Cerpen Indrian Koto (Media Indonesia, 27 Maret 2016)

Rahasia Tangan ilustrasi Cathy A
Rahasia Tangan ilustrasi Cathy A

MALAM itu untuk pertama kalinya dia melakukannya padaku. Kami yang sedang main sembunyi-sembunyian berada di bawah lantai rumah panggung Etek Jani. Linda yang mendapat giliran mencari adalah orang yang takut pada gelap. Mustahil ia bisa menemukan kami dengan cepat.

Saat Linda mulai menghitung, kami yang berjumlah tak sampai sepuluh berebut mencari tempat sembunyi. Ia menarikku ke kolong rumah. Entah bagaimana mulanya tiba-tiba ia sudah menindihku. Aku tak ingat reaksiku saat itu dan bagaimana ia melakukannya. Aku berkeringat dan mengalami rasa yang aneh. Beruntung seseorang menarikku dari suasana menakutkan itu.

“Ketemu! Kantan dan Ilen.” Linda berteriak puas karena berhasil menemukan kami. Ia menyelamatkanku dari saat-saat yang sulit. Tinggal kami berdua yang belum ditemukan malam itu. Aku sudah tak sadar akan hal-hal di luar diri kami, lantaran cemas dan rasa aneh yang menghinggapiku.

Tapi kejadian malam itu membuat aku tak bisa lepas lagi dari jeratan dan godaannya. Meski aku belum disunat, aku bisa mengerti apa yang diinginkannya. Meski takut, diam-diam aku mulai menikmati permainan ini.

***

Ia selalu menemukan cara untuk bisa mendapatkanku. Aku tak kuasa menolak ketika tangannya yang hitam itu menarik turun celanaku yang terbuat dari bekas tepung terigu. Cemas sekaligus nikmat.

Aku dan kawan-kawan tak berani melawannya. Bahkan lelaki remaja pun tak berani menerima tantangannya untuk berkelahi. Tak ada pula yang bisa mengalahkannya dalam permainan laki-laki mana pun. Setiap anak di kampungku merasa, ia musuh sekaligus kawan.

Ilen adalah anak perempuan yang sangat tidak perempuan; meludah di sembarang tempat, tertawa terbahak-bahak, dan hampir tak pernah pakai rok. Ia jarang bergaul dengan teman-teman perempuannya. Teman seusianya juga enggan bermain dengannya. Tak ada gadis remaja seusianya yang ikut bergerombol dengan laki-laki, tak ada yang mau berpanas-panas di sepanjang pantai atau bergulat dengan lumpur. Ilen suka mengajak kami, anak-anak yang lebih kecil mandi di pantai, mencari lokan dan kerang, jika tidak umang-umang.

Ia memilih anak-anak kecil seusiaku ketimbang ikut mencari kutu dan bermain congklak atau lompat tali. Ia tidak pula ikut repot mengerjakan tugas sekolah karena sudah lama ia berhenti. Sehari-hari ia bermain dengan anak laki-laki, ikut menjerat burung, memancing di sungai, menjala ikan, menggembalakan sapi, dan mencari rumput. Untuk hal-hal semacam itu, keluarganya hanya bisa mengusap dada. Jika ketahuan ikut berjudi, main gambar umbul dan semacamnya, dua kakak lelakinya siap menghajarnya dengan kayu dan ikat pinggang. Ibunya akan mengejarnya dengan sebilah papan bila kedapatan membawa sisa mainan pulang ke rumah.

Ia menggunakan kami sebagai tameng. “Kami hanya bermain di sepanjang pantai. Tanya mereka kalau tidak percaya,” dalihnya setiap kali kami habis bermain. Meski demikian, lecutan-lecutan tidak serta-merta menjauhinya. Dan ia memilih menerima bekas merah di tubuh ketimbang berubah jadi gadis manis yang duduk bergerombol dengan muka coreng-moreng karena memakai bedak beras seperti gadis lainnya.

Entah kenapa ia memilih diriku untuk yang satu itu.

***

Suatu malam, ia menyeretku ke balik rumpun pandan di samping sumur Uni Linas. Rumah itu satu-satunya yang paling terang di kampungku karena dia memakai lampu strongking. Setiap habis mengaji rumahnya akan ramai oleh kami yang berebutan bermain galah, main leng kaleleng atau petak umpet. Debu yang beterbangan oleh ulah kami bisa saja masuk ke dalam talam yang penuh goreng pisang, ubi, talas di warungnya.

Ia tidak hanya gesit dalam permainan, tapi juga sangat lincah menarik celana—meski talinya telah kuikat kuat-kuat. Ia pintar mencuri kesempatan. Ketika semua anak sibuk mencari kami, ia dengan leluasa mempermainkan diriku yang kecil dan tak berdaya. Aku bebas ketika sebuah tangan menepuk kepalaku. Tangan Nora. Aku pucat. Takut jika Nora mengadukan kejadian itu pada orang dewasa.

Ilen adalah ketua kelompok kami—sekelompok anak lelaki dan perempuan yang lebih kecil darinya, terdiri dari anak-anak kelas tiga hingga kelas enam SD. Ia yang menentukan di mana kami akan memancing, siapa yang akan mencari umpan dan akan diapakan ikan yang didapat. Membantahnya berarti termasuk kelompok Idal anak Pak Tujang yang nakal dan tak punya teman itu. Idal suka mengganggu kami. Satu-satunya penyelamat tentu saja Ilen. Idal tak berani mendekati kami kalau ada Ilen bersama kami.

Bagi kami, yang dianggap masih anak-anak, berteman dengan anak laki-laki yang lebih besar tak mungkin. Anak lelaki yang lebih besar punya rahasia-rahasia di mana anak kecil tak boleh tahu. Sekali waktu aku mengetahui rahasia mereka juga, karena Uun salah satu dari mereka berkarib denganku lantaran ia naksir Nora, teman mainku.

Dari Uun aku tahu kegiatan-kegiatan anak lelaki sepanjang siang dan sore hari. Siang hari mereka akan ke pantai, bersembunyi di semak-semak, apalagi kalau bukan mengintip orang pacaran.

Selain mengintip orang pacaran, rahasia mereka yang lain adalah mengintip orang mandi. Tak sulit melakukan itu. Aku pernah melakukannya bersama Uun. Kampung kami yang memanjang di pinggir pantai dibatasi gundukan bukit kecil yang banyak pohonan. Sumur tanah terletak di belakang masing-masing rumah. Dindingnya hanya anyaman daun kelapa yang sudah tua dan jarang-jarang. Sebagian orang memasang dindingnya asal-asalan, sebagian yang lain membiarkan sumurnya terbuka begitu saja. Berada di balik semak kecil menghadap sumur adalah peristiwa yang sungguh mendebarkan.

***

Ilen selalu punya cara untuk memperdaya kami. Biasanya sehabis main lepar dengan anak lelaki ia akan membagi-bagikan gambar umbul kemenangannya kepada kami. Tidak seperti anak laki-laki yang pelit itu. Setiap kali lepar-nya mengenai kertas gambar kami akan berebutan memungutinya. Setiap pemungut mendapat jatah satu sampai dua gambar. Maka di setiap permainan Ilen adalah idola, kami menyorakinya dan memberi semangat. Mungkin karena itu anak laki-laki malas bermain dengan kami. “Bencong,” kata mereka meledek kami.

Sore hari biasanya ia mengajak kami bermain di pinggir pantai. Di antara belasan anak sebaya hanya aku, Iwan, Ijas, serta Eki yang laki-laki. Sepanjang sore hanya ada permainan rumah-rumahan dan nikah-nikahan. Ilen yang mengatur siapa yang menjadi pengantin perempuan dan pengantin laki-laki. Kalau anak lelaki dewasa lewat dan melihat kami, habislah kami ditertawakannya. Aku sering menolak ikut main, tapi tanpa teman tentu sangat menyiksa. Ilen menghukum kami dengan cara mendiamkan setiap kali kami menolak bermain.

Kami punya tempat bermain yang tersembunyi, Ilen membuatkannya untuk kami. Di antara rerimbunan pohon setinggi orang dewasa di pinggir pantai. Di bawah jalinan akarnya, pada pasir-pasir kering, dan lembut tempat kami biasa tiduran dan bergelayutan.

Bermain pengantin-pengantinan membosankan bagiku. Itu-itu saja. Suasananya hanya siang dan malam. Memasak dengan api kecil dan peralatan dapur dari tempurung. Selebihnya malam, dan para pengantin harus tidur.

Aku tidak terlalu suka permainan ini, apalagi ketika aku menjadi pengantin laki-laki dan Ilen pengantin perempuan. “Linda saja,” kataku. Aku lebih senang Linda atau Nora yang menjadi pengantin perempuan. Dengan mereka aku merasa lebih nyaman. Kami melakukannya jauh lebih manis dari apa yang dilakukan dan disuruh Ilen.

Karena malamnya sangat lama, kami harus benar-benar memejamkan mata dan bersikap seolah-olah tidur benaran. Aku merasa takut dan malas setiap melakukan itu. Aku merasa risih tiap kali tangannya mulai meremas-remas tubuhku dengan kasar. Aku menolak sekerasnya. Secepat kilat meninggalkan tempat permainan. Aku tahu, Ilen pasti sangat marah kepadaku.

***

“Masak disuruh telanjang?” desis Uni Enti tak percaya ketika kuceritakan pada mereka apa yang dilakukan Ilen pada kami. Anak-anak perempuan yang sering bermain di dapur Meri atau di teras Uni Eni itu membelalakkan mata tak percaya. Kemudian tertawa sambil menutup mulut mereka.

“Dan dipegang-pegang?” tanya si El sambil menyorongkan kayu ke dalam tungku.

Aku mengangguk.

“Terus kalian diapakan?” Uni Enti kembali menanyaiku dengan semangat.

“Kami disuruh telanjang dan cium-ciuman,” kataku meyakinkan mereka, tak kalah semangat pula.

Anak perempuan itu saling pandang sambil terkikik.

“Dipegang ininya?” tanya Uni Enti lagi sambil meraba pangkal pahaku.

Aku menunduk malu. Anak-anak gadis lainnya terkikik semakin keras.

***

Sore itu kampungku ramai. Anak-anak dan orang dewasa berkerumunan di sekitar rumah Ilen. Aku mendengar Ilen menangis dan berteriak-teriak dari sumur yang hanya dipagar daun kelapa tua. Aku melihat bapaknya mengayunkan ikat pinggang. Sementara Ipon dan Ujang—dua kakaknya—mencukur rambutnya yang sebahu itu secara tak beraturan.

Beberapa hari Ilen tak pernah keluar rumah. Kalau pun keluar ia menggunakan selendang untuk menutup kepalanya yang botak. Ia tak pernah menyapaku, tak pernah menyapa siapa pun. Tapi aku tak merasa takut lagi, sebab anak-anak perempuan yang lain menjagaku. Aku merasa lebih aman, sebab tangan mereka tidak sekasar tangan Ilen.

Kurasa, mereka lebih lembut menyayangiku. (*)

 

 

 

Indrian Koto, aktif di Rumahlebah, Yogyakarta, dan Rumah Poetika. Karya-karyanya tersiar di sejumlah media.

 

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com dan cerpenmi@yahoo.co.id @Cerpen_MI

 

Advertisements