Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong


Cerpen Guntur Alam (Kompas, 03 April 2016)

Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong ilustrasi T Hartono

Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong ilustrasi T Hartono

SEORANG perempuan tua di balik meja mahyong teringat kepada sebatang lilin merah dalam wadah emas berpuluh-puluh tahun lalu. Lilin merah itu bertuliskan nama laki-laki dan perempuan di masing-masing ujungnya. Sebatang lilin yang harus terbakar tanpa terputus. Lilin merah yang akan menyegel si perempuan dalam pengabdian sebagai istri untuk selama-lamanya, apa pun yang terjadi. Lilin yang seharusnya terbakar sampai habis, tetapi angin kecil jahat telah memadamkannya. Dan sejak itu, takdir seperti kesedihan yang tak pernah kenyang. Si perempuan terus berusaha menyalakan setengah batang lilin yang tersisa, tapi itu hanya menjadi angan-angan.

Setelah berpuluh-puluh tahun, setelah dia lebih banyak menelan air mata dan kesedihan, setengah batang lilin merah itu tak kunjung dapat dia nyalakan. Dia berharap gadis kecilnya bisa menyalakan lilin merah itu untuknya. Dan dia menunggu, dari tahun ke tahun, sampai dia merasa gadis kecilnya sudah dewasa dan bisa menjentikkan api dari pemantik.

Saat itu usiaku baru menginjak enam tahun ketika Popo pertama kali menceritakan tentang seorang perempuan tua di belakang meja mahyong dan lilin merahnya. Jari-jemarinya yang keriput terus menusukkan jarum perak ke dalam kain sulaman, membujuk daun, bunga lotus dan tangkai-tangkainya mekar, sambil bercerita.

“Apa dia begitu mencintai suaminya?”

Popo menghentikan gerakan tangannya, dia memandangku, lekat. Lalu menatap jauh, keluar jendela. Ke rimbun kembang sepatu dan mungkin saja menembus tembok pagar rumah, menerobos batas waktu dan masa lalu.

“Aku tak tahu.” Popo menggeleng. “Aku tak tahu.” Matanya menjadi sangat gelisah.

“Lalu kenapa dia begitu ingin menyalakan lilin merahnya kembali?”

Popo menghirup napas. Tercenung. Lalu dia berbisik, pelan. “Mungkin karena dia ingin menjadi anak yang berbakti. Anak yang memenuhi janji pada kedua orangtuanya.”

***

SELAIN cerita tentang perempuan di belakang meja mahyong dan lilin merahnya, Popo sering bercerita tentang anak perempuan yang tidak patuh, keras kepala dan suka membangkang. Aku tahu sebenarnya Popo tengah membicarakan ibuku.

“Anak perempuan itu sudah dibawa pergi oleh hantu. Dia pun sudah menjelma hantu.”

Bila Popo bercerita tentang anak perempuan yang kabur bersama hantu, aku hanya akan diam. Tak membantah. Tak bertanya.

“Ying-ying, dengarkan baik-baik.” Aku mengangguk. “Kau jangan jadi gadis pembangkang dan keras kepala. Jika tidak, kau akan menjadi hantu. Lalu, cayma akan membelah perutmu. Kau tahu apa yang akan keluar dari perut hantu perempuan yang keras kepala?”

Aku menggeleng. Popo menghirup napas dengan sangat kuat, seolah oksigen hendak dia habiskan. Aku dapat melihat urat-urat dan tulang hastanya bergerak.

“Sebutir telur naga yang besar. Telur naga yang tak diinginkan oleh siapa pun. Bahkan tak ada orang yang mau memakannya bersama bubur beras.”

Awalnya aku tak tahu bila telur naga yang Popo maksud adalah aku. Bibi Mei yang bercerita tentang ibu. Bagi Popo, sejak ibu menolak pertunangan dengan anak laki-laki keluarga Huan, kemudian ibu hamil oleh laki-laki pujaan hatinya, seseorang yang tak pantas dan patut dijadikan menantu bagi keluarga Jong, ibuku telah menjadi hantu. Dia benar-benar menjadi hantu setelah melahirkanku, lalu pergi tak tentu rimba hingga detik ini.

Hantu bagi kami adalah apa-apa yang tak boleh disebut lagi. Jadi ibuku telah menjelma hantu. Dia belum mati, tetapi sudah dianggap mati.

Setiap selesai mengisahkan cerita gadis pembangkang dan keras kepala ini, Popo akan mengambil tanganku, lalu mata kelabunya akan berlabuh di manik-manik mataku.

“Ying-ying, berjanjilah. Bila aku sudah mati nanti, jangan sekali-sekali kamu menyebut nama hantu perempuan itu di rumah ini.”

Lewat manik mata yang basah, aku bertanya, “Kenapa, Po?”

“Mengucapkan namanya berarti kamu mengencingi makamku.”

Aku menelan ludah dan mengangguk.

***

DI rumah kami, Popo memiliki meja mahyong yang sangat indah. Warnanya merah dan berbau harum. Dia menyebutnya kayu meja mahyong ini hong wu. Aku belum pernah mendengar nama itu. Kupikir rosewood tapi kata Popo bukan. Meja ini warisan dari ibunya.

Popo sering mengajariku bermain mahyong, tapi aku tak terlalu berminat. Sebab aku, Bibi dan Nenek Yu—tetangga kami—tak pernah menang melawan Popo. Dia seperti punya mata lain yang dapat mengetahui semua biji kartu kami. Dia juga seakan mampu membaca pikiran lawan-lawannya. Bagian yang kusuka dari permainan mahyong hanyalah saat Popo mengucapkan kata Pung!  dan Chr! Saat itu binar matanya begitu benderang, seakan dia menemukan kebahagiaan yang bertahun-tahun telah dia cari.

Popo selalu duduk di meja mahyong sudut timur. Aku pernah bertanya padanya, “Kenapa harus di timur?”

Dia tersenyum dan menjawab dengan suara penuh kehampaan. “Timur adalah awal segala sesuatu, kata ibuku. Timur tempat matahari terbit, juga arah datangnya angin.”

Tangannya sibuk memutar biji mahyong dalam gerakan melingkar. Kata Popo gerakan ini dinamakan mencuci kartu. Biji-biji mahyong mengeluarkan bunyi mendesis yang dingin saat mereka bersentuhan. Aku sering merinding bila mendengar gesekan biji-biji mahyong ini, tak tahu kenapa, aku seperti mendengarkan alunan pilu seorang hantu perempuan yang kesepian. Mungkin dia gadis pembangkang yang menjelma hantu dalam cerita Popo.

Bila aku menolak ajakan Popo bermain mahyong, dia akan cemberut dan berkata, “Bagaimana bisa kami main bertiga? Sebuah meja tak akan berdiri dengan tiga kaki. Harus ada masing-masing kaki di setiap sudutnya.”

Permainan mahyong sangat rumit menurutku. Aku harus mampu memperhatikan kartu apa yang dibuang lawan dan mengingatnya dalam kepalaku.

“Permainan ini mengajarimu strategi. Bagaimana harus bersikap saat terpuruk. Bagaimana memanfaatkan kesempatan untuk menyerang. Bagaimana caramu untuk bertahan. Bermain mahyong sama seperti kamu menghadapi hidupmu.”

Mata Popo berubah semakin hampa. Lalu sekejap kemudian berkaca-kaca. Dan aku seketika menyadari sesuatu, Popo memerangkap kesedihan abadi di sudut timur meja mahyongnya. Kesedihan dan kehampaan yang bergesekan dengan biji-biji mahyong, mengeluarkan desis pilu yang menyayat kalbu.

***

“BAGAIMANA bisa lilin merah itu padam, Po?”

Aku memberanikan diri bertanya ini ketika usiaku sudah menginjak lima belas tahun dan Popo masih sering mengulang cerita tentang perempuan tua di belakang meja mahyong yang berharap dapat menyalakan kembali lilin merah pernikahannya.

Popo mendongak. Dia menghela napas, usianya sudah tujuh puluh tahun. Semakin bergelambir wajah Popo, aku semakin jelas melihat kesedihan yang terperangkap di sana. Duka yang terus bertumbuh seiring usianya.

“Tokoh cerita kita dinikahkan saat berusia enam tahun,” dari balik meja mahyong merahnya yang harum, Popo menatapku dengan kaca-kaca yang mekar di manik matanya. “Awalnya dia tak pernah tahu bila takdirnya sudah berhenti saat itu. Jalan hidupnya sudah ditentukan dan akan berakhir menjadi menantu keluarga Jong.”

Aku tercekat, tapi Popo tersenyum, walau hambar.

Perempuan itu tak punya pilihan. Dia harus menjalani takdir yang sudah dipilihkan untuknya. Saat usianya tiga belas tahun, dia pindah ke rumah calon suaminya. Di sana dia belajar menjadi menantu dan istri yang baik. Dia harus bisa memasak segala macam makanan. Dia harus mahir menyulam, menjahit, membereskan rumah. Dia bahkan tak bisa membedakan lagi, apakah dia sedang belajar menjadi istri yang baik atau justru menjadi pembantu yang baik di rumah itu? Saat usianya tujuh belas tahun, dia dinikahkan dengan suaminya.

Dulu, saat dia mengetahui bila dia sudah dijodohkan dengan anak laki-laki keluarga Jong, dia menangis sejadi-jadinya. Dia meratap-ratap pada ibunya, berharap wajahnya menjadi jelek dan ibunya akan iba. Namun pada akhirnya dia menyadari sesuatu, tak ada yang bisa dia lakukan lagi. Takdirnya sudah disegel. Dia tak punya pilihan. Bila dia mundur, dia akan membuat keluarganya malu. Dia tak ingin menjadi gadis pembangkang yang menjelma hantu.

“Percuma,” Popo mendesis. “Kontrak sudah dibuat. Perempuan itu harus menikah dengan anak laki-laki keluarga Jong. Walau pun dia mencintai laki-laki lain. Anak tetangga yang membuat dadanya berdebar saat berusia dua belas tahun.”

Aku benar-benar menemukan kehampaan yang abadi di mata dan wajah Popo. Kehampaan yang tersembunyi di balik meja mahyong merahnya.

“Lalu kenapa lilin merahnya bisa padam?” aku mengulang pertanyaan yang sama.

Perlahan air mata mengalir di landai pipi Popo yang keriput.

“Lilin merah itu merupakan ikatan perkawinan. Lilin itu berarti dia tak boleh bercerai apa pun yang terjadi. Dia tak boleh menikah lagi walaupun suaminya meninggal dunia. Lilin merah itu menyegelnya untuk mengabdi kepada suami dan keluarganya untuk selama-lamanya, tanpa kompromi.”

Aku terdiam dan kulihat air mata semakin deras meluncur di landai pipi Popo yang keriput. Tak ada isak di sana.

“Tapi dia tak dapat menahan gejolak hatinya. Dia terlalu muda, jadi dia dibutakan pada cinta pertamanya. Anak laki-laki tetangga yang telah membuat dadanya lebam karena perpisahan. Dia..” suara Popo bergetar, aku menunggu. “Dia meniup ujung lilin yang bertuliskan nama suaminya, saat pesuruh mak comblang tertidur ketika menunggu lilin itu. Dia berharap, matinya lilin sama artinya matinya pernikahan mereka. Sayangnya, dia lupa ucapan ibunya. Apa pun yang terjadi, tak akan mengubah takdirnya. Sejak itu dia menelan kesedihan sepanjang hidupnya.”

Popo berusaha tersenyum, aku terdiam dan tak tahu harus berkata apa. Popo mengambil tanganku dan menggenggamnya erat.

“Ying-ying, bisakah kamu menyalakan lilin merah itu untukku? Sebab ibumu tak pernah mau melakukannya.”

Angin kesunyian berembus dari sudut timur meja mahyong Popo, menggelitik mataku sampai basah dan menampar dadaku hingga lebam. Dari sudut itu segala sesuatunya berawal, termasuk takdir. Dan aku tak tahu harus menjawab apa. (*)

 

 

Guntur Alam, buku kumpulan cerpennya, “Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang”, Gramedia Pustaka Utama, 2015. Beberapa kali karyanya masuk dalam kumpulan Cerpen Pilihan Kompas. Aktif di Twitter mem-“posting” cerpen-cerpen yang dimuat di seluruh media di Indonesia.

 

6 Responses

  1. Cerpen ini katanya plagiat dari salah satu novel Amy Tan, ya? Kok kompas bisa kecolongan?

    Like

  2. Menggugat Orisinalitas Cerpen “Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong”

    Oleh Sian Hwa

    Saya menulis ini bukan karena numpang tenar atau ingin diakui. Saya bukan pengarang sastra kelas atas atau seorang cerpenis yang karyanya banyak dimuat. Saya menulis ini karena saya tidak buta dan punya nurani, karena saya membaca, dan paham isi bacaan saya. Tulisan ini juga ditujukan pada redaksi Kompas—Sunday Desk, yang selama ini memuat cerpen-cerpen barometer belajar bagi saya dan banyak orang sebagai penggiat sekaligus penikmat sastra.

    Salah satu syarat pemuatan cerpen harian Kompas yang saya ingat adalah orisinalitas (berdasarkan twit Bli Fajar Arcana), baik dari semua unsur cerpen seperti bahasa, teknik bercerita, alur, cara pandang, dan lain sebagainya. Dengan membaca cerpen ‘LILIN MERAH DI BELAKANG MEJA MAHYONG’ karya Guntur Alam, saya mempertanyakan kadar orisinalitas cerpen tersebut, karena ditemukan banyak sekali kejanggalan—yang akhirnya melunturkan apresiasi kagum saya pada cerpen yang mengangkat budaya Tionghoa tersebut.

    Kejanggalan tersebut didasari oleh identiknya isi cerpen tersebut dengan isi novel The Joy Luck Club milik pengarang internasional Amy Tan, yang pernah diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama berpuluh tahun lalu. Berikut saya jabarkan beberapa penggalan tulisan identik yang saya maksudkan:

    ========

    Pembukaan cerpen:

    Seorang perempuan tua di balik meja mahyong teringat kepada sebatang lilin merah dalam wadah emas berpuluh-puluh tahun lalu. Lilin merah itu bertuliskan nama laki-laki dan perempuan di masing-masing ujungnya. Sebatang lilin yang harus terbakar tanpa terputus. Lilin merah yang akan menyegel si perempuan dalam pengabdian sebagai istri untuk selama-lamanya.

    Cuplikan novel (hal 90-91):

    – Lilin itu bersumbu pada kedua ujungnya. Pada satu ujungnya terukir dalam tinta emas nama Tyan-yu, pada ujung yang lain namaku.

    – Aku melihat si Mak Comblang meletakkan lilin merah yang menyala itu di sebuah tempat yang berwarna emas, dan seterusnya.

    – Lilin ini terbakar tanpa terputus pada kedua ujungnya. Ini perkawinan yang tak mungkin diputuskan.

    – Lilin merah itu menyegelku dan suamiku serta keluarganya untuk selamanya tanpa kompromi.

    ========

    Isi cerpen:

    – Hantu bagi kami adalah apa-apa yang tak boleh disebut lagi. Jadi ibuku telah menjelma hantu. Dia belum mati, tetapi sudah dianggap mati.

    – … Kau tahu apa yang akan keluar dari perut hantu perempuan yang keras kepala? Aku menggeleng. Popo menghirup napas dengan sangat kuat, seolah oksigen hendak dia habiskan. Aku dapat melihat urat-urat dan tulang hastanya bergerak.

    – Sebutir telur naga yang tak ingin oleh siapa pun. Bahkan tak ada orang yang mau memakannya bersama bubur beras.

    Cuplikan novel (hal 59):

    – Ketika aku masih seorang gadis remaja di Cina, nenekku menceritakan kepadaku bahwa ibuku seorang hantu. Ini tidak berarti ibuku sudah meninggal. Pada zaman itu, hantu adalah apa saja yang tak boleh kami bicarakan.

    – Tetapi aku sering mendengar cerita tentang seorang hantu yang berusaha melarikan anak-anak, terutama anak-anak perempuan yang keras kepala, yang tidak patuh. Sering kali Popo berkata dengan suaranya yang keras kepada semua yang bisa mendengar, bahwa adikku dan aku tadinya jatuh keluar dari perut seekor angsa tolol. Kami adalah dua butir telur yang tak diinginkan siapa pun, yang…

    ========

    Isi cerpen:

    – “Ying-ying, berjanjilah. Bila aku sudah mati nanti, jangan sekali-sekali kamu menyebut nama hantu perempuan itu di rumah ini.”

    – “Mengucapkan namanya berarti kamu mengencingi makamku.” Aku menelan ludah dan mengangguk.

    Cuplikan novel (hal 61):

    – Persis sebelum Popo menjadi terlalu sakit sampai tak bisa berbicara, dia menarikku mendekat dan berbicara kepadaku tentang ibuku. “Jangan sekali-kali mengucapkan namanya,” katanya memperingatkan. “Mengucapkan namanya berarti meludahi makam ayahmu.”

    =======

    Isi cerpen:

    – Di rumah kami, Popo memiliki meja mahyong yang sangat indah. Warnanya merah dan berbau harum. Dia menyebutnya kayu meja mahyong ini hong wu. Aku belum pernah mendengar nama itu. Kupikir rosewood tapi kata Popo bukan. Meja ini warisan dari ibunya.

    – Bagian yang kusuka dari permainan mahyong hanyalah saat Popo mengucapkan kata Pung! dan Chr!

    – Popo selalu duduk di meja mahyong sudut timur. Aku pernah bertanya padanya, “Kenapa harus di timur?”

    – Dia tersenyum dan menjawab dengan suara penuh kehampaan. “Timur adalah awal segala sesuatu, kata ibuku. Timur tempat matahari terbit, juga arah datangnya angin.”

    – Tangannya sibuk memutar biji mahyong dalam gerakan melingkar. Kata Popo gerakan ini dinamakan mencuci kartu. Bji-biji mahyong mengeluarkan bunyi mendesis yang dingin saat mereka bersentuhan.

    – Bila aku menolak ajakan Popo main mahyong, dia akan cemberut dan berkata, “Bagaimana bisa kami main bertiga? Sebuah meja tak akan berdiri dengan tiga kaki. Harus ada masing-masing kaki di setiap sudutnya.”

    Cuplikan novel:

    – (hal 25) … Mejaku kuwarisi dari keluargaku dan dibuat dari sejenis kayu merah yang sangat harum. Bukan yang kau sebut rosewood, tapi hong mu, yang begitu halusnya sampai tak ada namanya dalam bahasa Inggris.

    – (hal 26) “Begitu kami mulai bermain, tak ada yang berbicara, kecuali untuk mengatakan Pung! atau Chr! saat mengambil sebuah kartu.

    – (Hal 42) Tanpa diberitahu siapa pun, aku tahu, sudut ibuku pada meja itu adalah sudut timur. Timur adalah awal segala sesuatu, ibuku pernah berkata begitu kepadaku, arah dari mana matahari terbit, dari mana angin datang.

    – (Hal 42) Bibi An-mei, yang duduk di sebelah kiriku, menuangkan biji-biji mahyong ke atas permukaan meja yang berlapis lak hijau dan berkata kepadaku, “Sekarang kita mencuci kartu.” Kami memutar mereka dengan tangan dalam gerakan melingkar. Biji-biji itu mengeluarkan bunyi mendesis yang dingin pada saat mereka saling berantukan.

    – (Hal 43) Bibi Lin tampak jengkel seakan-akan aku anak tolol, “Mana bisa kami main hanya dengan tiga orang? Seperti meja dengan tiga kaki, tidak imbang…

    ========

    Isi cerpen:

    – “Lilin merah itu merupakan ikatan perkawinan. Lilin itu berarti dia tak boleh bercerai, apa pun yang terjadi. Dia tak boleh menikah lagi walau pun suaminya meninggal dunia. Lilin merah itu menyegelnya untuk mengabdi pada suami dan keluarganya untuk selama-lamanya, tanpa kompromi.

    Cuplikan novel:

    – (hal 91) Aku masih ingat Lilin itu merupakan suatu ikatan perkawinan yang lebih berharga daripada ikrar secara Katolik untuk tidak bercerai. Lilin itu berarti aku tak boleh bercerai, dan selamanya aku tak boleh menikah lagi, walaupun seandainya Tyan-yu meninggal. Lilin merah itu menyegelku dan suamiku serta keluarganya untuk selamanya tanpa kompromi.

    ========

    Penamaan dalam cerpen seperti Ying-ying dan keluarga Jong, juga tercantum dalam novel The Joy Luck Club.

    Penggalan kalimat dalam cerpen: …Dia meniup ujung lilin yang bertuliskan nama suaminya saat pesuruh mak comblang tertidur ketika menunggu lilin itu. Dia berharap, matinya lilin sama arti matinya pernikahan mereka.

    Memang berlainan dengan cuplikan novel, tapi memperkuat dugaan saya bahwa pengarang cerpen mengoplos dari halaman 91: …Aku melihat si Mak Comblang meletakkan lilin merah yang menyala itu di sebuah tempat yang berwarna emas, lalu menyerahkannya kepada seorang pembantu yang tampak gugup. Si Pembantu diberi tugas mengawasi lilin ini selama pesta dan sepanjang malam, untuk memastikan tak ada nyala apinya yang padam. Pagi harinya, pembantu ini harus menunjukkan hasilnya, seonggok kecil debu hitam, lalu mengumumkannya, “Lilin ini terbakar tanpa terputus pada kedua ujungnya. Ini perkawinan yang tak mungkin diputuskan.”

    Berdasarkan kejanggalan yang terkesan tempelan tersebut, saya menganggap cerpen Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong TIDAK ORISINAL, HASIL MUTILASI karangan orang lain dan kental dengan ‘peminjaman tanpa izin atau mencantumkan kalimat tanpa mengakui keberadaan pengarang asli’. Antara lain beberapa ungkapan seperti posisi timur dalam meja permainan mahyong, yang sebenarnya dipilih, karena posisi ini adalah posisi dealer/bandar, dan yang memulai permainan.

    Dalam novel Amy, posisi timur dalam posisi duduk meja mahyong dinyatakan sebagai awal mula sesuatu, karena awal mula cerita adalah Su-yuan (si ibu yang meninggal) merupakan leader dari empat anggota klub main mahyong tersebut, berasal dari Asia Timur (China) dan berakhir di utara (North), yang secara implisit menyebutkan Amerika Utara (USA).

    Kutipan posisi ini ada dalam cerpen persis, sesuai dengan isi novel, juga membicarakan tentang posisi duduk meja mahyong.

    Istilah permainan Mahyong dalam bahasa Mandarin dalam ejaan Wade-Giles Pung dan Chr bukan merupakan satu-satunya sebutan resmi . Amy Tan menyebutkan itu karena keluarga si tokoh memang sudah berbahasa Mandarin, bahasa elit bangsa Han yang biasanya digunakan kaum berada dan terpelajar. Sedangkan orang-orang China yang datang ke Indonesia kebanyakan buta huruf, jadi yang mereka kuasai adalah dialek suku masing-masing seperti Hakka, Hokkian, Kanton, dll. Istilah yang biasa dipakai dalam dialek suku adalah Pong, Kong, Chow, dan ada satu lagi yang saya lupa. Tidak hanya dua.

    Lagi-lagi, istilah Pung dan Chr ini tercantum dalam cerpen, seolah itu merupakan fakta/data (bagaimana bisa kita mengambil fakta/data dari acuan novel?).

    Orang China-Indonesia yang mampu berbahasa Mandarin, mulanya kebanyakan kaum intelektual dan berada, minimal bisa sekolah di China (keluarga Papa saya contohnya). Perjodohan, juga umumnya, seperti kisah Oei Hui Lan, putri taipan gula Oei Tiong Ham.

    Kejanggalan istilah yang ditempel pengarang cerpen jelas terlihat pada ucapan si Popo tentang caima—istilah pendeta upacara suku Hakka. Tapi, si Popo menggunakan istilah mahyong berbahasa Mandarin.

    Dikisahkan dalam cerpen, permainan mahyong dilakukan seolah itu acara kasual (dengan tetangga), bukan acara khusus, tapi sebenarnya permainan mahyong, capsa, dan sejenis, biasanya, hanya dimainkan saat Imlek (di Indonesia), kecuali di negeri asal. Permainan itu diadakan sebagai ajang kumpul-kumpul. Jadi maknanya bukan uang, tapi persahabatan dan kebersamaan (sumber: Buku Orang Tionghua Indonesia Mencari Identitas karya Aimee Dawis, Phd; terbitan GPU).

    Tentang lilin merah dalam ritual budaya China, di sini terlihat sekali pengarang cerpen menelan bulat-bulat ritual pernikahan China tentang segel/ikatan perkawinan yang diceritakan dalam novel Amy Tan. Karena dalam novel tersebut, masalah lilin ini, merupakan filosofi tokoh Lindo Jong yang dikreasikan Amy Tan sebagai interpretasi pandangan terhadap isu feminisme (sumber: Amy Tan A Literary Companion, karya Mary Ellen Snodgrass). Penekanan adanya mak comblang dan pesuruhnya yang menjaga, berarti keluarga si tokoh dan suaminya adalah keluarga terpandang (bisa ningrat, bangsawan, dan lain-lain).

    Lagi-lagi, dalam cerpen, menurut saya, lebih bisa dibilang sebagai hasil meniru detil ritual yang salah paham. Sebab, ikatan atau segel ritual perkawinan China, sebenarnya tidak terletak pada lilin, melainkan arak pernikahan yang diminum dengan tangan/lengan saling berkaitan, bahkan sampai memotong rambut (sumber: Adat Pernikahan). Hanya dalam novel Amy Tan saja, lilin merah diinterpretasikan berbeda dan murni pemahaman beliau.

    Interpretasi yang sama (lilin merah sebagai segel perkawinan) tiba-tiba muncul dalam sebuah cerpen dan dianggap ritual sebenarnya, saya rasa, itu sungguh alasan yang tidak masuk akal.

    Dan, yang tak dapat dipungkiri adalah, intisari cerpen tersebut di atas senada dengan intisari novel, yaitu tentang bakti anak (ajaran Konghucu) serta relasi anak perempuan-nenek-ibunya. Mau dioplos seperti apapun, garis besarnya sama.

    Jadi, orisinalitas seperti apakah yang ditawarkan oleh cerpen tersebut sampai bisa lolos dimuat? Itu yang saya pikirkan.

    Saya membayangkan, orang awam yang tidak paham, terpesona oleh cara bertutur cerpen tersebut bahkan mengutip kalimat-kalimat di dalamnya sambil menyakini kalau itu adalah murni hasil pikir si pengarang cerpen, ternyata pemikiran itu datang dari orang lain, yang berada jauh dari Indonesia.

    Berdasarkan penjabaran di atas, akhirnya saya simpulkan juga tegaskan, bahwa:

    1. Cerpen Lilin tersebut sama sekali TIDAK ORISINAL, HASIL MUTILASI, tidak menampilkan hal baru, dan menimbulkan salah persepsi. Berarti pemuatan cerpen Kompas kali ini saya gugat dan pertanyakan. Apakah Kompas teledor dalam menyeleksi cerpen yang masuk atau lupa mencantumkan catatan kaki tentang sumber kalimat, misalnya? Apakah layak cerpen ini masuk sebagai kualitas koran Kompas?

    2. Menurut saya, pengarang cerpen ini ada melakukan ‘peminjaman kalimat/istilah sama persis tanpa izin’, entah sengaja atau tidak sengaja, sehingga saya beranggapan adanya tindakan plagiarisme (KBBI: penjiplakan yang melanggar hak cipta), karena novel The Joy Luck Club versi terjemahannya sendiri dilindungi UU HAKI terbaru.

    Tulisan ini tidak bersifat personal pada karakter pengarang atau karya pengarang yang lain, tapi semata-mata murni karena cerpen ini saja. Saya yakin Kompas menindaklanjuti secara bijaksana. Bukankah revolusi mental sedang ramai digencarkan?

    Tentunya, penjiplakan, plagiat, peniruan, pengutipan, tanpa pencantuman sumber atau izin, bukan menjadi sifat yang ditoleransi oleh kebijakan Kompas.

    Buat teman-teman yang peduli dengan #SayNoPlagiarism, saya mohon bisa membagikan catatan ini, supaya ada pembelajaran bagi semua orang. Silakan pro dan kontra, silakan mendukung atau jadi hater, semua pendapat akan membuat orang membuka mata. Atas keterbatasan ilmu saya mohon maaf.

    Palmerah, 6 April 2016

    Salam,

    Sian Hwa

    Catatan: Screenshot kopi novelnya ada di timeline. Silakan dicermati cerpen yang saya maksud.

    Sumber lain:

    1. Anggur pernikahan (The Nuptial Cup)

    2. Anggur pernikahan disebut sebagai “heart knot”

    3. Tentang arti lilin merah: The night of the wedding, the bridal room will lit dragon and phoenix candle to drive away the evil spirit. This is a Chinese version of unity candle. Sumber: Complete Guide to Chinese Wedding.

    4. A lot of times the bride and groom will light two wedding candles (one with a phoenix, the other with a dragon motif) to represent each of their families. The couple can also light one candle together (symbolizing the joining of two families). Sumber: How to Plan a Tea Ceremony.

    Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/juleshwa/menggugat-orisinalitas-cerpen-lilin-merah-di-belakang-meja-mahyong_570a010722afbdca1c6f12ca

    Like

  3. TANGGAPAN ATAS GUGATAN CERPEN SAYA DI KOMPAS, 03 APRIL 2016.

    Sebelumnya terima kasih, Mbak/Mas Sian Hwa atas catatannya yang sangat berarti bagi saya. Seperti yang saya jawab di fan page FB cerpen Kompas, kalimat “timur” itu memang inspirasi pertama saya, tapi ide drama-drama dalam cerpennya saya dapat dari cerita alm. nenek saya —lebih lengkap silakan baca jawaban saya di sana.

    Kesalahan saya (1) memang tidak mencantumkan jika beberapa kalimat saya ambil dari novel Amy Tan—tetapi ada 1 titi masa dan 2 catatan kaki saya juga yang tidak dicantumkan Kompas di versi cetak. Kesalahan (2) saya menelan “mentah-mentah” sesuatu yang saya anggap data dari novel itu, tanpa mengolahnya lagi. Jadi, sebagai penulis cerpen tersebut saya meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang telah saya lakukan, terutama kepada pembaca setia Cerpen Kompas, Redaksi dan semua pihak yang merasa dikecewakan atau dirugikan.

    Selanjutnya, tentang apakah cerpen saya plagiat dari novel Amy Tan dan lain-lainnya, saya sudah mengirim email ke Kompas untuk mereka membaca ulang cerpen tersebut dan mengambil kesimpulan, karena saya rasa hak itu ada di Kompas. Jika nanti sudah diambil kesimpulannya dan dinyatakan tergolong plagiat, saya siap menerima kosekuensinya, seperti mengembalikan honorium cerpen ini, di-blacklist, atau sanksi-sanksi lainnya. Demikian yang bisa saya jawab, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Cc Fajar Arcana Bamby Cahyadi

    ========

    Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas apresiasi pembaca terhadap cerpen saya Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong. Sungguh saya sangat senang terhadap kritik-kritik membangun seperti ini. Lewat kritik pembaca saya bisa belajar menulis lebih baik dan lebih cermat lagi. Sebab saya percaya, kritik datang tanda kepedulian. Kritik datang tanda cinta dan keinginan pembaca agar saya lebih baik lagi, lebih baik lagi.

    Hal pertama yang ingin saya jawab atas kritik terhadap cerpen saya yang disangkakan plagiasi dari novel Amy Tan “Joy Luck Club”, terutama kalimat yang disorot adalah “Timur adalah awal segala sesuatu, kata ibuku. Timur tempat matahari terbit, juga arah datangnya angin.” Yang ingin saya katakan, “Ya, saya terinspirasi kalimat tersebut saat menulis cerpen ini, tetapi inspirasi utamanya adalah almarhum nenek saya yang meninggal pada September 2014.”

    Kalimat tentang timur yang merupakan arah mata angin, pernah nenek saya (saya memangginya kajut) ucapkan saat saya masih kuliah, saat dia menceritakan masa mudanya –sepertinya nenek saya tak membaca novel Amy Tan. Dia memang sering bercerita dan mendongeng. Jika pembaca mengingat cerpen-cerpen saya di tahun 2010-2012 terutama di Koran Tempo, banyak sekali dongeng nenek saya yang saya re-telling menjadi cerpen, seperti Andai-Andai Kajut (2010), Tem Ketetem (2011), dan lain-lain.

    Ketika menemukan kalimat itu dalam novel Amy Tan, saya tersentak dan saya teringat akan kisah hidupnya yang pernah diceritakan pada saya –sebagian besar “drama” dalam cerpen Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong adalah “drama” kehidupan nenek dan ibu saya. Tentang pernikahan mereka yang tak bahagia dan tentang nenek yang merasa tak pernah bahagia sampai ajalnya. FYI, ayah saya meninggalkan ibu dan kami demi perempuan lain –yang dia ‘cintai’. Makanya, di akhir cerpen ini saya menuliskan kalimat “mengenang setahun meninggalnya nenek, berbahagialah…” tetapi kalimat itu tak dicantumkan Redaksi Kompas, juga dua catatan kaki lainnya yang saya cantumkan di cerpen ini, tak ditampilkan.

    Namun, saya sadar seharusnya saya juga memberi catatan kaki pada kalimat tersebut jika ada di novel Amy Tan. Kemudian tentang teknik mengatur kartu dalam permainan mahyong, saya memang memakai istilah dari novel Amy Tan tersebut, sebab saya menganggapnya sebagai suatu data. Jadi benar-benar harus seperti itu, tak bisa diganti dengan kalimat lain. Sebagai fakta dari sebuah permainan. Di mana pun permainan itu, ya begitu penyebutannya –sepemahaman saya, tanggapi jika saya salah. Kemudian tentang sebatang lilin merah perkawinan. Ya memang seperti itu dalam tradisi Tionghoa yang ada di daerah saya, saya tak bisa mengubah fakta tersebut semisal dengan lilin putih atau istilah-istilah lain-lainnya. Dan fakta-fakta tentang tradisi Tionghoa yang ada di dalam cerpen.

    Kemudian pembaca mengatakan jika “rasa” cerpen saya itu Amy Tan sekali. Nah, hal ini saya tak tahu harus menjawab apa. Tentang fell, setiap pembaca pasti berbeda. Hanya saja ada hal yang ingin saya katakan. Sejak menulis di cerpen koran tahun 2010, tema-tema cerpen saya memang tentang keluarga. Hampir semua cerpen saya mengangkat tema keluarga dengan cerita suram, kelam dan sedih. Silakan baca cerpen saya yang lainnya: Mar Beranak di Limas Isa (Kompas, 2011), Perihal Sebatang Kayu di Belakang Limas Kami yang Ada dalam Hikayat Emak (Kompas, 2011), Malam Hujan Bulan Desember (Kompas, 2013), Bolu Delapan Jam (Kompas, 2015), Boneka Air Mata Hantu (Jawa Pos, 2013), dan lain-lain. Semua bertema keluarga dengan rasa kelam, suram dan rasa yang sama dengan cerpen Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong. Jadi saya tak tahu harus menjawab apa di bagian ini.

    Pada akhirnya, semua saya kembalikan pada Redaksi Kompas (dan pembaca). Silakan nilai cerpen tersebut. Silakan dikulik. Dibongkar. Apa pun untuk mendapatkan nilai akhir: Apa cerpen ini plagiat atau bukan? Dan saya siap menghadapi kosekuensinya, seperti mengembalikan honorium, meminta maaf secara terbuka dan sanksi-sanksi lainnya dari Kompas dan pembaca.
    Di kesempatan ini, saya juga meminta maaf jika sudah melakukan kesalahan, keteledoran dan hal-hal yang membuat berbagai pihak kecewa. Maafkan saya, saya tak pernah berniat melakukan hal-hal tersebut. Dan sungguh, ini menjadi momen yang sangat berharga bagi saya. Momen yang akan saya kenang seumur hidup untuk pembelajaran di masa-masa akan datang.

    Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada Redaksi Kompas untuk kesempatan-kesempatan bagus yang telah diberikan kepada saya. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada pembaca yang telah mengapresiasi saya. Terima kasih, saya senang sekali menerima kritik membangun seperti ini. Semoga di masa-masa akan datang, saya bisa lebih baik lagi.

    Pali, April 2016.

    Salam hangat,

    Guntur Alam

    Sumber: https://www.facebook.com/Cerpen-Kompas-360719200703670/?fref=ts

    Like

  4. TANGGAPAN SAYA ATAS TANGGAPAN GUNTUR ALAM TENTANG CERPEN LILIN MERAH DI BELAKANG MEJA MAHYONG (I)

    Saya mulanya cukup bingung bagaimana menanggapi tanpa harus kehilangan empati dan sekaligus cara pandang obyektif terhadap kasus ini. Tapi, saya menghargai itikad baik Guntur Alam dalam memberikan klarifikasi atas gugatan saya (sumber: https://www.facebook.com/Cerpen-Kom…). Sayangnya, saya merasa klarifikasi tersebut TIDAK MENJERNIHKAN problem persoalan yang ada. Kenapa saya bisa berkata seperti itu? Saya jabarkan satu-satu persatu alasannya:

    Pertama-tama, saya kutip dulu pernyataan Guntur Alam, mulai dari komentar di akun Cerpen Kompas (5 April 2016) sampai pernyataan di status akun pribadi milik sendiri.

    //“Sungguh saya sangat senang terhadap kritik-kritik membangun seperti ini. Lewat kritik pembaca saya bisa belajar menulis lebih baik dan lebih cermat lagi. Sebab saya percaya, kritik datang tanda kepedulian. Kritik datang tanda cinta dan keinginan pembaca agar saya lebih baik lagi, lebih baik lagi.”//

    Saya tegaskan, kalau tulisan saya adalah GUGATAN dengan tujuan akhir adalah PENGAKUAN si pengarang, bukan kritik. Saya tidak punya ilmu tinggi untuk mengkritik karya sastra orang lain.

    //“Hal pertama yang ingin saya jawab atas kritik terhadap cerpen saya yang disangkakan plagiasi dari novel Amy Tan “Joy Luck Club”, terutama kalimat yang disorot adalah “Timur adalah awal segala sesuatu, kata ibuku. Timur tempat matahari terbit, juga arah datangnya angin.” Yang ingin saya katakan, “Ya, saya terinspirasi kalimat tersebut saat menulis cerpen ini, tetapi inspirasi utamanya adalah almarhum nenek saya yang meninggal pada September 2014.”

    Kalimat tentang timur yang merupakan arah mata angin, pernah nenek saya (saya memanggilnya kajut) ucapkan saat saya masih kuliah, saat dia menceritakan masa mudanya—sepertinya nenek saya tak membaca novel Amy Tan. Dia memang sering bercerita dan mendongeng. Jika pembaca mengingat cerpen-cerpen saya di tahun 2010-2012 terutama di Koran Tempo, banyak sekali dongeng nenek saya yang saya re-telling menjadi cerpen, seperti Andai-Andai Kajut (2010), Tem Ketetem (2011), dan lain-lain.//

    Saya kutip twit dari @Prie_GS: “Timur adalah wetan dalam bahasa Jawa yang berarti wiwitan, awal dari segala sesuatu.” Kalimat yang berhubungan dengan timur seperti itu bisa siapa saja yang menyebutkan, saya setuju. Tapi, saat menyangkut posisi duduk permainan mahyong, kalimat tersebut jadi memiliki makna identik dan simbolis cerita. Hal itulah yang sulit ditemui kesamaannya dengan orang lain karena latar belakang setiap manusia berbeda, tentu cara pahamnya juga berbeda.

    //Ketika menemukan kalimat itu dalam novel Amy Tan, saya tersentak dan saya teringat akan kisah hidupnya yang pernah diceritakan pada saya—sebagian besar “drama” dalam cerpen Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong adalah “drama” kehidupan nenek dan ibu saya.//

    Drama kehidupan dalam cerpen tersebut adalah drama umum yang dimiliki setiap orang. Namun, drama cerpen Lilin Merah tersebut dapat ditarik poin-poin khususnya, yaitu:

    • Relasi dan konflik ibu-anak-nenek (perempuan)

    • Bakti anak perempuan pada keluarga

    • Takdir dan takhayul, yang menjadi identik dengan penggunaan majas alegori (simbolik) dalam cerita seperti hantu, nyala lilin merah yang tidak terputus/padam

    • Paham Konfusius dan isu feminism

    Poin-poin di atas merupakan ciri khas dari novel-novel karya Amy Tan (tak hanya Joy Luck. http://www.sparknotes.com/lit/joyluck/canalysis.html) dan lebih membuat saya yakin kalau pengarang menulis cerpen ini sambil membuka novelnya adalah karakter Popo atau NENEK. Ada alasan kenapa Popo (dalam novel Amy Tan) menjadi tokoh pencerita/pendongeng.

    Confucianism was a philosophy in shaping Chinese social relationships and moral thought. It is characterized as a system of social and ethical philosophy. Confucius, the founder, believed that human beings are teachable, improvable, and perfectible visioning an ideal world.

    Confucianism, Quote from Book and Explanation.

    “Another time, Popo told me about a girl who refused to listen to her elders.” -(Tan 43)
    An-mei Hsu’s grandmother, Popo, uses her stories in order to teach about the morals and lessons of human life and how to act properly toward her family and others.

    Confucian ideas and beliefs are incorporated in An-mei’s story of her early life. She is being taught the importance of family and maintenance of ethics. Although she might have her own thoughts on the situation, she must respect her elders just as people would that followed the Confucian ideology. (Sumber: https://prezi.com/6oohfzhvb1wo/the-joy-luck-club/)

    Dan, kita menemukan cerita dan moralnya identik dari novel di dalam cerpen. Bedanya, karena jiwa cerita tidak dipahami oleh pengarang, kalau pembaca lebih dulu membaca karya-karya Amy Tan maka akan merasakan cerpen ini hanya sekadar tempelan dan tidak orisinal. Berbeda kalau pembaca tidak membaca karya-karya Amy Tan dan hanya membaca cerpen ini, pasti terhanyut dan memuji.

    //Tentang pernikahan mereka yang tak bahagia dan tentang nenek yang merasa tak pernah bahagia sampai ajalnya. FYI, ayah saya meninggalkan ibu dan kami demi perempuan lain—yang dia ‘cintai’. Makanya, di akhir cerpen ini saya menuliskan kalimat “mengenang setahun meninggalnya nenek, berbahagialah…” tetapi kalimat itu tak dicantumkan Redaksi Kompas, juga dua catatan kaki lainnya yang saya cantumkan di cerpen ini, tak ditampilkan.//

    Saya rasa catatan kaki tentang mencantumkan nama orang lain sebagai sumber inspirasi/referensi tidak akan semudah itu dihapuskan atau hilang akibat kesalahan redaksi.

    //Namun, saya sadar seharusnya saya juga memberi catatan kaki pada kalimat tersebut jika ada di novel Amy Tan. Kemudian tentang teknik mengatur kartu dalam permainan mahyong, saya memang memakai istilah dari novel Amy Tan tersebut, sebab saya menganggapnya sebagai suatu data. Jadi benar-benar harus seperti itu, tak bisa diganti dengan kalimat lain. Sebagai fakta dari sebuah permainan. Di mana pun permainan itu, ya begitu penyebutannya—sepemahaman saya, tanggapi jika saya salah. Kemudian tentang sebatang lilin merah perkawinan. Ya memang seperti itu dalam tradisi Tionghoa yang ada di daerah saya, saya tak bisa mengubah fakta tersebut semisal dengan lilin putih atau istilah-istilah lain-lainnya. Dan fakta-fakta tentang tradisi Tionghoa yang ada di dalam cerpen.//

    Ada banyak sumber fakta di Google. Banyak istilah, dan tidak mungkin kebetulan bisa serupa dengan isi novel.

    //Kemudian pembaca mengatakan jika “rasa” cerpen saya itu Amy Tan sekali. Nah, hal ini saya tak tahu harus menjawab apa. Tentang fell, setiap pembaca pasti berbeda. Hanya saja ada hal yang ingin saya katakan. Sejak menulis di cerpen koran tahun 2010, tema-tema cerpen saya memang tentang keluarga. Hampir semua cerpen saya mengangkat tema keluarga dengan cerita suram, kelam dan sedih. Silakan baca cerpen saya yang lainnya: Mar Beranak di Limas Isa (Kompas, 2011), Perihal Sebatang Kayu di Belakang Limas Kami yang Ada dalam Hikayat Emak (Kompas, 2011), Malam Hujan Bulan Desember (Kompas, 2013), Bolu Delapan Jam (Kompas, 2015), Boneka Air Mata Hantu (Jawa Pos, 2013), dan lain-lain. Semua bertema keluarga dengan rasa kelam, suram dan rasa yang sama dengan cerpen Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong. Jadi saya tak tahu harus menjawab apa di bagian ini.//

    Saran saya, pembaca baca dulu Amy Tan, baru baca cerpen Lilin Merah. Rasa yang saya maksud adalah Voice of Writing (suara tulisan) yang menunjukan pada pembaca keunikan dan orisinal cerita tersebut. Suara tulisan berbeda dengan gaya menulis atau dengan pemilihan tema-tema menulis. Kenapa berbeda?

    Voice is your own. It’s a developed way of writing that sets you apart from other writers (hopefully). It’s your personality coming through on the page, by your language use and word choice. When you read a Dave Barry column, you know it’s his. Why? He’s developed a distinct writing voice. (Sumber: http://www.writersdigest.com/online-editor/the-difference-between-voice-and-style-in-writing)

    Suara itu datang dari pemikiran pengarang, melalui pilihan detil cerita, diksi, majas, simbol, dengan cara bertutur yang khas, karakter pengarang dalam mengolah cerita dari sudut pandang miliknya, kedalaman cara berpikirnya. Tapi, apa yang terjadi kalau kalimat-kalimat pendukung cerita tidak berasal dari dirinya?

    //Pada akhirnya, semua saya kembalikan pada Redaksi Kompas (dan pembaca). Silakan nilai cerpen tersebut. Silakan dikulik. Dibongkar. Apa pun untuk mendapatkan nilai akhir: Apa cerpen ini plagiat atau bukan? Dan saya siap menghadapi kosekuensinya, seperti mengembalikan honorium, meminta maaf secara terbuka dan sanksi-sanksi lainnya dari Kompas dan pembaca. Di kesempatan ini, saya juga meminta maaf jika sudah melakukan kesalahan, keteledoran dan hal-hal yang membuat berbagai pihak kecewa.//

    Saya meminta PENGAKUAN PENGARANG dan PERTANGGUNGJAWABAN REDAKSI karena memuat cerpen yang tidak orisinal. Tapi, kelihatannya, pendapat pengarang bahwa apakah cerpen ini plagiat atau bukan, semua kembali pada redaksi Kompas—ibarat memakan pisang dan melemparkan kulitnya. Saat orang terpeleset, dengan enaknya si pemakan pisang menyalahkan jalan tempat kulit pisang dibuang atau penyapu jalan yang tidak langsung membersihkan kulit pisang tersebut.

    //Maafkan saya, saya tak pernah berniat melakukan hal-hal tersebut. Dan sungguh, ini menjadi momen yang sangat berharga bagi saya. Momen yang akan saya kenang seumur hidup untuk pembelajaran di masa-masa akan datang.//

    Saya bukan tidak punya empati pada pengarang atas kejujurannya. Tapi, saya adalah pembaca setia, yang kasmaran kalau melihat tulisan/karya bagus. Saya rela keluar uang dan berdiri berjam-jam di toko buku menikmati buku yang bagus. Bahkan, saking jatuh cinta (seperti pada kumpulan cerpen ‘Seorang Perempuan Yang Jatuh Cinta Pada Laut’) saya bisa melahap karya-karya lain berasal dari pengarang-pengarang cerpen tersebut.

    Pengarang yang tidak mengerti kecintaan semacam itu, tidak akan mengerti rasanya dikhianati perasaan, kalau perasaan yang timbul akibat membaca cerpen plagiasi adalah palsu. Keren. Bagus. Pujian itu salah alamat. Itu yang dirasakan oleh beberapa teman saya yang mengaku ‘fans’ dari pengarang cerpen ini.

    Saya rasa akan lebih sulit kalau pengarang tetap melakukan teknik mutilasi yang sama dalam berkarya. Saya sedang membaca cerpen dari pengarang yang sama, berjudul Upacara Hoe (Kompas, Februari 2015) dan komparasinya, yaitu tulisan non fiksi tentang budaya Tionghoa.

    Dalam cerpen tersebut: //Meja persembahan sepanjang dua meter sudah dipenuhi hidangan. Di bagian depan meja, kepala babi telah tersedia, pun dengan kepala kambing di meja berikutnya. Tak lupa buah-buahan dan berbagai hidangan. Hidangan upacara kematian berupa sam seng terdiri dari daging dan minyak babi, ayam, darah babi, telur bebek—semua direbus—pun sudah diletakkan dalam piring lonjong besar di atas meja.//

    Dalam tulisan non fiksi: //Untuk orang kaya, diadakan meja persembahan yang memanjang 2 sampai 5 meter. Di atas meja disediakan macam-macam jenis makanan dan buah-buahan. Pada bagian depan meja diletakkan kepala babi dan di depan meja berikutnya kepala kambing. Makanan yang harus ada pada setiap upacara kematian adalah “sam seng”, yang terdiri dari lapisan daging dan minyak babi (Samcan), seekor ayam yang sudah dikuliti, darah babi, telur bebek. Semuanya direbus dan diletakkan dalam sebuah piring lonjong besar. B. Ginarti K. (2012, 14 Agustus). Budaya Tionghoa Forum Budaya dan Sejarah Tionghoa. Tradisi Upacara Pemakaman dan Kematian (sumber: http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/1050-tradisi-upacara-pemakaman-kematian).//

    Untuk rincian tentang cerpen Upacara Hoe akan saya tulis dalam catatan tersendiri.

    Jadi, kembali lagi pada NIAT. Apa yang dimaksud dengan tidak berniat melakukan mutilasi tulisan? Kalau, mau lebih dalam lagi, memang harus mempelajari semua karya-karya pengarang, baru dilihat pola perkembangan karyanya, apakah plagiasi ini akibat khilaf atau memang sudah dilakukan berkali-kali. Saya hanya mengemukakan pendapat dan gugatan saya. Pro dan kontra ada di tangan pembaca lain. Bagi saya, tetap #SayNoPlagiarism. Kalau pembaca tidak mengerti bedanya plagiarism, plagiasi, mutilasi tulisan dan ‘inspirasi’, pembaca bisa cari tahu di internet sebelum membuat teori.

    Catatan: Sampai tulisan ini saya tunjukkan, redaksi Kompas belum memberikan tanggapan resmi. Jadi, entah sampai kapan saya harus tunggu. Walau begitu, saya tidak menyesal telah mengungkapkan hal sejujurnya.

    Palmerah, 12 April 2016

    Salam literasi,

    Sian

    Sumber: https://www.facebook.com/notes/sian-hwa/tanggapan-saya-atas-tanggapan-guntur-alam-tentang-cerpen-lilin-merah-di-belakang/610997109056147

    Like

    • Ada sinopsisnya nggak?

      Like

  5. Ijin share, ya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: