Archive for May, 2016

Kematian Takeda Erika dan Oogata Yuko
May 21, 2016


Cerpen Ardy Kresna Crenata (Koran Tempo, 21-22 Mei 2016)

Kematian Takeda Erika dan Oogata Yuko ilustrasi Koran Tempo

Kematian Takeda Erika dan Oogata Yuko ilustrasi Koran Tempo

“JADI, sudah berapa lama kau mengenal Yuuko?”

“Sekitar delapan bulan.”

“Sejak dia pindah ke kamar apartemen ini?”

“Ya.”

“Bagaimana dia saat itu? Apa kesan pertamamu saat dia berdiri di hadapanmu dan memandangimu?”

“Dingin.”

“Dingin?”

“Dia menatapku tajam, tapi tatapannya itu tak memancarkan energi. Justru seperti mengisapnya.”

“. . . .”

“Dia membuka mulutnya dan tersenyum, lantas mengucapkan sesuatu yang anehnya tak bisa lagi kuingat. Yang jelas, ini kalau ingatanku tak menipuku, ketika dia tersenyum itu matanya tetap sama. Tajam, namun mati. Ya, mati. Mata itu bukan mata yang bisa kau bilang hidup. Bukan mata yang umumnya kautemukan pada makhluk hidup. Bukan.” (more…)

Kisah dan Pedoman
May 15, 2016


Cerpen Dea Anugrah (Media Indonesia, 15 Mei 2016)

Kisah dan Pedoman ilustrasi Pata Areadi

Kisah dan Pedoman ilustrasi Pata Areadi

IA mendengar kisah itu dari seorang pedagang karpet. Empat belas tahun sebelum ia mengubahnya menjadi pedoman. Si pedagang, dalam perjalanan wisata menuju suatu tempat di Suriah, singgah di dusun tempat dia tinggal untuk membeli kismis dan beristirahat.

Ia sendiri, seorang pemuda malas dari trah terhormat. Pada masa itu dikenal di lingkungannya terutama sebagai inang dua penyakit, yaitu epilepsi dan impian muluk. Yang pertama sesekali membikinnya kejang-kejang dan yang belakangan membuatnya gemar mendekati para pengunjung kedai, khususnya para musafir, untuk berbual-bual dengan mereka. Andaikata pada waktu itu seseorang, atau demi unsur dramatis, si pedagang karpet menyadari kaitan di antara kedua penyakit tersebut, serta bahaya yang terkandung di dalamnya, boleh jadi keonaran yang kelak akan melindas amat banyak kehidupan dan memisahkan anak-anak dari orangtua mereka, dan mengacaukan bisnis di kawasan itu—dan di luar jangkauan mimpi buruk semua orang, menjadi pemantik kerepotan besar yang jauh lebih awet ketimbang usia pemuda itu sendiri—dapat dicegah seluruhnya. (more…)

Balada Bidadari
May 15, 2016


Cerpen Yuditeha (Suara Merdeka, 15 Mei 2016)

Balada Bidadari ilustrasi Suara Merdeka

Balada Bidadari ilustrasi Suara Merdeka

Selesai membayar belanjaan di kasir aku menuju stan es krim. Anakku yang kecil minta dibelikan es krim sebagai upah bersedia kutinggal di rumah, karena aku ingin belanja seperlunya dan cepat kembali. Aku ingin mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kepulangan suami dari luar kota.

Untuk menuju stan es krim harus melintasi ruang kafetaria dan sekilas aku melihat ke arah pengunjungnya. Apakah urusan perut selalu ramai, batinku menyaksikan banyaknya orang yang makan di kafetaria itu.

Tak sengaja pandanganku tertuju pada salah satu perempuan yang sedang menikmati makanannya dan duduk di salah satu bangku di sana. “Michele?” gumamku kaget. Dia teman terdekatku semasa di SMA. Tak butuh pertimbangan sulit, aku langsung menghambur ke arahnya dan duduk di bangku depannya. Kuperhatikan perempuan itu sedikit terkejut dan sepintas melihat ke arahku, tapi sikapnya menunjukkan seperti tak terjadi apa-apa. Dia tetap asyik menikmati makannya. (more…)

Laila oh Laila
May 15, 2016


Cerpen Achmad Munif (Jawa Pos, 15 Mei 2016)

Laila oh Laila ilustrasi Bagus

Laila oh Laila ilustrasi Bagus

Dari lantai sepuluh hotel berbintang lima itu aku melihat ke luar jendela. Lalu lintas di bawah tampak padat. Kata sahabatku, Jakarta memang menderita penyakit kronis yang bernama kemacetan. Kamu harus sabar berjam-jam berada di jalanan karena kendaraan merambat seperti keong. Lebih baik istighfar daripada kamu mengumpat-umpat.

“Jakarta bukan Sleman, teman,” kata temanku itu. Kata temanku lagi, di Jakarta tidak akan kamu jumpai kunang-kunang seperti di desamu pada malam hari. Jakarta diterangi lampu-lampu mercury.

Aku tersenyum sendiri, ketika sadar berada di lantai sepuluh sebuah hotel mewah. Aku membayangkan sampai di Jakarta menginap di losmen kecil yang murah. Tapi Mohammad Yazid yang menjemputku di Stasiun Gambir mengatakan, “Mana ada losmen di Jakarta.” Dan Yazid menempatkan aku di sebuah kamar di lantai sepuluh hotel yang belum pernah aku bayangkan. “Achmad, kamu tidak perlu bertanya berapa tarif hotel ini. Kamu gratis di sini. Semua aku yang tanggung.” (more…)

Reuni
May 15, 2016


Cerpen Teguh Affandi (Republika, 15 Mei 2016)

Reuni ilustrasi Rendra Purnama

Reuni ilustrasi Rendra Purnama

Saya baru merasakan kalau waktu itu seperti mengejar ekor layang-layang putus. Sampai napas ini hampir habis, tak sekali pun dia mau mampir di tangkapan. Hari seperti berlari. Pekan tak sampai dikejar. Bulan menggelinding penuh kecepatan. Dan tahun yang lewat membuat semua tubuh ini makin rapuh. Bukan hanya soal waktu yang tidak bisa diputar bak piringan hitam belaka. Menikmati waktu pun perlu usaha ekstra.

Saya masih mengingatnya betul. Di ujung-ujung perpisahan, kami bertiga berjanji untuk sesekali menelepon, mengirimkan pesan, atau sengaja mengatur janji bertemu bisa jumpa dengan jeda liburan. Tapi, hidup kami ternyata lebih susah diatur. Mula-mula kami masih sering bertelepon seminggu sekali di tengah kesibukan kerja. Juga saling kunjung. Kegembiraan kami masih sama, seperti saat kami masih di kota yang sama dulu, Jogja. (more…)

ApoCalypso
May 15, 2016


Cerpen Danarto (Kompas, 15 Mei 2016)

Apo Calypso ilustrasi Danarto

ApoCalypso ilustrasi Danarto

Kimmy Jayanti menangis tersedu-sedu di dada ibundanya. Ayahnya mengelus-elus rambutnya sambil tersenyum kepada istrinya.

“Kimmy gak mau mati sekarang,” cetus Kimmy tetap menyembunyikan kepalanya di dada ibundanya sambil terus tersedu-sedu.

“Siapa bilang kamu mau mati sekarang?” sergah ibunya sambil tersenyum kepada suaminya.

“Bahkan kamu bisa mencapai umur sembilan puluh tahun,” kata ayahnya masih tersenyum kepada istrinya. (more…)