Archive for March, 2016

Susi dalam Dingin November
March 20, 2016


Cerpen Isbedy Stiawan Zs (Media Indonesia, 20 Maret 2016)

Susi dalam Dingin November ilustrasi Pata Areadi

Susi dalam Dingin November ilustrasi Pata Areadi

AKU bergegas menuju stasiun. Kutembus cuaca yang sangat dingin. Tak perlu menyetop bus, sebab aku harus mampir dulu di rumah makan masakan Indonesia, sebelum sampai di Leiden Central.

Rumah makan ala Indonesia itu sepertinya menjadi langgananku karena hanya itu yang kutahu. Pekerjanya semua orang Indonesia, dan yang paling kusuka; ramah dan manis. Tapi, percayalah aku tak tergoda. Kecuali demi memasukkan makanan ke dalam perut agar kondisi tubuhku di suhu di bawah 10 derajat ini tak mudah diserang sakit. (more…)

Siwa
March 20, 2016


Cerpen Saroni Asikin (Suara Merdeka, 20 Maret 2016)

Siwa ilustrasi Toto

Siwa ilustrasi Toto

Suli menelan ludah pahitnya saat suaminya berkata, “Atas restu Ibu Ratu, sudah kuputuskan, kau harus melacur, Suli!”

Ucapannya persis desisan beludak siap menyemburkan bisa. Kepulan asap kretek Siwa, lelaki itu, meliuk-liuk di depan muka dinginnya, memedihkan mata Suli. Perempuan itu tak berani menengadahkan wajah. Serupa tawanan kalah perang. Dia tak pernah mampu menatap muka lelaki yang lima belas tahun jadi suaminya itu. Hanya sekejap saja tak mampu. Sebab pada muka itu, dia selalu melihat kebengisan Dasamuka menjelang tiwikrama. (more…)

Tuan Tanah
March 20, 2016


Cerpen Indah Darmastuti (Jawa Pos, 20 Maret 2016)

Tuan Tanah ilustrasi Bagus Hariadi

Tuan Tanah ilustrasi Bagus Hariadi

KULETAKKAN gagang telepon setelah suara di seberang sana mengucap “terima kasih, selamat malam.” Debar jantungku masih kencang. Aku harus secepatnya mencari tiket pulang untuk kakak. Dia tidak boleh terlalu lama tinggal di sana, atau sesuatu yang buruk akan menimpanya. Oh, tidak! Itu tak boleh terjadi. Paling lambat besok sore aku harus sudah mendapatkan tiket. Saat ini sudah terlalu larut untuk mengurusnya. Penerbangan apa pun tak jadi soal yang pen ting secepatnya bisa membawanya pulang.

Kabar tengah malam itu sungguh buruk. Berpotensi membuat insomniaku kumat. Aku masih shock dan tertekan oleh kabar dari Anastasia, perempuan yang mengaku kawan kakak. Sekitar lima jam yang lalu, kakak kejang-kejang. Itu kali ketiga kakak tiba-tiba roboh ke tanah lalu kejang dengan mata membeliak. Membuat penduduk setempat tercekam ngeri dan ketakutan. (more…)

Percakapan Tengah Malam
March 20, 2016


Cerpen Shabrina WS (Republika, 20 Maret 2016)

Percakapan Tengah Malam ilustrasi Rendra Purnama

Percakapan Tengah Malam ilustrasi Rendra Purnama

Menjelang tengah malam, Jas mematikan traktornya. Aku segera meniup lampu minyak di meja. Tak berapa lama, terdengar kecipak air dari kamar mandi di belakang rumah. Aku tak bersuara, hingga pintu terbuka, dan cahaya bulan menghambur masuk ruangan. Aku bisa melihat bayangan Jas yang melangkah masuk.

“Kamu selalu pulang jam segini?”

“Ibu?” (more…)

Pengakuan Rusmini
March 20, 2016


Cerpen Wina Bojonegoro (Kompas, 20 Maret 2016)

Pengakuan Rusmini ilustrasi Emmy Go

Pengakuan Rusmini ilustrasi Emmy Go

Kesendirian seringkali lebih mematikan dari sebilah belati. Caranya membunuh begitu perlahan, terkadang menyerupai kenikmatan. Kesendirian tidak membunuh tubuh, melainkan jiwa. Lihatlah Nyonya Rusmini. Ia terlalu terpukau pada lukisan tangannya di tembok kamar itu, hingga sering lalai pada tubuhnya. Kenangan demi kenangan ia sesapi dan cumbui seperti cerutu di bibir lelaki dalam lukisan itu. Kurasa, Nyonya Rusmini bukan kehilangan kecantikan fisiknya. Ia kehilangan sebagian jiwanya. Terbunuh perlahan bukan oleh belati, namun kesendirian itu. (more…)

Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku
March 19, 2016


Cerpen Faisal Oddang (Koran Tempo, 19-20 Maret 2016)

Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku ilustrasi Munzir Fadly

Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku ilustrasi Munzir Fadly

“BAGAIMANA cara mereka memotong lidahmu?”

Bagaimana caranya kau tahu aku di sini? Setelah berpuluh tahun menghilang, kau muncul dengan pertanyaan yang memaksa air mataku jatuh lagi, memaksaku mengenang tahun enam-lima yang memerihkan itu, ketika aku dan kau keluar masuk hutan demi bertahan hidup. Demi pengabdian kepada Dewata sebagai bissu yang suci. Sial, kita diburu karena dianggap mengkhianati Tuhan. Bukankah Dewata juga Tuhan? Lantas, adakah yang lebih setia dari bissu? Lebih hina mana: berpaling dari Tuhan atau dari negara? Kau tentu tak mendengarku, Upe. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi bicara, dan memang orang yang tidak punya lidah tidak bisa bicara, hanya bisa hidup dan menangis, kendati tidak sekali pun menyesali masa lalu. (more…)