Cerpen Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 11-12 Juni 2016)

Cerita Laskar Merah dan Hilangnya Pesawat Terbang di Kampungku ilustrasi Munzir Fadly
Cerita Laskar Merah dan Hilangnya Pesawat Terbang di Kampungku ilustrasi Munzir Fadly

HARI ketika pesawat Merpati Nusantara Airlines dengan registrasi PK-MVS hilang-lenyap dalam penerbangan Jakarta-Padang, diingat orang kampungku sebagai hari penuh kemalangan bagi Kutar bin Katidin. Pada hari itu, dua gigi Kutar nyaris tanggal, pipinya bengkak, betisnya lebam, dan celana kolornya ditarik paksa hingga membuat pantatnya berdarah seperti dicakar harimau tua. Itu semua karena pengakuan Kutar bahwa ia mendengar suara desing teramat kencang ketika ia bekerja di tengah ladang. Hanya saja ia berada di bawah rimbunan kulit manis sehingga tak bisa memastikan suara apakah gerangan, tapi ia duga itu suara benda besar yang menukik dari ketinggian, lalu angslup ke sebalik Bukit Timbulun, nun di hulu Sungai Manggis.

Ia pulang lebih awal, dan mendapati kabar centang-perenang tentang sebuah pesawat terbang yang diperkirakan jatuh di sekitar daerah kami, tapi tak ada yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Orang-orang hanya mendengar berita sepotong-sepotong lewat radio atau kabar kabur yang dibawa sopir oto. Saat itulah Kutar menyampaikan kesaksiannya. Mula-mula ia setengah berbisik kepada istrinya, lalu istrinya berbisik kepada tetangganya yang lewat memikul air, lalu si tetangga pemikul air menyampaikan kepada tetangganya yang sedang membawa ikan, begitu seterusnya, hingga kabar kesaksian itu menjalar santer. Tak butuh waktu lama, kabar itu sampai juga ke telinga komandan Koramil serta radio panggil kepala Polsek. Keduanya segera mengontak Tim Relawan Kabupaten (kala peristiwa terjadi, 10 November 1971, SAR belum lagi terbentuk). Semalam-malam hari Tim Relawan Kabupaten datang menyiapkan pendakian ke Bukit Timbulun. Dan pagi-pagi, saat kabut masih berpuntal-pulun, rombongan itu bergerak menembus hutan. Tentu, Kutar sebagai penunjuk jalan.

Setelah seharian berjalan menuruni lembah menaiki bukit, dalam serbuan cuaca buruk, pencarian itu sia-sia. Bahkan atas permintaan khusus komandan Koramil, pencarian berlanjut ke Bukit Tambun Tulang (“Itu bukit tempat jemaah sebuah surau tarekat pernah dikubur Laskar Merah,” katanya menunjuk tragedi perang saudara, “Siapa tahu pesawatnya dipanggil arwah-arwah suci ke sana.”) Kepala rombongan dengan angguk ironis terpaksa menuruti alasan ganjil itu, sehingga berjalanlah mereka hingga hampir tiga hamparan lembah lagi dari Bukit Timbulun. Apa daya, pencarian itu tetap tak menemukan jejak dan tanda-tanda. Saat itulah, tanpa aba-aba, komandan Koramil yang jengah melampiaskan amarahnya dengan cara menghajar Kutar sambil menuduhnya telah berbohong, meskipun laki-laki dua puluh tujuh tahun itu tak pernah menyarankan ke Bukit Tambun Tulang.

Tapi, kata Si Komandan, itu lantaran kau tak mau rahasia leluhurmu dibuka karena kalian semua anak-cucu Laskar Merah; laskar terkutuk yang menangguk di air keruh saat Pergolakan ’58, lalu terang-terangan makar tujuh tahun berikutnya. Kalau saja si kepala Polsek ikut masuk hutan, maka sudah kulaporkan kau telah menyebarkan kabar bohong atau sekalian kulaporkan kakek dan orang tuamu terlibat ‘65, katanya, seraya menyempatkan diri mengumpat kepala polisi sebagai orang yang hanya sanggup membubarkan sabung ayam.

Kutar sendiri tak hanya minta maaf atas niat baiknya, malahan sampai berguling meminta ampun, persis ia memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa, apalagi dua orang anak buah Si Komandan ikut turun tangan menarik dan mencakar. Setelah aksi barbar itu berhasil dihentikan rombongan, si penunjuk jalan nyaris ditandu turun kampung. Namun ia menolak dengan berjalan terhuyung-huyung hingga sampai di pondok ladangnya di mana ia memutuskan tinggal, menanggung demam tujuh hari tujuh malam.

“Zaman dulu mana ada HAM,” kata Zainul, mengenang. Ia dan kawan-kawannya duduk melingkari meja panjang dengan masing-masing segelas kopi hitam.

“Ya, beda sekarang, sedikit-sedikit HAM, sedikit-sedikit HAM, maka lepaslah Timor-Timur,” kata Idris.

“Ya, sedikit-sedikit HAM, koruptor tambah terus,” tukuk Pirin.

“Dulu Datuk Panghulu biasa main tempeleng. Kalau bapak-bapak kita tak ikut gotong-royong bisa dijemput, tapi ya, mereka terima karena memang harus begitu,” Iwin menggigit goreng pisang. “Kalau tak begitu, mana selesai jalan ke Rawang yang menembus rawa dalam? Mana ada jembatan Kandis yang, kata bapakku, orang PU pun sudah angkat tangan?”

Belakangan, pesawat itu dipastikan jatuh di Samudera Indonesia, antara Pulau Kiabak dan Katang-katang, sekitar 75 mil lepas pantai kampungku. Meski demikian, reruntuhannya tetap tak ditemukan. Sebanyak 69 penumpangnya berkubur di laut, seolah abadi dalam perut paus besi atau hiu kapal terbang; tak satu pun jasad terdampar, kecuali beberapa pelampung dan kepingan sayap ditemukan nelayan terapung hanyut. Seorang yang berkubur di laut itu adalah Hoeriah Adam, perempuan penari Minang terkenal berusia 35 tahun (hormat dan doa untuknya).

“Tapi memang, kalau dipikir-pikir, apa salahnya Inyiak Kutar? Kiabak dan Katang-katang serentang lurus dengan ladangnya, tampak belaka dipandang dari pondoknya. Bisa saja ia mendengar suara gemuruh, atau mendesing katanya, tapi pesawat menukik arah ke mudik, bukan ke hulu,” kata Parit, mencoba arif. Ia mahasiswa semester akhir sebuah kampus di Kota Padang dan hampir tiap pekan pulang kampung meneliti demokrasi warung kopi.

“Ya, Pak Kutar bisa salah soal arah persisnya karena ia berada di bawah rimbun kulit manis. Apalagi hari gelap mendung,” Amri mendukung.

“Dasar tak tahu diuntung! Habis diminta jadi penunjuk jalan malah dipukul, padahal, ya, apa salahnya dia?” Ikal ikut nimbrung. Jelas tak semua orang suka keras-kerasan.

“Salahnya, kiblatnya terbalik,” seseorang yang baru datang langsung melongos tajam. “Ia sembahyang menghadap Bukit Tambun Tulang, tempat kakeknya Kutiran memimpin Laskar Merah. Coba kalau ia menghadap ke laut, seperti arah mihrab surau di kampung kita, pasti ia tahu pesawat itu jatuh ke laut,” tanpa isyarat batuk atau sekedar dehem, ternyata Sihem, anak Mak Iniar yang datang. Jangan salah, Mak Iniar itu bukan nama ibunya, tapi bapaknya, seorang tentara yang terkenal galak waktu berdinas, dan tak kurang-kurang galaknya saat pensiun dengan menjadi penguasa pasar dan untuk itu ia mendapat gelar Hantu Pasar, yang lama-lama jadi Antupasa. Ada pun Mak Iniar berasal dari nama korps-nya, Marinir, lidah orang kampung menyebutnya ma’inir, lalu jadi Mak Iniar.

Kini anak-anak muda ternganga dan merasa tak saatnya berkomentar sembarangan. Meskipun ayah Sihem sudah tua dan ke mana-mana memakai tongkat (untuk itu ia mendapat nama ketiga, “Panungkek”, asal kata dari Pak Tungkek), dan Sihem sendiri menderita sakit pinggang, toh ia masih tetap dihitung. Sedikit banyak ia mewarisi darah loreng hantu laut dari ayahnya, dan itu tampak dari kronik hidup yang dilakoninya lima belas tahun terakhir: penjual togel, agen bus malam, tenaga keamanan sebuah orgen tunggal, makelar tanah, dan, ini yang penting: di dompetnya tersimpan kartu pers sebuah surat kabar abal-abal (sebagian menyebut surat kabar nasional) terbitan Bekasi.

 

BEGITULAH, saat Sihem datang, lapau kopi Uni Jani yang ramai oleh gelaktawa, komentar lepas dan cepak-cepong mulut yang mengunyah goreng pisang kadang campur ketan, mendadak hening. Biasanya orang akan dengan bebas bicara, termasuk serba-serbi dunia tentara, yang memang diminati anak muda kampungku sebagai harapan cita-cita, tapi juga kerap mereka bahas dari sisi-sisi sial dan konyol. Misal, tentang tentara paman si anu yang meninggal di Timor Timur bukan karena berperang melainkan sakit ayan.

Atau cerita tentang seorang petinju yang tetap ngebut melintasi markas Angkatan Laut Teluk Bayur, suatu perbuatan bagai gerhana total yang terjadi amat jarang sepanjang hidupmu. Sebab siapa pun tahu, yang lewat di muka markas, meski tanpa polisi tidur, mesti menurunkan laju kendaraan selambat-lambatnya, seolah segala bus, truk, mikrolet dan sepeda motor itu adalah barisan keong yang beringsut. Tapi suatu hari si petinju ngebut dengan motor GL-nya, akibatnya telak, ia diteriaki penjaga gardu, lalu dikejar empat prajurit. Gilanya, Si Petinju ternyata telah menunggu di Gaung, arah ke Bukit Lampu. Dan ia tinggal bilang, “Kalian berperang bawa pelor, saya pakai ini!” ditunjukkan gigi dan kepal tangannya.

Para pengejar mengenal Si Petinju dan lebih dari itu mengerti maksudnya, bahwa ia berlaga mewakili bangsa hanya dengan sarung tangan dan gigi palsu. Dan pastilah tadi ia buru-buru hendak latihan di kompleks Pelabuhan Perikanan Bungus yang menjadi sasananya. Maka prajurit pengejar segera belok kanan, karena tak mungkin belok iri mengingat Si Petinju telah berdiri di sisi tersebut, mepet ke selokan.

Tak kalah banyak pula cerita tentang kehebatan tentara berhamburan di lapau kopi pinggir Sungai Manggis itu. Mulai dari para perantau kampung kami yang sudah banyak jadi perwira, salah satunya Syamsu Anwar, nama yang selalu disebut setiap anak yang mengucap cita-cita. Syamsu kabarnya berpangkat tinggi di Jawa dan semua harta pusaka yang menjadi haknya (ia tak punya saudara perempuan) telah diwakafkan untuk segala keperluan kampung.

Hingga cerita tak ada habisnya tentang Djafri yang dalam tahap pendidikan sudah berani menampar pejabat. Gara-garanya, mobil yang membawa si pejabat meninjau pembangunan irigasi di kampung kami, menabrak sebuah bendi. Bukannya menolong tukang bendi yang terkapar bersama kudanya, si pejabat malah turun memarahi si kusir, bahkan menamparnya tiga kali. Djafri yang duduk di lapau kopi tak jauh dari TKP, mendadak bangkit. Darah mudanya bergolak. Kepalanya waktu itu masih botak sebab baru saja selesai menjalani pelatihan calon tamtama. Tapi ketidakadilan di depan mata membuatnya tak ragu menampar balik si pejabat PU. Kasusnya sempat heboh di kabupatenku dan dengan itu nama Djafri tergerek setinggi tiang bendera sehingga setiap orang tua mengaku Djafri adalah ponakannya, dan yang muda-muda mengaku bahwa ia ponakan Djafri.

“Kutar itu anak turunan Laskar Merah,” kata Sihem, dingin. Wajahnya dengan gurat-gurat bekas luka tampak kaku.

“Itu lain cerita, Bang,” Amri mencoba menimpal. “Pak Kutar menyampaikan kesaksiannya dan menjadi penunjuk jalan, malah dihajar. Tetap tak adil itu namanya.”

“Boleh saja dihajar jika ia bohong.”

Zainul, Idris, Pirin dan Iwin menganguk-angguk setuju.

“Nyatanya ia mendengar bunyi desingan keras di udara, hanya salah menduga arah.”

“Soal arah itu yang penting, Buyung! Kalau kau salah berjalan tak akan sampai di tujuan. Sia-sia saja semua yang kau lakukan. Begitu hakikat Laskar Merah. Mereka bergerak ke mana angin berhembus, mengacaukan situasi. Maka sebelum tercapai tujuan mereka, bapak-bapak kami yang tentara langsung menumpasnya, habis perkara. Apa kau kira ada lagi cara paling adil dari ini, Buyung?”

“Jika pun benar, itu masa lalu kakek buyut dan ayahnya, Bang. Pak Kutar tahu apa soal itu?” kepalang basah, Iwin mulai mendesak.

Hayay, tahu apa kata kau! Kutar itu bukan peladang bodoh seperti yang kalian duga. Ladangnya selalu jadi tempat buru babi massal yang didatangi para pemburu dari berbagai daerah. Kalian percaya mereka benar-benar datang berburu? Bukankah dari dulu hingga kini babi tak henti-henti menggasak sawah-ladang kalian?” Sihem menyeka keringat, kalau ia perturutkan mau rasanya ia tendang meja panjang di depannya. Tapi ini kesempatan baik menjelaskan apa-apa yang tak diketahui para pemuda dungu itu.

“Ia berhasil dengan licik menyuruh Komandan Bakar minta maaf, kalian tahu? Mereka lalu bersekutu. Kini, mereka menjalin hubungan dengan seorang pengusaha di Padang berdalih hendak membangun monumen pesawat jatuh, apa benar itu yang ia tuju?”

Semua diam, sebelum pertemuan mereka meledak jadi pertengkaran.

“Nah, kalian pikirkan baik-baik, besok saya ingin tahu apa pendapat kalian!” Sihem segera bangkit, memutar badan, dan ketika lewat di depan Uni Jani ia tabik bahu perempuan muda itu, “Kopi setengah rokok sebatang, tanpa goreng pisang.”

Uni Jani mengangguk dan menambahkan catatannya di buku hutang.

 

JADI apa sekarang? Mereka yang tinggal saling memandang.

Peristiwa jatuhnya pesawat nahas itu telah berlalu empat puluh lima tahun. Jadi untuk apa lagi mengenang? Bukankah semua penumpangnya telah beristirahat dengan tenang dan keluarga sudah ikhlas karena itu takdir semesta? Bukankah mengenangnya hanya akan membuka derita seorang warga tak berdosa bernama Kutar Bin Katidin?

Meskipun semua orang tahu, Kutar tak mendendam. Malahan ia menyelamatkan orang yang pernah menghajarnya. Saat itu ada buru babi massal di sekitar ladangnya, dan seekor babi yang kena galah menyeruduk ganas ke arah siapa saja. Untuk pertama kali Kutar melihat wujud kata “membabi buta” pada seekor hewan liar; dan di sisi lain ia melihat wujud kata “tak berdaya” pada seseorang yang terkepung di bawah tebing. Lalu di dalam dirinya sendiri Kutar merasa wujud kata “lawan!” menggerakkan tangannya menghunus parang, melumpuhkan si babi malang yang segera diserbu anjing-anjing. Si Tak Berdaya yang terkepung itu selamat dengan sedikit luka dekat lambung. Kau tahu? Korban adalah pensiunan tentara yang menceburkan diri dalam hobi buru babi, dan ia tak lain bekas anak buah komandan Koramil yang dulu pernah ikut mencakar Kutar!

Cerita itu berkisar di antara pemburu, lalu memenuhi udara kampung sebagai tindakan mulia terpuji. Orang lupa ada beban lain ditanggungkan Kutar: ia anak-cucu pimpinan Laskar Merah, dan itu selalu dimunculkan pada setiap situasi tanpa alasan, tanpa ampunan. Apa pun kebaikan Kutar akan menjadi hilang arti begitu kata laskar diucapkan.

Tapi sesungguhnya ada cerita tersembunyi yang tak banyak diketahui orang. Konon setelah sakit tujuh hari tujuh malam di pondok ladang, akhirnya Kutar dibawa keluarganya pulang. Di rumahnya, di ujung kampung, malam-malam ia menceracau selayaknya “orang pintar” menerawang. Ia menyebut apa yang tak disebut orang: hiu kapal terbang, bukit-bukit batu, pangkat terbakar dan ladang-ladang sembunyi penebang kayu hutan.

Orang-orang menyebut itu memang cara kerja “orang pintar”, tapi sebagian lain berbisik bahwa itu jalan keluar yang sengaja diciptakan Kutar, yang bakal membebaskannya dari tuduhan pesakitan!

Betapa tidak. Dalam igaunya, Kutar tak pernah lepas menyebut-nyebut nama komandan Koramil. Ketika kabar itu sampai ke telinga komandan, ia diserang rasa gelisah. Ia khawatir jika yang diigaukan Kutar menyerempet hal-hal di luar kehendaknya. Bersamaan dengan itu, terbit juga penyesalan di hati komandan. Untuk itu ia merasa perlu menjenguk laki-laki itu, dan sesampai di pintu, suara Kutar menggelegar.

“Siapa di situ!”

Entah sadar entah tidak, Sang Komandan menjawab, “Siap, saya komandan Bakar!”

“Berhenti!”

Bakar berhenti di anak tangga yang ketiga.

“Dengar perintahku!”

“Siap, laksanakan!”

Dengan suara yang terdengar bukan serupa suara dia (lengkap dengan auman), Kutar berkata, “Usahamu melindungi pencuri kayu di Bukit Marapalam segera berakhir, Bakar, dan apa yang tersandang di bahumu akan hangus terbakar, seperti hiu kapal terbang. Lihat, bukit itu mengeras batu, dan ladang-ladang tempat sembunyi kayu gelondongan menunggu….”

Si Komandan pucat wajahnya. Ia bergegas turun jenjang. Batal ia injak anak tangga keempat dan kelima. Setelahnya, Bakar mengutus anaknya, Zamzami, menemui keluarga Kutar menyampaikan maaf, disambung pembicaraan khusus empat mata, entah tentang apa.

Ajaib, sejak itu, cerita tentang Laskar Merah menghilang, persis menghilangnya pesawat terbang di kampungku….

Dan jika kini Sihem mempersoalkan lagi keberadaan Laskar Merah, tentu ia akan berhadapan dengan anak mantan Koramil Bakar yang tak kalah dihitung: pemegang pasar ikan, penjual minuman bersoda (istilah untuk minuman keras), penguasa travel plat hitam, calo kapling kelapa sawit kaki bukit Marapalam, dan tak kalah penting, bersama sebuah lembaga ia sedang menggalang upaya membangun tugu peringatan jatuhnya pesawat terbang di kampungku. Ia bermitra dengan seorang pengusaha Cina di Kota Padang—di mana keluarganya ikut jadi korban—serta meminta dengan hormat Kutar Bin Katidin sebagai anggota panitia sekaligus saksi hidup yang kesaksiannya akan diukir di monumen tepi laut!

Hmm, Sihem dan Zamzami, mereka lawan tanding yang setimpal, gumam anak-anak muda itu, sambil membubarkan diri meninggalkan lapau kopi Uni Jani. (*)

 

 

Yogyakarta, Mei 2016

Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Buku cerita pendeknya, antara lain, Parang tak Berulu (2005).

Advertisements