Cerpen Dias Novita Wuri (Koran Tempo, 18-19 Juni 2016)

Pesta Ulang Tahunmu di Surga ilustrasi Munzir Fadly
Pesta Ulang Tahunmu di Surga ilustrasi Munzir Fadly

MALAIKAT yang bertugas mengurus pesta ulang tahunmu di Surga tampak sangat sabar, tetapi memang begitulah mereka semua. Kau mengamatinya, mengamati sebuah daftar di tangannya, dan ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan sembari membuat tanda di daftar itu setiap kali kau menjawab. Kau baru menghuni Surga selama empat bulan, maka kau belum terbiasa menghadapi Malaikat dan masih terpana mendapati betapa sabarnya mereka semua, bahkan ketika kau tak bisa menahan diri untuk sedikit menggoda mereka dengan perbuatan-perbuatan usil seperti menarik seutas cahaya yang menjulur dari tubuh mereka bagaikan rambut (tetapi bukan rambut, bukan pula rambut yang bercahaya. Itu memang cahaya, bisa lumer dan lebur secara misterius di jarimu dan sebagainya), kau melakukannya semata-mata untuk melihat apakah mereka akan marah. Mereka tidak pernah marah. Malaikat yang satu ini pun demikian.

“Penganan untuk dihidangkan?”

“Keik keju?” kau menjawab coba-coba.

“Keik keju yang seperti apa?”

Kau tidak tahu keik keju seperti apa yang ada di Surga. Di Bumi Orang-Orang Hidup kau juga hampir tidak pernah memakannya. Kau tidak suka makanan bule; sewaktu hidup kau menyukai kue bolu ketan hitam, kue marmer, kue lumpur, pastel goreng. Lalu kau bertanya-tanya kenapa tadi kau tidak meminta kue-kue jajanan pasar tersebut kepada Sang Malaikat. Hmm. Tapi setelah mati, tampaknya kau ingin mencoba makan keik keju. Sang Malaikat sudah bicara lagi, sembari membaca daftar panjang lain yang muncul entah dari mana.

“Kami punya keik keju Buah Beri Surga tekstur kasar, keik keju ala Surga Lapis Ketujuh tekstur sedang, keik keju Karamel Surga tekstur halus. Tentu saja, semuanya berkali-kali lipat lebih enak dari yang dibuat Manusia, karena kami para Malaikat yang memasaknya di Dapur Pusat Para Malaikat.”

Kau memilih keik keju ala Surga Lapis Ketujuh tekstur sedang, seraya bertanya-tanya apakah setiap lapisan Surga punya produk keik keju masing-masing.

“Minuman?” tanya Malaikat.

“Apa saja,” katamu.

“Baiklah. Saya pilihkan air segar dari Muara Surga. Ingin alkohol?”

“Oh, boleh?” tanyamu dengan nada yang menurutmu agak kurang ajar, yang semerta-merta kausesali. Tapi muka Sang Malaikat tetap datar saja.

“Tentu saja boleh,” ujarnya. “Di Surga minuman alkohol mengalir menganak-sungai. Turunlah ke bawah sana ke arah barat daya, kau akan menemukan sungai alkohol, Anakku, menghempas dan buihnya memercik.” Sejauh ini kau telah banyak melihat-lihat dan menemukan banyak sungai yang mengalirkan berbagai kenikmatan, tetapi kau belum pernah melihat sungai alkohol.

“Kalau begitu saya mau Screaming Eagle Cabernet Sauvignon,” katamu, menyebut merek anggur paling mahal yang pernah kauingat di Bumi Orang-Orang Hidup.

“Tak masalah.”

Kau berpikir kau mulai menyukai Malaikat yang bertugas mengurus pesta ulang tahunmu di Surga.

“Dekorasi?”

“Putih?” katamu, sebelum teringat bahwa di Surga tidak ada warna putih, yang ada hanyalah putih Surga, yaitu putih dari segala putih, cemerlang, bersih bersinar, suci tanpa noda, lembut dan putih yang empuk seperti awan-awan di suatu hari yang cerah di Bumi Orang-Orang Hidup. Maka kau mengoreksi dirimu sendiri, “Putih Surga, maksud saya.”

“Tentu saja.” Sang Malaikat menandai sesuatu pada daftarnya.

“Bagaimana dengan tamu undangan?”

Kau kebingungan. Empat bulan semenjak kau menghuni Surga lebih banyak kauhabiskan dengan keluyuran di antara taman-taman yang sepi dan tenang persis seperti taman yang mereka tulis di buku-buku, yang pernah kaubaca dulu ketika masih kanak-kanak di Bumi Orang-Orang Hidup. Taman-taman itu hijau, luas dan hening, daun-daunnya rimbun meredam segala suara, bunganya besar-besar dan teramat sangat harum. Tidak ada siapa-siapa di sana; taman-taman itu seperti milikmu pribadi. Bahkan sesungguhnya, menurut Tuhan, taman-taman itu memang merupakan milikmu pribadi, karena berada di Surga bagianmu, yang luasnya berekar-ekar sejauh mata memandang. (Kau tidak tahu seberapa luasnya Surga ini sebenarnya.)

Maka sehari-hari selama empat bulan, kau keasyikan menikmati taman-taman itu, duduk di kursi-kursi panjang sembari tidak melakukan apa-apa, dan di Surga kau bisa memilih waktu dalam satu hari yang paling kausukai, jadi taman itu selamanya berada dalam waktu pukul tiga atau empat sore. Ketika hatimu sedang menginginkannya, akan ada musik yang jernih mengalun entah dari mana, tetapi ada juga saat-saat di mana sama sekali tidak ada suara karena itulah yang diinginkan hatimu. Ketika hatimu sedang menginginkannya, ada bidadari datang menyuguhimu minuman hangat atau dingin, kopi atau teh bersusu, tergantung suasana hatimu. Terkadang pula ia membawa buku tentang kisah-kisah yang tidak terjadi di Surga tetapi di tempat lain yang merupakan rahasia Tuhan, yang tetap tidak bisa kaujamah, meskipun kini kau berteman dengan Tuhan. Kau membaca buku itu sembari duduk terkantuk-kantuk.

 

JADI kau belum sempat mengenal terlalu banyak orang untuk diundang ke pesta ulang tahunmu. Ada hari-hari tertentu di mana kau bertemu orang-orang yang pernah kaukenal, misalnya Broto (setidaknya itu namanya ketika hidup), suami dari kakak perempuanmu yang masih hidup. Kau bertemu dengannya pada suatu hari ketika sedang berjalan-jalan di antara banyak ragam Sungai Kenikmatan. Ia tampak sedang berlutut di tepi salah satu sungai, minum madu cair yang mengaliri sungai itu hingga mulutnya berlepotan keemasan. Kau memanggil namanya tetapi ia tidak menoleh, jadi kauhampiri dia dan kautepuk punggungnya. Ia pun menoleh seraya memberitahumu bahwa Broto bukan lagi namanya, dan Susilo juga bukan lagi namamu karena kalian berdua sekarang di Surga. Tapi tak ayal kau tetap terperanjat karena, bagaimanapun, kakak iparmu ternyata juga sudah berada di Surga.

“Oh yah, karena aku sudah mati,” katanya sederhana.

“Tapi kapan?” tanyamu.

“Beberapa bulan sebelum kau. Di Semarang. Aku tertusuk paku berkarat dan malas ke dokter. Lalu dua hari kemudian aku sekarat. Istrimu hadir ke pemakamanku.”

Ia tersenyum, senyumnya selalu sangat hangat dan baik hati. Ia selalu menjadi saudara favoritmu dalam kehidupan yang fana. Maka kalian berpelukan, saling berangkulan, kalian merasa sangat bahagia meskipun di Surga segalanya sudah penuh kebahagiaan. Kalian mengobrol tentang berbagai hal mulai dari adaptasi awal dengan kehidupan di Surga, sampai saat-saat kematian yang telah lalu.

“Mulus saja, sakit sedikit karena aku panas tinggi akibat tetanus,” kata Broto bercerita. “Kau?”

“Tidak begitu ingat. Sedang tidur waktu itu,” katamu. “Oh, saat itu ada anak perempuanku menemani.”

“Semoga kabarnya baik.”

“Kabarnya baik-baik.”

Kau mengajaknya ke taman di Surga bagianmu. Kalian berdua minum wedang jahe hangat dengan sedikit susu, sambil duduk-duduk main kartu. Kata saudaramu, ia ingat pernah mengkhayal tentang saat-saat seperti ini dulu, ketika masih berada di Bumi Orang-Orang Hidup. “Kau ingat? Aku bilang, suatu saat nanti kita akan santai sama-sama di suatu tempat yang menyenangkan. Nah sekarang sudah terwujud.”

“Kapan aku bilang begitu?”

Kemudian ia bercerita, dan kau jadi mengingat semuanya. Dalam dua kali episode gilamu (yang disebabkan penyakit stroke menahun), kau pernah kabur naik bus ke Semarang dari kota tempat tinggalmu di Jakarta. Kini kau tak lagi mengingat jam-jam panjang yang kaulewatkan di bus sendirian dalam perjalanan dari Jakarta, tapi kau ingat berdiri bengong selama beberapa lama di depan pintu rumah kakak perempuanmu, kau berdiri saja karena otakmu yang rusak kena stroke tak berpikir untuk mengetuk, sampai akhirnya Broto membuka pintu kemudian berseru. Gusti. Kata itu masih kauingat. Duh Gusti, Dik Sus. Malam berikutnya, ia yang mengantarmu pulang ke Jakarta, mengembalikanmu kepada keluargamu yang khawatir. Kalian naik bus malam bersama dan kini kau mengingat lagi berat tangannya di pundakmu juga sorot matanya yang pilu ketika menatapmu. Saat itu ia sendiri sudah tampak ringkih karena usia tua dan krisis ekonomi.

Kini kau katakan itu kepadanya, sekaligus berkomentar bahwa kini di Surga ia tampak begitu ganteng karena toh di sini tidak ada usia tua maupun krisis ekonomi. “Kau juga, kau gagah lagi sekarang,” katanya seraya menepuk-nepuk punggungmu seolah kau anak lelakinya yang sudah membuatnya bangga. Pada episode gilamu yang kedua ketika kau kembali melakukannya—kabur sendirian ke Semarang, maksudnya—sekali lagi ia yang mengantarkanmu kembali ke Jakarta, tetapi kali itu kalian naik kereta api Argo Muria. Kini kau memikirkan betapa kakak iparmu harus bolak-balik Semarang-Jakarta karenamu. Maka kau meminta maaf, ia bilang tak apa. Kalian meneruskan main kartu.

Mungkin kalian main kartu selama beberapa lama, kau tak tahu pasti karena di Surga waktu berjalan dengan aneh. Tuhan telah memberitahumu bahwa kehidupanmu di Surga berlangsung untuk selamanya, maka kau tidak pernah lagi merasa perlu mengecek sekarang pukul berapa. Tuhan juga pernah menghadiahimu sebuah jam tangan emas dengan kronograf dan skala taksimetri yang super canggih tetapi itu untuk lucu-lucuan saja. Pokoknya, kalian main kartu, mungkin selama beberapa jam atau beberapa hari. Kemudian Broto (di Surga namanya bukan Broto) pamit pulang ke Surga bagiannya sendiri, di mana, katanya, di sana terdapat danau biru yang teramat luas dikelilingi pegunungan, tempat ia bisa naik perahu dan memancing selama yang ia mau. Katanya kapan-kapan kau boleh datang memancing bersamanya, dan kalian akan menangkap kerapu.

Selain Broto, kau hanya pernah bertemu beberapa orang lain yang kaukenal sepintas di Bumi Orang-Orang Hidup. Tidak satu pun cukup kaukenal dalam kehidupan yang fana. Baru-baru ini kau berpapasan dengan Prince si bintang pop dan Muhammad Ali si petinju, mereka berdua tampak sedang berjalan-jalan sambil mengobrol melintasi suatu lapangan berumput. Yang lainnya kaukenal seadanya: mantan atasanmu, mantan atasan istrimu, seorang gurumu di sekolah yang tidak ingat padamu. Beberapa orang lainnya lagi adalah kakak perempuan istrimu, yang tampak sangat muda dan cantik tapi dengan ekspresi galak yang sama sehingga kau masih takut padanya, serta ibu mertuamu, yang tersenyum sepintas padamu lalu berbelok ke arah lain untuk mengurusi urusannya sendiri.

 

SEBELUM kau menyadarinya, Sang Malaikat telah berdiri lama sekali menunggu jawabanmu mengenai daftar undangan. Tetapi ia tidak menunjukkan tanda-tanda bosan atau berkeberatan, karena memang begitulah mereka semua. Tuhan memberitahumu itu karena mereka terbuat dari cahaya terang.

“Kau bisa meminta apa saja,” kata Sang Malaikat dengan ramah.

Lalu kau teringat kepada anak perempuanmu sendiri yang telah tiada. “Aku belum bertemu dengannya,” katamu.

“Atau mungkin sudah, tapi aku tidak mengenalinya. Anak perempuanku meninggal ketika dilahirkan, aku sendiri yang memandikannya dan menguburkannya.”

“Kau belum bertemu dengannya,” kata Sang Malaikat mengkonfirmasi, “karena ia sedang tamasya bersama Tuhan. Ia tidak pernah membuat dosa. Bayi-bayi yang tidak berdosa punya tempat istimewa di Surga.”

“Oh, begitu,” katamu agak kecewa.

“Tapi tentu saja kau boleh mengundangnya. Kita akan meminjamnya sebentar dari Tuhan. Bagaimana kedengarannya?”

Kini kau yakin bahwa kau sangat menyukai Malaikat yang bertugas mengurus pesta ulang tahunmu itu.

“Menggembirakan!” serumu.

Maka demikianlah kau lalu memutuskan bahwa pesta ulang tahunmu di Surga tidak akan dihadiri siapa-siapa lagi selain anak perempuanmu yang belum sempat kaukenal. Selama sisa hari itu, Sang Malaikat tinggal untuk membereskan beberapa detail kecil lagi, kemudian pergi ke Markas Para Malaikat di langit entah lapis keberapa, tempat yang paling dekat dengan Tuhan, juga (menurut keterangan tambahan dari Sang Malaikat) dekat dengan tempat yang dihuni anak-anak yang meninggal tanpa dosa. Selepas kepergiannya kau pun sendiri lagi—sejenak kau berpikir-pikir hendak melakukan apa, lalu pada akhirnya kau berjalan kembali ke taman kesukaanmu.

Di sanalah kemudian kau mendengar suara anak perempuanmu yang satu lagi, yang masih menghuni Bumi Orang-Orang Hidup. “Halo, Papa,” ia memulai, kau mendengar suaranya merambat naik ke Surga sejelas apabila ia menyapamu di kamar di pagi hari sebelum ia berangkat kerja. “Halo, Papa, selamat ulang tahun. Apakah hari ini kau berusia lima puluh delapan tahun juga di Surga, Papa? Atau berapa usiamu di sana?”

Kau menyadari kau tak tahu jawabannya karena di Surga kau tidak tampak sedang dalam usia tertentu. Kau tersenyum, tetapi tentu saja anak perempuanmu yang masih hidup tidak dapat melihatnya. Kemudian kau mengucapkan terima kasih. Di Bumi Orang-Orang Hidup, anak perempuanmu yang berduka membayangkan sedang mendengar suaramu balas berbicara kepadanya. (*)

 

 

(untuk mendiang ayah saya yang berulang tahun tanggal 30 Mei)

 

Dias Novita Wuri lahir di Jakarta, 11 November 1989. Lulus dari Program Studi Sastra Rusia, Universitas Indonesia. Ia tinggal di Jakarta.

Advertisements