Cerpen Dewi Ria Utari (Kompas, 29 Mei 2016)

Sepetak Mawar Kuning di Halaman Belakang ilustrasi Almira Ginting
Sepetak Mawar Kuning di Halaman Belakang ilustrasi Almira Ginting

Serupa mimpi, kenangan itu seperti tak nyata dalam ingatannya. Bahkan seringkali ia ragu apakah pernah mengalami kenangan itu atau itu sekadar halusinasi. Samar-samar ia mengingat aroma sore itu. Bau rumput basah yang muncul karena ia baru saja menyiraminya dengan ngawur. Lebih tepatnya, bau basah ini diciptakannya sendiri karena ia bermain-main air dengan selang yang menjulur panjang dari keran yang dipasang di bawah pohon sawo kecik.

Dengan bersemangat, ia memutar keran hingga putarannya terhenti dan dengan segera air mengucur deras dari saluran itu. Setengah berlari, ia memegang bagian ujung selang, berlari ke sana kemari, menyiramkan air yang mengucur itu ke rerumputan, semak-semak dan perdu krokot, sirih, srigading, geranium, dahlia, petunia, dan mawar kuning yang menjadi favorit ibunya yang sore itu duduk menyelonjorkan kaki di kursi pantai lipat yang dibentangkan di antara semak mawar kuning dan pohon cemara Norfolk.

Seperti kebiasaan-kebiasaan sebelumnya, setelah matahari tak begitu terik, ibunya akan minta pembantu rumah tangga mereka untuk memasang kursi pantai dan dengan berkacamata hitam dan sebuah buku, ibunya akan duduk berselonjor di kursi itu sambil membaca buku. Biasanya jika ia sudah berulah hiperaktif menyemburkan air ke sana kemari, ibunya meneriakinya sesekali atau cuma tersenyum memandanginya.

Namun sore itu ibunya hanya diam dan tampak tertidur. Buku yang dibawanya tergeletak menelungkup di dadanya. Dan sambil tetap menengadah, ibunya tak menghiraukannya yang berlarian menyemprotkan air secara sembarangan. Hingga akhirnya dia berhenti kelelahan sendiri, jatuh terduduk di rumput dan memandangi ibunya yang tetap diam. Ia tak bisa melihat arah pandangan mata ibunya karena ibunya memakai kacamata hitam sambil tetap menengadah ke langit. Ia pun akhirnya ikut terdiam dan berjalan menuju keran dan mematikan air. Kemudian ia berjalan ke arah ibunya dan menyentuh telapak tangan ibunya yang terasa hangat.

“Ibu tidur ya?”

Ibunya tak menjawab dan ia kemudian mengulang pertanyaannya lagi sambil menggoyangkan telapak tangan ibunya. Barulah kemudian ibunya menjawab pelan.

“Nggak. Aku cuma melamun.”

Suara ibunya terasa jauh seperti agak mengantuk. Atau mungkin bermimpi. Bisa jadi melindur. Saat itu ia masih yakin akan dugaannya karena kepala dan pandangan ibunya masih tetap dalam posisi mendongak ke atas. Dan ia tak bisa mengetahui apakah mata ibunya terpejam atau terbuka. Cukup lama ia menunggui ibunya dengan posisi berdiri dan mencoba melihat sekeliling ke arah atas mencari tahu apa yang membuat ibunya begitu takzim dan tak ingin terusik.

Hingga akhirnya ia bosan dan masuk ke dalam rumah. Beberapa saat sebelum gelap turun sepenuhnya dari langit, ia mendengar ibunya masuk ke dalam rumah dari pintu belakang, dari ruang keluarga tempat ia menonton film kartun. Ia sempat menoleh dan melihat ibunya berjalan melewatinya dan langsung naik ke kamarnya di lantai dua. Ibunya kemudian keluar dari kamar dan menyiapkan makan malam untuknya dan ayahnya yang datang sekitar pukul tujuh tiga puluh malam.

Itulah ingatan samarnya tentang ibunya yang keesokan harinya ditemukan mati menenggelamkan diri di kolam renang di halaman samping rumah.

***

Seringkali dalam mimpi, ia kembali ke saat itu. Saat ia terbangun pukul tujuh pagi karena jilatan Winter di wajahnya. Anjing labrador yang sudah menemaninya sejak bayi itu selalu naik ke atas kasur dan membangunkannya sekitar jam tujuh pagi, sebagai tanda memintanya untuk mengajaknya jalan ke luar rumah. Sejak masih berukuran selengan orang dewasa, Winter sudah diajari ayahnya untuk berak dan kencing di halaman belakang.

Masih dengan mata setengah terpejam, ia mengikuti Winter turun dari lantai dua dan menuju ke halaman belakang melalui dapur. Begitu ia membuka pintu belakang, Winter langsung menghambur ke luar dan menuju rimbunan perdu-perdu yang menempel di tembok belakang yang membatasi rumahnya dengan lahan kosong yang entah milik siapa. Sambil menggenggam segelas susu, ia berdiri di ambang pintu dapur yang langsung menghadap ke halaman belakang dan melihat Winter menyelesaikan kebutuhannya. Pandangannya tiba-tiba terhenti pada rumpunan semak mawar kuning yang berada tak jauh dari kursi lipat yang sepertinya lupa dimasukkan ke dalam rumah oleh pembantu. Ia masih ingat kemarin sore, bunga-bunga mawar kuning bermunculan dan menyembul di antara rerimbunan daun. Namun sekarang ia melihat tak satu pun ada mawar kuning yang ada di sana. Reflek ia menoleh ke belakang dan mengarahkan matanya ke meja. Siapa tahu ada yang memetik dan menaruhnya di dalam vas dan kemudian dipajang di atas meja makan. Namun ia melihat meja itu bersih dan kosong.

Sambil tetap memegang gelas susu, ia kemudian berjalan masuk kembali ke dapur dan tak ditungguinya Winter yang masih berjalan-jalan tak tentu arah di halaman belakang. Ia sempat berhenti dan mencoba berpikir. Ada sesuatu yang ia rasa salah dan aneh di pagi ini. Kemudian ia meneruskan langkahnya menuju ruang tengah yang menghubungkan dengan bagian samping rumah. Cahaya sinar pagi menembus melalui jendela yang dilapisi kain vitrage. Sepertinya sudah ada yang menarik korden sehingga ruangan samping ini terkena sinar.

Masih dengan perasaan heran tak karuan, ia membuka pintu dan melangkah keluar. Teras halaman samping terasa hangat di kakinya karena sinar matahari yang bersimbah melimpah ruah. Matanya menyipit menahan kilau sinar yang memantul dari permukaan kolam renang yang letaknya sekira dua meter dari pintu. Namun ia masih bisa melihat ada sesuatu yang mengambang di permukaan air. Dilihatnya kuntum-kuntum mawar kuning mengambang tenang mengelilingi sesosok tubuh yang mengapung dalam posisi tertelungkup. Ia melangkah mendekat dan menyadari tubuh itu adalah sosok ibunya. Yang diingatnya kemudian, bunyi gelas susu yang terbanting ke lantai pinggiran kolam renang.

Dulu ia pernah bertanya pada ibunya mengapa ia menanam mawar kuning dan bukannya mawar merah atau putih. Sambil tetap menggali tanah dengan sekop, ibunya berkata, “Karena mawar kuning memadukan dua hal yang kusukai. Warna kuning yang hangat seperti matahari dan mawar memiliki keharuman yang mengingatkanku akan pagi hari setelah hujan.”

Dia dengan perasaan kanak-kanaknya, tak terlalu memahami perkataan ibunya. Ia sebenarnya hanya menyukai menemani ibunya bermain tanah. Tapi ia tak bisa puas jika tidak menanyakan ada apa dengan pagi hari setelah hujan yang sepengetahuannya hanya menyisakan basah di rerumputan. Kelak ia akan memahami bahwa peralihan waktu, hujan, kemarau, atau bahkan bayang-bayang, memiliki aroma. Pun kelak ia akan mengetahui bahwa mawar kuning bagi ibunya menyimpan kenangan tentang suatu masa yang paling menghidupkan jiwa ibunya.

Ibunya dimakamkan dengan ditemani banyak kelopak bunga mawar kuning di dalam peti mati. Digandeng ayahnya, ia melihat ibunya seperti tenggelam dalam lautan warna kuning yang menyilaukan. Ia enggan melihat wajah ibunya. Matanya lebih ia arahkan mengamati bunga-bunga mawar kuning dan jemari kedua tangan ibunya yang saling terkait. Dengan susah payah, ia akhirnya memaksakan diri melihat wajah ibunya yang pucat namun tetap cantik seperti biasanya. Rambut ibunya yang sebahu, disisir rapi dengan poni yang menutupi keningnya.

Entah kenapa ia melihat ibunya justru terlihat seperti lebih muda dari biasanya. Ia hanya sanggup melihat wajah ibunya beberapa menit saja. Kemudian ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan ayahnya dan kembali duduk di bangku depan rumah duka tempat peti mati ibunya disemayamkan sebelum dibawa ke pemakaman. Dari tempat duduknya, ia melihat ayahnya yang berdiri tegak dengan kedua tangannya berpegang erat di pinggiran peti. Tak lama kemudian ayahnya berbalik dan berjalan ke arahnya kemudian duduk di sebelahnya. Diliriknya wajah ayahnya yang tampak tegang, yang dirasanya terlihat menyimpan amarah. Biasanya ia anak usil yang akan menanyakan kenapa dan ada apa dengan ayahnya jika ayahnya bersikap tidak biasa. Tapi ia merasa terlalu lelah saat itu.

***

Tujuh hari setelah ibunya dimakamkan, ia menemukan ayahnya meninggal. Sore itu sepulang sekolah, seperti biasa ia langsung menghambur keluar dari mobil begitu mobil yang dikendarai sopirnya itu berhenti tepat di depan pintu depan. Ia berteriak-teriak memanggil Winter yang biasanya langsung berlari menghampirinya entah dari mana. Dibiarkannya Winter menjilati mukanya dan kemudian ia bergulingan sebentar dengan anjing seberat 30 kg itu. Setelah puas, ia kemudian naik ke atas menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Saat melewati kamar orangtuanya, ia melihat pintu kamar terbuka. Ia menoleh ke arah pintu dan melihat sosok ayahnya terbaring di atas kasur dan tampak terpejam. Ia mendekat dan sebenarnya bersiap-siap untuk memanggil ayahnya, hanya saja niatnya urung begitu melihat seprai kasur tampak berwarna merah di sekeliling tubuh ayahnya. Begitu sudah di pinggir kasur, ia mendapati pergelangan tangan kanan ayahnya telah sobek dan tampak sebilah silet cukur tergeletak tak jauh dari telapak tangan kiri ayahnya.

Ia hanya diam dan membiarkan dirinya memandangi tubuh ayahnya beberapa menit hingga kemudian ia mengalihkan pandangan dari pergelangan tangan ayahnya yang terkoyak dan melihat secarik foto yang tergeletak di lantai. Ia mengambilnya dan melihat foto sebuah lukisan yang memperlihatkan ibunya tengah berdiri di pinggir pantai menghadap ke depan, tampak tertawa. Ia memakai gaun berwarna biru pucat, salah satu tangannya memegangi topi dan tangan lainnya menggenggam setangkai mawar kuning. Di belakang ibunya, tampak laut dan langit yang berwarna biru meski birunya tak sama.

Lukisan itu tak pernah dilihatnya. Ia kemudian membalik foto itu dan melihat tulisan di bagian kanan bawah. Dengan sedikit mengeja, ia membaca pelan tulisan itu. “Kelak aku akan memenuhi halaman kita dengan mawar kuning. Selamanya. K.”

Hanya ada inisial K di sana dan ia tahu bahwa nama ayahnya tidak memakai huruf tersebut. Di kemudian hari, ia menjalani hidupnya dengan sebuah tekad untuk menemukan lukisan itu dan tentu saja pemilik nama berinisial K. Namun hingga saat itu tiba, ia mengingatkan dirinya akan tekad itu dengan setiap hari menaruh sekuntum mawar kuning dalam sebuah vas yang diletakkannya di meja samping tempat tidurnya.

Sebuah awal dari sebuah kisah. (*)

 

 

Dewi Ria Utari, Lahir di Jepara, 15 Agustus 1977. Berkarier sebagai jurnalis di sejumlah media: Detik.com, Koran Tempo, Jurnal Nasional, dan sekarang menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Sarasvati. Kerap menulis cerita pendek di media cetak dan sebagian besar karyanya muncul di sejumlah buku antologi cerpen. Ia telah menerbitkan sejumlah buku: kumpulan cerpen Kekasih Marionette, novel remaja The Swan, dan novel terbarunya yang terbit tahun ini, Rumah Hujan.

Advertisements