Kisah dan Pedoman


Cerpen Dea Anugrah (Media Indonesia, 15 Mei 2016)

Kisah dan Pedoman ilustrasi Pata Areadi

Kisah dan Pedoman ilustrasi Pata Areadi

IA mendengar kisah itu dari seorang pedagang karpet. Empat belas tahun sebelum ia mengubahnya menjadi pedoman. Si pedagang, dalam perjalanan wisata menuju suatu tempat di Suriah, singgah di dusun tempat dia tinggal untuk membeli kismis dan beristirahat.

Ia sendiri, seorang pemuda malas dari trah terhormat. Pada masa itu dikenal di lingkungannya terutama sebagai inang dua penyakit, yaitu epilepsi dan impian muluk. Yang pertama sesekali membikinnya kejang-kejang dan yang belakangan membuatnya gemar mendekati para pengunjung kedai, khususnya para musafir, untuk berbual-bual dengan mereka. Andaikata pada waktu itu seseorang, atau demi unsur dramatis, si pedagang karpet menyadari kaitan di antara kedua penyakit tersebut, serta bahaya yang terkandung di dalamnya, boleh jadi keonaran yang kelak akan melindas amat banyak kehidupan dan memisahkan anak-anak dari orangtua mereka, dan mengacaukan bisnis di kawasan itu—dan di luar jangkauan mimpi buruk semua orang, menjadi pemantik kerepotan besar yang jauh lebih awet ketimbang usia pemuda itu sendiri—dapat dicegah seluruhnya.

Alih-alih menasihati si pemuda agar bekerja lebih giat dan tidak menyia-nyiakan waktu sekadar untuk berkhayal macam-macam, si pedagang malah menuturkan sebuah cerita. Kau tahu, terlepas dari niat baik para pengarang atau juru dongeng sewaktu mereka berkisah, entah untuk menghibur atau memberi pelajaran moral, bagi telinga yang terhubung ke benak jenis tertentu, cerita dapat terpiuh menjadi gagasan besar. Dan inilah yang dicatat sejarah: dari sepuluh gagasan besar yang terwujud, tujuh bakal membuatmu terkencing-kencing di tempat tidur dalam keadaan terjaga.

Dan beginilah kisah yang dituturkan oleh pedagang karpet itu:

Di suatu dusun di tepi Laut Merah, tinggallah sekelompok keturunan Yakub. Mungkin kepingan kecil murni dari dua belas suku utama atau sedikit campuran keluarga ini dan itu, tak ada yang tahu. Kaum lelakinya bekerja sebagai nelayan dan kaum perempuannya tentu saja menyokong dari garis belakang sebagai penjamin keberadaan nelayan-nelayan baru serta kesinambungan jalan hidup mereka.

Segenap warga memuliakan hari Sabat secara turun-temurun sejak masa yang bahkan tak dapat diingat oleh orang-orang tertua di antara mereka. Atau barangkali mereka sekadar tak punya alasan untuk tidak memuliakan hari Sabat, sebagaimana diperintahkan oleh seorang pemberang yang pernah membanting seekor malaikat dan menyentak sebagian janggut saudaranya demikian keras sehingga janggut tersebut berubah menjadi akar tanaman balsam.

Suatu malam, salah seorang penduduk dusun itu memutuskan untuk buang hajat di pantai dan segera menjadikan kegiatan itu sebagai kebiasaan barunya. Ketika dimintai penjelasan berminggu-minggu kemudian, setelah kegiatan tersebut secara tak terduga menimbulkan perkara gawat, si pelaku hanya menggeleng dan menggeleng, dan tidak mengeluarkan apa pun dari kerongkongannya selain erangan yang terdengar dungu. Sejumlah warga menyatakan bahwa itu adalah takdir para eksentrik, dan sebagian yang lain, setelah merenung-renung dan melakukan penelitian kecil-kecilan, berkata bahwa si pelaku sungkan belaka mengakui bahwa ia menikmati percikan ombak dan sapuan angin laut pada bokongnya. Tetapi yang penting dari kejadian tersebut bukanlah takdir atau bokong siapa-siapa, melainkan sepasang batu putih besar yang secara bergantian dijadikan tempat berjongkok oleh si pelaku dalam melancarkan perbuatannya.

Di antara kedua batu putih itu, ikan-ikan dari berbagai jenis yang seluruhnya dapat dimakan berkumpul dalam jumlah besar. Mula-mula si pembuang hajat mengira mereka datang berbondong-bondong untuk menyantap kirimannya, namun setelah lima atau enam gelondong tenggelam tanpa menarik sedikit pun perhatian para ikan, ia berhenti tertawa dan memadukan penemuan itu dengan pengetahuannya selaku penghuni dusun tersebut sekaligus nelayan yang bertahun-tahun bekerja di bawah siraman sinar matahari: gerombolan ikan hanya datang ke tempat itu sewaktu malam, ketika langit gelap dan semua nelayan tertidur di rumah masing-masing. Pertanyaannya, manakah syarat penentu berkumpulnya ikan-ikan? Kegelapan malam atau ketiadaan para nelayan?

Ketika pertanyaan itu terjawab, dusun kecil di tepi Laut Merah itu terbelah. Kelompok pertama ingin menangkap ikan pada malam hari dan di waktu Sabat, sedangkan kelompok kedua melarang kelompok pertama melancarkan kehendak mereka. Bayangkan keuntungan yang akan kita peroleh, ujar kelompok pertama. Bayangkan azab yang bakal ditumpahkan Tuhan, kata yang lain. Meski tiap-tiap pendapat berkembang dan saling menyesuaikan hingga muncul sejumlah variasi yang lebih lunak seperti ‘mari menangkap ikan di hari Sabtu dan merayakan Sabat, masing-masing dua pekan sekali’ atau ‘mari memuliakan Tuhan pada hari yang ditentukan dan dia akan mengirimkan ikan-ikannya di hari lain’, kedua kelompok akhirnya sepakat untuk tidak sepakat. Mereka membagi dusun tersebut menjadi dua: wilayah orang beriman dan persekutuan kaum kafir atau kampung kaum bebal dan perserikatan cerdik-pandai, tergantung siapa yang menerangkan.

Namun sebenarnya keadaan justru membaik sejak perpecahan tersebut. Tiap-tiap kelompok senang pada pilihan mereka dan dapat menjalaninya tanpa gangguan dari pihak lain. Lewat tiga tahun, meski tidak kembali hidup bersama, warga kedua kawasan itu kembali berhubungan, berdagang, dan sesekali bahkan saling tolong-menolong. Lambat laun mereka pun berhenti menggunakan sebutan yang merendahkan terhadap tempat tinggal satu sama lain. Orang-orang yang memuliakan hari Sabat menyebut dusun tetangga mereka Dusun Utara dan disebut sebagai warga Dusun Selatan oleh para penangkap ikan penuh-waktu. Dusun yang pertama kemudian dikenal karena kesalehan dan kuil mereka yang indah, sedangkan dusun kedua karena rona merah di pipi para penduduknya serta pakaian-pakaian elok yang mereka kenakan. Dalam tahun-tahun yang damai, kedua dusun tersebut berkembang menjadi sepasang desa besar, lalu sepasang kota pelabuhan, dan kemudian sepasang kota pelabuhan yang ramai.

Dari caranya mencantelkan jeda penghabisan, jelaslah bahwa pedagang karpet itu baru akan menggelontorkan mutu manikam kebijaksanaan yang sesungguhnya di atas meja. Si pemuda, sesuai tradisi di kedai minum manapun di seluruh jazirah, menyambut maksud tersebut. Ia berhenti memuntir janggutnya dan melontarkan pertanyaan, “Kota apakah yang engkau ceritakan itu, Tuan Pedagang?”

“Sekitar tujuh abad silam, gempa besar mengguncang tanah dan membuat kedua kota itu meranggas; para penghuninya berguguran dan berpencar ke berbagai penjuru bagaikan daun-daun kering,” ujarnya. “Tapi kita bisa menemukan kedua kota itu di manapun, Anakku. Di sini, dan di sini.” Dia mengucapkan ‘di sini’ yang pertama sambil menunjuk kening, dan yang kedua dengan pengucapan yang lebih lambat, sembari membentangkan kedua tangannya.

Di sini. Itulah dua kata terakhir yang ia dengar dari sang pedagang karpet. Setelah itu, sekonyong-konyong ia terkena serangan epilepsi. Sesaat sebelum menggelepar di lantai kedai dan membuat teman bicaranya mati terkejut, kata-kata tersebut bergaung dalam tempurung kepalanya bagai bunyi tabal raksasa yang ditabuh bertalu-talu dan ia melihat sejumlah gambar dalam urutan sebagai berikut: orang-orang yang bersitegang, jari-jari yang menuding langit, pohon-pohon meranggas, ikan-ikan, dan dusun tempat tinggalnya.

Setelah siuman, ia segera tahu bahwa teman bicaranya telah diangkut oleh sejumlah pengunjung kedai yang tak begitu mabuk untuk dikebumikan bersama sekantung kismis, rencana plesir, serta kemungkinan tafsir lain atas kisah tersebut.

Kelak, tepatnya empat belas tahun kemudian, ia mengubah kisah yang didengarnya dari seorang pedagang karpet menjadi pedoman. Dan pedoman itu, kau tahu, membuat orang-orang mengompol dalam keadaan terjaga. (*)

 

 

Dea Anugrah, menulis puisi dan cerita pendek. Bukunya, Misa Arwah (2015).

 

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com dan cerpenmi@yahoo.co.id

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: