Hantu di Depan Pintu


Cerpen  Toni Lesmana (Jawa Pos, 12 Juni 2016)

Hantu di Depan Pintu ilustrasi Bagus

Hantu di Depan Pintu ilustrasi Bagus

DI pintu kamar aku bertemu hantu. Ceking. Jangkung. Topi runcing para penyihir. Kulit mukanya keriput sedang matanya seperti hendak melompat. Jubah kelabunya menjuntai ke lantai. Hantu itu berdiri. Diam. Wajahnya mengerikan dan sedih. Hantu itu perempuan. Mirip Nenek Sihir musuh Nirmala. Tapi tak cerewet. Hanya berdiri menghalangi jalan. Aku hendak pindah kamar. Dari kamar depan ke kamar tengah. Dari ranjang ayah ke ranjang ibu. Dari bantal bau ke bantal wangi.

Hantu yang benar-benar pendiam. Hanya bayangannya yang tak berhenti bergerak. Memanjang di ruang tengah rumah. Duduk di kursi. Berdiri di atas meja. Memanjat lemari. Dan bergelantungan di langit-langit. Ruang tengah rumah seperti sirkus. Sirkus yang sedih. Aku dan hantu saling berhadapan. Dekat sekali. Hantu itu menatapku dan aku menatap bayangannya yang terus saja jumpalitan di udara. Bayangkan, jumpalitan di udara tanpa sapu atau tongkat ajaib.

Jam berdentang satu kali. Jam kuno yang sombong. Jam yang menempel di tembok bersama potret-potret nenek moyang. Tentu saja nenek moyang. Potret hitam putih. Dari mulai kakek, nenek, buyut, bao, janggawareng, udeg-udeg, gantung siwur, bau sinduk. Tujuh turunan. Apa mungkin hantu ini juga salah satu dari mereka? Para leluhur yang bosan terpasang di tembok.

Namun pikiranku lebih jauh lagi melambung. Menerka-nerka apa mungkin ini Sunan Ambu yang sering diceritakan ibu. Atau Nini Anteh sang penjaga bulan. Sunan Ambu rasanya tidak mungkin. Dia selalu diceritakan ibu sebagai sosok yang cantik, anggun, dan penuh senyum. Sering kubayangkan seperti bunga melati. Nah, kalau Nini Anteh bisa jadi. Nenek penjaga bulan itu menenun kesepian, menenun kesedihan, seumur hidup sendirian tinggal di bulan. Tidak sendiri. Berdua dengan kucing kesayangannya. Chandramawat.

Pasti ini Nini Anteh. Apalagi bayangannya begitu lincah, cekatan, dan nakal. Mirip para pemain akrobat, mirip badut di panggung sirkus. Tidak salah lagi pasti bayangan itu adalah Chandramawat. Kucing kesayangannya. Memang gerakannya seperti kesedihan. Ya, tentu sedih jika seumur hidup hanya menemani seorang nenek sedih dan sepi. Bayangkan saja, tinggal di bulan berdua. Selamanya.

“Bulan tok, bulan tok, bulan sagede batok…” Tanpa sadar aku bernyanyi. Nyanyian yang sering dibisikkan ibu jika sedang memandang purnama dari jendela kamar. Pelan. Setiap dihantui rasa takut aku memang suka bernyanyi, agar keberanian muncul. Siapa yang tidak takut bertemu hantu. Sekalipun hantu sedih. Sekalipun hantu itu kuyakini Nini Anteh. Nyanyian itu kuulang-ulang. Jika benar Nini Anteh tentunya akan membuatnya gembira, nyanyian itu isinya tentang bulan. Tentang rumah abadinya.

Bulu kuduk yang sempat berdiri, mulai tidur lagi. Hantu itu mulai terlihat bergerak-gerik. Kepalanya. Sedikit. Matanya tak lagi mendelik sedih. Jari-jari tangannya yang lancip bergerak pula. Bayangannya makin lincah, berayun-ayun di lampu antik. Aku terus bernyanyi. Seakan-akan sedang berada di bawah bulan purnama. Seakan-akan sedang berada di bulan.

Aku ingin melompat ke punggung bayangannya. Punggung kucing Chandramawat. Ingin ikut bermain akrobat. Jumpalitan. Mendaki tembok dinding. Keluar masuk potret-potret hitam putih. Bergelantungan di langit-langit. Berayun di lampu antik. Meloncat masuk ke dalam jam. Tapi hantu sedih itu, Nini Anteh itu, tetap berdiri di depan pintu. Sekalipun tubuhnya mulai bergerak, tapi hanya bergerak di tempat. Mirip boneka. Tak bergeser sedikit pun. Matanya masih menatap ke arah mataku. Padahal mataku terus berlarian mengejar gerak nakal Chandramawat.

“Matikan lampunya! Cepat tidur, ini sudah larut malam!” suara ayah dan ibu muncul bersamaan dari kamar depan dan kamar tengah.

Spontan kutempelkan jari ke bibir. Memberi isyarat agar seisi ruang tengah diam. Padahal yang bersuara sejak tadi hanya aku yang bernyanyi dan jam yang sesekali berdentang. Aku lupa tak ada yang bersuara. Hantu dan bayangannya, Nini Anteh dan Chandramawat tak memiliki suara. Aku lupa. Seperti ayah dan ibu yang lupa kalau letak saklar lampu itu masih satu jengkal di atas uluran ujung jariku, sekalipun aku berjinjit.

Sebenarnya aku yang benar-benar lupa, sesungguhnya tak ada ayah di kamar depan dan tak ada ibu di kamar tengah. Mereka tak ada. Di kedua kamar itu hanya ada ranjang, kasur, bantal, dan potret. Oh, dan sebuah mesin perekam suara. Mereka sengaja merekam suara mereka, dan akan terdengar dalam waktu yang bersamaan. Ayah dan ibu selalu pulang pagi. Melambaikan tangan lalu pergi tidur ke kamar masing-masing.

Suara rekaman ayah dan ibu berakibat cukup parah. Ruang tengah mendadak seperti beku. Tak ada lagi gerak-gerik. Tak ada akrobat.

Ini baru menakutkan. Tak ada kehidupan. Hanya suara detik yang congkak.

Hantu di depan pintu seperti patung batu kelabu. Bayangannya mengempis tergantung di ujung angklung yang terpajang di sudut ruangan.

“Bulan tok bulan tok, bulan sagede batok…,” bisikku lebih pelan dari tadi. Aku serasa membisikkan jampi-jampi, mantera untuk menyembuhkan ruang tengah rumahku. Menyembuhkan Nini Anteh dan kucingnya. Suara ayah dan ibu seperti mimpi buruk.

“Bulan tok bulan tok, bulan sagede batok…,” bisikku mendekat ke kuping Nini Anteh. Aih, kupingnya bergerak. Kucingnya menggeliat.

“Bulan tok bulan tok, bulan sagede batok…,” bisikku sambil menggenggam jemarinya. Ah, tubuhnya bergerak lagi. Seperti ingin menari. Kucingnya bangkit.

“Bulan tok bulan tok, bulan sagede batok..,” bisikku gemetar merasakan jemarinya yang lancip balik menggenggam erat jemariku. Matanya mengerling, bibirnya tersenyum. Betapa perih bibir sedih itu berusaha tersenyum. Aku seakan melihat kesedihan berguguran. Seperti daun jambu di pekarangan.

Kubisikkan lagi nyanyian. Tiba-tiba jubahnya terbuka. Sinar perak bulan purnama memancar. Di balik jubahnya terhampar purnama. Di udara, Chandramawat meliuk-liuk seperti penari, sebelum melompat indah masuk ke dalam benderang cahaya dalam jubah. Jubah yang terus terbuka. Seperti pintu, di dalamnya terdapat ruang penuh cahaya.

Aku pelan-pelan masuk ke dalam jubah, mengejar Chandramawat. Aku masuk dan terkejut. Hamparan batu-batu memancarkan cahaya kebiruan. Pohon-pohon perak. Beberapa burung berwarna tembaga berkicau. Kupu-kupu terang bertebaran, sesekali hinggap di rumputan yang basah oleh cahaya. Chandramawat melangkah di atas sebuah batu. Di bawah langit yang hijau keemasan. Mirip warna batu akik kesayangan ayah.

Apakah ini rumah Nini Anteh? Nenek yang selalu kesepian itu. Aku masuk dalam jubahnya. Berarti aku masuk dalam tubuhnya. Ini bukan rumah Nini Anteh tapi ini adalah tubuhnya. Aneh sekali, padahal tubuhnya mengerikan. Tapi di dalamnya begitu indah. Apakah begini isi tubuh kesepian, isi tubuh kesedihan.

Chandramawat sekarang benar-benar terlihat seekor kucing. Bulunya tebal berwarna cahaya bulan, ekornya panjang, dan matanya hijau toska. Di atas batu, ia menatapku, tatapannya persis tatapan Nini Anteh.

Tak ada Nini Anteh di dalam tubuh Nini Anteh.

Hanya aneka cahaya yang memancar, berpendaran. Seperti ladang cahaya. Segalanya memancarkan cahaya. Tanah, batu, rumput, pohonan, satwa. Seakan debu cahaya berhamburan di mana-mana. Ada peri-peri mungil beterbangan sambil bernyanyi. Kudengar nyanyiannya mirip dengan nyanyian yang kunyanyikan. Nyanyian yang diajarkan ibu. Ibu belajar nyanyian itu dari nenek. Nenek belajar dari uyut. Terus begitu.

Ah, nyanyian ini pasti berasal dari Sunan Ambu. Bukankah Sunan Ambu adalah ibu dari kehidupan ini. Pasti peri-peri kecil itu belajar dari Sunan Ambu. Apakah akan ada Sunan Ambu dalam tubuh Nini Anteh. Atau seluruh cahaya ini sesungguhnya adalah Sunan Ambu.

Aku berlari. Ah, kakiku melayang. Aku terbang. Aku terbang seperti Peter Pan. Aku terbang seperti Doraemon. Aku terbang seperti Superman.

“Ayo, ke sini!’’Chandramawat memanggil sambil melambai. Merdu sekali suaranya. Kini aku tahu kenapa dia betah tinggal bersama Nini Anteh. Tidak. Dia tidak tinggal bersama Nini Anteh. Tapi dia tinggal dalam Nini Anteh. Dia punya segalanya dalam Nini Anteh. Kucing itu seperti bersayap. Begitu gagah.

Setelah puas melayang-layang, terbang ke arah burung perak, jumpalitan bersama peri-peri, menggoda kupu-kupu, mengelus daun dan dedaunan. Aku mendekati Chandramawat. Hinggap dan berdiri di atas batu, tepat di sampingnya.

Betapa menakjubkan. Dari atas batu, nampak sebuah telaga tujuh warna. Telaga pelangi. Beberapa perahu berlayar dengan tenang. Burung, peri, dan ikan beterbangan. Seorang putri sedang bernyanyi sambil memetik kecapi di atas awan tipis. Seorang pangeran melepas panah ke langit. Berhamburan kembang api di udara.

“Tempat apakah ini?” aku berbisik sambil mengelus bulu-bulu cahaya Chandramawat.

“Inilah hati Nini Anteh.” Chandramawat tersenyum nakal.

“Apakah kita bisa ke sana?” aku tak sadar menarik-nariknya.

“Apa yang tak bisa di hati Nini Anteh.”

“Tapi kenapa Nini Anteh terlihat sedih?”

“Siapa yang tidak sedih melihat anak kecil yang sedih dan sendiri. Sendiri saat bulan purnama.”

“Aku tidak sendiri.”

“Ya. Di sini kita tidak sendiri. Lihat!” Chandramawat berdiri dengan dua kaki belakangnya.

Aku memekik. Semua dongeng berlarian di atas telaga. Oki dan Nirmala. Peter Pan. Doraemon. Donald Bebek. Pluto. Ah. Semuanya muncul dari air mancur di tengah telaga. Ah, banyak sekali.

“Watir, Watir, Watir….!” Mereka semuanya memanggil namaku. Namaku. Bagaimana mereka tahu namaku?

“Semua tahu nama anak yang kesepian,” Chandramawat melompat dan melayang, bergabung dengan pengisi telaga pelangi.

“Semua berasal dari sini. Dari hati Nini Anteh,” teriak Chandramawat. Aku mengejarnya. Menjatuhkan diri di atas awan tipis. Menerobos kembang api yang lembut. Meluncur menuju air mancur.

Ini melebihi mimpi. Aku berada di mata air segala dongeng. Betapa menyenangkan. Aku bermain bersama semua dongeng. Bergembira seperti sebuah keluarga. Keluarga dongeng dalam tubuh Nini Anteh. Ada banyak yang kukenal namanya. Ada banyak lagi yang harus kuberi nama.

Tahu-tahu Chandramawat sudah ada di sampingku.

“Kau tak ingin pulang?”

Aku tersentak. Pulang? Pulang kembali ke dentang jam yang sombong.

’’Semuanya ada di sini kan?” Chandramawat menyeringai riang.

Semua? Tidak juga. Di sini, sama saja dengan di rumah, tidak ada ayah dan ibu.

“Ayo, bermain lagi. Hati Nini Anteh masih luas untuk dijelajahi.” Chandramawat mengejar tujuh kurcaci.

“Hey! Apa kau tahu Sunan Ambu? Apa ia ada di sini?” Aku terbang mengejarnya.

Chandramawat mendadak berhenti. Memandangku tajam.

“Aku ingin bertemu dengannya. Ibu pasti bahagia mendengarnya. Bukankah Sunan Ambu ibu dari semua ibu?” Aku merengek.

Chandramawat menggeleng.

“Bukankah semuanya ada dalam hati Nini Anteh?” aku tak percaya pada Chandramawat.

“Sunan Ambu tidak ada dalam hati Nini Anteh. Tapi Nini Anteh ada dalam hati Sunan Ambu?” jawab Chandramawat sambil menerawang langit yang indah.

“Lantas, di mana Sunan Ambu bisa kutemui?”

Chandrawat ragu-ragu menunjuk dadaku.

“Di sini?” aku gemetar meraba dada.

“Ya. Di hatimu. Di hatimu. Di hatimu! Hanya di hatimu. Tak ada di mana-mana. Hanya di hatimu. Andai kami memiliki hati…,” serentak seluruh pengisi hati Nini Anteh bernyanyi bersama. Mereka seperti cemburu. Namun tetap riang gembira. Mengelilingiku. Mengajakku menari. Aku menari dan bernyanyi. Diam-diam sambil merindukan ibu. Ya. Akan kuceritakan pada ibu. Sudah kuketahui tempat tinggal Sunan Ambu.

Kami terus menari dan bernyanyi. Di hati Nini Anteh. Terbang, jumpalitan, saling mengejar. Aku terus bernyanyi dan menari. Di depan pintu kamar.

“Bangun. Sudah pagi! Cepat mandi!” Suara ayah dan ibu dari kamar depan dan kamar tengah.

Suara jam yang sombong cepat menyahut dengan dentang-dentang yang gemanya memanjang. Enam kali dentang. Di depanku, Nini Anteh melambai, dalam Nini Anteh Chandramawat melambai. Mereka hilang ditelan gema suara jam.

Aku berlari ke kamar ibu. Ingin kuceritakan semuanya, apalagi tentang Sunan Ambu. Tapi tak ada ibu di kamar. Yang ada hanya rekaman suara ibu. Aku lupa kadang ibu memang tak pulang berhari-hari. Apalagi ayah. Tapi aku tak lupa Sunan Ambu ada dalam hatiku. Hatiku. Di hati ibu juga. Hati ayah juga. Pasti. Tak peduli mereka ada di mana. ***

 

 

Ciherang, 2016

TONI LESMANA lahir di Sumedang. Menulis dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Bukunya: himpunan cerpen Jam Malam Kota Merah (Amper Media, 2012), Kepala-Kepala di Pekarangan (Gambang, 2015). Kini menetap di Ciamis, Jawa Barat. E-mail: lesmanarevolver@yahoo.com

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: