Cerpen Niduparas Erlang (Media Indonesia, 26 Juni 2016)

Pagar Ayah ilustrasi Pata Areadi
Pagar Ayah ilustrasi Pata Areadi

TANAH basah. Rintik hujan masih berdenting. Kau hanya ingin berlari ke halaman, berkecipak di rumputan, dan berputar-berjingkrak dalam hujan. Lalu, mungkin kau akan berjingkat dan berteriak di muka rumah Kaf, memanggilnya berulang-ulang, dan mengajaknya berhujan-hujan. Kau mengira Kaf akan senang. Bukankah Kaf selalu tampak semringah jika kau ajak bermain? Tentu kau pun tahu, Kaf telah menyukai rambut kucir ekor kudamu dan bedak tabur yang tak rata pada pipimu, sejak kalian pertama kali bertemu di kelas satu SD Inpres Gedebong Cau.

Tapi kau tidak beranjak ke luar. Tubuhmu sedang demam. Dan ibu tentu akan marah besar jika tahu kau masih berhujan-hujan ketika ia tidak di rumah. Kau hanya termangu di ruang tamu, dan sesekali menyibakkan gorden ungu bergambar bangau terbang itu. Menempelkan kening, hidung, dan bibirmu pada kaca jendela yang sesekali bergetar saat guntur menggelegar. Kau merasakan dingin yang menular. Berpindah dari kaca jendela ke kening, hidung, dan bibirmu yang meninggalkan bekas lucu di kaca bening itu.

Di selokan, di balik pagar yang baru selesai dibangun ayahmu seminggu lalu pagar besi bercat hijau itu tak kau temukan mayat lelaki bertato dengan bekas luka tembak di dada atau kepala, dengan leher terluka bekas dijerat seuntai kawat. Tidak. Matamu hanya menangkap perahu-perahu kertas, yang dilipat-ditekuk-dibentuk dari selembar kertas buku tulis bergaris. Dua, tiga, lima, mengalir beriringan. Mungkin, pikirmu, di sebelah selatan rumahmu, di depan rumah Kaf itu, ada segerombol anak lelaki tengah berhujan-hujan dan bermain perahu-perahuan. Dan beberapa perahu kertas yang mungkin dibuat Kaf itu tampak telah rusak dan nyaris tenggelam, terbentur ranting dan daun kering yang mencuat ke permukaan. Kau ingin mengejarnya, tapi mereka keburu lesap ke dalam gorong-gorong mampat itu.

Di seberang jalan, berlindung di bawah naungan pohon kihujan, seorang lelaki tua tampak mematung kedinginan. Adakah ia lelaki misterius yang tengah mengintai seseorang, dan hendak menembak mati buruannya dalam lebat hujan. Ah, bukan. Sebab hujan tinggal gerimis tipis. Sepengetahuanmu, tak pernah ada yang ditembak mati di kampung ini. Ibu tak pernah bercerita soal kematian serupa itu. Namun, dari celana dan baju pangsi hitam-hitam yang dikenakan lelaki sepuh itu, kau dapat mengenalinya sebagai Ki Jebat. Ya, matamu belum tolol ternyata. Itu benar Ki Jebat, sesepuh kampung yang cukup dihormati karena keteladanannya yang tak tepermanai. Kau masih ingat, sudah dua bulan terakhir ini, tepatnya ketika ayah mulai membangun pagar itu, Ki Jebat turut membantu tanpa mau menerima upah sebagaimana petukang dan kendek bangunan lainnya. Ia hanya memandangimu dengan tatapan ganjil dan mengusap-usap rambutmu sembari menyunggingkan senyum yang juga ganjil. Tapi ayah selalu memuji laku Ki Jebat yang tanpa pamrih itu. Meski kau tahu, Ki Jebat tak pernah sungkan sekadar mereguk kopi dan mengisap rokok keretek yang disediakan ibu untuk para pekerja yang membangun pagar itu. Kau juga ingat, beberapa hari terakhir ini, saban kali ibu pergi menagih utang pada hari Rabu dan Sabtu, Ki Jebat kerap memandangi rumahmu. Seperti mengamati sesuatu. Mungkin mengagumi konstruksi pagar besi bercat hijau itu. Kau tak tahu.

Tapi kau tahu bahwa Rabu lalu Ki Jebat datang mengetuk pintu, dan mendapati dirimu tengah bersenang hendak berhujan-hujan. Katanya, waktu itu, ia datang untuk menemanimu selama kau ditinggal ibu, dan ayah sudah mengizinkannya. Maka hari itu, kau urung berhujan-hujan di depan rumah Kaf. Padahal, di sekolah, kalian telah berjanji untuk berhujan-hujan sembari main serodotan dengan alas upih yang dipulung Kaf di belakang sekolah.

Bagi Ki Jebat, paras dan lakumu mengingatkannya pada anak perempuannya yang tak pernah datang menjenguknya semenjak disunting lelaki dari seberang lima tahun lalu. Maka, alih-alih merindukan anak perempuannya, ia malah menganggapmu sebagai cucu, meski kau tak lahir dari rahim anak perempuannya. Ibu bukan anak perempuannya. Tapi, ayah dan ibu sudah menganggap Ki Jebat sebagai bagian dari keluarga. Apalagi, kau mudah akrab dan bersahabat dengan lelaki sepuh yang suka mendongeng itu.

Rabu sore itu Ki Jebat menemanimu sepanjang hujan, sembari berkisah tentang sepasang srigala bernama Kalila dan Dimna. Kau senang mendengar cerita. Sebab ibu suka membacakan cerita Grimm Bersaudara sebagai pangantar tidur. Dan kini, dari kisahan Ki Jebat, kau merasa menyukai Kalila dan membenci Dimna. Kau menyimak cerita yang berlapis-lapis itu, dengan penuh rasa penasaran dan binar mata yang berpijar. Kau begitu riang, dan terus saja merasa penasaran. Tapi, kau tak tahu mengapa Ki Jebat juga tampak begitu senang ketika memintamu duduk di pangkuannya, sembari terus mendongengkan kisah-kisah teladan itu. Tapi kau tahu, sembari bertutur yang sesekali diselipi kidung itu, jari-jemari tangan kanan Ki Jebat membelai dan mengusap-usap pahamu yang mungil dan lembut begitu rupa.

***

Kini, Sabtu sore ini, Ki Jebat yang barusan tampak di seberang jalan, tiba-tiba sudah berdiri di teras rumah dan perlahan mengetuk pintu, dan dengan lembut menyebut-nyebut namamu. Kau agak lunglai beranjak ke dekat pintu, tapi tampak riang membuka daun pintu sebab mengira Ki Jebat bakal melanjutkan dongeng tentang Kalila dan Dimna. Tanpa ragu, kau mempersilakan Ki Jebat masuk. Ia tampak kuyup. Bibirnya pucat dan bergetar. Kau jatuh kasihan. Lantas, kau memberinya sebuah handuk putih dari atas tumpukan pakaian yang belum sempat distrika ibu.

Setelah mengelap wajah dan rambutnya yang telah perak separuh, Ki Jebat menghela napas panjang dan mengempaskan diri di kursi ruang tamu. Hujan lebat sekali, katanya. Di luar hujan memang kembali melebat. Denting di atas genting terdengar riuh. Angin berkesiur dingin, menggetarkan daun dan bunga-bunga cocor bebek yang belum lama ditanam ibu. Tapi, kau tahu, di dalam rumah cukup hangat. Angin hanya berembus di tingkap pintu. Hanya saja, Ki Jebat seperti enggan melanjutkan dongengan meski kau telah memintanya tanpa sungkan. Kali ini, ia malah memintamu yang bercerita. Maka, kau menceritakan tentang Kaf, sahabatmu paling setia, dan kepiawaiannya melipat-lipat kertas. Dan tentu, tentang kelucuan-kelucuan teman-teman sekolahmu di SD Inpres Gedebong Cau, dan Bu Guru Ida yang cantik jelita dan suka tertawa. Tak lupa, kau juga bercerita tentang Dana, teman sekelasmu juga, yang tampaknya tak pernah sembuh dari penyakit selesma dan melulu menyodot kembali ingus hijau yang telah menggantung panjang di dua rongga hidungnya.

Begitu kisahan tentang Dana selesai, kau seperti kehabisan cerita. Lalu kau meminta Ki Jebat untuk melanjutkan dongengan Kalila dan Dimna. Namun, entah mengapa, Ki Jebat malah mengajukan sebuah syarat: kau mesti membuka pakaianmu. Padahal, itu pakaian baru yang tak jadi dijual ibu karena kau begitu menyukainya—gaun putih bergambar merah buah ceri setangkai tiga dan pita merah yang melangkar di bawah dada.

***

Suhu tubuhmu kembali panas. Demam. Padahal di luar tak lagi hujan. Ibu mengira kau berhujan-hujan dan tak mematuhi perintahnya. Kau hanya menggeleng lemah, sesekali meringis. Kau menahan perih sekaligus menahan diri untuk mengaku bahwa ketika barusan kau kencing, kau merasakan perih yang menyayat dan selangkanganmu terasa begitu berat. Kau tak mau ibu bersedih.

“Bu,” kau menggumam, “kenapa ayah harus membuat pagar rumah?”

Ibu tak menjawab, hanya memeluk tubuhmu erat dan menyuruhmu beristirahat.

Selama beberapa hari itu, kau hanya meringkuk di ranjangmu. Enggan keluar rumah, enggan bersekolah. Tubuhmu lemah. Dan hujan masih sering turun setiap senja. Sekali waktu Kaf datang menjengukmu. Kau cukup gembira. Bagimu, Kaf memang sahabat yang selalu bisa membuatmu ceria. Kalian bercengkrama, tertawa, dan yang paling membuatmu senang, Kaf membuatkanmu origami burung berbagai warna, yang kemudian digantung ibu di langit-langit kamarmu. Kini, kamarmu penuh burung-burung kertas beterbangan. Meliuk ke sana kemari ketika terpapar kipas angin yang berputar. Kepada Kaf, kau berjanji bahwa esok, Selasa, kau akan kembali bersekolah.

Aku sudah sehat, kok, katamu, sembari berterima kasih kepada Kaf.

Di akhir kunjungannya, Kaf sempat bercerita, bahwa kemarin siang, Ki Jebat meninggal di Masjid Al-Hidayah—masjid yang konon dibangun oleh seorang wali yang pernah mampir di kampung ini.

Ki Jebat mati seusai berwudu, kata Kaf. Dia terpeleset dan kepalanya terbentur sudut tembok. Dan menurut ayahku, Ki Jebat mati syahid, sebab dia mati di masjid ketika hendak salat.

Tapi kau tak tahu apa gunanya mati syahid…. (*)

 

 

Niduparas Erlang, lahir di Serang, 1986. Kini, ia mahasiswa pascasarjana Departemen Susastra FIB UI. Buku cerpennya yang sudah terbit La Rangku (2011) dan Penanggung Tiga Butir Lada Hitam di Dalam Pusar (2015).

 

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com dan cerpenmi@yahoo.co.id @Cerpen_MI

Advertisements