Salam Perkenalan Spesial


Cerpen Joss Wibisono (Koran Tempo, 14-15 Mei 2016)

Salam Perkenalan Spesial ilustrasi Munzir Fadly

Salam Perkenalan Spesial ilustrasi Munzir Fadly

“MATAHARI mencurahkan sinar di atas Amsterdam yang murung. Musim semi tiba, tapi kota kelahiranku ini sepertinya lebih suka terus terlelap dalam winter slaap. Sebenarnya bukan melulu ibu kota, seantero Belanda juga tetular enggan menyambut musim semi 1941 ini. Dan, bukan hanya orang Belanda, para pendatang pun kejangkitan malas yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Tidak terkecuali para studenten Indonesia yang menuntut ilmu di negeri penjajah ini.”

Begitu alinea pertama sepucuk suratku kepada seseorang di Friesland, Belanda utara.

Tapi harus kuakui perkecualian selalu ada. Dan memang aku ingin berkisah tentang dua orang yang diganjar suka dan syukur menyambut musim semi ini. Berlainan dengan sebagian besar warga Amsterdam, Djojo dan Irwan menerima musim semi dengan tangan terbuka. Hanya itu saja persamaan keduanya. Selebihnya mereka bak siang dan malam. Kalau Djojo masih bisa bergerak bebas di luar, maka Irwan harus terus mengurung diri di dalam, membuatnya tak mungkin bisa menyambut musim semi.

Djojo mendalami ekonomi di Rotterdam, sedangkan Irwan belajar hukum di Leiden. Terus terang aku lebih kenal Irwan ketimbang Djojo. Seperti Irwan aku juga mendalami hukum di Leiden. Kami berkenalan dan langsung akrab sejak musim rontok 1938. Irwan yang bagiku lebih dari cerdas ternyata melibatkanku ke dalam seluk-beluk urusan teman-temannya, tatkala, pada musim panas 1939, ia terpilih sebagai pemimpin mereka. Ketika pada musim rontok 1940 Universitas Leiden ditutup karena tidak mengindahkan kehendak penguasa baru Belanda, kami pindah ke Amsterdam. Di sana Irwan didaulat menggantikan pemimpin terdahulu yang raib entah ke mana. Tapi menjelang tahun baru 1941 dia harus mundur dari kehidupan umum untuk bersembunyi. Keadaan menjadi terlalu gawat baginya. Juga bagi Setiadji, sang sekretaris.

Ternyata Irwan tetap mempercayaiku untuk menjadi penghubungnya dengan dunia luar. Demi keselamatannya, hanya aku yang boleh tahu persembunyiannya, tentu saja bersama tuan rumahnya. Harap jangan salah duga, aku bukan orang Indonesia. Karena itu, sekarang aku merasa terjepit di antara Irwan dan Djojo. Menurutku, Djojo ingin berdekat-dekat dengan Nazi yang sejak awal Mei 1940 menyerobot negeri penjajah ini. Bagaimana harus menyampaikan kecurigaan ini pada Irwan?

 

PAGI itu aku berpapasan dengan Djojo di Euterpestraat 99, markas besar Sicherheitsdienst (SD), dinas rahasia moffen keparat. Ketika mata kami bertatapan, dia tampak sedikit kaget. Tangannya yang melambai terhambat keraguan segera kubalas dengan lambaian penuh semangat dan senyuman lebar. Dia sendirian. Ketika pekan sebelumnya kami berpapasan di tempat yang sama, Djojo kulihat sedang bertegur sapa dengan seseorang yang dari seragamnya, seragam SD, pasti berkantor di bekas sekolah lanjutan putri yang telah dirampas oleh dinas telik sandi pasukan pendudukan itu. Djojo berbicara dalam bahasa Jerman, tapi dari seberang jalan tak kutangkap isi pembicaraan mereka. Sore harinya ketika kami ketemu dia langsung mengaku pagi itu cuma berbasa-basi dengan lawan bicaranya.

Aku yakin dia kaget karena tak mengira bakal kembali berpapasan denganku persis di depan markas intel yang menghilangkan dua pemimpin studenten Indonesia itu. Betapa diriku merasa seperti seorang pemancing yang kailnya terpagut ikan. Maklum aku sengaja lewat Euterpestraat hanya karena begitu ingin kembali memergokinya di depan markas terkutuk itu. Meninggalkan rumah Euterpestraat 267 aku hampir tak pernah belok kanan menelusuri jalan itu, siapa saja pasti menghindari apa pun yang bisa mendatangkan celaka. Biasanya aku lurus masuk Leonardostraat dan terus ke tujuan-tujuan di tengah kota. Nekat menantang bencana, pagi itu kuberanikan diri belok kanan, meluncur sepanjang jalan yang menyandang nama dewi musik Yunani purba ini. Begitu berpapasan dengannya sepeda kukayuh ke perempatan Euterpestraat-Beethovenstraat, lalu belok kiri melaju di sepanjang jalan yang menyandang nama komponis Jerman ini untuk meninggalkan bilangan selatan menuju Amsterdam centrum.

Di luar dugaan, perjalanan berlangsung lancar. Semula kukira jalan-jalan masih tutup, akibat pemogokan Februari pekan silam. Ketika aksi itu berlangsung, para moffen tidak bertindak, dan pemogokan umum itu mereka biarkan saja. Baru keesokan harinya mereka turun tangan. Tersiar kabar burung beberapa orang ditembak mati dan walikota Willem de Vlugt dicopot. Yang kulihat ternyata hanya jalan-jalan yang ditutup, dan tentara pendudukan angkuh bersenjata menguasai jalanan. Itulah yang kuperhitungkan, karena itu aku berangkat pagian, kalau-kalau harus berputar-putar sebelum tiba di tujuan. Syukurlah semua lancar. Baru saja sepeda kuikatkan pada pagar di pinggir kanal, kudengar namaku dipanggil. Suara yang sangat kukenal, walaupun tidak begitu kuharapkan. Rupanya Evy sudah duluan sampai.

“Bagaimana Menco? Apakah mesin stensil bisa dipakai?” Gadis Manado ini bergegas mendekatiku seraya melontarkan rasa ingin tahu yang besar.

“Perlu sedikit reparasi, juga mesti dipasang tinta baru,” jawabku sambil mengisyaratkan supaya dia tidak terlalu bersemangat.

“Sudah ada pesanan stensil dua berkala,” suara Evy terdengar lebih tenang, seakan berbisik.

“Menurutku kita mesti ketat memilih pemesan stensilan,” jawabku. Lalu kukatakan sesuatu yang sudah begitu mendesak sejak berpapasan dengan Djojo tadi, “Selain itu kita juga harus pilih-pilih siapa yang boleh tahu keberadaan mesin stensil itu. Tidak semua orang perlu tahu. Moga-moga kau setuju,” kataku sedikit mendesaknya.

Sambil mengangguk-angguk disebutnya nama itu, “Maksudmu Djojo, kan?” Evy sudah kuberi tahu papasan pertama dan kecurigaanku terhadap Djojo.

Aku mengiyakan sambil kuceritakan papasan kedua, lalu kutanya apakah dia punya calon lain. Tapi Evy tak sempat menjawab, karena kami sudah masuk ruangan untuk mendengarkan kolese profesor Wertheimer, dosen falsafah hukum.

Pembicaraan berlanjut pada jam makan siang, dan sudah ditambah dua orang lagi. Di kantin itu kami berempat bersepakat untuk tidak memberitahu Djojo, Oey Hok Liong dan Santi bahwa di Euterpestraat 267 telah datang mesin stensil dari Leiden. Kami tidak begitu sreg, bukan saja lantaran gerak-gerik, tapi juga karena ucapan dan pemikiran mereka sedikit banyak bersimpati pada Nazi. Demi Irwan dan Setiadji yang terpaksa bersembunyi serta dua pendahulu mereka yang belum juga kembali, kami putuskan langkah-langkah ini.

Semula dengan mesin stensil itu kami hanya ingin mencetak Madjallah, berkala studenten Indonesia di Belanda. Tapi ternyata sudah ada beberapa berkala lain yang minta distensilkan. Bagaimana harus memenuhi permintaan ini?

“Yang penting tidak anti-Indonesia,” Tan Tjhing Ping segera mencanangkan kriterium tegas. Sebagai orang yang rajin ke gereja, ia harus mati-matian mempertahankan diri dari kecaman para tokoh protestan Belanda yang tidak setuju Indonesia merdeka.

“Ini De Waarheid dan Vrij Nederland,” kata Evy yang beberapa hari sebelumnya hadir pada pertemuan kalangan verzet yaitu organisasi bawah tanah Belanda yang melawan Nazi. “Yang pertama sudah dilarang Nazi, karena punya CPN; yang kedua baru akan terbit, punya kalangan progresiflah,” lanjut Evy.

“Kalau mereka aku tak keberatan,” Tjhing Ping langsung menimpali. “Mereka bukan gereja, De Waarheid kan selalu mendukung Indonesia merdeka.”

“Kita ini mesti hati-hati sekali,” Sonnie menimpali. “Upaya susah payah Menco mendatangkan mesin stensil dari Leiden, jangan sampai bocor. Kalau sampai ketahuan para moffen, sangat tak terbayangkan akibatnya.” Walau menghargai upayaku mendapatkan mesin stensil, kami paham sekali kekhawatiran Sonnie. Maklum mesin stensil itu kini berada di rumahnya, Euterpestraat 267. Usulnya supaya mesin stensil itu sering pindah ke tempat lain langsung kami sepakati.

“Ya, seperti Irwan dan Setiadji, mesin stensil itu sebaiknya pindah-pindah juga,” kata Evy sambil menyebut dua nama ketua dan sekretaris Verbond van Studenrende Indonesiërs in Nederland (VSIN), ikatan orang-orang Indonesia yang studi di Nederland. Kami mendesak keduanya untuk bersembunyi ketika para intel SD sampai dua kali mendatangi sekretariat VSIN di Willemparkweg, Amsterdam selatan. Jangan-jangan Irwan dan Setiadji akan senasib dengan Parlindoengan dan Hartawan, pengurus VSIN sebelum mereka yang sekarang tak ketahuan lagi rimbanya. Berpindah-pindah akan memperkecil kemungkinan terpergok moffen.

Pertemuan sore itu diakhiri dengan satu kesepakatan lagi: bagi dunia luar kami harus tampil tidak seakrab sekarang. Tentu saja untuk menghindari kesan bahwa kami punya urusan yang lebih besar lagi. Kulihat Evy tidak terlalu senang, sebaliknya ini kurasa sebagai pembebasan. Akhirnya ada alasan untuk menjauh dari perempuan yang belakangan selalu ingin dekat-dekat padaku. Aku lebih bisa berkonsentrasi pada tugas menyampaikan pelbagai keputusan ini kepada Irwan dan Setiadji di persembunyian mereka masing-masing.

Harus kuakui sebelum mesin stensil datang, beberapa orang masih mempertanyakan kedekatanku pada Irwan. Bisa dimaklumi, lantaran itu tadi, aku bukan orang Indonesia, paling sedikit tak sepenuhnya berdarah Jawa, seperti ayah. Ibuku asli Amsterdam, karena itu kulitku juga bukan sawo matang. Tapi keraguan ini tak berbekas ketika mesin stensil tiba di rumah Sonnie. Memperolehnya bukan masalah, karena tinggal ambil dari fakultas yang tutup. Memindahkannya ke Amsterdam merupakan perjuangan tersendiri. Untung aku tidak sendirian. Banyak kalangan mengulurkan bantuan, secara estafet mesin stensil itu sampai di tempat tujuan.

 

TIGA hari kemudian aku bertemu Irwan. Pagi-pagi kuketok pintu di Minervalaan, tempatnya bersembunyi. Ketokan itu berirama tertentu dan tatkala kudengar kata siapa, harus kujawab dengan kode tertentu pula. Baru pintu dibuka, bukan oleh Irwan, melainkan oleh Lidwien, si tuan rumah. Dari waktu ke waktu aku menemuinya untuk menyampaikan surat atau pesan, kadang-kadang makanan. Kemudian pesan atau suratnya juga kuantar ke tujuan.

“Aku dengar kehidupan makin sulit. Bukan cuma soal pangan tapi terutama soal keselamatan,” baru beberapa kata sudah terdengar kharisma pada ucapan Irwan, aku kesulitan menyingkirkan rasa kagum. “Kudengar kini preman-preman pendukung Nazi dan NSB cari sasaran baru, setelah merasa berhasil mendirikan ghetto di Joden Buurt.” Ya ampun! Aku tak percaya pada telingaku sendiri. Di jalan tadi baru kuputuskan untuk tidak mengangkat soal kalangan yang menyebut diri WA ini sampai ada peristiwa nyata yang kulihat sendiri. Tapi Irwan ternyata sudah tahu. Harus omong apa?

“Benar, hari-hari ini kalangan baju hitam itu sudah unjuk gigi di selatan sini. Kenapa ya? Di sini kan praktis tak ada orang Yahudi?” Kalau ada kesan ingin mendebat, maka itu pasti kesalahanku menyusun kalimat.

“Bukan itu yang mereka cari,” ujar Irwan lengkap dengan wibawa yang membuat orang segan menyelanya. “Mereka ingin menyebar ketakutan dengan mengumbar kekerasan. Pasti sasaran mereka toko, kafe atau restauran yang tidak memasang peringatan ‘Yahudi dilarang masuk’.” Semakin terlihat betapa tajam Irwan. Semakin sulit membendung kekagumanku padanya.

“Hanya itukah?” Sekali lagi kuhimpun keberanian untuk bertanya.

“Tentu saja tidak. Yang jelas kita harus siap mengadapi mereka. Apa langkah kita, apa yang harus kita lakukan?” Kejituannya memang tidak terbantahkan.

“Ah ya, orang Indonesia tidak berambut pirang atau bermata biru, kulit juga sawo matang,” aku mulai sadar. “Jangan-jangan kalian sasaran berikutnya?”

“Itulah. Bagaimana? Ada usul?” Irwan makin mendesak. Setelah beberapa saat aku diam kehabisan gagasan, dia kembali angkat bicara. “Bagaimama kalau kita bergabung dalam verzet. Bagiku ini satu-satunya pilihan yang tersisa. Paling sedikit kita akan memperoleh perlindungan dari preman-preman ini.”

Aku hanya bisa berharap kejituan Irwan akan diganjar kesepakatan oleh para anggota VSIN. Ia meraih secarik kertas untuk menulis usulnya yang akan dibacakan Evy di depan pertemuan VSIN.

Kusampaikan juga pesan Sonnie bahwa Oey Hok Liong menolak menyebarkan Madjallah, berkala yang kini distensil di rumahnya. Pemuatan berita tentang pemogokan umum bulan lalu dianggapnya terlalu berbahaya dan tidak sesuai dengan kepentingan studenten Indonesia. Sonnie sempat bertanya apa sebenarnya kepentingan studenten Indonesia di Belanda? “Indonesia merdeka,” tegas Oey Hok Liong.

Penolakan Hok Liong yang dekat dengan Djojo itu mendorongku untuk menyampaikan dua kali papasanku dengan Djojo di depan markas dinas intel Sicherheitsdienst. Irwan bertanya mengapa Djojo di Amsterdam, sudah pindah? Padahal, berlainan dengan Universitas Leiden yang ditutup oleh Nazi, sekolah tinggi ekonomi di Rotterdam tetap buka, walaupun kotanya luluh lantak akibat serbuan 10 Mei 1940. Kenapa Djojo tidak kembali ke Rotterdam?

Banyak pertanyaan tentang Djojo dan kelompoknya yang tak terjawab pada pertemuan pagi itu. Kecurigaanku padanya makin membesar. Bagaimana dia dan kelompoknya akan menanggapi usul berpihak pada kalangan verzet?

Maak je borst maar nat,” begitu kukatakan pada Evy.

Pada suatu siang kami berkumpul di Willemsparkweg 167, tempat mangkal orang-orang Indonesia yang menuntut ilmu di Amsterdam. Di hadapan sekitar 25 orang, Evy membacakan surat Irwan, dia juga membawa surat Setiadji yang menyatakan setuju usul Irwan.

“Oleh karena itu saya mengusulkan untuk bergabung dengan kalangan verzet,” Evy hampir selesai dengan pesan Irwan. “Itu berarti kita harus menghentikan dulu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kelak pasti akan tiba saatnya kita kembali berjuang lagi. Saya harap kita bisa bersepakat soal ini, demi keselamatan kita semua,” Evy mengakhiri pembacaannya.

“Tidak setuju. Kita harus tetap memperjuangkan Indonesia merdeka!” Djojo berdiri setengah berteriak, seolah marah, entah kepada siapa. “Itu alasan eksistensial kita. Lagi pula Nazi tidak memusuhi kita orang Indonesia, mereka hanya memusuhi Belanda!” Nada marahnya tak juga lenyap.

Evy yang sudah kembali duduk, menjawabnya dengan tenang. “Kau dengar kata-katamu sendiri Djojo? Kalau memang Nazi bukan musuh kita mengapa Irwan dan Setiadji harus bersembunyi? Mengapa pula dua pendahulu mereka tak kembali?”

“Itu gampang Evy,” Djojo memperdengarkan nada mengejek dan merendahkan. “Mereka terlalu dekat dengan kalangan komunis,” langsung terlihat wajah aslinya.

“Aku tahu kau antikomunis, Djojo, tapi di zaman sulit ini apa perlunya membawa-bawa ideologi?” Tan Tjhing Ping mengucapkan kekagetan kami dalam rumusan yang kena. “Bukankah ini urusan kemanusiaan, paling sedikit soal keselamatan kita?”

Djojo tampak sadar akan duri-duri tajam Tan Tjhing Ping yang enggan memberi kesempatan lawan bicaranya, “Bisa saja kita tidak dimusuhi Nazi, tapi bagaimana dengan preman-preman WA? Kau yakin mereka membiarkan kita yang non-Arya ini?”

“Kita memang bukan Arya, tapi kita juga bukan Yahudi,” Djojo seolah memperoleh kekuatan untuk bangkit dan bersikukuh. “Orang Asia tidak bermusuhan dengan Nazi, lihat saja Jepang, mereka malah sekutu Jerman!” Di balik tepuk dada ini Djojo jelas tidak menjawab pertanyaan Tjhing Ping. Ia malah tampil seolah-olah paham situasi politik internasional, padahal jelas dia telah membelokkan pembicaraan menjadi Jepang sekutu Nazi. Bukan itu kekhawatiran Tjhing Ping yang menduga bisa-bisa kalangan baju hitam punya mau sendiri dan tidak selalu menuruti kehendak Nazi. Sebagai preman mereka jelas lebih menguasai jalan-jalan Amsterdam. Tentu saja aku diam. Selain enggan buka mulut, demi Irwan dan Setiadji sebaiknya memang aku tidak tampil. Dan Djojo makin menjadi-jadi.

“Dengan Belanda yang sekarang diduduki Nazi, maka sebenarnya kemerdekaan Indonesia sudah makin dekat. Nazi tak perduli jajahan Belanda. Jangan biarkan kesempatan emas ini berlalu!” Makin kelihatan Djojo merasa pendapatnya tak terbantahkan lagi.

Tentu saja keberatan juga datang dari para sekutu Djojo. Oey Hok Liong mengulang keberatannya menyebarkan Madjallah. Untuk masa depan ia ingin supaya tulisan-tulisan yang dimuat di dalamnya hanya berkonsentrasi pada Indonesia merdeka dan bukan hal-hal yang sudah dilarang Nazi.

Tak pelak lagi pembicaraan siang itu berlangsung alot, tanpa kata putus. Kami sepakat bertemu beberapa minggu mendatang.

 

SORE hari yang cerah, tapi aku bergegas masuk pemondokan. Kaum baju hitam yang terus unjuk gigi bikin ribut di dekat kediamanku, sepertinya mereka tengah memaksa seorang pemilik kafe untuk memasang peringatan “Yahudi dilarang masuk”. Tapi aku enggan cari tahu, maklum alam memanggil, aku mesti ke kamar kecil. Keluar dari kamar kecil, terdengar ketokan yang cukup keras pada pintu kamarku. Ketokan tak teratur, jelas bukan kode tertentu. Tak kudengar pula kata sandi yang selalu kami gunakan bilamana saling berkunjung. Lalu namaku dipanggil. Memang si pemanggil tidak berteriak-teriak seperti kelakuan para preman cecunguk Nazi, tapi suaranya cukup keras dan ketukan berikutnya makin mendesak, sepertinya ada sesuatu yang gawat.

Tunggu: rasanya kukenal suara itu. Astaga! Benarkah itu dia? Jangan-jangan ini Nazi atau, lebih gawat lagi, Sicherheitsdienst, jaringan intel fasis.

Wie is daar?” Begitu kusampaikan keinginan tahuku kepada si pengetuk, sambil kuupayakan suara setenang mungkin. Mendengar jawaban yang melirih, pintu segera kubuka. Maka tampaklah dia yang bagiku tak jelas pejuang kemerdekaan atau pembela fasisme dalam keadaan yang hampir tak kukenali lagi. Wajah bengap, mata bengkak, hidung dan mulut bocor, tubuh terhuyung-huyung nyaris roboh. Dalam kaget hampir kuteriakkan namanya. Untung aku segera sadar pentingnya berhati-hati.

Djojo kupapah masuk. Anehnya dia masih berkali-kali bertanya mengapa preman-preman itu menyerangnya. Bukankah dia tidak pernah memusuhi mereka, seperti dia juga tidak memusuhi Nazi? Kenapa dirinya jadi sasaran? Tak terbit setetespun selera padaku untuk menjawabnya.

Kepada seseorang di Friesland kutulis, “Itulah salam perkenalan fasisme, spesial untuknya.” (*)

 

 

kepada Martin Aleida

Amsterdam-Yangon,

Maret 2016

 

Catatan

Winterslaap, tidur selama musim dingin, hibernasi.

Studenten, mahasiswa dalam bentuk jamak.

Moffen, makian kasar orang Belanda terhadap Nazi Jerman.

Februaristaking (pemogokan Februari) berlangsung pada 25 Februari 1941.

CPN, Communistische Partij Nederland.

NSB, Nationaal Socialistische Beweging, partai fasis Belanda.

Joden Buurt (berarti bilangan Yahudi), sebuah tempat di Amsterdam pusat.

WA, Weerbaarheid Afdeeling, seksi pertahanan partai NSB.

Verzet, himpunan organisasi bawah tanah Belanda yang melawan pendudukan Nazi.

Maak je borst maar nat, harfiah: basahi dadamu; maknanya, persiapkanlah dirimu baik-baik.

Wie is daar, itu siapa.

 

 

Joss Wibisono tinggal di Nederland. Bukunya, Saling Silang Indonesia Eropa (nonfiksi, 2012).

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: