pos, 31 Juli 2016)

Hitler dan Neraka yang Dibuatnya ilustrasi Bagus

Hitler dan Neraka yang Dibuatnya ilustrasi Bagus

INILAH kematian paling indah yang terjadi pada peradaban manusia. Tangisan. Kepala pecah diterjang peluru. Darah menyemburat seperti percik petasan tahun baru di langit-langit kota. Bilik-bilik rumah kayu tenggelam dalam abu kehancuran musim dingin di bulan Desember. Dan kau terjebak sebagai seorang Wehrmacht [1] dalam drama kematian ini. Tidak ada lagi doa yang pantas dijabarkan untuk menyelamatkan semua kehancuran ini. Bahkan para serdadu menganggap bahwa: Tuhan sudah enggan ikut campur dalam pertempuran penghabisan di Stalingrad.

Peperangan ini telah merenggut banyak nyawa. Mungkin juga kematian ini sudah dituliskan di almanak waktu, dan musim dingin di Stalingrad, kota Stalin, Volga, adalah saksi ketika kesedihan menggumpal; meresap, menjadikannya serpihan-serpihan udara hingga gugur bersama salju. Untuk membayangkannya kau tidak sanggup. 200 ribu lebih serdadu terbaik Jerman bertempur sia-sia. Bahkan seperti boneka kau berjejal bersama puluhan serdadu di gorong-gorong yang dibuat untuk menghalau musuh di sepanjang Sungai Don, di sisi utara Volga; sekaligus menjadi pemakaman bagi tubuh-tubuh itu bila sewaktu-waktu ajal merenggut nyawa. Di tengah gempuran peluru ratusan Red Army [2], Rusia, yang mengepung sisi lain sungai, kau melihat wajah-wajah murung. (more…)

Pelangon
July 31, 2016


Cerpen Aris Kurniawan (Kompas, 31 Juli 2016)

Pelangon ilustrasi Michael Binuko a.k.a  Koxis Verserken

Pelangon ilustrasi Michael Binuko a.k.a  Koxis Verserken

Sepuluh tahun kemudian, seperti janjiku, aku mengunjungi Taman Wisata Pelangon untuk membuktikan kebenaran kata-kata nenek itu bahwa salah satu dari monyet-monyet yang menghuni taman wisata ini adalah ibuku. Aku keluar dari rumah secara diam-diam setelah menjerang air, menanak nasi, dan menyiapkan lauk-pauk untuk sarapan dan makan siang serta segala keperluan ayah. Aku berjalan berjingkat  keluar melalui pintu samping. Ayah masih berbaring di kamarnya ketika aku mengintipnya lewat jendela sebelum berjalan ke arah jalan beraspal.

Ayah akan marah kalau tahu aku pergi ke Pelangon. Bukan karena aku percaya kata-kata nenek itu, melainkan karena dia membenci ibuku yang telah mengkhianatinya. “Ibumu telah mati, Punang. Lupakan dia,” kata ayah setiap aku bertanya tentang ibuku. Lalu duduk menekur seperti memikirkan persoalan yang tak dapat dipecahkan. Wajahnya penuh gurat kasar. Matanya cekung dengan tulang pipi bertonjolan. Di atas kelopak mata itu selapis bulu-bulu halus serupa ditempelkan sekenanya. (more…)

Ayoveva
July 30, 2016


Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 30-31 Juli 2016)

Ayoveva ilustrasi Munzir Fadly

Ayoveva ilustrasi Munzir Fadly

SETIAP orang hanya memiliki satu kali kesempatan tinggal di Ajjar. Begitu seseorang jatuh ke dalam dosa, ia akan terusir dari perdesaan berpagar hutan pinus segar itu dan tidak diperbolehkan kembali. Hukum Tuhan juga menyatakan: siapa pun yang menolak keindahan cinta, juga dipersilakan meninggalkan kawasan penuh bunga biru dan kupu-kupu ungu itu.

Ajjar memiliki satu Tuhan, 72 malaikat, 35 nabi, dan 135 iblis. Orang-orang Ajjar paham bahwa di area mereka tumbuh 75 pohon yang belum diberi nama dan 375 pohon bernama unik semacam kacaromatra, harakano, dan juguransomatone. Di luar pohon-pohon itu, ada satu pohon terbesar bernama Milhik. Pohon Milhik bisa bicara. Di ranting-ranting pohon itu bergelantungan ular-ular kuning yang masih sangat ranum. (more…)

Obituarium Patah Hati
July 24, 2016


Cerpen Dicky Zulkarnain (Media Indonesia, 24 Juli 2016)

Obituarium Patah Hati ilustrasi Pata Areadi

Obituarium Patah Hati ilustrasi Pata Areadi

ORANG dungu juga pasti tahu, tak ada yang kekal di dunia ini, bahkan secuil ingatan tentang cinta pertama sekalipun.

Kalimat konyol itu tercetak pada sudut halaman 19 di koran minggu pagi, di salah satu kolom obituarium yang berada di antara kotak-kotak iklan penawaran rumah kontrakan dan krim antikebotakan. Di bawahnya, tertera foto hitam putih seorang wanita dengan rambut sebahu, wajah oval, mata sipit, dan bibir kaku tanpa senyuman. Rest in peace. Nyonya Maria Kornelia telah pergi meninggalkan dunia yang kejam ini, tanpa sudi menikmati kesedihan sanak keluarga serta orang-orang dalam kehidupannya. Tanpa ada suntingan dari redaktur, kata-kata itu tercetak persis seperti yang diinginkan oleh klien. (more…)