Cerpen Yuditeha (Suara Merdeka, 15 Mei 2016)

Balada Bidadari ilustrasi Suara Merdeka
Balada Bidadari ilustrasi Suara Merdeka

Selesai membayar belanjaan di kasir aku menuju stan es krim. Anakku yang kecil minta dibelikan es krim sebagai upah bersedia kutinggal di rumah, karena aku ingin belanja seperlunya dan cepat kembali. Aku ingin mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kepulangan suami dari luar kota.

Untuk menuju stan es krim harus melintasi ruang kafetaria dan sekilas aku melihat ke arah pengunjungnya. Apakah urusan perut selalu ramai, batinku menyaksikan banyaknya orang yang makan di kafetaria itu.

Tak sengaja pandanganku tertuju pada salah satu perempuan yang sedang menikmati makanannya dan duduk di salah satu bangku di sana. “Michele?” gumamku kaget. Dia teman terdekatku semasa di SMA. Tak butuh pertimbangan sulit, aku langsung menghambur ke arahnya dan duduk di bangku depannya. Kuperhatikan perempuan itu sedikit terkejut dan sepintas melihat ke arahku, tapi sikapnya menunjukkan seperti tak terjadi apa-apa. Dia tetap asyik menikmati makannya.

Melihat sikapnya yang acuh tentu saja aku merasa dongkol. Tak lama berjumpa, begitu ketemu sudah mau ngerjain, batinku.

“Nggaya kamu!” kataku bernada jengkel karena tak tahan dengan sikapnya yang tak acuh.

Dia melihat ke arahku lalu tersenyum. “Mbak bicara dengan saya?” tanyanya kemudian.

Aku heran dengan pertanyaannya, “Maaf, bukankah kamu Michele?” tanyaku balik. Dia mengeleng pelan sembari berkata, bukan.

Begitulah awalnya perkenalanku dengan Nawang tapi justru setelah peristiwa itu kami lantas jadi sahabat karib. Terlebih akhir-akhir ini dia sering meminta kami ketemuan. Nawang sedang bersedih dan sering curhat masalahnya kepadaku.

Dia sering mengeluhkan atas perubahan sikap suaminya. Awal perubahan itu ketika anak mereka yang baru berusia satu tahun meninggal karena sakit. Perubahan sikap suaminya itu semakin hari semakin jelas seiring dengan kondisi Nawang yang tidak segera bisa mengandung lagi. Sekarang suaminya menjadi mudah tersinggung dan akhirnya sering marah-marah. Kata Nawang, hal itu sangat berbeda dengan sikap sebelum menjadi suaminya. Bahkan Nawang mengakui bahwa salah satu alasan dulu dia jatuh cinta padanya karena tahu sikapnya yang lemah lembut.

“Tarub, begitulah nama suamiku, dia seorang seniman patung, tentu saja logis jika aku punya anggapan kalau dia berperasaan halus,” kata Nawang suatu kali. Dan saat itulah aku baru tahu ternyata dia istri seniman patung yang terkenal itu.

Nawang juga menceritakan padaku hal apa yang pertama membuatnya dulu begitu mengagumi Tarub. Menurut Nawang, karena begitu halusnya perasaan Tarub, di setiap pameran karya patungnya, Tarub pasti selalu memberi sebuah penjelasan berupa cerita di setiap karya-karyanya. Salah satu karya patungnya yang membuat Nawang ingin berjumpa dengan Tarub adalah sebuah patung bidadari dan sepasang sayap yang tergeletak di bawahnya.

“Katamu di setiap karyanya selalu ada ceritanya, lalu bagaimana cerita di balik karya patung itu?” tanyaku penasaran waktu itu.

Lalu Nawang menyampaikan apa yang dibaca di penjelasan patung itu. Katanya, di sana diterangkan bahwa dulu ada satu bidadari yang sangat nakal, hidupnya sangat bebas, suka ganti-ganti pasangan sampai pernah hamil dan melakukan aborsi. Ketika ayah bidadari tahu hal itu, sangat marah dan memenggal kedua sayap bidadari itu. Sepasang sayap itu lantas dibuang ke bumi. “Dan karena patung itulah, waktu itu nama Tarub langsung menjadi terkenal,” sambung Nawang.

Oleh karena penjelasan itulah aku lantas ingat, dulu berita itu memang begitu menggemparkan, terlebih untuk kabar selanjutnya yang memberitakan bahwa sepasang sayap dalam patung itu adalah sayap sungguhan. Dalam berita tersebut dijelaskan bahwa sepasang sayap itu didapat Tarub saat dirinya sedang pergi ke sebuah hutan karena ingin menyepi untuk mencari inspirasi. Sepasang sayap itu ditemukan di sebuah jurang yang di dekatnya terdapat sebuah air terjun yang indah. Waktu itu disinyalir sepasang sayap itu adalah sayap burung rajawali putih yang masih hidup di hutan itu.

“Kau tahu, hanya patung bidadari dengan sepasang sayap itulah karyanya yang tidak pernah dijual. Patung dan sayap itu sampai sekarang di simpan di rumah kami, di sebuah kamar tersendiri,” kata Nawang waktu itu.

Nawang juga mengatakan bahwa dulu dia tidak pernah punya perasaan apa-apa dengan patung dan sepasang sayap yang disimpannya di kamar tersendiri itu. Tapi saat Tarub mulai tak lagi peduli dengan dirinya dan Tarub justru suka berlama-lama berada di kamar itu, sejak saat itulah Nawang sangat membenci patung dan sepasang sayap itu. Nawang merasa Tarub lebih memilih memberi perhatian kepada patung dan sepasang sayap itu daripada dirinya hingga dia sering bersedih. Mungkin karena hal itulah secara tak sengaja terkadang aku mendapati Nawang menangis sendirian di kamarnya saat aku mampir ke rumahnya.

Aku memang sering pergi ke rumahnya, terlebih saat Nawang meneleponku dan mengabari bahwa dia ingin curhat. Aku tidak tega jika mau mengabaikannya. Seperti halnya kali ini, baru saja dia meneleponku ingin bertemu denganku, dan aku berjanji datang untuk menemuinya.

Sebenarnya di hatiku ada perasaan tidak enak ketika setiap pergi ke rumahnya, bertemu dengan Tarub yang biasanya sedang duduk sendiri di teras rumah. Aku merasa telah ikut campur dalam permasalahan rumah tangganya. Tapi jika mengingat keluhan-keluhan Nawang yang sering membuatnya selalu bersedih dan menangis, perasaan itu jadi terlupakan. Aku ingin jadi sahabat yang baik, memberi pertolongan sebisaku.

Pada saat aku memasuki halaman rumahnya, kulihat Tarub sudah berada di teras. Dia duduk berselonjor dengan kepala bersandar pada kursi malas. Dia tidak tertidur karena kulihat matanya tidak terpejam. Sorot matanya seperti kosong menerawang ke arah atap teras, seakan-akan sinar matanya dapat menembus atas teras dan melihat langit putih di baliknya. Entah apa yang dia pikirkan. Tapi, pernahkah dia juga memikirkan lagi tentang cerita sayap bidadari yang telah dia ciptakan itu? Tarub sedikit terkejut ketika aku permisi padanya hendak masuk rumah menemui Nawang di kamarnya. Pada saat itu rasanya dadaku sedikit sesak dan pikiranku tak karuan.

Waktu aku membuka pintu kamarnya, kudapati dia sedang menangis sesenggukan. Matanya masih basah dan bengkak, rasa-rasanya seperti habis tak henti menangis seharian.

“Ada apa, Na?” tanyaku pelan.

“Aku emosi saat melihat Tarub tidak berkarya tapi justru hanya asyik dengan patung bidadari sialan itu,” katanya Nawang meledak-ledak.

“Sabar, Na.”

“Aku sudah tak tahan. Tadi kami bertengkar hebat dan dia jadi kalap.”

“Kau dipukulnya?”

“Entahlah, dia masih menjaga untuk tidak menyakitiku, tapi…”

“Tapi apa, Na?”

“Patung sepasang itulah yang menjadi sasaran.”

“Kenapa dengan patung itu, Na?”

“Dengan membabi buta dia menghancurkan patung itu dan sepasang sayap itu juga dirusak. Bulu-bulunya dicabuti. Semua porak poranda,” jelas Nawang dengan suara yang bergetar.

Setelah berkata begitu tiba-tiba hening menyergap. Suasana kamar itu kurasakan menjadi aneh. Dan belum begitu yakin dengan apa yang kurasakan tiba-tiba Nawang menatapku dengan mata yang membulat dan lambat laun matanya jadi memerah.

“Aku bosan hidup! Aku ingin mati! Dan aku ingin sendiri,” kata-kata Nawang dengan suara yang berbeda. Jadi terdengar lebih kasar. Dan aku mulai dihinggapi rasa takut.

“Kau tak perlu melakukan itu, Na.” Kuberani-beranikan berbicara.

“Aku ingin sendiri,” kata Nawang dengan suara pelan namun terasa seperti hendak menikam. Lalu aku tahu diri dan beranjak pergi meninggalkannya. Pada saat itu aku berdoa semoga dia akan baik-baik saja. Kukira dia hanya tertekan dan butuh ketenangan.

Saat aku keluar dari rumahnya, tak kudapati Tarub di teras. Aku memutuskan berlalu tanpa pamit dirinya. Di tengah perjalanan pulang, aku melihat ada seorang wanita yang mirip Nawang sedang berjalan sendiri menyusuri trotoar. Aku menyuruh sopirku untuk memelankan jalannya mobil sembari aku terus mengamati wanita itu. Kulihat dia tersenyum ke arahku. Senyum itu sangat mirip dengan senyum Nawang hingga aku semakin tak bisa membedakan antara wajah Nawang dengan wajah wanita itu. Tapi mana mungkin itu Nawang? Tak mungkin secepat itu dia sampai di sini, batinku.

Sejenak aku menoleh ke arah sopirku dan menyuruhnya menghentikan mobil. Pada saat itu aku teringat Michele temanku. Dan waktu aku melihat kembali ke arah wanita itu, dia sudah tidak tampak di sana. (92)

 

 

Yuditeha, aktif di Komunitas Sastra Alit Surakarta. Hujan Menembus Kaca (2011) adalah buku puisinya dan Komodo Inside (2014) adalah novel pertamanya.

Advertisements