Delapan Kuda Putih Berpacu


Cerpen S Prasetyo Utomo (Suara Merdeka, 03 April 2016)

Delapan Kuda Putih Berpacu ilustrasi Hery Purnomo

Delapan Kuda Putih Berpacu ilustrasi Hery Purnomo

TAK pernah dipikirkan Aryo sebelumnya, bila Zahra, calon istrinya, seorang dokter, menolak menempati rumah baru. Aryo membeli sebuah rumah di kota baru—kawasan yang dibangun sejak lima belas tahun silam, dengan menebang hutan karet. Semula ia berharap Zahra akan bahagia bisa membuka ruang praktik di rumah. Tapi Zahra menolak. Zahra ingin memiliki rumah di kampung, di antara orang-orang papa agar bisa membantu mengobati mereka.

Memasuki kawasan kota baru, Aryo selalu terpana dengan sebuah tugu bertiang delapan, dikelilingi air mancur, di taman yang membelah jalan. Di ujung jalan menuju perumahan, patung delapan kuda putih berpacu didirikan di taman yang rimbun pohon trembesi. Kuda-kuda yang gagah, mengangkat kaki muka, berpacu, tanpa kereta, tanpa pangeran dan dewa yang menungganginya.

Sebuah danau buatan yang luas menggenang biru, tenang permukaannya, tak jauh dari rumah Aryo. Pagi berkabut tipis, Aryo berjalan-jalan, menyusuri danau. Ia mengenal Sitras, seorang pemancing, yang duduk di atas batu, memasang joran kailnya. Tenang. Dengan wajah keriput yang menahan kesabaran, ia menanti ujung joran itu bergetar, umpan disambar ikan. Dia gugup menyentak joran, ikan menggelepar di ujung kailnya.

“Siang nanti ikan tangkapan ini kubawa ke rumahmu,” kata Sitras, lelaki setengah baya itu. Ia seorang penyadap getah karet yang telah kehilangan pekerjaannya semenjak hutan-hutan karet dibabat, dijadikan perumahan mewah, pusat perbelanjaan, pabrik, kantor, gedung sekolah, dan restoran. Sitras tak mau kehilangan pencahariannnya. Ia tetap memperoleh nafkah dari lahan bekas hutan karet dengan mengail ikan di danau buatan.

“Bawalah ke rumahku ikan-ikan itu,” kata Aryo. “Tapi kenapa kau tak mau mancing sampai sore? Tentu akan kauperoleh ikan lebih banyak.”

“Sore nanti saya harus melakukan suatu pekerjaan. Sejak dulu saya selalu memiliki pekerjaan sore,” sahut Sitras.

“Dulu saya menyabit rumput untuk kuda-kuda pacu setelah menyadap getah karet. Tapi sudah lima belas tahun kuda-kuda pacu itu dijual. Tinggal kandang-kandang yang kosong. Tak ada lagi kuda-kuda gagah itu. Tak ada pacuan kuda yang mendebarkan. Tinggal patung-patung kuda pacu yang bisa kita lihat.”

“Lalu, apa kerjamu nanti sore?”

“Saya punya ayam jago yang bisa disabung. Ayam jagoku diadu, dipertaruhan para cukong.”

“Di mana mereka menyabung ayam?” Aryo terbelalak.

“Ada kawasan tersembunyi di tengah hutan karet, bersebelahan dengan hutan jati. Tempat itu dulu digunakan sebagai lapangan pacu kuda. Tapi ketika pacuan kuda tak lagi dilakukan, kawasan itu ditanami karet. Di celah-celah pohon karet, terdapat arena kosong yang bisa digunakan untuk sabung ayam. Sudah bertahun-tahun berdatangan cukong-cukong dari kota, dengan uang bertumpuk-tumpuk, mobil mewah, dan emas permata sebagai taruhan. Sayalah yang menjaga mobil mereka, membersihkan tempat sabung ayam, mengantar minuman dan makanan, dan memberi tahu bila aparat keamanan datang menyamar.”

“Mereka tak ditangkap aparat keamanan?”

“Mereka biasa meminta jatah. Sayalah yang diutus untuk mengantar uang jatah keamanan,” balas Sitras lugu.

“Datanglah ke arena sabung ayam sore ini. Akan seru. Cukong-cukong dari beberapa kota akan bertaruh di tempat itu. Inilah yang mereka lakukan setelah pacuan kuda tak ada.”

***

BERJALAN kaki menyusuri jalan setapak di tepi danau buatan, meninggalkan kawasan rumah mewah, menempuh jalan setapak ke hutan karet—yang masih tersisa dan belum ditebang—Aryo merasakan alam membukakan diri padanya. Melewati jalan setapak ke ladang yang dilalui penggembala kambing dan kerbau dari desa. Mereka meliarkan binatang piaraan itu di hutan karet. Pohon-pohon karet itu tak lagi pernah disadap getahnya, ditumbuhi rerumputan liar, belalang dan kadal menyusup dedaunan kering yang terserak.

Terdengar suara sorak-sorai di tengah hutan karet. Suara-suara yang memekik lepas, yang berharap kemenangan. Kadang terdengar seru kekecewaan. Kemarahan. Harapan. Kebanggaan. Kemenangan. Kekalahan. Kebimbangan. Aryo memandangi dari kejauhan, dari luar lingkaran orang-orang yang merubung arena sabung ayam. Dua ayam jago yang disabung itu sudah melelehkan darah pada jengger, mata, dan leher. Rontok bulu-bulunya. Debu mengepul tiap kali kedua ayam jantan saling labrak.

Orang-orang kaya yang datang dari berbagai kota aneka ragam: berperut buncit, berkepala botak, berkacamata, berambut keriting, berkulit kuning, hitam, sawo matang. Tak satu pun dikenal Aryo. Mobil-mobil mewah yang diparkir di tepi hutan karet menampakkan asal-usul mereka. Di arena sabung ayam itu mereka terus berteriakteriak, geram dan gemas, kadang beringas. Sitras berdiri di luar arena, lebih tenang, lebih bisa menahan diri. Ayam jagonya memang disabung. Tapi ia tak memiliki uang untuk bertaruh. Cukuplah baginya bila ia mendapat uang dari pemenang sabung ayam. Atau bila seorang cukong berkenan, akan membeli ayam jago piaraannya.

Asap rokok mengepul dari bibir para cukong. Dua ayam itu dimandikan. Lalu dilepas lagi ke tengah arena, hingga kedua kepala ayam jago itu berlumur darah. Paruh mereka menganga, terengah-engah. Sayap kedua ayam jago itu terentang.

Sore itu ayam sabung Sitras menang, meski tubuhnya penuh luka. Lelaki setengah baya itu menerima beberapa lembar uang dari cukong yang memenangi taruhan. Sitras mencium uang itu dan menyelipkan ke peci yang dikenakannya. Ia tampak bahagia. Ia disalami banyak orang. Ayam aduan itu dimandikan. Dibersihkan luka-lukanya.

Orang-orang meninggalkan arena sabung ayam. Mobil-mobil mewah pelan-pelan menjauh dari tepi hutan karet. Tempat itu kembali senyap. Tinggal Sitras. Dia membereskan tali-tali dan patok yang membatasi arena sabung ayam. Orang kini tak akan menemukan arena bekas sabung ayam. Yang tampak hamparan tanah kering, datar, tanpa rerumputan di tengah hutan karet. Dari jauh Aryo menyaksikan kegembiraan Sitras. Dia mengikuti lelaki setengah baya itu pulang, yang tersenyum-senyum sepanjang jalan.

Mencapai rumah Sitras di tepi di hutan jati, ayam jago itu dikurung dan diberi makan. Ada beberapa ayam jago aduan dalam kandang. Sitras mengajak Aryo memasuki rumah, duduk di kursi kayu tua, menghadap meja kusam. Di dinding tergantung beberapa kuda lumping. Di sudut ruang tamu, tergeletak kendang, dan seperangkat gamelan pengiring pergelaran kuda lumping. Berdebu. Tak pernah ditabuh. Aryo mengamatinya dari dekat.

“Dulu saya pemain kuda lumping. Sekarang tidak lagi. Tak ada lagi orang menanggap pergelaran kuda lumping,” kata Sitras. “Sekarang ini dunia jadi sepi. Yang ramai orang bersabung ayam sesekali.”

***

MELINTASI jalan-jalan desa sunyi yang berbatasan dengan hutan jati, Aryo memperlambat mobilnya. Ia baru saja mencari rumah penduduk desa yang dijual, yang terletak di tepi jalan. Ia ingin mewujudkan keinginan calon istrinya, Zahra, memiliki rumah di tengah penduduk kampung, agar bisa buka praktik sore hari. Ia telah menemukan rumah itu. Tidak bagus benar. Rumah tua, bangunan lama, luas, dan terletak di tepi jalan, di antara penduduk desa.

Berkali-kali Aryo melihat kandang kuda yang terbengkelai di tepi-tepi ladang, kosong, dengan bangunan yang melapuk. Kandang-kandang kuda itu dibiarkan terbengkelai, tanpa perawatan, dan merapuh, terpencar di beberapa lahan kosong. Dulu pastilah banyak kuda-kuda gagah di kandang-kandang itu. Yang kini terlihat patung delapan kuda putih berpacu. Aryo memasuki kawasan perumahan mewah yang penuh taman bunga dan rimbun pohon-pohon trembesi.

Menenteng kamera, ia ingin menyaksikan pertaruhan dalam sabung ayam di perbatasan antara hutan jati dan hutan karet. Kawasan itu memang tersembunyi, dan hanya orang-orang tertentu yang bisa mencapainya dengan cepat, menyusup di antara celah-celah batang pohon karet. Orang-orang sudah berdatangan dari berbagai penjuru kota. Kali ini lebih meriah. Lebih banyak orang yang datang.

Sabung ayam seru. Teriakan-teriakan lebih lepas. Seruan-seruan melengking ke langit. Debu tipis mengepul dari arena sabung ayam. Ayam jago Sitras unggul di tengah arena, dielu-elukan banyak orang. Mereka seperti melampiaskan kekesalan hidup dan tekanan hati dalam arena sabung ayam. Aryo yang membawa kamera, mengabadikan adegan-adegan itu. Naluri kewartawanannya mewaspadai suasana lupa diri: orang-orang yang meluapkan kegembiraan dan kekecewaan.

Datanglah mobil bak terbuka, dan lima orang berseragam, berpistol, bersepatu lars, mengepung arena sabung ayam. Orang-orang menghambur. Berlari, menyusup di antara pohon karet dan semak belukar. Beberapa orang ditangkap. Diborgol. Dimasukkan di mobil bak terbuka. Banyak di antara mereka yang berhasil kabur, lenyap seperti siluman. Memacu mobil meninggalkan tempat itu dalam sekejap.

Sigap, cekatan, Aryo mengambil gambar penangkapan itu. Tapi seorang lelaki berseragam menyambar kameranya. Membanting di bebatuan. Keras. Pecah. Berserakan.

Sitras yang berjongkok ketakutan di sudut arena sabung, mendekap ayam jagonya, dibekuk. Diborgol. Dibawa ke mobil bak terbuka. Tubuhnya yang ringkih itu didorong-dorong. Hingga terjatuh. Ia menghilang bersama mobil bak terbuka.

Aryo melacak Sitras hingga kantor aparat keamanan. Lelaki setengah baya itu berada dalam tahanan, berjeruji besi. Alangkah sunyi di ruang tahanan kantor aparat keamanan itu. Lembab. Berlumut. Bergelantungan sarang laba-laba. Kotor. Dirambati kecoa. Tapi kenapa cuma Sitras yang berada di ruang tahanan itu? Ke manakah cukong-cukong dari kota-kota yang jauh?

“Mereka sudah dibebaskan,” kata Sitras berbisik, pelan. “Baru saja mereka meninggalkan kantor ini.”

Aryo tercengang. Kantor aparat keamanan ini begitu senyap. Mereka yang berbaju seragam, bersenjata, bersepatu lars, beringas di arena sabung ayam tadi sudah tidak ada lagi. Tinggal beberapa orang yang menghindar. Tak ingin berhadapan dengan Aryo. Mereka kini membungkam. Tak mau bicara. Tak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan Aryo.

Ayam sabung Sitras terkurung di sudut ruang tahanan, tak jauh dengan pemiliknya. Ayam jago itu berkokok berkali-kali. Lantang. Kokok ayam jantan yang menang di arena sabung. (*)

 

 

Pandana Merdeka, Maret 2016

S Prasetyo Utomo, dosen Universitas PGRI Semarang, kandidat doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes. Ia lahir di Yogyakarta 7 Januari 1961. Semenjak 1983 ia menulis esai sastra, puisi, cerpen, novel, dan artikel di beberapa media massa. Tulisannya dibukukan dalam antologi Perdebatan Sastra Kontekstual (antologi esai, 1985), Antologi Puisi Jawa Tengah (1994), Serayu (antologi puisi, 1995), Ritus (antologi cerpen, 1995), dan sejumlah lainnya. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (2005).

 

One Response

  1. ceritanya datar.., sedatar arena sabung ayam di tengah kebun karet..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: