Cerpen Muliadi Gf (Jawa Pos, 29 Mei 2016)

Saudara-Saudara Sejalan Poros ilustrasi Bagus
Saudara-Saudara Sejalan Poros ilustrasi Bagus

SEPERTI dari tepukan tangan pesulap, motor itu  tiba-tiba muncul di samping Leman. Ia, yang selalu percaya sampai kapanpun akan tetap muda meski sekarang usianya menginjak 50 tahun, memang mengayuh sepeda kencang-kencang dari utara. Tapi ketika mendekati bukaan jalan—yang memotong satu jalur berlawanan arah—ke jalan simpang menuju dusun pesisir, ia sebenarnya telah memelankan sedikit laju sepeda. Makanya, ia sangat terkejut ketika berbelok di bukaan itu muncul sebuah motor mengerem mendadak mencoba menghindarinya.

Leman menginjak ban belakang dengan sandal jepitnya, tapi terlambat; motor itu mencoba menepi tapi terlambat juga—semua serba terlambat. Sial bagi keduanya. Si pengendara motor jatuh dengan motor menindih pahanya. Sedangkan Leman terlempar ke selokan. Saat bangkit, dilihatnya sepedanya telah mencong ke kanan. Menaikinya bisa membuat orang-orang curiga ketiak kiri Leman bisulan karena si sepeda pasti bersikeras belok sendiri ke kanan.

Leman mencabuti bunga-bunga rumput dari celananya. Tidak sampai bersih; ia sudah teringat ada yang harus dilakukan dan ada yang mesti bertanggung jawab.

“Kau punya mata-kah?!” katanya. Rupanya matalah yang bertanggung jawab. Tapi mata siapa?

Si pengendara motor meringis dan tampak membuat-buat ekspresi itu seberlebihan mungkin, tapi melihat sorot mata Leman ia percaya itu sia-sia. Maka dengan susah-payah ia menyanggang badan motor naik dan menopangnya sejenak agar bisa menarik tungkainya keluar.

“Kamu yang salah. Tidak lihat-lihat baru belok,” elaknya.

“Ini takkan terjadi kalau kau pakai matamu. Dan itu remmu, kau buang ke mana? Tak berguna! Periksa kalau mau jalan!” balas Leman.

“Remku masih bagus, kemarin baru kubawa ke bengkel ganti kampas. Kamu saja yang belok mendadak.”

“Aku sudah pelan sekali. Kalau matamu tidak mati, ini takkan terjadi. Lihat itu! Sepedaku rusak, mesti ada yang mengganti rugi.”

“Jelas bukan aku.”

“He-eh. Siapa lagi kalau bukan kau? Tidak mungkin itu sepeda baring di selokan kalau bukan kau… dan matamu itu!”

“Mana buktinya kalau sepedamu rusak?”

Sepeda itu tersembunyi di selokan.

“Kau mau bukti? Kau mau bukti heh?”

Leman yang tambun itu tampak seringan pipit ketika berjalan ke selokan hendak mengambil sepedanya, tumitnya tak menginjak permukaan jalan. Tapi siapa peduli? Si pengendara motor telah mengetes mesin motornya dan tahu bahwa motor itu bisa melompat secepat kijang bila ia memutar handel gas. Dan itulah yang dilakukannya.

Leman ternganga, seperti ekspresinya ketika menjadi kiper pada turnamen kampung bertahun-tahun lalu dan seorang penyerang lawan mengecohnya begitu licik.

***

Meja bar digebrak gelas.

“Aku tipu dia. Dasar orang kampung!” kata Sabrang.

“Kau tinggalkan dia?” tanya Aco.

“Tentu saja. Satu-satunya yang bisa mengalahkanku di situ adalah kawanannya, teman sekampungnya. Tapi aku diuntungkan keadaan. Sore sepi.”

“Kau tidak takut bila pulang nanti?”

“Memangnya kenapa?”

“Yaaa… siapa tahu mereka sudah menunggumu.”

Sabrang berpikir beberapa lama, tapi ia menepis bayangan di benaknya. “Ah, minuman yang baik adalah yang bisa membuatmu berpikir positif.” Ia mengangkat gelas tinggi-tinggi dan menenggak isinya, lalu kembali menggebrak meja. Prak!

***

Leman memukul telapak tangannya sendiri.

“Dia yang tiap malam Minggu lewat ke kota. Kau kenal dia, kan?” katanya.

“Ya. Aku pernah minum bersamanya di kampungnya,” kata Muis. “Sudahlah, kita sama-sama tahu, dua orang yang pernah minum bersama sudah jadi sodara.”

“Itu sodaramu. Aku tak pernah minum bersamanya. Kalaupun sodara, sodara mana yang tega membiarkan sepedaku jadi rongsokan begitu?”

Lima pasang mata di pos ronda itu menatap “rongsokan” itu.

Setangnya lurus ke depan tapi ban depannya serong kanan dan bergelombang membentuk bayangan angka delapan.

“Pahamu tidak apa-apa? Kalau dibayangkan kejadiannya, sepertinya paha kirimu kena,” kata Rusdi.

Leman menggoyangkan pahanya. “Nanti malam baru sakit. Tapi sekarang aku masih kuat menendang orang,” katanya.

Yang lain terkekeh.

“Kalau begitu, mari kita puaskan kakimu,” kata Rusdi.

“Caranya?”

“Kita tunggu dia lewat.”

“Begitulah seharusnya.”

“Kalau dia tetap tak mau ganti rugi…?” sahut Modin, yang mirip batu—ia lebih sering diam.

“Ini bukan soal ganti rugi, Sodara. Dia sudah menipuku,” kata Leman. “Dia pantas menanggung lebih dari itu.”

“Apa tidak sebaiknya dibawa ke polisi?”

“Kalau urusan ini ke polisi, kakiku tidak dapat bagian.”

“Aku tidak ikut,” kata Muis bangkit.

Leman menatapnya tajam. Tapi hanya sampai situ. Muis pernah mematahkan lengan juragan batunya yang membayarnya kurang dari perjanjian. Leman melempar pandangan ke arah berlawanan dari langkah Muis.

“Tenanglah,” kata Rusdi. “Seperti di klub dulu, Muis punya cadangan. Dan kali ini cadangannya banyak.”

***

Dari kota, Sabrang menempuh jalan poros ke selatan. Pandangannya mengganda. Tiang-tiang listrik dikiranya berdempetan, dan di antara dua tiang ia melihat karet-karet gelang yang tegang bergetar. Motornya oleng ke kanan dan ia susah payah membanting setang ke kiri agar tak diseruduk truk dari belakang. Sebentar kemudian, setangnya oleng lagi ke kiri dan ia membantingnya ke kanan menghindari pohon asam di tepi jalan. Mendekati desa tempat tadi sore matanya didakwa, ia masih lupa kejadian itu. Ketika di depan sana dilihatnya orang-orang bergerombol, tak sedikit pun terbersit di benaknya dugaan bahwa mereka ada hubungannya dengan dirinya.

Kelompok itu berjumlah sembilan orang. Di dekat kaki mereka teronggok potongan kayu dan batu-batu sebesar timun. Sedari menjelang Magrib mereka telah menunggu: Jupiter hitam, helm berwarna jingga, dan jaket biru kusam si pengendara. Tapi sampai azan Isya berkumandang, cahaya dari lampu jalan tak juga menampakkan yang ditunggu. Mereka curiga orang itu telah menumpang kendaraan lain atau berganti pakaian untuk mengelabui mereka. Berikutnya, apa pun kendaraan yang lewat mereka hentikan, mereka periksa isinya tapi tetap tak ketemu.

Saat itu menjelang jam 11 malam, kurang semenit dari truk yang terakhir mereka geledah. Dari jauh muncullah sebuah motor dengan lampu-jauh menyorot terang. Ambi, anak Rusdi, satu dari lima orang yang dimaksud bapaknya sebagai cadangan Muis, adalah seorang pemuda tanggung berbadan kukuh. Kerjanya kuli batu. Urat-urat lengannya menonjol bagai terowongan rayap di batang pohon. Ambi dapat bagian mencegat kendaraan, caranya dengan melompat ke tengah jalan sampai kendaraan berhenti.

Di bawah lampu jalan terakhir tampaklah Jupiter hitam, helm jingga dan jaket biru kusam itu. Ini dia! Ini dia! Ambi menyilang-nyilangkan kedua lengannya di atas kepala seperti juru parkir pesawat, dan yang lain sontak mengambil kayu dan batu lalu berjajar seraya merentangkan tangan, melintangi jalan yang telah mengalami pelebaran itu—siluet mereka tak ubahnya hiasan guntingan kertas dengan pola berulang—mencoba menutup laju motor yang mendekat. Tapi apa bisa?

Sabrang terkejut melihat hadangan itu. Sudah susah payah membanting setang, kini ada lagi tantangan baru. Ia membunyikan klakson berulang-ulang tapi mereka tak menyingkir. Dilihatnya ekspresi para penghadangnya. Semua marah. Mereka mau merampokku, pikirnya, takkan kubiarkan…

Dia memutar gas sekuatnya dan motor melompat menderu, siap menerjang apa saja di depan. Ambi tertinggal di tengah jalan ketika yang lain buru-buru menepi. Rusdi sampai terbenam di rimbun tanaman yang menyemak di tanah pembatas jalan.

Jalan terbuka lebar bagi Sabrang, tapi sayang, olengnya kambuh, motor belok ke kiri dan ia tak sempat membanting setang. Tapi untung saja, di situ ada Ambi yang seperti menyediakan pantatnya sebagai bantalan bagi motor Sabrang untuk kembali ke jalurnya. Terdengar benturan keras. Ambi terpelanting. Dan motor Sabrang melaju sekencang-kencangnya bagai hendak lepas landas kembali ke Jupiter—ini tentu berlebihan, sebab, ia hanya berhasil kembali ke rumah dan mendarat di bale-bale kolong rumahnya lalu tidur telentang seperti bintang laut kering.

Malam itu juga Ambi diantar ke rumah sakit di kota.

Kejadian itu tak membuat kelompoknya jera. Besoknya mereka menebang dua batang bambu lalu memalang dua jalur jalan. Satu demi satu kendaraan yang lewat dari dua arah mereka cegat dan periksa. Satu hari satu malam berlalu, tak juga muncul yang di tunggu-tunggu.

Keesokan harinya lagi, mereka melakukan hal yang sama. Beberapa orang mulai bosan dan putus asa.

“Kenapa tidak langsung uber saja ke kampungnya?” kata Dori, anak muda seangkatan Ambi.

“Dasar, katak hijau! Main keras juga mesti pakai otak. Kau mau mati konyol di kandang macan?” jawab Leman.

“Daripada begini…? Lama-lama bosan juga, ini tangan sudah gatal. Saya punya kerjaan di sawah. Di jalan beton ini, apa yang bisa saya cangkul?”

“Iya, kami juga mau kerja,” sahut mereka yang sama-sama seangkatan Dori dan Ambi.

Akhirnya Rusdi berkata, “Baiklah. Kita laporkan saja ke polisi.” Ia sendiri dan Dori yang kemudian berkendara beberapa kilometer ke arah selatan. Di situ ada pos, dan mereka melaporkan si pelaku tabrak lari. Sore harinya, saat keduanya sudah di kampung, mereka mendengar kabar bahwa Sabrang telah ditahan. Dan malam hari, setelah mendengar pengakuan Sabrang, beberapa orang polisi datang menjemput Leman, orang yang dicurigai sebagai otak pemalangan jalan.

Tapi hanya satu malam di kantor polisi, sore hari berikutnya Leman sudah terlihat merokok di teras rumahnya. Saat Rusdi datang dan menanyakan kabarnya ia diam saja. Ketika malam turun, seperti biasa, kelompok preman tua itu berkumpul di pos ronda bermain domino. Leman tak muncul.

“Ah, paling-paling keduanya berdamai, setelah itu pulang,” kata Muis sambil melayangkan kartunya ke lantai.

Tak ada yang menimpalinya. Hanya anehnya, setelah itu kartu-kartu yang turun terdengar lebih mirip bunyi tempelengan bersahut-sahutan. (*)

 

 

Gunung Tolong, Maret 2016

MULIADI GF. tinggal di Barru, Sulawesi Selatan. Suka membaca dan menulis cerpen.

Advertisements