Cerpen Dadang Ari Murtono (Suara Merdeka, 29 Mei 2016)

Syekh Siti dan Gereja Blenduk ilustrasi Hery Purnomo

Namanya Syekh Siti dan sekali waktu dalam hidupku, aku yakin bahwa ia datang dari masa depan. Ia berkata bahwa ia berasal dari seekor cacing dan aku menjawab bahwa leluhurku diciptakan dari seonggok lempung.

“Apakah cacing bisa hidup dalam lempung?”

“Tentu saja. Cacing bahagia hidup dalam lempung,” tukasnya.

Aku berpikir ia seorang pembual. Ia bercerita bahwa ia tinggal Kauman, dan ia lahir jauh sebelum Ki Pandan Arang mendapat pencerahan serta membangun sebuah masjid di sana. “Aku menghormatinya sekali pun beliau jauh lebih muda daripada aku,” ujarnya. “Aku berumur panjang dan hanya orang tolol yang bahagia berumur panjang,” lanjutnya.

“Kau benar-benar gila,” kalimat itu berhenti tepat di pangkal kerongkonganku. Aku sudah menunggunya selama seminggu dan aku tidak mau menyia-nyiakan penantian itu dengan merusak pembicaraan pertama kami. Alih-alih mengucapkan kalimat tersebut, yang keluar dari mulutku justru: kenapa?

“Kau akan menyaksikan orang-orang lahir, menyayangi mereka, lalu berduka ketika mereka mati. Tahukah kau bahwa penderitaan paling tak tertanggungkan di dunia ini adalah menyaksikan kematian orang yang kita sayangi? Dulu, aku senantiasa berdoa agar Tuhan mengambil nyawaku sebelum Tuhan mengambil nyawa orang-orang yang aku sayangi. Lebih mudah meninggalkan daripada ditinggalkan. Tapi ternyata, seseorang yang berasal dari cacing memiliki umur yang lebih panjang daripada orang yang tercipta dari tanah.”

Aku mengangguk dan kembali mengangguk sewaktu ia pamit pergi dan berjanji bahwa keesokan harinya ia akan kembali menemuiku di sini, di depan Gereja Blenduk. Aku terikat kuat dengan gereja ini. Dan sesungguhnya, gereja inilah alasan aku menempuh ribuan kilometer menembus badai di laut dari tanah kelahiranku di Eropa. Pendeta Johannes Wihlemus Swemmelaar memintaku membantunya membangun gereja ini dan aku tak memiliki sedikit pun kekuatan untuk menolak permintaan orang suci semacam beliau. Aku berniat kembali ke Eropa setelah pembangunan gereja ini rampung, namun niatan itu segera saja menguap sewaktu aku melihat seorang lelaki berjanggut dan berjubah putih lewat di depan gereja. Aku mengamatinya dan mungkin terdorong oleh tatapanku, lelaki itu tiba-tiba menoleh ke arahku. Sejenak waktu seperti berhenti. Beberapa butir keringat dingin menetes dari keningku dan ada sesak yang luar biasa di kedalaman dadaku. Aku memaksakan diri tersenyum. Tapi terlambat. Dia sudah mengalihkan pandangannya dan terus berjalan.

Hari itu aku menghabiskan waktu untuk berdoa agar esok hari aku bisa bertemu dengan lelaki itu lagi. Di kelak kemudian hari, aku juga akan mengerti bahwa pada hari itu ia juga memanjatkan doa yang sama. Dan aku tidak tahu, Tuhan siapa di antara Tuhan kami yang mengabulkan doa tersebut dan membuat kami kembali bertatapan keesokan harinya. Hanya bertatapan. Aku kembali memaksakan sebuah senyum dan dia kembali mengalihkan pandangan lalu meneruskan berjalan. Aku tak tahu kemana tujuannya sebenarnya. Dan aku juga tidak mengerti kenapa ketika kami akhirnya terlibat dalam sebuah pembicaraan aku tidak bertanya kemana sebenarnya tujuannya.

Peristiwa berdoa-menataptersenyum-berjalan itu terulang lagi keesokan harinya. Dan keesokan harinya lagi. Dan keesokannya lagi. Hingga genap seminggu. Kami bertatapan dan ia tidak mengalihkan pandangan. Ia melambaikan tangan kepadaku dan aku merasa seluruh tulang dalam tubuhku dilolosi paksa. Bersusah payah aku keluar dan menghampirinya. Pada waktu itulah ia menyebutkan namanya. Saat itulah aku merasa ia berasal dari masa depan. Aku merasa bahwa sebenarnya ia tidak memiliki keberanian untuk berhenti dan melambaikan tangan kepadaku. Begitu yang terjadi hingga bertahun-tahun. Hingga aku mati atau memulihkan niatan untuk kembali ke Eropa. Dan setelah peristiwa itu, ia dihantui penyesalan karena tak pernah berhenti dan berbicara kepadaku. Begitulah, dengan sebuah keajaiban yang aku tidak tahu cara kerjanya, ia kembali ke masa lalu, ke hari itu, dan melambaiku.

Kami bertemu dan banyak bercakap keesokan harinya. Ia mengatakan kulitku bagus tapi aku merasa bahwa kulitnya jauh lebih bagus. Ia bertanya tentang Tuhan dan agamaku dan aku juga mengajukan pertanyaan yang serupa. Itulah saat-saat paling menyenangkan dalam hidupku. Kami banyak tertawa dan beberapa kali kulit kami saling bersentuhan. Lalu entah siapa yang memulai, ketika pada akhirnya dia pamit pergi, kami berpelukan. Mungkin beberapa orang yang kebetulan menyaksikan apa yang kami lakukan akan keheranan. Tapi kami tidak peduli.

Malam itu, seusai mencukur kumis dan jenggot, aku keluar mencari angin. Hati yang bahagia harus dirayakan. Dan sebuah perayaan tidak harus dengan sesuatu yang mewah. Jalanan sepi dan kebahagiaan dalam hatiku membuat aku abai pada kemungkinan kejahatan yang bisa terjadi, tak peduli kenyataan bahwa aku orang kulit putih.

“Ke mana tuan pergi malam-malam sendiri seperti ini?” seseorang tiba-tiba berdiri di depanku. Ia seperti muncul dari kegelapan begitu saja. Badannya kurus dan ia hanya mengenakan selembar kain yang hanya menutupi pinggang sampai pahanya.

“Cari angin,” sahutku.

“Badan tuan bagus. Sepertinya tuan cukup makan.”

Udara tiba-tiba berubah. Angin membisikkan bahwa sesuatu yang buruk mungkin saja akan segera terjadi. “Saya lapar. Dan anak-anak saya sudah beberapa hari tidak makan.”

Ini benar-benar buruk. “Jam rantai tuan tampak bagus,” tambahnya.

“Oh, jam ini tinggalan orangtua saya.”

“Dan di mana orangtua tuan?”

“Di surga. Mereka meninggal dihajar sampar.”

“Kalau begitu orangtua tuan tidak akan menanyakan kemana jam rantainya bila tuan memberikan jam itu kepada saya.”

“Maaf, tapi itu sepertinya mustahil.”

“Saya punya pisau yang baru diasah tuan.”

“Itu tidak akan membuat saya menyerahkan jam tangan ini.”

Ia diam. Tangan kanannya bergerak meraba pinggang bagian belakang. Aku yakin dia hendak menghunus pisaunya dan sebelum itu terjadi, aku memutuskan untuk segera meninggalkan tempat terkutuk tersebut. Tapi aku hanya bisa bergerak beberapa langkah. Aku merasa sesuatu yang dingin, logam yang didinginkan cuaca malam, menembus punggungku, mengekalkan rasa sakit yang tak terperi. Bahkan aku tidak sempat berteriak sewaktu tubuhku limbung. Dengan tergesa, orang itu menarik jam rantaiku, memeriksa dan mengambil sejumlah uang di sakuku, lalu menghilang di kegelapan.

Dan seekor anjing liar berpesta di atas tubuhku. Ia mencakar dan mencabik dadaku, mencungkil jantungku dan keesokan harinya, aku melihat dunia dengan mata yang teramat berbeda. Mata seekor anjing.

Syekh Siti akan menemuiku di depan Gereja Blenduk dan aku tidak mau membuatnya kecewa. Aku menggerakkan badanku dan aku menyadari bahwa kini aku memiliki empat kaki. Lidahku terjulur dan suara yang keluar dari tenggorokanku hanyalah kaing dan guk. Ternyata kematian tidak seperti yang aku duga. Kematian hanyalah sebuah proses di mana seseorang akan memulai hidup dalam bentuk yang lain.

Hari sudah tidak lagi pagi ketika aku sampai di depan Gereja Blenduk. Banyak orang berkumpul di sana tapi tidak aku lihat Syekh Siti. Orang-orang tampak berduka. Pendeta Johannes Wihlemus Swemmelaar beberapa kali menyusut matanya yang berkaca-kaca. Pada saat itulah aku mengetahui bahwa saat ini aku sedang mendatangi upacara pemakamanku sendiri. Tapi aku tidak terlalu memikirkan hal itu. Aku hanya ingin bertemu Syekh Siti. Persetan apa pun yang terjadi.

Seharian itu aku berputar-putar di sekitar gereja dan yang kudapati hanyalah orang-orang yang berduka dan mereka adalah orang-orang yang mengenalku. Aku bermalam di bawah sebatang pohon dan berharap bahwa keesokan harinya Syekh Siti akan datang. Dan aku segera tahu bahwa Syekh Siti tidak pernah lagi datang ke situ. Dan aku bisa menduga kenapa Syekh Siti tidak lagi datang. Ia mengetahui berita kematianku. Ia yang sedih, dalam upaya melupakan kesedihannya, berupaya melupakan aku, melupakan tempat yang menjadi saksi pertemuan-pertemuan kami.

Aku merasa benar-benar terluka. Aku terpuruk. Cinta, seperti kata orang, memang seringkali menyakitkan, namun aku tidak menyangka bahwa sakitnya bisa sampai pada tingkatan separah ini. Perasaan nelangsa itu lalu mendorongku pergi ke Kauman. Kalau Syekh Siti tidak mencariku, maka aku yang harus mencarinya. Tapi di Kauman, aku hanya mendapati timpukan batu dan makian najis.

Aku meninggalkan Kauman dengan hati yang lebih rusak dan tubuh berdarah-darah. Tak ada Syekh Siti, tak ada. Aku terus berjalan dan ketika beberapa jam kemudian aku mati untuk kedua kalinya, aku tahu bukan luka-luka di sekujur badan yang menjadi penyebabnya, melainkan duka lara kehilangan kekasih. Dan kematian kedua ini, seperti kematian pertama, hanyalah cara bagiku untuk meneruskan hidup dalam wujud yang lain. Cacing-cacing membusukkan tubuhku dan begitulah aku terbangun dengan tubuh yang baru.

Cacing-cacing. Syekh Siti berasal dari cacing, begitu katanya. Dan siapa tahu, aku akan kembali menjadi manusia, entah dengan cara bagaimana, dan berumur panjang dalam wujud itu seperti Syekh Siti. Dan kami akan bertemu lagi, mungkin beberapa saat menjelang kiamat. Dan seperti awal mula kami bertemu, kami bahkan tidak peduli perbedaan agama atau jenis kelamin. (92)

 

 

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam Kelompok Suka Jalan.

 

Advertisements