Pendaki Bukit Nyanyian


Cerpen Karisma Fahmi Y. (Koran Tempo, 30 April-01 Mei 2016)

Pendaki Bukit Nyanyian ilustrasi Munzir Fadly

Pendaki Bukit Nyanyian ilustrasi Munzir Fadly

LAGU itu kembali terdengar. Kami berpandangan, lalu diam seribu kata. Itu bukan suara angin, bukan pula derap gema yang melintasi tebing. Dia ada di antara kami untuk saling menguji. Itulah mengapa bukit ini disebut Bukit Nyanyian. Karena ia tegak berdiri dan selalu bernyanyi. Selalu terdengar seseorang menyanyi di bukit kecil ini. Bernyanyi kecil, seolah lagu untuk diri sendiri.

Lagu itu terdengar timbul tenggelam. Kami terus melanjutkan perjalanan dalam diam. Debu, batu, dan nyali mulai runtuh satu persatu di tengah terjal dan curam tanah pegunungan ini, pegunungan yang telah puluhan kali kutaklukkan tapi belum juga menjawab berbagai pertanyaanku. Pertanyaan yang selalu menyelimuti diriku tentang lagu yang dinyanyikan itu.

Kami berjalan berbaris menyusuri puncak. Seseorang di depan berteriak, menyebutkan angka-angka berurutan yang telah kami sepakati. Suara kami menjadi gema yang berulang, memantul di sekeliling tebing yang menjulang. Suara itu terdengar semakin jelas, mirip sebuah syair sepi. Suara itu sekilas hilang, lalu kembali terdengar. Tak ada yang bisa kami jelaskan apakah itu sebuah nyanyian, jeritan, atau pula tangisan. Berkali ia menyelingi diam yang ada di antara kami.

Terkadang aku mengikuti nadanya dengan suara lirih, untuk mengisi waktu yang terlalu sunyi. Lalu suara itu pun kembali menghilang. Tinggal aku dan nyanyianku yang terdengar sumbang. Aku terus berjalan maju menguatkan kakiku. Kini nyanyian itu semakin jelas terdengar. Dan aku menyimaknya dengan diam. Itulah satu pertanyaan besarku di antara pegunungan lain yang pernah kami jelajahi. Siapakah dia yang bernyanyi sedemikian sunyi?

 

DARI kejauhan aku melihatnya berjalan pelan. Ia menapaki tanah terjal itu dengan dua kakinya yang telah lelah dan mati rasa. Diabaikannya udara dingin yang mencatut tulang. Semakin lama beban di punggungnya terasa semakin berat. Ia berjalan membungkuk, menatapi terjal batu dan mengabaikan langit biru di atasnya. Ia berpantang untuk berhenti. Jalan berkelok dan curam itu seolah menantang, memanggil-manggil nyali dan kakinya untuk terus berjalan. Ada semacam rindu yang menggerakkan dirinya untuk segera menuntaskan perjalanan ini. Rindu itu jelas terlihat di matanya ketika ia menatapku. Ya, berkali mata kami bertatapan. Namun ia tak mengenaliku. Ia tak dapat melihat atau pula menjamahku. Tapi aku tahu, ia merasakan kehadiranku. Barangkali pula ia merindukanku.

Ia telah menjelajahi gunung-gunung dan kawah dengan dua kaki kecilnya. Dan kali ini kembali ia mempercayakan perjalanan ini pada dua tapak kakinya. Ia telah berjalan ribuan kilometer dari halaman rumahnya. Ia telah menghapus nama dan bayangan perihal tempat tinggalnya. Kini baginya rumah adalah setiap tanah yang ditapakinya. Baginya, gunung terjal inilah rumah yang sebenarnya.

Ia membayangkan matahari di ujung sana, matahari yang telah kehilangan sengatnya. Di sana ia akan menuai cahayanya yang keemasan, pekat seperti kuning telur. Matahari yang kemerahan di antara langit biru dan awan putih. Matahari yang tak lagi hangat. Ia mengendapkan semua itu dalam kenangan, dalam ingatan, juga dalam harapannya nanti, ketika ia menyelesaikan perjalanan ini. Di tempat itulah ia selalu merasa pulang, kembali ke rumah yang ia impikan. Mengembalikan seluruh rindu dan melepaskan segala kepenatan di pangkuan haribaan alam. Ia selalu merasa kembali ke tempat ia dilahirkan.

Ia pun akan mendirikan tenda, makan, bermalam, lalu kembali menuruni jalan yang semula menantang. Meniti kembali terjal perjalanan yang sesungguhnya pula telah ia taklukkan, sembari berjanji untuk kembali pulang suatu hari nanti. Baginya gunung selalu menjadi ibu dalam perjalanannya yang panjang, tempat kelak ia meniti dan menapakinya kembali. Sesekali aku menemaninya, berjalan di sisinya. Di tanah ini ia telah memutuskan untuk menyatukan kaki-kaki gunung dengan dua kakinya. Ia akan terus berdiri di kaki-kaki gunung dan mematri dua kakinya sendiri di lekuk terjal lembahnya.

 

AKU menggenapkan tanda tanya yang mengendap lama di benakku. Padang kabut itu adalah tanda tanya terbesarku selama ini. Padang kabut di atas Bukit Nyanyian. Ini adalah perjalanan kesekian, dan dalam pencarianku, aku masih mempertanyakannya dengan gamang. Tidak semua orang bisa menjamah padang itu. Padang kabut itu tidak muncul begitu saja. Ia ada sejak pendakian pertamaku. Dan, hingga saat ini, ia masih juga tanda tanya. Tidak semua orang bisa mencapai ketinggian ini. Setelah mendaki setapak hutan tandus yang curam, kau akan temukan hutan kecil dengan pohon-pohon rapat satu sama lain. Di sanalah kau akan melihatnya, padang yang aku maksud. Gugusan kabut yang lembut dan penuh rahasia. Dan, entah siapa, aku tak begitu mengenalnya. Barangkali pula perasaanku saja. Aku selalu merasa ada yang selalu mengikuti dengan anak matanya. Namun tak pernah benar-benar ada siapa-siapa di sana, aku tahu itu. Lalu akan kembali terdengar sebuah nyanyian. Siapakah yang sebenarnya bernyanyi di dalam kabut itu?

Orang-orang mengatakan hutan itu adalah hutan larangan yang ditinggali berbagai macam makhluk tak kasatmata yang bersembunyi di balik pohon-pohon yang telah ranggas dan menua. Di sana kau harus benar-benar terjaga. Di sana kadang-kadang kau akan mendengarnya, nyanyian yang akan membawamu sedikit lena. Begitulah cerita yang kudengar. Untuk itu, kau harus benar-benar menguatkan dirimu ketika melewatinya. Tapi, sejujurnya, aku tak percaya begitu saja pada cerita itu. Aku selalu ingin tahu apakah cerita-cerita yang berkibar di antara para pendaki itu benar adanya. Mereka menambahkan, makhluk yang bersarang di sana adalah peri, semacam makhluk yang terbang tanpa sayap. Makhluk yang hanya memiliki suara namun tak memiliki rupa.

Tapi aku percaya, tak ada yang tak terpecahkan oleh akal dan indra manusia. Aku bergeming. Makhluk seperti itu hanya ada dalam dunia dongeng kanak-kanak belaka. Atau selebihnya adalah jin, yang sekali lagi dalam logikaku adalah makhluk yang tak pernah lebih dari seorang manusia. Bukankah manusia diciptakan dengan sedemikian sempurna? Aku tak yakin ada makhluk yang lebih indah dan sempurna daripada manusia. Tak juga makhluk-makhluk luar angkasa yang konon brilian dan jenius itu. Mereka hanya ada dalam film-film. Aku yakin mereka hanya muncul dari ketakutan yang diturunkan melalui cerita-cerita lisan yang terkadang berlebihan. Bukan berdasarkan pengalaman. Sedangkan aku mengenal punggung gunung ini seperti aku mengenal punggung tanganku, kecuali padang kabut itu. Ia begitu rahasia, dan belum pernah ada yang menjamahnya. Dan semua kerahasiaan itu adalah pertanyaan terbesarku.

Satu-satunya jalan untuk menuju padang kabut itu adalah jembatan tarian. Ya, disebut jembatan tarian karena ketika meniti untuk menyeberanginya, kau akan tampak seperti seorang yang sedang menari. Dengan dua tanganmu yang membentang, kau akan terlihat seperti seorang penari yang belajar keseimbangan. Dasar jembatan sangat dekat dengan air sungai yang mengalir tepat di bawahnya. Tapi bukan berarti sungai itu sungai yang dangkal. Kebeningan akan segera mengajak tubuhmu tenggelam di kedalamannya. Kebeningan yang menipu, dan kau harus berhati-hati akan dua matamu yang memang kadang mudah tertipu. Di sini hati dan pikiranmu harus senantiasa terjaga. Di sini kau tak harus percaya pada matamu. Kau harus percaya pada hatimu. Ketika sekali saja kau membelot dari kata hatimu, kau akan kehilangan segalanya.

Di jembatan ini air dapat menyentuh jari kakimu. Lembut dan dingin. Terkadang permukaan jembatan itu hilang ditelan air. Dan kau tak akan pernah bisa menitinya. Kau akan tahu dari mana kabut itu bermula. Lembapnya udara dan kabut yang menggumpal terasa seperti hujan kecil, gerimis yang ritmis menerpa. Kau harus kuat menghadapinya. Bentangkan dua tanganmu sembari meniti dan menari di atas jembatan. Sebuah lagu kembali terdengar. Di sinilah sebenarnya kau menemukan kebebasanmu. Maka menarilah demi lagu yang kau dengar hingga dasar hatimu.

Tak ada yang tahu siapa yang membangun jembatan itu. Mungkin juga tinggalan zaman Belanda. Beberapa orang mencoba membuktikan berjalan meniti jembatan itu hingga ke ujung. Namun tak ada yang kembali. Seringkali ada suara-suara yang terdengar hingga seberang. Lagu yang menggema ke dekat telinga. Dalam hatiku kadang sekali dua aku tergoda mengikuti nyanyiannya. Namun tak ada yang tahu pasti siapakah yang bernyanyi, dan kami cenderung memilih untuk diam. Orang-orang mengatakan nyanyian itu adalah sebuah jebakan, nyanyian itu hanyalah ilusi yang membawa kami ke arah jembatan.

Beberapa kali pendaki dinyatakan hilang di jembatan itu. Hilang dan tak tertemukan.  Terakhir, dua puluh tahun yang lalu. Segerombol pendaki hilang ditelan jembatan dan kabut ini. Mereka baru merayakan pesta kelulusan sekolah. Sejak saat itu tak ada yang berani menempuh risiko melintasi jembatan. Bukan jembatan itu yang bermasalah, tapi padang kabut di seberang jembatan itulah yang menjadi tanda tanya. Tentara, pendaki, masyarakat sekitar, guru, ilmuwan tak ada yang kembali dari perjalanan itu. Tak ada pula kabar selamat maupun mati. Jejak halus para pendaki tanggung yang hilang itu berubah menjadi cerita hantu yang dipercaya hingga kini. Padang kabut di seberang telah menelan semua orang yang datang kepadanya. Padang cahaya dan gumpalan kabut itu menelan semua orang yang seolah bertanya kepadanya, tentang siapa yang terkuat di antara mereka, pendaki, ataukah gumpalan kabut itu? Hanya kabut itulah yang bisa menjawabnya. Karena itulah orang-orang menamainya Bukit Nyanyian. Orang akan bernyanyi, menari, lalu hilang begitu saja ditelan kabut pekat.

Kami berangkat bertiga belas. Jumlah ganjil yang dipercaya akan menjadi penyelamat. Kami terus berjalan dan saling meneriakkan nama, lagu, sebutan, urutan, atau apa saja. Aku berjalan paling akhir, menggiring rombongan belakang yang belum begitu paham jalan ini. Ya, sekarang adalah giliranku menyanyi. Lamat-lamat aku mengingat lagu yang dinyanyikan oleh teman yang berjalan di depanku. Aku pun berjalan melanjutkan nyanyian dengan suara lantang dan bersemangat. Aku terus bernyanyi, dan bahkan menari. Kubentangkan dua tanganku. Anggota yang lain menyambut nyanyianku dengan semangat. Aku pun semakin keras menyanyikan lagu itu untuk melawan dingin yang mulai merasuk ke ujung kakiku. Sejenak aku tertegun. Ujung kakiku basah. Kudengar orang-orang memanggil namaku. Aku menengok ke belakang. Ah, kabut ini menutup mataku. Aku tak dapat lagi melihat ke belakang. Aku tak dapat melihat mereka. Namun sesekali kudengar mereka menyebut namaku.

Aku mengamati kabut yang tenggelam di mataku. Aku telah melewati jembatan tarian. Tak ada yang dapat aku lakukan. Ada yang memegangi kakiku dengan kuat hingga aku tak dapat bergerak. Suhu dingin ini mulai mencekik pernapasan. Aku berteriak panjang. Suaraku memantul di sepanjang tebing dan kembali terdengar sebagai gaung. Nyanyian itu terdengar semakin jelas di telingaku. Inikah nyanyian kematian?

 

AKU melihatnya sore itu seperti melihat diriku sendiri. Langkahnya menggebu meski napasnya terengah memburu. Ia membawa ransel besar di punggung. Sepatu dan kakinya tampak lelah. Ia menyanyi dengan penuh semangat. Tubuhnya telah doyong ke depan ketika sampai di mulut jembatan, namun matanya berbinar penuh tanda tanya. Apa yang dilihatnya? Di sini hanya ada kami dan kabut.

Aku lebih menyukai melihatnya melintasi jalan setapak di seberang sana. Berjalan berjajar dengan yang lain. Kadang berteriak dan sesekali bercanda. Sesekali juga kudengar mereka menyanyikan lagu-lagu, yel-yel penyemangat. Kadang-kadang aku menirukannya, mengikuti nyanyian mereka dalam gaung dan gema, satu-satunya suara yang kami miliki, selain tangisan kami tentu saja. Namun mereka langsung diam, seolah nyanyian kami adalah pertanda untuk mendengarkan, bukan untuk menirukan.

Ia pejalan yang gigih. Ia terus berjalan seolah beban di punggungnya benar-benar tak terelakkan. Tak jarang juga ia diam, menatap kami dari kejauhan seolah ia adalah saudara, teman, atau kekasih yang saling merindukan. Seolah ia benar-benar bisa menemukan mata kami, tubuh kami. Padahal tidak. Ia tak pernah benar-benar bisa melihat kami. Lalu apa yang dilihatnya? Apa yang dicarinya?

Ia mengingatkanku akan perjalanan kami kemari. Aku dan yang lain baru lulus SMA kala itu. Merayakan kelulusan di gunung mungkin lebih menyenangkan ketimbang mencoret-coret seragam dan berpawai di jalan raya. Kami muda, bergelora, dan berbahagia. Semangat dan keteguhanlah yang mengantarku ke bukit yang tinggi ini. Ingin aku menaklukkan tanah terjal ini dengan cerita-cerita perkasa seturun dari gunung ini nantinya. Namun, sekali lagi, aku masih terlalu muda untuk mengenalinya. Kami terlalu percaya pada mata kami yang tak terjaga.

Kami terpana dan terharu pada hal-hal baru di sekitar. Jembatan, kabut, dan warna-warni kembang di tengah kabut di seberang. Aku berjalan paling depan ketika itu. Beberapa orang berlari di belakang sembari memanggilku. Namun kami tetap maju dan berlari. Kulangkahkan kaki ke tengah jembatan. Merentangkan dua tangan dan meniti jembatan bersama yang lain. Sungai bening itu sesekali beriak-riak dingin menyentuh ujung sepatu. Lalu muncul rasa sakit itu. Dua kakiku terjerat menancap tanah tak bergerak. Tubuhku melayang dan mataku tak dapat lagi melihat sekitar. Kabut ini seperti sebongkah kapas raksasa yang dingin menyesakkan dada. Dingin luar biasa. Dingin yang membuat kami menggigil.

Arus air tak seberapa, namun dua kakiku telah kaku. Aku masih mendengar teriakan beberapa orang di belakang memanggil-manggil namaku. Namun hanya satu suara yang kudengar, suara tangisku. Aku tak pernah menangis sebelumnya. Dan, tangisku seolah tersedak memenuhi rongga dada. Tangis yang purba. Setelah itu tubuhku terasa kebas. Aku tak ingat apaapa lagi. Tubuhku melayang.

Tim SAR mencari kami. Beberapa jenazah ditemukan, tapi sebagian tidak. Tak pernah ada yang menemukanku. Mayatku terbujur kaku di padang kabut ini. Sejak saat itu mereka menutup jembatan dan tak ada yang melewati daerah ini, hingga ia datang sore itu. Ia datang dengan langkah riang, seolah mengambang di atas jembatan. Sungguh ia mirip sepertiku berpuluh tahun yang lalu. Kemarilah, kita akan mendaki bersama dalam kabut ini. Bersama-sama kita menaklukkan bukit kecil ini, dan tetap menjadi rahasia dan misteri.

Kusimak lagu yang dinyanyikannya dengan penuh semangat.

Aku tak akan kesepian lagi. (*)

 

 

Surakarta, Juni 2015

Karisma Fahmi Y. lahir di Pare, Jawa Timur. Bermukim di Solo.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: