Cerpen Anton Kurnia (Koran Tempo, 25-26 Juni 2016)

Seperti Semut Hitam yang Berjalan di Atas Batu Hitam di Tengah Gelap Malam ilustrasi Munzir Fadly
Seperti Semut Hitam yang Berjalan di Atas Batu Hitam di Tengah Gelap Malam ilustrasi Munzir Fadly

KATA seorang pengarang yang kurang terkenal, hidup ini tak serupa matematika di mana segalanya serbapasti, tapi lebih seperti permainan sepak bola yang kerap memunculkan kejutan dan kenyataan tak terduga.

Pada siang terik itu, Margono bermaksud pulang dari Gambir ke rumah kontrakannya setelah batal berangkat ke Bandung untuk menyusul istrinya. Kereta api yang hendak ditumpanginya telah berangkat sembilan menit sebelum dia sampai di stasiun. Kereta berikutnya baru berangkat satu jam kemudian. Setelah kesal mengantre selama nyaris sejam, dia sampai di muka kasir hanya untuk mendapat kabar menyebalkan: tiket habis. Dengan suasana hati kusut, dia membatalkan niat pergi ke Bandung dan memutuskan untuk pulang.

Margono naik bus AC jurusan Lebakbulus yang siang itu tak sesesak saat hari kerja. Tapi dia tidak turun di perempatan Mampang, tempat seharusnya dia berganti bus yang berbelok menuju arah Kemang untuk kemudian menyambung naik ojek untuk sampai di rumah kontrakannya di bilangan Bangka. Di tengah jalan dia tergoda untuk singgah di sebuah pusat pertokoan di kawasan Kuningan. Setelah menghabiskan hampir tiga jam di sebuah toko buku lawas langganannya, dia menjinjing tiga buku dalam kantong plastik putih, lalu naik bus menuju Mampang.

Margono turun di dekat sebuah warung sate kambing pinggir jalan menjelang perempatan Durentiga. Sebetulnya sore itu masih terlalu dini untuk memesan sate. Tapi perutnya yang keroncongan karena belum diisi makan siang membuatnya bertanya kepada ibu pemilik warung yang tampak sedang sibuk menata dagangan apakah sate kambing sudah bisa dipesan. Bu Haji Madjid, si ibu berkerudung panjang yang mengenali wajah pelanggan setianya tapi tak tahu nama lelaki itu, tersenyum dan menyilakannya duduk. Untunglah bagi Margono, sate sudah siap dibakar.

Margono memilih duduk di bagian serambi warung yang berpemandangan ke tegalan, tidak masuk ke dalam area warung yang lumayan sempit. Dia memesan sepuluh tusuk sate kambing bumbu kecap—dua tusuk di antaranya hanya terdiri dari potongan hati—dengan sepiring nasi dan segelas es jeruk peras.

Sambil menunggu pesanannya disiapkan, Margono membuka kantong plastik bawaannya dan mengeluarkan sebuah buku dari dalam kantong. Kumpulan puisi cinta Yehuda Amichai dalam terjemahan bahasa Inggris. Dia lalu membuka-buka buku itu.

Sementara, dari pemutar cakram di dalam warung mengalun sebuah lagu. Seorang biduanita bersuara mendayu bernyanyi diiringi bunyi suling dan tepukan gambus mengentak: Duhai senangnya pengantin baru, duduk bersanding bersenda gurau. Aduhai asyiknya pengantin baru, duduk bersanding bersenda gurau… Bagaikan raja dan permaisuri, tersenyum simpul… Di saat kau berbulan madu, ingatlah ke masa depanmu… Agar engkau tak akan kecewa… Duhai senangnya menjadi pengantin baru…

Margono merasa tersindir oleh lagu itu. Seolah diejek dan ditertawai. Dia berhenti membaca lalu mengalihkan pandang ke arah tegalan berpagar seng di samping warung. Tampak tiga pemuda duduk mencangkung sambil asyik mengobrol. Di dekat mereka ada tiga kurungan burung bertutup kain. Di salah satu penutup kurungan itu terdapat sebuah logo bergambar burung dalam pose seperti burung Garuda Pancasila, tapi dengan kesan yang lebih lucu. Di dalam perisai di dada si burung terdapat tulisan dalam huruf Arab dan Latin. Margono membacanya: Al-Asoy. Tampaknya mereka baru selesai mengikuti kontes burung di tegalan itu.

Margono tersenyum dalam hati melihat tingkah mereka. Rasa masygulnya karena merasa disindir lagu kasidah sedikit terhibur. Dia jadi teringat saat remaja dia pernah dekat dengan dunia burung. Itu karena dia ditugasi abangnya untuk mengurusi burung-burung peliharaannya: rangkong, kakatua, dan jalak. Rangkong dan jalak tak dinamai. Tapi si kakatua putih berjambul kuning biasa dipanggil Yakob.

Burung-burung itu dibawa abangnya yang dokter Angkatan Udara sepulang bertugas ke Irian Jaya. Margono remaja tahu, burung-burung itu termasuk satwa langka yang dilindungi. Suatu kali Margono tak bisa menahan keinginan untuk bertanya soal itu kepada abangnya. Namun, si abang hanya tertawa enteng dan tanpa rasa bersalah berkata banyak kawannya juga melakukan hal yang sama.

Saat itu Margono tinggal bersama kakak iparnya yang bertugas sebagai dokter di sebuah puskesmas di Nganjuk, satu kota berangin di Jawa Timur. Dia diminta menemani sang ipar karena si abang ditugaskan di pangkalan udara Baucau di Timor Timur dan hanya bisa pulang tiga bulan sekali. Tugas Margono selain menemani kakak iparnya adalah memberi makan dan minum burung-burung peliharaan abangnya itu serta membersihkan kandang mereka setiap pagi sebelum berangkat sekolah dan sore sebelum magrib. Satu tugas lagi adalah mencuci mobil setiap pagi sebelum berangkat sekolah.

Dia sesungguhnya amat membenci tugas yang terkait dengan burung karena dua hal. Pertama, dia tidak suka melihat burung dikurung. Menurutnya, burung-burung seharusnya dibiarkan terbang bebas sesuka mereka. Untuk apa mereka diciptakan dengan sayap jika kemudian dikurung atau dirantai demi kesenangan manusia?

Kedua, dia merasa sangat jijik harus membersihkan kotoran burung yang berbau busuk. Tapi dia tidak berani membantah perintah abangnya yang pemarah. Maka, Margono terpaksa melakukan semua itu dengan perasaan tersiksa. Rangkong yang berparuh besar dan tampak mengerikan suka makan pisang, jalak biasa diberi makan pisang kepok atau pepaya dan kroto, sedangkan Yakob senang makan jagung muda. Berbeda dengan rangkong dan jalak yang dikurung di dalam kandang burung masing-masing, Yakob dirantai di sebuah besi tempat bertengger yang dirancang khusus dan bercat jingga.

Selain mengurusi burung, Margono remaja setiap pagi harus mencuci sedan Peugeot biru abangnya yang sehari-hari dipergunakan kakak iparnya sebagai alat angkut ke tempat kerja. Berbeda dengan tugas perburungan, Margono mengerjakan kewajiban mencuci mobil ini dengan hati lebih senang. Ada dua sebab. Pertama, dia suka sekali main air semenjak kecil. Dan tugas ini membuatnya memperoleh kemewahan menyemprot-nyemprotkan air dari selang panjang tanpa takut dimarahi karena dianggap menghamburkan air. Kedua, sambil mencuci mobil dia bisa menyalakan musik dari tape mobil untuk menghibur hati.

Hanya ada tiga kaset di dalam mobil itu. Yang pertama berisi lagu-lagu campursari klasik berbahasa Jawa. Yang kedua album lagu pop berbahasa Tetun yang dinyanyikan Francisco Gama, berjudul Hau Hadomi O. Yang ketiga sebuah album dangdut berisi lagu-lagu terbaik Rhoma Irama, tapi pitanya kusut sehingga tak bisa berfungsi lagi.

Lagu-lagucampursari, terutama “Lela Ledhung” yang dinyanyikan Waldjinah, mengobati kerinduan Margono kepada ibunya yang sakit-sakitan dan saat itu tinggal bersama kakak perempuannya di Lampung—adik si abang. Sementara, kaset lagu pop yang dibawa abangnya dari Timor Timur membuatnya mengenal sebuah khazanah musik yang sebelumnya asing. Kelak, tanpa dia duga, kaset yang hanya dia pahami makna judul albumnya itu ternyata amat berguna dalam kehidupan asmaranya.

 

SEMASA kuliah di Bandung, saat mencari referensi untuk tugas akhir di perpustakaan kampus, Margono berkenalan dengan seorang gadis manis tapi judes. Margono jatuh hati kepada gadis yang tiga tingkat di bawahnya dan berbeda jurusan meski sefakultas dengannya itu. Margono mengambil Sastra Inggris, sedangkan gadis itu Sastra Jepang. Tapi gadis yang lama tinggal di Suai mengikuti bapaknya yang bertugas sebagai polisi di salah satu kota kecil di Timor Timur itu tak mudah didekati. Maka, Margono mengeluarkan jurus-jurus rayuan mautnya. Salah satunya adalah yang tersisa dari ingatan masa remajanya yang diwarnai tragedi kerja paksa.

Satu sore Margono menghampiri gadis itu di depan perpustakaan kampus dan langsung mengejutkannya dengan sebuah kalimat dalam bahasa Tetun, “Mona, hau hadomi o!”

Rotua Rumondang Sagala—yang akrab dipanggil Mona—tertegun. Lalu, tumben, dia tersenyum manis sekali. Mereka lalu jadi akrab. Bahkan berpacaran. Dan kemudian kawin walau semula sempat tak direstui orangtua si gadis. Mona tak menyelesaikan kuliah karena keburu kawin dengan Margono lalu diboyong suaminya yang bekerja sebagai editor di sebuah penerbit buku ke Jakarta. Mereka tinggal di rumah kontrakan tak jauh dari kantor Margono di Kemang.

Lamunan Margono terputus oleh kedatangan seorang gadis ramping yang menyajikan makanan dan minuman pesanannya. Anak perempuan pemilik warung sate itu tersenyum sepintas lalu berlalu. Margono lekas makan dengan lahap. Setelah nasi dan sate tandas, dia menyeruput es jeruk. Lalu merokok santai-santai sambil kembali melamun.

Margono paham betul segala kisruh yang menimpa rumah tangganya yang telah berjalan lima tahun tanpa menghasilkan keturunan bermula dari sebuah cincin akik. Lima hari lalu, selepas magrib sepulang dari kantor, Margono duduk di ruang depan rumah kontrakannya menghadapi secangkir kopi yang diseduhkan istrinya. Sehabis menyediakan kopi buat Margono, Mona menyelinap ke dapur untuk menghangatkan makan malam.

Margono mengisap rokok seraya menatap televisi yang menayangkan siaran langsung sepak bola antara Persib melawan Persija. Namun, beberapa saat kemudian, waktu Margono hendak membuang abu rokok di asbak, matanya mendadak menemukan sebuah cincin emas putih bermata akik hitam yang berkerlip laksana mengandung butiran intan tergeletak tepat di tepi cangkir kopinya yang bersisian dengan asbak.

Margono yakin seyakin-yakinnya tadi benda itu tak ada di sana. Penuh heran dia pungut cincin itu dan dia amati dengan teliti. Margono ingat dia pernah punya cincin semacam itu bertahun-tahun silam, tapi hilang entah ke mana. Cincin akik yang tengah ditelitinya itu bermata batu pasir emas hitam. Dalam batu yang berwarna kelam itu tampak seakan-akan ada ribuan butir serbuk emas berpendar indah, berkilau tertimpa cahaya lampu.

Seminggu menjelang ibunya wafat tujuh tahun silam saat Margono masih kuliah, sang ibu yang menderita kanker payudara stadium empat menitipkan sebentuk cincin bermata batu hitam kepada anak kesayangannya itu. Kata ibunya, itu cincin peninggalan bapak Margono.

Margono tiga bersaudara. Usianya terpaut lumayan jauh dengan satu kakak perempuan dan abang sulungnya. Margono berbeda bapak dengan kedua kakaknya itu. Dia lahir di Bandung dari perkawinan sang ibu yang berasal dari Kediri, Sumaryati, dengan suami keduanya, Harlas—seorang pengusaha kecil asal Ciamis yang meninggal saat Margono berusia sembilan tahun. Bapak Margono sakit berkepanjangan sehingga harta keluarga terkuras untuk biaya pengobatan.

Sepeninggal sang bapak, kehidupan ekonomi mereka memburuk. Untunglah, abang Margono, Sukandar, lekas menyelesaikan kuliah kedokteran dan bisa membantu membiayai sekolah Margono. Sementara, kakak perempuannya, Suryati, lebih dahulu menikah tak lama setelah menyelesaikan SMEA.

Margono sungguh yakin, cincin yang sedang diamatinya itu cincin pemberian ibunya yang sudah lama hilang. Aneh, bagaimana mungkin cincin itu tiba-tiba kembali begitu saja secara misterius?

Saat Margono mencoba memasukkan cincin itu ke jari manis tangan kanannya—dan ternyata pas!—Mona datang dari dapur. Melihat Margono sedang mengamati cincin di jarinya, Mona merengut.

“Mas, kamu gimana sih? Katanya lagi enggak ada uang, kok malah beli cincin!” semprot Mona sampil mengempaskan pantat sekalnya di sebelah tempat Margono duduk.

Margono tergeragap menghadapi tuduhan serta-merta itu. “Eh, aku enggak beli cincin…. Ini kutemukan di atas meja. Ini cincinku yang dulu hilang, Mon. Sungguh!”

Keruan saja Mona makin meradang mendengar dalih yang terdengar tak masuk akal itu. Itulah awal pertengkaran mereka yang menjadi berlarut-larut dan kian panas. Mona sama sekali tak percaya perkataan suaminya.

Mona sungguh kesal. Dua hari lalu dia minta suaminya membelikan dia ponsel baru yang canggih. Namun, Margono mengelak dengan alasan sedang tak punya uang lebih. Dan kini Mona melihat sendiri Margono memiliki cincin baru yang tampak bagus dan pasti mahal harganya.

 

SEJAK itu Margono dan Mona terlibat perang dingin. Mona kesal kepada suaminya yang dia anggap telah berdusta dan bersikap egois. Margono terus berupaya membujuk Mona, tapi tak berhasil dan akhirnya jengkel sendiri.

Setelah berkonsultasi dengan kawan sekantornya yang bisa dibilang pakar akik kambuhan, Margono kian yakin bahwa cincin yang dia temukan memang berakik dari jenis batu pasir emas. Konon, akik jenis ini bisa membuat pemiliknya terhindar dari marabahaya. Margono juga yakin itu memang cincin dari ibunya yang telah lama hilang.

Yang tak disangka Margono, pertengkaran dengan istrinya ternyata berkepanjangan. Itu membuat suasana di rumahnya bagai di dalam metromini saat jam pulang kantor yang macet berat: sumpek, panas, dan menyebalkan.

Saat itulah terpikir oleh Margono bahwa perang dingin yang menyiksa itu sesungguhnya terjadi gara-gara cincin akik misterius yang dia temukan. Maka, suatu malam, dalam kesumpekannya dia berniat membuang cincin akiknya dan meminta maaf kepada Mona. Kalau perlu dia akan mengambil sebagian uang tabungannya untuk membelikan Mona ponsel baru.

Tiga hari setelah menemukan cincin bermata hitam itu, satu malam sepulang kerja Margono mencoba mendekati Mona yang sedang serius menonton sinetron seri India.

“Mon, aku sudah buang cincin itu. Sumpah! Maafkan aku, ya. Ayo kita baikan. Kalau uangku sudah cukup, nanti kubelikan kamu hape baru yang bagus.”

Mona hanya diam mendengar kata-kata suaminya. Tapi dalam hati dia senang dan merasa menang meski masih kesal.

“Kamu sih suka egois. Lain kali jangan suka beli barang sembunyi-sembunyi. Aku kan cukup sabar selama ini. Aku enggak menuntut macam-macam, kan?” Mona menoleh dan menatap tajam Margono. “Selama ini aku jarang protes kalau kamu beli buku,” lanjut Mona seraya menunjuk dengan entakan dagunya ke arah rak kayu yang dijejali buku-buku.

“Iya, deh. Kan aku sudah minta maaf.” Seraya berkata, Margono mencoba meraih pinggang ramping Mona. Mona menghindar. Jual mahal. Tapi bukan Margono namanya kalau dia gampang putus asa.

Bagi Margono, malam itu menjelma bagai sehangat roti yang masih berasap sehabis dipanggang. Menjelang tengah malam dia mengejang di belakang punggung Mona seraya mencengkeram pinggulnya yang telanjang saat wanita dua puluh tujuh tahun berambut sepinggang itu mendesah panjang lalu ambruk ke ranjang. Mereka jatuh terlelap sebelum sempat berbasuh ke belakang.

Beberapa jam kemudian Margono terbangun dengan tergeragap kaget. Mona membangunkannya dengan kasar. Wajah Mona terlihat amat marah. Tangannya mengacungkan sebentuk cincin bermata akik. “Kamu bilang ini sudah dibuang. Buktinya masih ada di saku celanamu! Dasar pembohong!”

Mona yang manis dan manja bisa jadi sangat galak dan mengerikan kalau sedang murka. Dia lemparkan cincin itu tepat ke muka Margono seraya berlalu. Margono yang belum sadar sepenuhnya apa yang terjadi sempat melihat istrinya mencangking tas. Mona minggat!

Margono mencoba mengejar Mona. Namun saat tersadar dia masih bugil, Margono terhenti di pintu rumah. Hanya mampu menatap punggung istrinya yang menjauh tanpa menoleh. Mona tak mau menjawab pesan singkat dan mengangkat telepon meski Margono berusaha menghubungi puluhan kali.

 

BELAKANGAN Margono tahu istrinya ada di Bandung. Di rumah orangtuanya. Itu kejadian kemarin. Dan hari ini dia hendak menyusul Mona ke Bandung sebelum akhirnya terdampar di sebuah warung sate.

Margono tak habis pikir bagaimana mungkin cincin yang sudah dia buang ke tempat sampah di kantornya ternyata masih ada di dalam saku celananya pada pagi yang sialan itu. Dan kini dia pandangi cincin kurang ajar yang sedari tadi dia sakui. Sesungguhnya cincin bermata hitam itu sedap dipandang. Lingkaran emas putihnya seakan melambangkan cinta yang amat berharga, bulat, dan suci. Mata akik hitamnya yang bagai mengandung ribuan serbuk emas membuat mata kita tak bosan menatap. Sayang sekali keindahan semacam itu bisa menyebabkan pertikaian yang menyebalkan.

Setelah membayar, Margono melangkah pelan ke luar warung. Ke arah tegalan. Tangan kirinya mencangking kantong plastik berisi buku. Tangan kanannya menggenggam cincin. Setelah menoleh ke sekeliling dan memastikan tak ada orang yang memperhatikan, dia lemparkan sekuat tenaga cincin itu ke sungai kecil yang mengalir di samping tegalan.

Dengan senyum puas terulas di muka, Margono melangkah ke tepi jalan. Menyeberang. Menerobos pagar pembatas jalan. Melangkah cepat-cepat melintasi jalur bus di seberang sebelum sekonyong-konyong sesuatu yang keras dan cepat membentur tubuhnya. Orang-orang menjerit. Bus itu berdecit. Tubuh Margono terkapar bersimbah darah di atas aspal.

Sebelum semuanya menjadi hitam sehitam-hitamnya seperti semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di tengah gelap malam, Margono sempat melihat sebentuk cincin emas putih bermata akik hitam yang berkerlip laksana mengandung ribuan serbuk emas tergeletak tepat di depan matanya. (*)

 

 

Kemang-Jombang, 2015-2016

Anton Kurnia bekerja sebagai direktur pada penerbit Baca (Jakarta). Bukunya yang mutakhir adalah Mencari Setangkai Daun Surga (kumpulan esai, 2016).

Advertisements