Cerpen Miranda Seftiana (Kompas, 27 Maret 2016)

 

Geheugen Gallery ilustrasi Dea Aprilia
Geheugen Gallery ilustrasi Dea Aprilia

Rijksmuseum Volkenkunde di musim bunga tulip bermekaran. Aku melangkah gontai menuju pintu masuk museum nasional Belanda yang terletak di bagian timur laut Museumplein, Amsterdam, Belanda ini. Sebuah tempat yang dirancang oleh Pierre Cuypers sebagai dedikasi bagi seni, sejarah, dan kenangan. Membawa hati yang baru saja dilepaskan demi sebuah tanggung jawab.

Melewati taman, kulihat sebagian orang sedang sibuk mengabadikan momen di depan bangunan yang indah. Terasa wajar kiranya jika Rijksmuseum dinobatkan sebagai museum paling terkenal di negeri kincir angin ini dengan jumlah pengunjung mencapai dua juta lebih per tahun. Meski di luar terlihat ramai, ternyata pada bagian dalam cukup sepi. Membuat atmosfer masa lalu semakin kental membalut bangunan yang pertama kali dibuka sejak tahun 1885 ini.

“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” suara lembut namun berat itu sedikit mengusikku yang sedang melihat beberapa koleksi tahun 1100 di lantai pertama.

Keningku sedikit berkerut saat menatap lelaki di depanku ini. Tubuhnya tegap dalam balutan kemeja berwarna hitam yang membuat kulit putih itu semakin jelas. Matanya biru laut dan teduh. Rasanya dia lebih mirip wisatawan daripada penjaga museum.

Dia tersenyum. “Apakah Anda ingin melihat-lihat koleksi kenangan di sini?”

Tawaran yang menggiurkan. Terlebih aku adalah penyuka sejarah, kolektor kenangan. Itu pula yang turut menjadi alasanku memilih studi ilmu sejarah. Mungkin jika ada studi tentang kenangan aku akan memilihnya juga. Tetapi bukankah kenangan dan sejarah sebuah kesatuan?

Aku mengangguk. “Tentu saja, Tuan.”

Kami berjalan menuju lantai ketiga, sebuah galeri tempat menyimpan barang peninggalan abad ke-18 Masehi. Dia bilang di sanalah benda-benda yang memiliki kenangan bagi pemiliknya tersimpan.

Mataku seketika memicing saat bertumbuk pada sebuah benda yang terkesan tak lazim disimpan dalam sebuah museum. Terlebih sekelas Rijksmuseum yang terdiri dari 4 lantai ini. Ia seakan mengerti dengan jalan pikiranku.

“Itu namanya sekaca Cempaka. Ia adalah lambang keabadian cinta.”

***

“Apa tidak bisa jika kamu tinggal di sini saja?” Seorang perempuan bicara dengan isak tertahan di antara suara elang yang beterbangan pada langit terbias tembaga.

Lelaki di depannya menggeleng pelan. Terlihat seragam bercorak khas seorang anggota angkatan bersenjata itu kumal dan kotor. Bahkan sepertinya ada noda darah di sana.

Niet doen …” ucapnya lemah. Dialek Belanda terdengar kental dalam nada bicaranya.

“Kau tahu sendiri, aku bisa dianggap pengkhianat negara jika tetap bertahan di sini.”

“Tetapi kamu lebih dulu membuatku menjadi pengkhianat, Dageraad!” sergah perempuan itu cepat. Ia merasa tidak diterima dengan perkataan lelaki bernama Dageraad itu.

Bagaimanapun, bagi orang Banjar, mencintai Walanda adalah sebuah kenistaan terbesar. Terlebih bagi perempuan.

Dageraad terdiam. Betapa ternyata menembakkan satu peluru ke dada musuh lebih mudah daripada jatuh cinta. Karena setelah itu kau tak perlu turut terluka seperti ini.

“Apa suatu saat kamu akan kembali, Dage?”

Lelaki itu menarik napas dalam. Coba mengalirkan udara lebih banyak untuk mengurangi sesak pada rongga dadanya.

“Andai kamu tahu, Galuh, jika saja membawamu pergi dari sini tak lebih membahayakan, tentu aku telah melakukannya sebelum ini.” Batin Dageraad berujar lirih.

“Dage….”

“Aku belum bisa menjanjikan itu padamu, Diamant. Tetapi satu hal yang harus kamu tahu, hanya ada dua warna Cempaka di dunia ini.”

“Putih disimpan lelaki, sebagai tanda perasaan itu murni. Dan kuning disimpan perempuan, sebagai perlambang ia sakral.” Galuh menyambung kalimat Dageraad.

“Dan keduanya akan selalu abadi selama tidak ada yang memecahkan salah satu darinya. Itu bermakna, selama tak ada hati yang terluka, perasaan itu akan tetap terjaga.”

Sepasang manusia berbeda bangsa itu tersenyum tipis. Tangan mereka mengusap cempaka yang tersimpan dalam botol kaca dari minuman bergrafir bahasa Belanda dengan 1829 turut tercetak di sana. Galuh sendiri yang merangkai sekaca cempaka itu untuk dibawa Dageraad ke negerinya sebagai kenangan. Menurut legenda, jika berjodoh, kelak sepasang cempaka kuning dan putih yang disimpan dalam botol kaca dengan air itu akan ada di tempat yang sama. Tetapi jika tidak, ia akan tetap membuat pemiliknya saling terikat meski terpisah asalkan tidak dipecahkan.

Ik hou van jou, Diamant.”

Ik hou ook van jou, Dage.”

Ya. Dageraad memang selalu memanggil Galuh dengan sebutan Diamant yang berarti intan. Karena dalam budaya pendulang di tanah Banjar, intan disebut dengan Galuh sebagai sapaan penghormatan sekaligus lambang kasih sayang seperti seorang ayah pada putrinya atau kekasih terhadap orang yang dicintainya.

Sepuluh tahun menginjak tanah Banjar nyatanya cukup mempengaruhi banyak sisi kehidupan dalam diri seorang Dageraad Van Dallen, marinir angkatan darat Walanda itu. Termasuk tentang hatinya.

“Maukah kamu berjanji menjaga hatimu untukku?” Mata biru laut nan teduh itu menatap dalam. Ada sebuah pengharapan yang tecermin di sana.

Galuh mengangguk halus. Tentu, Dage. Tentu saja aku akan menjaga hatiku meski tanpa kamu memintanya. Sebab, hakikat hati seperti cempaka. Ia akan hanya terdiri dari dua warna, kuning dan putih. Dan cempaka hanya akan tumbuh pada tanah yang tepat. Laksana cinta, tidak akan bersemi bila bukan pada hati yang tepat.

***

“Itu sebabnya ruangan ini dinamakan galeri kenangan.” Dia mengakhiri kisahnya.

“Apa Dage.” Aku baru saja hendak menanyakan tentang Dageraad ketika menyadari sosok lelaki yang sedari tadi menemani tak lagi berada di sisiku.

Mataku melirik ke segala penjuru ruangan yang didominasi warna coklat kayu lembut ini. Tetapi tak ada seorang pun di sini. Bahkan tak ada benda koleksi apa pun yang terpajang di galeri ini. Berbeda sekali dengan sebelumnya. Hingga sebuah papan pengumuman itu seketika membuat tubuhku bergetar.

Geheugen Gallery didedikasikan untuk mengenang pahlawan kita, Dageraad Van Dallen. Resmi dibuka….

Foto lelaki di banner itu, dia mirip sekali dengan yang tadi menemaniku. Mataku membelalak dengan sempurna. Tanggal pembukaan yang tertera di sana, baru akan dibuka bulan depan. Jadi, dia… seketika aku merasa sedang mengalami de javu.

Bergegas kulangkahkan kaki menuju anak tangga. Ada sesuatu yang terasa menelisik. Mengapa perpisahan Dageraad dan Galuh seakan kini sedang bereinkarnasi padaku? Hanya bedanya, dia yang berdarah Indonesia dan harus kembali ke tanah kelahirannya untuk mengabdi.

“Cempaka bukan tulip. Ia akan selalu sepasang, putih dan kuning. Takkan bisa tumbuh jika bukan pada tanah yang tepat….”

Kalimat itu kembali terngiang di telingaku. Ucapan Fajar tadi saat aku mengantarnya ke bandara.

Tapi apa bisa sepasang cempaka itu tersimpan di tempat yang sama atau hanya akan tersimpan dalam galeri kenangan di hati kita, Fajar? Saat kamu memilih jalan sendiri. Kembali ke tanah di mana cempaka terlahir dan bertumbuh, tanpa aku bisa mendampingi. Perempuan Walanda yang menunggumu di sudut Geheugen Gallery dengan kenangan yang abadi. Seperti milik Diamant dan Dageraad. (*)

 

 

Miranda Seftiana, seorang penulis yang lahir di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Kesehariannya diisi dengan menulis di beberapa media, baik cetak maupun “online”. Beberapa karyanya telah dibukukan, antara lain dalam “Senandung Cinta untuk Bunda” yang diterbitkan oleh Leutika Prio pada 2011. Selain sebagai penulis, ia juga bekerja di salah satu penerbit buku di Yogyakarta sebagai “proofreader”.

 

Advertisements