Mata Gunting dan Jiwa Rambut yang Dicukur


Cerpen Ahmad Muchlish Amrin (Kompas, 12 Juni 2016)

Mata Gunting dan Jiwa Rambut yang Dicukur ilustrasi Pande Nyoman Alit Wijaya Suta

Mata Gunting dan Jiwa Rambut yang Dicukur ilustrasi Pande Nyoman Alit Wijaya Suta

Setiap tukang cukur di dunia adalah pembunuh. Ruh-ruh setiap helai rambut yang dipotong mengendap-endap gentayangan di angkasa seperti jiwa-jiwa yang linglung. Rambut-rambut yang dipotong menjerit dan mengerang seperti jiwa-jiwa yang sakit. Gunting-gunting tajam dengan mulut menganga dan dua mata nanar mencelat layaknya seorang pembunuh berdarah dingin.

***

Lelaki itu memutuskan berhenti menjadi tukang cukur. Padahal ia memiliki banyak pelanggan; setiap hari tidak kurang dari sepuluh kepala datang ke kiosnya untuk bercukur. Namun, semenjak ia memutuskan berhenti, orang-orang yang datang ke kiosnya, pulang dengan penuh rasa kecewa; kecewa karena tidak bercukur dan kecewa karena sulit mencari tukang cukur yang sebagus cukurannya.

Kios cukur berukuran 3 x 4 di pojok pasar Kota Gede itu telah tutup. Di saat aku bertanya pada sebuah warung kelontong di sebelahnya, pemilik warung itu mengatakan bahwa kios cukur itu telah ditutup satu bulan yang lalu. Pintu-pintunya hanya menyeringai pada sepi. Dinding-dindingnya begitu kusam. Anak-anak muda yang kurang ajar, mencorat-coret dinding-dinding kios itu. Jika aku melihat dari luar, kios itu seperti sebuah bangunan tua yatim piatu.

Hari berikutnya, sebagai teman dan pelanggannya yang merasa prihatin dengan keputusannya, aku datang ke rumahnya untuk mengetahui, mengapa lelaki itu memutuskan berhenti menjadi tukang cukur? Aku menjumpainya sedang duduk di sebuah kursi di amben rumahnya. Matanya seredup kancing bajunya. Wajahnya dipenuhi keruwetan yang mendalam. Mula-mula aku tidak percaya melihat ia yang periang tiba-tiba berubah menjadi begitu pendiam.

“Ah, tidak…tidak!” begitulah ia mengelak dari pertanyaanku.

Ia bahkan enggan berbicara padaku. Sementara dari matanya, aku melihat sketsa-sketsa acak-acakan yang sangat mengganggu pikirannya. Menurut penuturan istrinya, ia berniat berhenti menjadi tukang cukur semenjak dua bulan sebelumnya, hanya saja istrinya memaksanya untuk tetap membuka kiosnya dan ia hanya kuat satu bulan. Bulan berikutnya, ia terasa sangat berat. Dan akhirnya, lelaki dengan tanda lahir di lengan kanannya itu memutuskan untuk menutup kiosnya.

***

Setiap tukang cukur di dunia adalah pembunuh—begitulah bualan paman Doblang. Ya, lelaki bau tanah ini memang seorang pembual. Bagi orang yang baru pertama kali berjumpa dengannya, akan termakan oleh bualan-bualannya, seolah-olah apa yang dikatakannya sebagai sesuatu yang sangat benar. Rambut putih dan jenggotnya yang berwarna logam membuatnya mirip seorang yang dapat dipercaya. Padahal paman Doblang memang benar-benar seorang pembual. Orang-orang yang ada di lingkungan sekitarnya pasti telah mengetahui bahwa lelaki dengan bekas luka di pelipis kirinya itu adalah seorang pembual.

Beginilah kisah pertemuan si tukang cukur malang itu dengan paman Doblang ketika membual:

Sebuah hari yang malang, ketika ia berkunjung ke rumah seorang kawannya, Joni. Secara kebetulan, paman Doblang sedang ada di tempat itu. Ia memang rutin mengunjungi rumah Joni untuk mendapatkan sebungkus rokok yang dijanjikannya dua hari sekali. Maklum, paman Doblang tidak bekerja. Hidupnya hanya bergantung pada pemberian orang-orang yang merasa kasihan padanya. Tetapi meskipun demikian, sama sekali tidak tergambar rasa sedih di wajahnya.

Dan di pagi menjelang siang yang malang, si lelaki tukang cukur itu diperkenalkan Joni pada paman Doblang.

“Dia paman Doblang,” katanya dengan mulut yang lincah, “dia adalah pamanku. Dia memiliki banyak ilmu.” Si pembual itu mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah-olah mengiyakan semua perkataan Joni. Dan, si tukang cukur itu menganggukkan kepalanya layaknya orang yang baru berjumpa.

Joni melanjutkan perkataannya, “Dia adalah orang yang sangat bijaksana. Setiap hari dia membaca buku-buku dan menasihati banyak orang. Bukankah itu sudah cukup untuk dikatakan sebagai orang yang bijaksana?” kening Joni sedikit mengernyit. Si lelaki tukang cukur itu sedikit merunduk bagai sapi bodoh. Sementara paman Doblang mengangkat bahunya, merasa menguasai suasana pagi itu. Angin berdesir lamban. Cahaya matahari pelan-pelan meninggi. Ayam-ayam kampung yang dilepas sebagian bersuara. Suara mereka mirip suara ayam yang akan bertelur.

“Namamu Yudi, bukan?” paman Doblang mulai membuka pembicaraan.

“Iya,” kepalanya mengangguk penuh hormat.

“Pekerjaanmu sebagai tukang cukur, bukan?” seolah-olah menebak profesi lelaki malang itu.

“Iya.”

Ia tentu sangat kaget, bagaimana mungkin orang yang baru bertemu itu bisa tahu semuanya. Padahal dia hanya diberi tahu Joni ketika dia melihat ia masuk di halaman rumahnya.

“Begini, begini.”

Ia sesekali menatap mata dia. Sesekali pula menunduk. Paman Doblang semakin menampakkan diri sebagai seorang yang gagah dan cerdas. Dia bertingkah seperti orang yang sangat sombong. Dengan mulut yang sangat buruk, dia berkata, “Semua tukang cukur di dunia adalah pembunuh.”

Tentu muka si lelaki tukang cukur itu merah membara ketika mendengar kata-kata paman Doblang. Ia sangat jengkel pada dia. Ia tidak bisa menutup kekesalannya. “Aku berbicara padamu sepenuhnya berbicara tentang kebenaran.” Dia berusaha memoles-moles kata-katanya. Pura-pura menjadi orang yang mengerti kebenaran.

Lelaki tukang cukur itu tentu ingin menggampar mulutnya di saat mendengar dia berceramah. Dan ia merasa dirinya telah masuk di tempat yang salah.

“Kau tahu, Yudi?” Tangan kirinya menunjuk lurus dengan batang hidung si tukang cukur yang malang. Mulut paman Doblang yang mirip perahu tak membuka layar itu melanjutkan pembicaraannya, “Setiap rambut memiliki jiwanya sendiri-sendiri. Ia adalah makhluk yang berjiwa. Bagaimana mungkin mata guntingmu yang menyeringai dan mulut guntingmu yang serakah itu memotong-motong rambut-rambut yang berjiwa? Bagaimana mungkin kau lakukan itu, ha?”

Yudi hanya bergeming. Gelisah. Matanya sesekali melihat ke seluruh ruang itu. Sesekali pula ia menghela napas. Pikiran-pikirannya semakin bertualang pada jutaan helai rambut yang telah ia pangkas setiap hari. Paman Doblang melanjutkan lagi pembicaraannya.

“Jiwa rambut-rambut yang kau cukur itu mengendap-endap di angkasa, Yudi. Mereka semua pasti memandang penuh kebencian padamu. Seandainya kau bisa melihat dan kau bisa mendengar suara-suara dari jiwa rambut-rambut yang kau cukur itu, kau akan menangis sebagaimana mereka menangis. Kau akan terlunta-lunta sebagaimana mereka terlunta-lunta.” Terlihat mulutnya berbusa-busa di bibir bagian terpinggir. Matanya menyalak tajam.

“Bagaimana mungkin kau mengetahui itu paman?” Joni balik tanya seraya memperbaiki lengan bajunya.

“Semua itu sudah dijelaskan dalam buku-buku dan kitab-kitab kebijaksanaan, Jon!”

“Lalu, bagaimana denganku paman Doblang?” Yudi tampak semakin gelisah. Ia seperti seorang yang sedang merenung. Asap melindap dari mulut paman Doblang.

“Tentang itu, pikirkanlah baik-baik… kau pasti tahu apa yang terbaik untuk kehidupanmu.”

Burung-burung di luar amben rumah itu terus bercericit. Matahari bergeser sekian inci hingga sinarnya terasa menguap. “Dan yang terakhir, Yudi! Sebelum aku pulang,” tegas paman Doblang, dan ia segera melanjutkan, “Setiap orang akan diminta pertanggung jawaban kelak. Setiap perilaku keseharian manusia akan dipertanggungjawabkan. Dan kau.” paman Doblang menuding ke arah Yudi. Kata-katanya begitu menyilet hati si lelaki tukang cukur itu, “Akan bertanggung jawab atas rambut-rambut yang telah kau cukur selama ini.”

Setelah itu, paman Doblang berdiri dari tempat duduknya. Ia bersalaman pada Joni dan Yudi. Kemudian lelaki dengan rambut dan jenggot putih kapas itu melangkah keluar dari rumah itu. Sementara Yudi masih terngiang dengan kata-katanya. Bahkan, pikiran-pikirannya telah disesaki oleh rambut-rambut yang berjiwa.

***

Tersiar kabar dari orang-orang bahwa seorang tukang cukur telah menjadi gila. Setiap hari, ia selalu mengendap-endap dari kios cukur satu ke kios cukur yang lain. Ia memunguti potongan rambut-rambut yang telah dicukur. Ia mengumpulkan helai-helai rambut yang terpotong itu dari kios cukur milik orang lain. Sebagian tukang cukur merasa aneh dengan perilakunya. Bahkan sebagian mereka melarangnya mengambil rambut-rambut yang telah dicukurnya, karena mereka khawatir, lelaki ini memberi guna-guna pada rambut-rambut yang telah dicukur.

Di sepanjang jalan, mantan tukang cukur yang telah menjadi gila ini selalu bergumam “Semua tukang cukur di dunia adalah pembunuh.”

Tak satu pun dari orang-orang yang berlalu lalang bersalipan mempedulikannya. Ia terus membawa kumpulan potongan rambut-rambut itu. Potongan rambut-rambut itu ia kumpulkan di sebuah ruangan di rumahnya. Istrinya pun sangat sedih melihat suaminya menjadi gila. Istrinya pun sering melarang bila suaminya akan menaruh potongan rambut-rambut itu di kamarnya. Sebab menurutnya, potongan-potongan rambut itu hanya akan mengotori kamarnya.

Dan, suatu malam yang malang. Ia mendengar suara gaduh dan ramai dari arah ruangan yang di dalamnya dijadikan penyimpanan rambut-rambut yang dicukur.

Suara-suara itu memang amat sangat berisik di telinganya. Suara-suara itu dengan serempak mengatakan, “Semua tukang cukur di dunia adalah pembunuh. Pembunuuhhhhh! Aku akan mengintaimu dan aku akan balas dendam.”

Begitu mendengar suara-suara yang sangat ramai, ia merasa terancam. Ia merasa takut. Ia berpikir, bagaimana jika ruh-ruh rambut yang pernah dicukurnya datang membawa belati, lalu menggorok lehernya atau bahkan memutilasinya sebagaimana ia mencukur rambut-rambut itu?

Lalu disusul pikiran lain, bagaimana jika jiwa rambut-rambut yang dipotong itu tiba-tiba berubah menjadi sosok manusia yang kekar. Kemudian sosok manusia yang tinggi dan kekar itu menyekapnya di sebuah ruangan dan mereka melukai tubuhnya pelan-pelan dengan silet dan menyirami air garam di atas luka itu? Betapa perih yang akan ia rasakan? Pikiran-pikiran lain bermunculan terus menerus sebanyak rambut-rambut yang dicukurnya.

Istrinya pun bingung melihat suaminya berdiam diri, kadang berceracau, kadang pula berteriak, dan seterusnya. Istrinya sangat sedih melihat rambut suaminya yang acak-acakan, kusam, dan kotor. Dan sampai saat ini pun istrinya belum tahu bahwa yang menyebabkannya gila adalah sang pembual sialan itu. Sebagai seorang istri, ia terus merawatnya, memberinya makan, dan jika ia tidak ada di rumah, ia selalu mencarinya. Hidupnya telah menjadi kelam sebagaimana malam-malam yang terus mengancam.

***

Jarum-jarum sinar matahari masuk di sela-sela rumahnya. Berkapas-kapas awan putih di angkasa terdiam sebagaimana si lelaki tukang cukur itu. Suara-suara ruh-ruh rambut yang dicukur terus menerus mendera telinganya dan pikiran-pikirannya dijalari kemungkinan-kemungkinan ancaman yang akan diterimanya.

Keanehan-keanehan tentang rambut-rambut semakin meruyak. Ia bahkan melihat cahaya putih berpendar di ruangan tempat ia menyimpan rambut-rambut itu. Ia juga melihat mata-mata kegelapan yang membara bersumber dari rambut-rambut yang lain. Apakah penampakan dari rambut-rambut itu mencerminkan pemilik rambut itu? Artinya jika pemilik rambut yang dicukur adalah orang baik akan memendarkan cahaya dan jika pemilik rambut itu seorang yang jahat akan memendarkan mata kegelapan yang menakutkan? Tidak ada yang tahu tentang ini!

Sore itu menjadi sore yang malang baginya. Di saat istrinya keluar rumah, ia mengambil sebuah tambang, lalu masuk ke sebuah kamar mandi. Begitu tiba di dalam kamar mandi, ia naik ke atas bak mandi. Ia mengikatkan tambang itu di lehernya. Kemudian ujung tambang ditalikan pada sebuah kayu yang melintang di atas kamar mandi itu.

Dari mulutnya masih berceracau, “Semua tukang cukur di dunia adalah pembunuh.” Terus menerus. Begitu ikatan tambang kokoh melingkar di kayu yang melintang. Ia melompat dari bak mandi. Tubuhnya bergelantungan. Cicak-cicak di dinding mondar-mandir. Berbunyi. Dan saat itulah, jiwa-jiwa rambut yang dicukur membalaskan dendamnya. Jiwa si lelaki tukang cukur yang malang itu telah terbang bersama ruh-ruh rambut yang dicukur. (*)

 

 

Ahmad Muchlish Amrin, Lahir di Sumenep, Madura. Bulan Oktober 2009, ia diundang untuk presentasi dan membacakan karyanya di Festival International Ubud Writers & Readers di Ubud Bali. Kini tinggal di Yogyakarta. Twitter: @damar_kembang.

One Response

  1. Keren

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: