Cerpen Achmad Munif (Jawa Pos, 15 Mei 2016)

Laila oh Laila ilustrasi Bagus
Laila oh Laila ilustrasi Bagus

Dari lantai sepuluh hotel berbintang lima itu aku melihat ke luar jendela. Lalu lintas di bawah tampak padat. Kata sahabatku, Jakarta memang menderita penyakit kronis yang bernama kemacetan. Kamu harus sabar berjam-jam berada di jalanan karena kendaraan merambat seperti keong. Lebih baik istighfar daripada kamu mengumpat-umpat.

“Jakarta bukan Sleman, teman,” kata temanku itu. Kata temanku lagi, di Jakarta tidak akan kamu jumpai kunang-kunang seperti di desamu pada malam hari. Jakarta diterangi lampu-lampu mercury.

Aku tersenyum sendiri, ketika sadar berada di lantai sepuluh sebuah hotel mewah. Aku membayangkan sampai di Jakarta menginap di losmen kecil yang murah. Tapi Mohammad Yazid yang menjemputku di Stasiun Gambir mengatakan, “Mana ada losmen di Jakarta.” Dan Yazid menempatkan aku di sebuah kamar di lantai sepuluh hotel yang belum pernah aku bayangkan. “Achmad, kamu tidak perlu bertanya berapa tarif hotel ini. Kamu gratis di sini. Semua aku yang tanggung.”

Aku bingung ketika mendapat undangan dari sebuah penerbit di Jakarta. Ia tertarik pada naskah novel yang aku tawarkan beberapa bulan lalu. Novel itu sebenarnya sudah pernah dimuat sebagai cerita bersambung di sebuah surat kabar Surabaya. Setelah aku revisi di sana-sini lalu aku coba mengirimkannya ke sebuah penerbitan di Jakarta. Sesudah tiga bulan menunggu barulah beberapa hari lalu aku menerima undangan sang penerbit untuk menandatangani kontrak.

Terus terang aku pengarang udik yang baru sekali ke Jakarta. Itu saja karena diajak seorang teman yang mengunjungi keluarganya setahun lalu. Bagiku Jakarta adalah rimba belantara yang membingungkan. Lalu aku mencoba menghubungi Yazid, sahabatku yang sudah lama bekerja di Jakarta. Tidak disangka-sangka jawaban Yazid sangat menggembirakan.

“Sebelum berangkat kamu telepon terlebih dahulu. Katakan saja kamu naik bus atau kereta atau pesawat. Aku akan jemput kamu di Gambir atau Pulogadung. Atau kalau naik pesawat aku jemput di Cengkareng.”

Sejak dulu Yazid memang sahabat yang baik. Namun aku tidak pernah mengira dia akan memperlakukan aku sebaik ini. Tadinya aku mengira Yazid sudah lupa padaku. Siapa tahu metropolitan telah mengubah dirinya menjadi makhluk ekonomi yang menjadikan uang sebagai dasar pertimbangan sebuah pertemanan. Namun, setelah lebih sepuluh tahun berpisah ternyata ia tidak berubah. Sepuluh tahun lalu setelah kami sama-sama lulus dari SMA Negeri Jombang aku meneruskan kuliah sambil kerja di Jogja. Sedangkan Yazid merantau ke Jakarta dengan ketetapan hati menjadi bintang film. Wajar, karena tampangnya memang lumayan.

Terdengar ketukan di pintu yang tidak kukunci. Aku berpaling, Yazid sudah nyelonong masuk ke dalam kamar. Di dekatnya bediri seorang perempuan cantik. Perempuan itu tersenyum padaku.

“Achmad, ini Laila. Dia akan menemani kamu selama di Jakarta. Dia juga akan mengantar kamu ke penerbit besok. Pokoknya Laila akan mengurus segala keperluan kamu di sini. Kamu tinggal terima saja tanpa mengeluarkan sepeser pun.”

Aku terbengong-bengong.

“Sebenarnya aku ingin menemani kamu sendiri selama di sini. Tapi teman, maafkan aku terlalu sibuk. Pokoknya kamu tahu beres saja dan tidak perlu berpikir macam-macam.”

Yazid menjabat tanganku, tersenyum, kemudian pergi begitu saja. Ia tinggalkan aku dan Laila di kamar. Ah, Yazid! Aku tidak mengira ia sukses di Jakarta. Memang ia gagal menjadi bintang film. Tetapi apa artinya kegagalan itu kalau sekarang ia menjadi seorang manajer pemasaran sebuah hotel berbintang lima. Yazid sudah menjadi bos sekalipun menurut pengakuannya hanya bos kecil-kecilan. Padahal, menurutku, ia adalah bos besar.

Aku ingat, mungkin sepuluh atau lima belas tahun lalu Yazid bersamaku hampir setiap hari mandi-mandi di Kali Berantas, lalu mengejar-ngejar belalang atau capung atau kupu-kupu di sepanjang tanggul Kali Berantas yang ditumbuhi rumput hijau dan di sana-sini menyembul batang-batang ilalang. Belalang dan capung serta kupu-kupu itu kami berikan kepada Gus Bisri yang memelihara banyak burung jalak. Ada jalak awu, jalak sungu, jalak bali dan sebagainya. Sebagai imbalan, Yu Parmi, istri Gus Bisri yang membuka warung, memberi kami beberapa bungkus kecil kacang atau beberapa buah kembang gula.

“Bung Achmad?”

Aku tergagap. Aku tatap wajah Laila sesaat. Ia membalas menatap wajahku. Cantik, wajahnya sumringah, matanya bulat bening, agak besar. Aku ingat wajah Gong Li, aktris China yang terkenal itu.

“Bung melamun, ya?”

“Ingat masa kecil. Lucu.”

“Lucu?”

“Dulu, kami, aku dan Yazid, adalah manusia-manusia lucu. Orang-orang dari udik yang ingin menggalah bintang. Aku ingin menjadi pengarang besar macam Chekov atau Hemingway, Boris Pasternak, atau Willam Saroyan. Yazid ingin menjadi bintang film seperti Burt Lancaster atau Richard Egan, Raj Kapoor atau Akira Kobayashi. Namun tetap saja aku menjadi manusia kerdil yang terus mimpi memeluk bintang. Yazid masih lumayan, meskipun tidak jadi bintang film, tapi dia kan bos sekarang.”

“Bung Achmad kan pengarang juga. Beberapa karya Anda sudah aku baca.”

“Iyalah, pengarang kecil yang jauh dari pergaulan para sastrawan.”

“Bung Achmad, bagi saya tidak ada pengarang kecil atau besar.”

Dan tidak beberapa lama kemudian dengan lincahnya Laila mengemudikan mobil menyalip-nyelap di antara ramainya malam di jalan-jalan ibu kota. Jari-jarinya yang lentik tampak begitu indahnya di mataku. Parfumnya, mungkin —seperti yang pernah aku baca di majalah wanita— poison atau escape atau samsara, terasa lembut di hidungku. Begitu gilanya Yazid mengirimkan bidadari cantik ini kepadaku. Di sebuah restoran pinggir pantai kami mengakhiri perjalanan sebelum kami kembali ke hotel.

Angin laut membersit menggeraikan rambutnya. Harum sekali. Lampu-lampu nelayan yang kerlap-kerlip di tengah laut tiba-tiba membuat suasana menjadi sahdu. Aku membayangkan lampu-lampu itu adalah tebaran jutaan kunang-kunang di sawah atau padang alang-alang di desaku. Aku makin kesepian di dekat wanita secantik Laila. Aku semakin sadar bahwa dalam usia sekarang ini seharusnya aku sudah menikah. Dengan berdiaman kami menikmati jeruk hangat.

“Apa yang Bung Achmad pikirkan?”

“Sedikit.”

“Bung berpikir tentang aku?”

“Iya juga, sih.”

“Sudah aku duga. Bung tentu ingin tahu siapa aku sesungguhnya. Teman Yazid? Mungkin! Yang jelas malam ini dan selama Anda di Jakarta aku diminta menemaninya.”

“Hanya itu?”

Laila memandangku lama sekali. Mata bening itu mengingatkan aku kepada Umi Kalsum yang pernah aku perebutkan dengan Yazid dan para pemuda lain ketika masih sama-sama di desa dulu. Tapi kami semua kalah karena Umi Kalsum dikawinkan dengan seorang calon dokter dari desa lain.

Aku tergagap ketika Laila menggamit lenganku.

“Apakah Bung tidak tertarik perempuan?”

Aku tertawa.

“Aku laki-laki normal. Seperti laki-laki lain aku bisa berkali-kali jatuh cinta. Tapi entah karena apa aku selalu gagal.”

“Karena Bung tidak percaya diri. Atau mungkin terlalu banyak pertimbangan.”

“Yazid bilang begitu?”

Kami berdiaman lagi. Rasanya aku sudah kehabisan kata-kata. Sebab rasanya tidak mungkin aku bercerita kepada perempuan metropolitan ini tentang burung-burung jalak Gus Bisri atau tentang capung dan belalang yang aku tangkap bersama Yazid. Atau tentang Sungai Berantas di desaku atau Kali Code di Jogja yang semakin kotor. Laila perempuan metropolis mungkin tidak menyukai cerita macam itu. Tentang padang ilalang yang terbakar pada musim kemarau bukan dunia perempuan semacam Laila. Juga tentang kunang-kunang yang bertebaran di sawah dan pategalan pada malam hari.

“Bung Achmad, dingin ya?”

Aku tatap sebentar wajahnya. Aku ingat lagi Umi Kalsum yang kalau menderas ayat-ayat suci Alquran suaranya sungguh menggetarkan hati. Umi yang ketika membaca kitab Al-Barzanji begitu merdu. Kini terngiang kembali di telingaku suaranya, “Yaa Nabii salaam alika, ya Rasul salaam alaika, ya Habib salaam alaika, sholawaatullah alaika.” Ah, aku memang pernah membayangkan Umi Kalsum menjadi istriku.

“Bung Achmad?”

Aku terbangun dari lamunan panjang. Aku pegang tangannya dan aku memang tidak memperoleh getaran apa-apa. Berbeda sekali ketika aku dan Umi Kalsum berkejaran di bantaran Kali Berantas dan jatuh di rerumputan. Aku cium pipinya. Seluruh tubuhku gemetar dan seluruh desa heboh karena ulahku itu.

“Di depan Bung Achmad aku merasa sama sekali tidak berharga.”

“Kamu berharga Laila. Justru karena terlalu berharga, sehingga aku sangat minder.”

“Tapi Bung hanya memegang tanganku.”

“Sebab aku merasa rendah dan tidak berani maraba yang lain.”

Kami tinggalkan rumah makan itu dengan pembicaraan yang tersendat-sendat dan terpotong-potong. Sampai di hotel sebenarnya Laila ingin ikut masuk ke dalam kamar, tetapi aku melarangnya. Tampaknya ia sangat kecewa. Kami berpisah di lobi hotel. Bukannya aku tidak suka wanita cantik, tetapi mungkin karena aku tidak berani. Dan sepanjang hidupku itulah yang menjadi kelemahanku.

***

Yazid, Yazid, sungguh kamu sudah jauh berubah sekarang. Kamu bukan lagi seorang laki-laki berkarakter agraris dengan ciri utama canggung dan malu-malu. Dulu kamu begitu cepat jika menghafal ayat-ayat suci yang diajarkan Kyai Wahab. Suaramu begitu enak kalau mengucapkan “Innamaa amruhuu idzaa arooda sai’an an ya kuululahuu kun fayakuun.”

Setelah segala keperluanku di Jakarta selesai aku menemui Yazid minta pamit dan mengucapkan banyak terima kasih. Namun aku heran ketika Yazid menemui aku dengan sikap dingin, berbeda ketika menyambut kedatanganku beberapa hari lalu.

“Achmad kamu mengecewakan aku.”

“Ada apa, Zid?”

“Kurang apa wanita seperti Laila. Kamu tahu dia bukan wanita sembarangan. Dia mahasiswi sastra Prancis.”

Aku tepuk pundak Yazid. Sahabatku itu menunduk sesaat lalu menatap wajahku.

“Achmad, kita adalah sahabat baik. Sejak kecil kita bersahabat. Aku ingin menyenangkan kamu.”

“Aku tahu itu Zid. Tapi apakah caramu sudah tepat? Rupanya kota besar telah mengubah kamu sampai ke dasar hatimu yang paling dalam.”

“Achmad, kamu suci atau munafik. Atau sebenarnya kamu ingin tetapi kamu tidak berani.”

“Mungkin juga aku munafik. Tapi yang terang aku bukan orang suci.”

“Laila menangis di depanku karena merasa kamu rendahkan.”

Aku tertawa. Yazid menatapku lama sekali.

“Kasihan Laila kalau setiap ada teman yang datang kamu minta untuk menemaninya. Seharusnya kamu bantu dia agar cepat menamatkan kuliahnya.”

Yazid tercenung setelah mendengar kata-kataku. Lalu ia mendekat dan menepuk-nepuk pundakku.

“Kamu benar Achmad. Betapa jahanamnya aku karena memanfaatkan Laila yang butuh uang untuk membiayai kuliahnya. Aku memang jahanam Achmad.”

“Dulu aku kagum kepada kamu begitu cepat menghafalkan ayat-ayat Quran yang diajarkan Kyai Wahab guru ngaji di desa kita. Kamu masih sering menderas Alquran, Zid?”

Yazid menggeleng lemah.

“Yazid, terus terang aku juga seperti kamu. Mengapa kesibukan duniawi membuat kita lupa?”

“Tapi kamu masih lebih baik dariku, Achmad.”

Yazid mengajak aku turun ke lobi. Aku membayangkan diri menjadi kanak-kanak kembali. Ketika aku dan Yazid menyusuri pematang sawah mencari belut di liang-liang berlumpur. Aku terkejut karena di lobi sudah menunggu Laila. Dadaku bergetar ketika ia memandang dan tersenyum kepadaku. Sepertinya aku bertatapan dengan Umi Kalsum ketika ia bilang akan menikah dengan orang lain. Laila oh Laila. Tiba-tiba hatiku menjerit. (*)

 

 

Achmad Munif, cerpenis dan novelis serta mantan jurnalis. Novelnya yang telah terbit antara lain: Perempuan Yogya, Merpati Biru, Sang Penindas, Primadona, Bibir Merah, Lipstick, Kasidah Lereng Bukit, Kasidah Sunyi, Terbanglah Merpati, dan Cinta oh Cinta.

Advertisements