Cerpen Budi Darma (Kompas, 05 Juni 2016)

Presiden Jebule ilustrasi Hadi Soesanto
Presiden Jebule ilustrasi Hadi Soesanto

Untuk Redi Panuju

Ketika Jebule lahir, alam tidak menunjukkan gejala-gejala aneh: tidak ada angin ribut, tidak ada gempa, tidak ada tanah longsor, semua tidak ada, semua biasa-biasa saja. Meskipun demikian, ketika dia lahir, ada sebuah keajaiban: leher Jebule miring. Dan dukun bayi buta huruf tahu apa sebabnya: pinggul ibu Jebule terlalu sempit, tapi, berkat kecerdasan pemberian Tuhan kepada dukun bayi buta huruf ini, dukun buta huruf bersumpah, bahwa dia akan sanggup meluruskan leher Jebule. Dan karena semua penduduk melarat, upah bagi dukun bayi buta huruf cukup sederhana bagi orang-orang lain pada umumnya, tetapi sangat berat bagi penduduk desa terpencil itu: lima potong gula jawa. Manfaat gula jawa: menahan kelaparan, dan memang semua penduduk desa terpencil itu mulai lahir sampai nyawanya melayang perutnya selamanya tidak pernah kenyang.

Demikianlah, setiap hari dukun bayi buta huruf ini datang ke gubuk ibu Jebule, memijat-mijat Jebule, menelusuri syaraf, otot, dan jalan darah Jebule, untuk mencari rahasia bagaimana cara membetulkan lehernya. Dia juga memijat-mijat tubuh ibu Jebule, terutama pinggulnya.

Setelah beberapa hari datang ke gubuk ibu Jebule, berkatalah dukun bayi buta huruf:

“Saya tahu Jebule bukan anak suamimu.”

Suami ibu Jebule buta sejak lahir, lebih banyak menganggur daripada bekerja, dan kesenangannya adalah mengelus-elus pipa rokoknya, sampai halus dan licin. Untuk membeli rokok dia tidak punya uang, maka, kecuali menggosok-gosok pipanya kadang-kadang lebih dari delapan belas jam sehari, dia hanya mampu menyedot-nyedot pipanya seolah-olah menyedot-nyedot tembakau menyala.

Akhirnya, dengan pertolongan Tuhan Seru Sekalian Alam, leher Jebule bisa dijadikan tidak miring.

Hari demi hari Jebule makin besar, dan seperti semua orang di desa terpencil itu, perut dia tidak pernah terganjal oleh makanan yang cukup. Maka Jebule pun tumbuh sebagai anak kecil kurus, selalu kalah kalau berkelahi dengan sesama temannya, dan begitu dipukul pasti dia menangis berkepanjangan.

Tapi, jangan khawatir. Otak Jebule ternyata cerdas. Kalau ada tukang sulap datang, dia memandang tukang sulap dengan cermat, dan meskipun dia tidak berkata apa-apa, dia tahu kebohongan tukang sulap. Dia tahu sulap sebetulnya tidak pernah ada, yang ada hanyalah kecepatan mempermainkan tangan, dan mengumbar kata-kata untuk membohongi penontonnya.

Kalau ada rombongan kuda lumping datang, dia juga memperhatikan dengan cermat semua petingkah rombongan itu. Dia tahu bagaimana cara mereka memainkan cemeti supaya suaranya keras dan menakutkan, serta menggetarkan udara sampai jarak jauh. Setiap kali cemeti dimainkan, gemanya pasti bersahut-sahutan, dan menimbulkan rasa takut. Ada caranya, dan dia tahu bagaimana caranya.

Mengapa orang-orang rombongan meringis-meringis kalau dihantam cemeti? Mereka sedikit kesakitan, tapi tidak benar-benar sakit. Andalan mereka adalah latihan keras, bertubi-tubi, sampai kulit benar-benar tahan dan tidak akan melepuh.

Lalu, mengapa penunggang kuda-kudaan dari bambu itu mampu menelan kaca tanpa memuntahkannya kembali? Sebelum menelan kaca, mereka selalu dihajar dengan cemeti berkali-kali, lalu mereka berguling-guling di tanah, lalu mereka diberi minum air kotor, dipukuli lagi, berguling-guling lagi, sampai akhirnya matanya menutup rapat dan lidahnya menjulur-julur. Sesudah itu, mereka disuruh makan bola lampu, cermin, dan barang-barang tajam lain. Penonton percaya, karena suara kendang, tambur, seruling, gelegar-gelegar cambuk, serta jeritan-jeritan mereka dengan kata-kata yang sama sekali tidak jelas, tidak lain adalah semacam mantra untuk menyihir. Bagi Jebule, caranya beda, tapi mereka, sama dengan tukang sulap, juga pembohong.

Pada suatu hari, ketika rombongan kuda lumping tertidur karena terlalu lelah, Jebule mencuri sisa makanan serta cemeti mereka. Sejak saat itulah dia tidak pernah kembali ke desanya. Dia berubah menjadi pengemis, pencopet, dan pencuri, tergantung pada keadaan yang dia hadapi.

Dalam berpetualang dia selalu memperhatikan satu hal: membaca. Membaca huruf, membaca perilaku manusia, binatang, dan juga, gejala-gejala alam. Bagaikan binatang, dia bisa merasakan kapan akan hujan, kapan akan banjir, dan kapan musim panas akan tiba dan berapa keras matahari akan melampiaskan panasnya di permukaan bumi.

Karena pandai mencuri, tubuh Jebule sekarang berisi. Dan dia tahu tubuh harus terus dilatih. Untuk menakar kekuatan tubuhnya, kadang-kadang dia pukuli tiang listrik dengan tangan kosong, dan dia bentur-benturkan kepalanya.

Jangan heran, ketika pada suatu hari dia mendaftar jadi tentara, diuji, dan langsung diterima. Tentu saja, dia bisa diterima karena dia pandai berbicara, berbohong, dan menipu, dan juga, tubuhnya kuat. Dalam berbagai latihan dia bisa merobohkan teman-temannya. Bermain cemeti curian dari rombongan kuda lumping tentu berbeda dengan menembak, berbeda juga dengan main sulap. Berbeda, tapi, bagi dia, pasti banyak kesamaannya: kecermatan, kecepatan, serta kelincahan tubuh.

Dan berbeda dengan teman-temannya, setiap ada kesempatan dia pasti membaca. Semua bacaan dilahap dengan rakus, terutama riwayat hidup orang-orang besar. Dia mafhum bagaimana cara Napoleon belajar bahasa Inggris: beli buku pelajaran bahasa Inggris yang sama sekali tidak bermutu. Karena cerdas, maka dengan cepat dia menguasai bahasa Inggris yang hancur-hancuran. Dia bisa menangkap bahasa Inggris, dan kalau dia berbicara dalam bahasa Inggris, pasti pendengarnya bingung beberapa saat, tapi akhirnya tahu maksud dia.

Mengapa jenderal-jenderal musuhnya menganggap Napoleon serdadu bodoh, Jebule juga tahu. Semua jenderal musuh menganggap perang adalah pekerjaan pegawai kantoran, pagi bertempur, siang istirahat, lalu bertempur lagi, lalu malam hari tidur. Dan jenderal-jenderal musuh menganggap perang adalah parade unjuk kekuatan: tambur ditabuh bertubi-tubi, seruling mengikutinya, dan semua serdadu tampak akan berangkat ke festival. Bagi jenderal-jenderal musuh, perang tidak lain harus berhadap-hadapan. Serdadu berbaris di lapangan terbuka, serdadu musuh juga demikian, lalu kalau sudah dekat, mereka bertempur.

Itulah perang yang sesungguhnya, pikir jenderal-jenderal musuh. Tapi karena Napoleon bodoh, dia suka menyerang dari belakang, dari kiri, dari kanan, dan kadang-kadang mengepung musuh tanpa diduga. Malam pun, bagi Napoleon, bisa digunakan untuk melancarkan serangan-serangan mematikan. Karena kebodohannya, maka Napoleon sanggup mengalahkan musuh-musuhnya dengan mudah.

Jebule juga tahu, betapa hebatnya Xerxes, tokoh penting dalam sejarah pertempuran, akhirnya kalah: Xerxes terlalu percaya diri, terlalu congkak, dan suka pamer. Beberapa hari menjelang pertempuran, dia undang semua keluarga para pembesar untuk menyaksikan kehebatan pasukannya. Akibatnya, hampir semua prajuritnya dikirim ke neraka oleh musuhnya, dan keluarga mereka pun, dijadikan budak.

Tempat tidur Jebule selalu morat-marit, ditumpuki berbagai macam buku: ada buku Machiavelli The Prince, mengenai bagaimana cara mendapat kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan, ada buku filsof Thomas Hobbes Leviathan, mengenai keharusan seorang pemimpin untuk selamanya bertambah kuat, dan buku-buku mengenai kehidupan jenderal-jenderal besar. Tentu saja, buku-buku tentang kejatuhan para diktator juga ada.

Dengan kepandaiannya bermain kata, menipu, berbohong, dan menjerumuskan musuh-musuhnya, akhirnya dia menjadi presiden. Bukan hanya sekadar menyiksa, membunuh pun bagi Jebule, adalah halal.

Jebule tahu, supaya semua orang tunduk, sebuah peraturan, yang tampaknya sederhana, harus dilaksanakan: potongan rambut dia harus ditiru oleh semua laki-laki, demikian juga cara berpakaiannya. Untuk menguji kesetiaan seluruh penduduk, dia pernah gundul, pernah cukur rambut pendek, pernah juga agak gondrong. Semua laki-laki mulai umur lima tahun sampai menjelang mati, harus ikut gaya rambutnya. Dan mereka yang botak harus pakai wig model mutakhir potongan rambut Jebule, termasuk mereka yang botak akibat kemo, dan yang pura-pura botak akan dihukum cambuk di depan khalayak.

Supaya kekuasaannya tidak luntur, semua perempuan, mulai umur lima tahun sampai menjelang kematiannya, harus mengikuti potongan rambut istrinya. Dan seperti Jebule, istri Jebule sering ganti potongan rambut.

Tentu saja, rakyat tidak akan selamanya diam, dan begitu ada gejala mengancam, Jebule tahu cara memadamkannya. Tapi, rakyat adalah rakyat, dan penindasan adalah penindasan. Maka, ketika Jebule dan pembesar-pembesar kuncinya melawat ke Mesir, rakyat berontak. Dalam perjalanan pulang, pilot pesawatnya agak kurang ajar. Dengan sengaja pesawat dibuat berputar-putar, supaya Jebule dapat melihat, bahwa rakyat sedang membakar ibu kota. Dan ketika pesawat mendarat, borgol dan mulut-mulut senjata menyambut Jebule dan pembesar-pembesar kunci.

Jebule bersumpah akan menyerahkan semua kekuasaannya kepada wakil presiden, dalam upacara besar yang akan disaksikan oleh semua orang penting, termasuk para semua diplomat dari luar negeri.

Pada saat yang sudah ditentukan, berjalanlah Jebule dengan gagah, langsung menuju ke pengeras suara. Dengan suara berat dan tekanan-tekanan yang sangat jelas, Jebule bersumpah, begitu selesai membaca teks pidato yang sudah disiapkannya, kekuasaannya akan sepenuhnya diserahkan kepada wakil presiden.

Dengan mengutip berbagai kitab agama, undang-undang dasar, dan kata-kata para filsuf, Jebule terus membaca, dengan tempo yang makin lama makin lambat. Beberapa kali Jebule menekankan, dia harus membaca teks pidatonya sampai selesai.

Wakil presiden berdiri tegap, lalu makin lama wajahnya makin pucat, tubuhnya bergoyang ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang, tapi tetap berdiri.

“Ingat, saya akan menyerahkan kekuasaan kepada wakil presiden setelah saya selesai membaca teks pidato,” kata Jebule berulang-ulang.

Tubuh wakil presiden makin bergoyang-goyang. Jantungnya, paru-parunya, hatinya, ginjalnya, pankreasnya, dan semua isi dada dan perutnya melepuh. Akhirnya roboh. (*)

 

 

Budi Darma, lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Ia mendapat berbagai penghargaan, antara lain SEAWrite Award, Satya Lencana Kebudayaan Presiden Republik Indonesia, dan Anugerah Mastera dari Brunei. Sekarang bekerja sebagai Guru Besar Emeritus di Pascasarjana Unesa.

Advertisements