Pengakuan Luisa tentang Seorang Pengarang yang Memaksanya Bunuh Diri


Cerpen Yetti A. KA (Jawa Pos, 22 Mei 2016)

Pengakuan Luisa tentang Seorang Pengarang yang Memaksanya Bunuh Diri ilustrasi Bagus

Pengakuan Luisa tentang Seorang Pengarang yang Memaksanya Bunuh Diri ilustrasi Bagus

AKU tokoh utama dalam cerita Tentang Luisa yang ditulisnya empat tahun lalu. Sebelum ia menulis cerita itu—mari abaikan fakta soal hujan yang sudah berhari-hari turun lebat disertai petir menyambar-nyambar pada bulan Januari dan menyebabkan sejumlah pohon terbakar, tabrakan beruntun di salah satu ruas jalan raya, air selokan yang hitam meluap ke jalan, dan televisi yang tidak henti mengulang-ulang gambar rentetan bencana itu—aku tahu ia sedang patah hati atas cintanya yang dalam terhadap Tuan H (Ia memaki: Sialan, aku terlalu mencintaimu, Bajingan.).

Berjam-jam ia duduk gelisah di tepi tempat tidur, tanpa ingin memikirkan apa-apa, tanpa mau melakukan apa pun, tanpa keinginan untuk peduli atas apa yang sedang terjadi di luar dirinya. Segelas susu yang dibuatnya dua jam sebelumnya, tidak disentuh sama sekali. Lambungnya tidak mau menerima semua jenis makanan sejak hari ia merasakan sakit yang teramat menusuk di sekitar dada. Asam lambung yang dipicu stres, kata seorang dokter yang sudah seperti temannya sendiri hingga ia bisa bebas bertanya lewat pesan atau sambungan telepon dan tentu ia dianjurkan untuk segera cek kesehatan, serta mendapat nasihat agar memperbaiki pola hidup dan lebih banyak bergembira.

Ia mengabaikan anjuran, nasihat, dan tidak mampu membangkitkan rasa gembira dalam dirinya.

Aku sekarat, desahnya. Seketika matanya menghangat. Ia jarang menangis dalam hidupnya. Ia hanya ingat pernah menangisi perpisahan kedua orang tuanya yang sebelumnya ia pikir bahagia. Ibu dan ayahnya tidak pernah bertengkar. Mereka pasangan paling serasi dan saling menyayangi. Mereka berpisah karena sudah tidak ingin bersama. Itu saja.

Namun, ia tidak pernah mengerti apa arti dari “mereka berpisah karena sudah tidak ingin bersama” itu. Terlebih, setelah berpisah, kedua orang tuanya tetap berhubungan baik. Kadang-kadang mereka menghabiskan waktu libur bersama. Masing-masing dari mereka tidak pernah menikah lagi. Dan ia sekali lagi tidak mengerti apa yang sesungguhnya dicari ibu dan ayahnya. Untuk alasan itulah, ia pernah menitikkan air mata.

Dan ia juga menjatuhkan air mata untuk alasan yang sama ketika Tuan H mengaku mencintainya, tapi tidak untuk hidup bersama. Ia ingin sekali bisa memahami bahwa memang ada jenis cinta yang demikian dan itu membuatnya lelah. Ia tidak bisa tidak cemburu ketika Tuan H mendapat tugas baru mengantar anak-anak ke sekolah dan mulai tak sempat mengiriminya ucapan kangen di pagi hari. Ia tak bisa lagi menahan marah ketika Tuan H membatalkan acara kencan sore di hari ulang tahunnya karena istrinya minta ditemani belanja bulanan. Itu tidak enak tahu! katanya marah. Tuan H bilang: aku harus menebus rasa bersalah kepada mereka. Lama-lama waktu Tuan H habis untuk menebus kesalahan-kesalahannya.

“Seharusnya dulu aku yang menjadi istrimu dan memberimu anak yang banyak.”

“Kalau kau istriku, maka dia akan menjadi kekasih yang kucintai.”

“Brengsek! Kita putus saja!”

“Itu sudah sering kau katakan.”

“Ini yang terakhir!”

Ia merebahkan tubuhnya di atas matras berlapis kain sprei polos warna abu-abu dengan bercak di mana-mana. Jika harus mati, maka ia ingin mati di tempat tidur sambil memeluk guling hingga membuatnya tampak mati dengan bahagia—meski mungkin saja tak ada yang akan mempercayainya mengingat hidupnya yang terlalu berantakan.

Sejumlah telepon dan pesan masuk—ada banyak orang yang mengkhawatirkannya, teman-teman minum kopinya atau beberapa sahabat yang ia jaga sejak masa sekolah. Ia tak berharap teman sesama pengarang peduli kepadanya, sebab hidup mereka sendiri sudah rumit, tapi beberapa orang di antaranya ternyata juga menanyakan keberadaannya yang tidak datang dalam diskusi sebuah draf novel di akhir pekan. Ia sekadar menatap malas saja pada telepon selulernya itu, tak berniat sama sekali berbicara atau membalas pesan mereka dan mengembuskan napas kasar disertai makian-makian kecil lagi yang hanya didengar oleh dirinya sendiri. Tak ada satu hal pun yang membuatnya bisa gembira, “Gembiralah! Gembiralah!” perintahnya gemas kepada hatinya yang serupa dataran luas membentang tanpa ada tumbuhan hidup di dalamnya.

Tak ada yang berubah. Ia tetap saja merasa menderita dan tak mampu merasakan apa-apa selain semakin tertusuk. Baiklah, aku benar-benar akan mati, desahnya pasrah. Ia melepaskan tubuhnya dari kehendak-kehendak pikirannya dan atas kemauan sendiri matanya menatap sepasang angsa yang sedang berenang di atas karpet biru. Ia berharap—dan sekali lagi harapan itu muncul secara alami, bukan dari pikirannya—dua angsa itu mengatakan sesuatu, dan ia mau menunggu, tapi ide ingin mati sudah telanjur memenuhi kepalanya. Ia segera mengambil alih tubuhnya lagi dan berdiri dengan rasa gugup.

Puluhan tahun lalu, salah seorang bibinya bunuh diri karena urusan cinta semacam ini. Puluhan tahun lamanya ia merasa cemas kalau-kalau ia akan seperti bibinya mengingat hati mereka amat mirip dan ia mengatasinya dengan mencoba melepaskan diri dari kenangan bibinya, berlari sejauh-jauhnya, menyamarkan masa lalu seolah ia tak pernah punya bibi berhati rapuh itu dan ia mesti berbohong ketika mendatangi seorang psikiater dan ditanya, apakah ada riwayat anggota keluarga yang memiliki kecenderungan depresi? Ia bilang, tidak, dan saat itu ia bersusah payah tak mengingat hari kematian bibinya yang menyisakan duka panjang dan tak pernah selesai dalam hati orang-orang yang ditinggalkannya, barangkali karena orang menganggap perempuan secantik itu tidak sepantasnya mati dengan cepat dan dengan cara tidak terpuji, barangkali orang-orang punya mimpi kalau suatu hari bibinya itu melahirkan banyak bidadari dan mereka akan tumbuh sebagai bunga yang memenuhi kampung mereka, membuat berwarna, beraroma.

Aku harus tetap hidup, katanya bangkit. Rasa sakit seperti tertusuk di dadanya, hilang, dan berganti dengan degup yang memburu.

Siang itu juga ia nekat keluar rumah, menembus hujan lebat, menuju sebuah hotel dan petugas memberinya kamar di lantai tiga. Aku tidak akan menceritakan apa yang dilakukannya dalam kamar hotel itu, selain saat tiba di sana, ia masuk kamar mandi dan menghidupkan shower hingga hanya terdengar suara air itu saja, membuat ia merasa tidak berada di dunia yang sama tempat berhari-hari ia merana, membuat ia merasa kalau dirinya telah berada sangat jauh dari segala penderitaan yang menusuk-nusuknya.

Sebagai perempuan patah hati dan merasa hampir saja mati, ia mencoba menyelami hal-hal sederhana dengan lebih dalam, misalnya mendengar lama-lama suara air yang jatuh. Atau menulis namanya di cermin kamar mandi yang buram karena terkena uap air panas. Tentu saja ia harus membuat dirinya menangis. Tidak ada perempuan patah hati yang tak menangis dalam kamar mandi. Aku berani bertaruh soal itu.

Begitu keluar, ia sudah dapat tersenyum kepada bayangannya di cermin, kepada perempuan berwajah pucat dan bermata sembap. Ia mengambil lipstik merah tua dalam tasnya dan menulis sebuah judul cerita di cermin itu: Tentang Luisa.

***

Kau ingin kutulis seperti apa, Luisa? tanyanya sambil memijati tengkuknya yang ditutupi rambut tebal. Kau pasti tidak tahu, bukan? Kau seharusnya tahu. Uh, betapa membosankan perempuan yang tidak tahu apa yang ia inginkan, katanya dengan raut muka uring-uringan dan aku mengerti itu terjadi bukan karena ia sedang kesal kepada tokoh fiksinya, melainkan sesuatu dalam dirinya sudah kembali hidup.

***

Ia masih menulis cerita Tentang Luisa ketika panggilan telepon dari Tuan H masuk. Pertama, ia tak menggubris. Dengar, Luisa, tak ada yang bisa dilakukan lelaki dalam hidupmu selain mendatangkan banyak masalah. Aku enggan berdebat dengannya soal itu.

Panggilan kedua dari Tuan H masuk. Ingat, Luisa, kau bukan penyuka teh, melainkan kopi, suaranya terdengar serak. Kupikir, apa pentingnya aku menyukai teh atau kopi. Dalam sebuah cerita, itu penting, Luisa! bentaknya. Panggilan telepon Tuan H belum berhenti. Kau benar-benar harus merasa hancur, Luisa, hanya dengan cara itu kau merasa ingin mati. Aku tidak mau mati. Dalam cerita ini kau mati.

Panggilan itu berhenti. Tak ada panggilan berikutnya. Ia menanti. Ia kembali kosong. Ia ingin Tuan H meneleponnya sekali lagi. Ia ingin Tuan H tidak menyerah untuk kembali mendapatkannya. Ia senang ketika sedikit harapan menjalar di hatinya.

Itu tidak terjadi.

Ia mulai berpikir untuk menelepon Tuan H. Ia cuma perlu mengurangi sedikit rasa tinggi hati untuk melakukannya. Bisa jadi Tuan H sedang menunggunya. Bisa jadi Tuan H amat mengkhawatirkannya setelah berhari-hari ia menghilang. Ia tidak akan bilang apa-apa, selain: Aku baik-baik saja.

Panggilannya tersambung, tapi segera terputus. Ketika dicobanya lagi, telepon Tuan H telah mati. Ia tahu Tuan H selalu mematikan telepon selulernya ketika ia menghubungi. Ia tahu Tuan H selalu mengingatkan bahwa hanya dia yang boleh menelepon dan tidak sebaliknya. Sialan! makinya.

Dadanya kembali nyeri seperti ditusuk-tusuk. Masak kau tidak mau mati, Luisa? bisiknya.

Kau hancur dan kau ingin mati, Luisa, katanya lagi

***

Ia tertidur. Meninggalkan layar laptop dan cerita Tentang Luisa. Napasnya terdengar tidak tenang. Berkali-kali ia tersentak dan mengigau. Ia menyebut nama ibu dan ayahnya. Nama Tuan H. Nama bibinya. Lalu namanya sendiri. Ia lalu menangis. Tersedu. Tubuhnya terguncang-guncang. Kemudian ia seperti tak bisa bernapas dan mulai tersengal. Untung, ia segera terbangun.

Dilihatnya layar laptop sudah mati. Gelap.

Ia merasa lapar sekali. Pukul tiga. Kota tampak mati di luar.

Ia melihat ke cermin. Tulisan “Tentang Luisa’’ masih ada di sana. Lebih merah. Lebih menyala. Ia nyalakan laptop dan ia menemukan paragraf terakhir dari ceritanya yang belum sempurna:

Kemarin, pagi-pagi sekali seorang petugas kebersihan hotel menemukan tulisan di pintu kamar 205: KAMI LETIH DENGAN PERASAAN SENDIRI. Kamar itu begitu sunyi. Begitu mencekam . Hingga seseorang, entah siapa dia, bisa jadi tamu yang berniat mencari penginapan, berteriak kering persis di bawah jendela kamar 205. Ia menemukan kematian terkapar di depannya.

***

Untuk itu, jika para pembaca mengira bahwa akulah yang menginginkan bunuh diri dalam kisah itu, maka mereka sungguh keliru. Pengarang itulah yang berpikir ingin mengakhiri hidup dengan terjun dari kamar lantai tiga sebuah hotel dan aku terpaksa melakukan itu demi membuat perasaannya lega dan menghentikan pikiran gilanya. Aku tahu sekali banyak pengarang mengobati sakit jiwanya dengan menciptakan sosok rekaan yang tak lain jelmaan dirinya sendiri—sesering apa pun mereka mengaku kalau tokoh-tokoh dalam fiksi memiliki dunia yang terlepas dari hidup pengarangnya. Bukankah pengarang itu pembohong paling pintar? (*)

 

 

GP, 2016

YETTI A.KA, tinggal di Kota Padang, Sumatera Barat. Buku kumpulan cerpen terbarunya Penjual Bunga Bersyal Merah (Diva Press, Mei 2016).

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: