Cerpen Adam Yudhistira (Jawa Pos, 26 Juni 2016)

Pengakuan Russel Dirinya Telah Membunuh Seekor Anjing dan Peristiwa yang Disimpan Gray ilustrasi Bagus
Pengakuan Russel Dirinya Telah Membunuh Seekor Anjing dan Peristiwa yang Disimpan Gray ilustrasi Bagus

KETIKA Russel Donovan dibawa ke kantor polisi dini hari tadi, ia tidak berhenti menggumam. Gumamannya tidak jelas, bahkan ketika polisi-polisi muda yang menangkapnya membacakan hak-haknya sebagai tersangka, Russel terus saja menggumam. Dengan tangan terborgol, ia digelandang ke sebuah ruangan berdinding putih dengan lampu menyala terang. Penjaga laki-laki berseragam dan bertubuh tinggi kekar yang mengantarnya memberi tahu bahwa Russel akan diinterogasi.

Di dalam ruang interogasi sudah ada seorang laki-laki yang tampaknya memang sudah menunggu kedatangan mereka. Laki-laki itu duduk di balik meja besi yang memisahkan dua kursi yang saling berhadapan. Di balik kemeja hitam kusutnya, laki-laki itu bagai sebatang pohon oak yang meranggas kering. Bola mata biru yang keruh itu tak berhenti menatap ke arah Russel. Ia seakan sedang menakar ketidakmungkinan bahwa laki-laki dengan penampilan lembek seperti Russel perbuatan kejamnya telah mengisi halaman surat kabar dan membuat wali kota dan komisaris polisi sampai harus turut memberikan keterangan pers.

“Ia sudah menghubungi pengacara?” tanya laki-laki berkemeja hitam.

“Belum. Mungkin tidak akan ada pengacara yang akan mendampinginya,” kata laki-laki penjaga seraya memastikan ikatan di kaki Russel tidak longgar.

“Terima kasih, Jenkins,” kata laki-laki yang duduk di belakang meja besi.

Laki-laki penjaga yang dipanggil Jenkins mengangguk kemudian berlalu. “Aku ada di luar. Kalau dia berulah, panggil saja aku, biar kupatahkan lehernya,” kata laki-laki itu dengan tatapan dingin pada Russel.

“Tentu saja, Jenkins,” jawab laki-laki setengah baya itu sembari tertawa.

Di ruangan berukuran 4 x 4 meter itu sekarang hanya tinggal Russel dan laki-laki setengah baya bertubuh ceking itu saja. Laki-laki setengah baya bertatapan dengan Russel beberapa saat sebelum langkah kaki Jenkins hanya menyisakan gema dan derit pintu ruangan yang menutup rapat.

“Apakah Anda mabuk tadi malam?” tanya laki-laki setengah baya sembari menyipit. Di tangannya melingkar Rolex warna emas. Russel yakin itu barang tiruan yang dibeli di kawasan Bronx, West Side. Sebelum bekerja di The Greyhound, Russel pernah menjadi penjual barang-barang imitasi selundupan dari China, salah satunya Rolex seperti yang di pakai laki-laki yang sedang menginterogasinya itu. Russel tersenyum mendapati pemikiran jenaka itu menyempal di kepalanya.

“Kau bisa menjawab pertanyaanku?” Tangan yang dilingkari Rolex itu menghantam meja. Suara gebrakan keras membuat tubuh Russel tersentak.

“Tadi malam aku minum bir di Club Wrangler,” jawab Russel tergeragap. “Aku rasa satu gelas bir tidak akan membuatku mabuk.”

“Kau bersama seseorang saat itu?”

Russel menggeleng. “Aku sendirian,” jawabnya mulai santai. “Tapi jika kau bertanya siapa saja yang ada di tempat itu tadi malam, aku bisa menunjukkan. Mungkin kita bisa berbincang dalam suasana lebih bersahabat di sana?”

“Kau jangan coba-coba bermain denganku.” Laki-laki setengah baya beringsut, meletakkan kedua siku di atas meja. “Menurutmu, apa untungnya membohongiku?”

“Oh, ayolah,” kata Russel tertawa.

“Aku tidak berbohong. Aku memang minum bir tadi malam. Tapi aku sama sekali tidak mabuk.”

“Bukan itu.”

“Lalu apa?” jawab Russel mulai kesal.

“Apa yang kau sembunyikan?”

“Tidak ada. Aku berbohong pun anjing itu tidak akan hidup lagi.”

Laki-laki setengah baya menggeram. Russel ingin tertawa saat melihat tampang kusut laki-laki itu. Ia membayangkan laki-laki itu seekor gagak hitam kurus dan jelek. Rambutnya yang beruban mencuat dari kulit kepalanya bagai helai rumput kering. Namun, dari semua itu, suaranya yang berat dan parau itulah yang paling membuat Russel ingin tertawa.

Entah untuk menggertak atau membuat nyali Russel menciut, laki-laki setengah baya mencabut pistol di pinggang dan meletakkannya di atas meja. Melihat pistol itu, Russel ingat pistol yang ia buang tadi malam. Ia mencemaskan benda itu ditemukan Tom, anak tetangga yang berumur sembilan tahun. Russel berharap polisi sudah menemukan benda itu atau benda itu tetap berada di tempatnya sampai urusannya di sini selesai.

“Kau sedang memikirkan sesuatu?”

“Aku tidak memikirkan apa pun saat ini,” jawab Russel berbohong.

Laki-laki setengah baya berdeham. Jari-jarinya yang kurus mengetuk-ngetuk meja besi, seperti irama perkusi yang kacau. Bentuk jari-jari itu seperti ranting kering. Ada noda nikotin di kuku telunjuknya, sedang pada jari manisnya ada jejak lingkaran memutih yang mungkin berasal dari cincin kawin yang baru satu atau dua minggu dilepas. Membayangkan jari manis dan bekas cincin itu membuat Russel mual. Ia melepas cincin kawin miliknya dan mengantonginya.

“Mengapa kau melakukan itu?” tanya laki-laki setengah baya.

“Melakukan apa?”

“Itu…,” jawab laki-laki setengah baya sembari menunjuk jari manis Russel. “Tampaknya kau benci sekali pada istrimu.”

“Apa bedanya denganmu?” Russel melirik jari manis laki-laki setengah baya di hadapannya. “Apakah dengan melepas cincin itu artinya kau juga membenci istrimu?”

Laki-laki setengah baya menautkan jari-jarinya dan membungkukkan badan sambil bersitumpu ke meja. Ia tidak menjawab pertanyaan Russel. Matanya menusuk langsung ke mata Russel dengan ekspresi memendam amarah. “Istriku meninggal satu tahun yang lalu,” desisnya dingin.

“Aku berharap istriku juga segera menyusul istrimu ke neraka.”

Laki-laki setengah baya tidak menjawab, namun spontan melayangkan tinju ke pelipis Russel. Sebuah hantaman keras yang tak sempat terhindarkan itu membuat kepala Russel berputar ke kiri. Pandangan matanya berkunang. Sesaat ia melihat wajah laki-laki setengah baya babak belur dan mengerikan—seperti wajah orang yang mentalnya terbelakang. Wajah itu sama buruknya atau bahkan lebih buruk lagi dari anjing yang ia bunuh tadi malam.

Russel ingin menampar wajah itu dan membuat matanya meledak, mengisi rongganya dengan darahnya sendiri. Russel memang berhasil menahan keinginan itu, tapi rasa muak yang melilit perutnya telanjur memicu suara gemerutup dari sela-sela bibirnya yang terkatup. Di kepalanya terbayang anjing berbulu hitam sedang menggagahi istrinya. Anjing yang membuatnya harus menerima perlakuan seperti ini.

“Apakah aku akan dihukum karena membunuh seekor anjing?”

“Mungkin penjelasanmu akan meringankan.”

“Itu artinya aku memang akan dihukum karena seekor anjing.”

“Bekerjasamalah dengan baik. Kasusmu tidak main-main. Hukuman berat menunggumu di meja pengadilan.”

“Lakukan saja. Hukuman berat karena membunuh seekor anjing. Itu terdengar luar biasa.” Russel mendengus. “Negara ini sudah sinting.”

“Yang kau lakukan juga hal yang sinting,” tukas laki-laki setengah baya sinis.

Russel tergelak.

“Kau tidak menyesal?”

“Sama sekali tidak,” jawab Russel santai. “Kenapa aku harus menyesal membunuh seekor anjing?”

“Brengsek!” Laki-laki setengah baya menggebrak meja. Tawa Russel semakin keras, tapi tawa itu terbungkam seketika saat laki-laki setengah baya berkata dengan nada keras.

“Laki-laki ini sudah gila!”

“Aku sama sekali tidak gila,” sahut Russel geram. Tubuhnya mencondong ke depan, seolah menantang. “Aku hanya membunuh seekor anjing.”

Laki-laki setengah baya balas mendekatkan wajahnya, membuat Russel mencium aroma tembakau yang kuat dari mulutnya.

“Kau telah menembak mati anakmu sendiri, Russel Donovan.”

***

Gray mengepal tangannya kuat-kuat, dari mulutnya melesat sumpah serapah. Penjahat yang dihadapinya pagi ini memang keterlaluan. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya tadi malam. Penjahat itu bersikeras hanya membunuh seekor anjing. Ia mengaku tidak bersalah. Bahkan ia merasa apa yang dilakukannya adalah bentuk pertahanan diri secara naluriah.

Gray mengambil selembar foto dari saku kemejanya dan meletakkannya di atas meja. Sejenak ia memerhatikan ekspresi laki-laki di hadapannya. Di foto tersebut memperlihatkan seorang anak laki-laki berambut pirang dengan mata gelap sedang tersenyum manis. Di bawah foto itu tertulis keterangan; Bernard Donovan, siswa teladan St. Crispin’s School di East 90th Street.

“Sekarang apa yang kau pikirkan?” tanya Gray sambil menyilangkan tangan ke dada. Ia berusaha mengumpulkan kesabaran yang tadi habis terkuras. “Apa alasanmu melakukan tindakan tak masuk akal itu?”

Pertanyaan beruntun itu membuat laki-laki berwajah agak pucat itu mengangkat wajah dan memandangi Gray. Sambil mengerutkan kening dengan skeptis, laki-laki itu mendecak-decakkan lidah.

“Entah, ya.”

Gray menahan keinginannya untuk menyerbu ke seberang meja dan mencekik tenggorokan laki-laki itu. Ia tidak pernah menyangka hari ini akan sangat buruk. Laki-laki yang baru ditangkap dini hari tadi sekarang membangunkan amarah pada diri Gray. Tingkah tolol dan jawabannya yang berbelit-belit membuat Gray benci setengah mati. Rekan-rekannya selama ini menganggap Gray adalah seorang interogator terbaik yang pernah ada di Distrik West Side. Ia punya bakat alami hebat, seperti Jordan ketika melakukan slam dunk. Tapi kali ini, di hadapan laki-laki itu, Gray betul-betul dibuat tidak berdaya.

“Apa yang Anda lakukan sulit diterima akal sehat. Anda contoh orang tua yang buruk bagi negara ini,” maki Gray tak tertahankan.

“Negara ini juga telah berlaku buruk padaku,” jawab lelaki itu, seraya meluruskan pinggang dan duduk tegak.

Gray berusaha menyembunyikan wajah gusarnya. “Tidakkah hati nuranimu menyadari kalau nyawa yang kau renggut itu masih terlalu muda untuk mati, terlebih dengan cara sekeji itu?”

“Ayolah, kau tidak usah berkhotbah tentang hati nurani, padahal orang-orang di lingkunganmu sendiri adalah orang-orang yang juga tidak memiliki hati nurani.”

Geraham Gray gemerutup. Ia membenci seringai sarat ejekan laki-laki itu hampir seperti ia membenci otak-otak kerdil yang mengatur departemen kepolisian di negara ini. Ada benarnya juga ucapan laki-laki itu. Gray menyadari jika dari banyak departemen di Amerika yang terkenal korup, departemen ke polisian termasuk di antaranya.

“Bagaimana reaksimu jika mendapati istrimu sedang bercinta dengan anjing. Kau pasti akan melakukan hal yang sama sepertiku, bukan?” lanjut laki-laki itu sambil menyeringai.

Nyaris saja Gray melayangkan tinju ke wajah lelaki itu jika saja Jenkins tidak buru-buru masuk. Jenkins membisikkan sesuatu yang membuat Gray merasa ada bongkahan es yang mengguyur tengkuknya seketika.

“Kami sudah mendapat motif kenapa dia membunuh anak itu,” bisik Jenkins pelan. “Tadi malam dia memergoki istri dan anaknya sedang bercinta. Dua orang yang dicintainya itu berkhianat dengan cara yang kejam, ya?”

Gray terdiam dan tidak memiliki minat untuk menjawab pertanyaan Jenkins. “Bagaimana dengan istrinya?” tanya Gray.

“Perempuan itu melarikan diri dan sekarang sedang dicari.”

Gray tak bisa berkata-kata lagi. Ia memandang laki-laki di hadapannya dengan perasaan iba yang tebal. Gray terduduk lesu, benaknya dipukuli bayangan mengerikan yang membuat kepalanya berdenyut menyakitkan. Bayangan itu merekonstruksi adegan di malam satu tahun yang lalu, ketika ia membubuhkan racun ke minuman istrinya. Perempuan itu telah mengkhianati dirinya dengan cara yang juga sangat kejam; bercinta dengan adiknya sendiri. ***

 

 

ADAM YUDHISTIRA, cerpenis asal Muara Enim, Sumatera Selatan. Kumpulan cerpennya: Rentak Kuda Manggani (Divapress 2015) dan Orang Bunian (Unsapress 2016).

Advertisements