Archive for May, 2016

Bandit dalam Kepentingan Cerita
May 29, 2016


Cerpen Eko Triono (Media Indonesia, 29 Mei 2016)

Bandit dalam Kepentingan Cerita ilustrasi Pata Areadi

Bandit dalam Kepentingan Cerita ilustrasi Pata Areadi

KEJADIAN ini melibatkan Karta Biter dan rangkaian muslihat bandit narkoba, tepatnya di kawasan LP Pulau Nusakambangan, Cilacap, pada akhir Januari 2012.

Itu ialah masa di mana kabar hukuman mati atas Michael JC diproduksi dan diberitakan berulang-ulang ke segenap penjuru. Kabar itu berakhir dengan catatan Michael JC benar-benar sudah mampus; dibungkus peti, dikuburkan di area khusus, setelah dipenuhi permintaan terakhirnya.

Permintaan itu disiarkan luas oleh televisi yang haus liputan langsung, meski hasilnya hanya variasi narasi atas sepotong foto colongan. Sisanya, duga-analisis. Michael JC ingin bertemu dengan keluarganya, asal Australia. (more…)

Syekh Siti dan Gereja Blenduk
May 29, 2016


Cerpen Dadang Ari Murtono (Suara Merdeka, 29 Mei 2016)

Syekh Siti dan Gereja Blenduk ilustrasi Hery Purnomo

Namanya Syekh Siti dan sekali waktu dalam hidupku, aku yakin bahwa ia datang dari masa depan. Ia berkata bahwa ia berasal dari seekor cacing dan aku menjawab bahwa leluhurku diciptakan dari seonggok lempung.

“Apakah cacing bisa hidup dalam lempung?”

“Tentu saja. Cacing bahagia hidup dalam lempung,” tukasnya.

Aku berpikir ia seorang pembual. Ia bercerita bahwa ia tinggal Kauman, dan ia lahir jauh sebelum Ki Pandan Arang mendapat pencerahan serta membangun sebuah masjid di sana. “Aku menghormatinya sekali pun beliau jauh lebih muda daripada aku,” ujarnya. “Aku berumur panjang dan hanya orang tolol yang bahagia berumur panjang,” lanjutnya. (more…)

Saudara-Saudara Sejalan Poros
May 29, 2016


Cerpen Muliadi Gf (Jawa Pos, 29 Mei 2016)

Saudara-Saudara Sejalan Poros ilustrasi Bagus

Saudara-Saudara Sejalan Poros ilustrasi Bagus

SEPERTI dari tepukan tangan pesulap, motor itu  tiba-tiba muncul di samping Leman. Ia, yang selalu percaya sampai kapanpun akan tetap muda meski sekarang usianya menginjak 50 tahun, memang mengayuh sepeda kencang-kencang dari utara. Tapi ketika mendekati bukaan jalan—yang memotong satu jalur berlawanan arah—ke jalan simpang menuju dusun pesisir, ia sebenarnya telah memelankan sedikit laju sepeda. Makanya, ia sangat terkejut ketika berbelok di bukaan itu muncul sebuah motor mengerem mendadak mencoba menghindarinya.

Leman menginjak ban belakang dengan sandal jepitnya, tapi terlambat; motor itu mencoba menepi tapi terlambat juga—semua serba terlambat. Sial bagi keduanya. Si pengendara motor jatuh dengan motor menindih pahanya. Sedangkan Leman terlempar ke selokan. Saat bangkit, dilihatnya sepedanya telah mencong ke kanan. Menaikinya bisa membuat orang-orang curiga ketiak kiri Leman bisulan karena si sepeda pasti bersikeras belok sendiri ke kanan. (more…)

Sepetak Mawar Kuning di Halaman Belakang
May 29, 2016


Cerpen Dewi Ria Utari (Kompas, 29 Mei 2016)

Sepetak Mawar Kuning di Halaman Belakang ilustrasi Almira Ginting

Sepetak Mawar Kuning di Halaman Belakang ilustrasi Almira Ginting

Serupa mimpi, kenangan itu seperti tak nyata dalam ingatannya. Bahkan seringkali ia ragu apakah pernah mengalami kenangan itu atau itu sekadar halusinasi. Samar-samar ia mengingat aroma sore itu. Bau rumput basah yang muncul karena ia baru saja menyiraminya dengan ngawur. Lebih tepatnya, bau basah ini diciptakannya sendiri karena ia bermain-main air dengan selang yang menjulur panjang dari keran yang dipasang di bawah pohon sawo kecik.

Dengan bersemangat, ia memutar keran hingga putarannya terhenti dan dengan segera air mengucur deras dari saluran itu. Setengah berlari, ia memegang bagian ujung selang, berlari ke sana kemari, menyiramkan air yang mengucur itu ke rerumputan, semak-semak dan perdu krokot, sirih, srigading, geranium, dahlia, petunia, dan mawar kuning yang menjadi favorit ibunya yang sore itu duduk menyelonjorkan kaki di kursi pantai lipat yang dibentangkan di antara semak mawar kuning dan pohon cemara Norfolk. (more…)

Masalah
May 28, 2016


Cerpen Mona Sylviana (Koran Tempo, 28-29 Mei 2016)

Masalah ilustrasi Munzir Fadly

Masalah ilustrasi Munzir Fadly

MULANYA cerita ini menggunakan orang pertama sebagai narator. Memasuki minggu ketiga, ketika hampir setiap malam saya coba menyelesaikannya, cerita ini tidak juga rampung. Paragraf pembuka, yang konon bisa menjamin setengah keberhasilan sebuah cerita, telah bolak-balik saya sunting. Tidak soal kalau kelak cerita ini melekat di ingatan banyak orang lebih lama dari masa pembuatannya, tapi saya ragu bahwa dia serupa sebuah cerpen Chekov atau sebuah novel Kawabata.

Ini malam penghabisan. Saya akan pasrahkan ia pindah ke folder “selanjutnya” bersama puluhan cerita lain kalau saya tidak bisa beranjak dari paragraf pembuka.

 

And every day I’m getting older

And the world slips further away (more…)

Pengakuan Luisa tentang Seorang Pengarang yang Memaksanya Bunuh Diri
May 22, 2016


Cerpen Yetti A. KA (Jawa Pos, 22 Mei 2016)

Pengakuan Luisa tentang Seorang Pengarang yang Memaksanya Bunuh Diri ilustrasi Bagus

Pengakuan Luisa tentang Seorang Pengarang yang Memaksanya Bunuh Diri ilustrasi Bagus

AKU tokoh utama dalam cerita Tentang Luisa yang ditulisnya empat tahun lalu. Sebelum ia menulis cerita itu—mari abaikan fakta soal hujan yang sudah berhari-hari turun lebat disertai petir menyambar-nyambar pada bulan Januari dan menyebabkan sejumlah pohon terbakar, tabrakan beruntun di salah satu ruas jalan raya, air selokan yang hitam meluap ke jalan, dan televisi yang tidak henti mengulang-ulang gambar rentetan bencana itu—aku tahu ia sedang patah hati atas cintanya yang dalam terhadap Tuan H (Ia memaki: Sialan, aku terlalu mencintaimu, Bajingan.).

Berjam-jam ia duduk gelisah di tepi tempat tidur, tanpa ingin memikirkan apa-apa, tanpa mau melakukan apa pun, tanpa keinginan untuk peduli atas apa yang sedang terjadi di luar dirinya. Segelas susu yang dibuatnya dua jam sebelumnya, tidak disentuh sama sekali. Lambungnya tidak mau menerima semua jenis makanan sejak hari ia merasakan sakit yang teramat menusuk di sekitar dada. Asam lambung yang dipicu stres, kata seorang dokter yang sudah seperti temannya sendiri hingga ia bisa bebas bertanya lewat pesan atau sambungan telepon dan tentu ia dianjurkan untuk segera cek kesehatan, serta mendapat nasihat agar memperbaiki pola hidup dan lebih banyak bergembira. (more…)