Bintang-bintang di Jendela


Cerpen Adi Zamzam (Suara Merdeka, 27 Maret 2016)

Bintang-bintang di Jendela ilustrasi Suara Merdeka

Bintang-bintang di Jendela ilustrasi Suara Merdeka

Tiga bilah cahaya masuk ke dalam remang-remang kamar itu. Seperti sebuah tangan yang ingin meraih, memeluk erat, dan menghiburnya dari segala kesedihan.

Ia lantas meregangkan tubuh untuk mengusir pegal-pegal. Tubuhnya menggelinjang aneh. Ini untuk sebuah penyambutan. Malam sudah datang. Ia harus bersiap menyambut sebuah kereta harapan yang akan datang menjemput. Meski kereta itu selalu datang diam-diam, tapi selalu tepat waktu. Selalu tepat ketika sunyi mendekap malam sedemikian pekatnya. Karena itulah ia sendiri yang harus siap menunggu. Tak peduli sepi tengah melumuri semesta raya.

Kereta itu membawa gemerincing kegembiraan. Dengan penarik kuda-kuda pilihan yang entah berasal dari daerah mana. Tanpa penumpang. Seolah memang khusus datang untuknya. Dan memang kereta itu selalu datang untuknya. Hanya untuknya.

Ia disambut bak pangeran, meski tanpa pakaian kebesaran. Ia duduk di sebuah singgasana gemerlap yang seperti kerlip gemintang—ketika telah mengudara di angkasa.

“Aku bebaaaass!!” teriak hatinya ketika kereta telah membawanya pergi dari dalam kamar. Dan wajahnya yang senantiasa pucat pasi, berubah penuh gairah, penuh suka cita.

“Antar aku ke Amerika! Aku ingin melihat Hollywood! Aku ingin duduk di puncak Liberty! Aku ingin singgah di Gedung Putih,” dia terus saja mengumbar keinginannya ketika kereta itu dalam sekejap membawanya ke berbagai tempat yang selama ini hanya ia ketahui lewat buku-buku dan cerita-cerita yang terpapas dari bibir kesabaran ibunya.

Ke mana pun tempat yang diinginkan, kereta itu akan selalu mengabulkan permintaannya, seperti layaknya seorang peri yang jatuh iba pada Cinderella. Seumur hidupnya. Sejak ibunya bercerita bahwa konon di luar jendela sana ada sebuah dunia nan amat luas yang takkan pernah habis dan takkan pernah cukup jika dituliskan dalam berlembar-lembar cerita.

Entah sudah berapa cerita yang telah diperdengarkan ibunya. Entah sudah berapa buku yang berjejal masuk dalam ruang imajinasinya. Dan ia percaya, taburan gemintang yang tampak di kotak jendela, di bawahnya adalah bentangan cerita kehidupan yang maha aneka.

Tentang daerah kutub misalnya. Membayangkan salju yang dingin saja adalah sebuah sensasi mendebarkan baginya. Apa itu salju, dan bagaimana air yang cair bisa berubah seperti bunga-bunga kristal yang lalu menjadi hamparan es? Ibunya sampai kerap memutar film-film yang berisi adegan-adegan bersalju, demi memenuhi rasa ingin tahu.

“Dinginnya sama seperti es,” terang ibunya, seraya menerangkan bahwa kejadian es serupa persis dengan kejadian salju. Meski ia tak begitu mengerti, tapi ia amat senang ketika ibunya bercerita. Perempuan itu, baginya laksana seorang peri yang mengetahui banyak hal dan selalu mengabulkan permintaannya.

Atau tentang sebuah hutan, tempat yang konon hanya berisi pepohonan dan kegelapan, beserta para penghuninya yang liar. Ia juga sering membayangkan seperti apa karakter harimau yang tega memangsa hewan lainnya, gajah yang perkasa, monyet yang rakus, atau ular yang senang diam-diam menyelinap. Berlembar-lembar cerita dalam buku yang dipapaskan ibunya dengan penuh kesabaran, kerap hidup dan muncul bertamu dalam malam-malamnya yang sendirian. Malam-malam gelap yang seperti di dalam hutan. Ia takut. Tapi terkadang juga menumbuhkan kerinduannya dengan wangi segar aroma pepohonan.

Juga tentang kehidupan lautan dan pegunungan. Keseharian para nelayan ketika berburu ikan, atau keseharian para petani merawat sayur mayur, hingga kemudian semuanya bertemu di pasar. Pasar adalah tempat ajaib yang mempertemukan segala macam benda yang memiliki segala macam kisah. Dari ikan-ikan sampai kerupuk, dari periuk sampai lidi. Tapi konon pasar juga merupakan tempat yang buruk. Tempat mulut tak lagi dijaga, hingga kadang berubah liar tak terkendali.

Semua bayangan tentang semua itu kemudian menjadi mimpi-mimpi yang menakjubkan. Ia merasa seperti liliput di sebuah dunia maha luas yang takkan pernah habis dijelajahi. Karena itulah malam yang membawakan gemintang di sesela lubang jendela adalah waktu yang amat ia tunggu.

***

Suatu ketika ia pernah tergoda untuk melihat semua kehidupan itu secara nyata. Ia memohon kepada sang ibu. Semula perempuan itu menolak. Setengah mati menolak. Entah lantaran apa. Tapi ia benar-benar memohon. Atas nama mata dan kebahagiaan agar ia bisa benar-benar melihat dan membaui kehidupan nyata yang tak hanya sekadar dari cerita. Hingga perempuan itu pun akhirnya luluh.

Itu pertama kalinya ia mendengar kicau burung, menghirup hawa sejuk pepohonan, merasai kerasnya bebatuan, mendengar bisingnya kehidupan, dan puncaknya melihat orang-orangtentu saja selain ibunya.

Ada banyak pertanyaan yang kemudian berdatangan ke dalam kepalanya.

“Jadi, kehidupan nyata hanya berisi orang-orang yang bekerja ya, Bu?”

“Jadi, kaki dan tangan diciptakan agar orang-orang bisa bekerja ya, Bu?”

“Jadi, aku diciptakan tidak untuk bekerja ya, Bu?”

“Lalu, aku diciptakan untuk apa, Bu?”

Langkah ibunya tersendat-sendat oleh rentetan pertanyaan itu. Tanpa alasan yang jelas, perempuan itu bahkan gegas kembali pulang meski ia belum ingin pulang. Ia dikembalikan ke dunia yang sempit itu lagi. Sebuah kamar remang yang hanya memiliki sebuah jendela untuk mengintip taburan gemintang. Perempuan itu seolah tak peduli dengan anaknya lagi. Hingga kemudian ia tahu, ibunya menyingkir karena ingin membuang tangis.

“Apa yang ibu tangisi?” tanyanya lagi, suatu ketika. Tapi ibunya hanya menjawab dengan senyum. Sebuah jawaban yang tak ia mengerti. Bagaimana senyum bisa lahir dari tangis?

Ia lalu menerka-nerka jawabannya sendiri. Ibunya menangis mungkin lantaran ia yang tak bisa ikut bekerja. Ia pernah usul untuk ikut menunggui toko di ruang depan. Tapi lagi-lagi ibunya melarang. Mungkin ibunya menangis lantaran repot sendirian mengurus dirinya yang hanya bisa makan, tidur, dan ngomong ngalor ngidul tanpa guna. Konon ayahnya sudah meninggal bertahun silam. Meski kematian itu agak aneh lantaran ibunya tak pernah cerita tentang kubur suaminya.

Pertanyaan-pertanyaan yang berdesakan itu kadangkala membuat dadanya terasa sesak hingga mengeluarkan air mata. Kemudian ia tahu apa itu yang dinamakan kesedihan. Dan ia tidak menyukai kesedihan. Ia selalu berusaha lari dari segala hal yang menyebabkan sedih. Dan bintang yang terlihat di jendela itu hampir selalu menjadi penyelamatnya.

Bintang-bintang itu, entah bagaimana bisa membebaskannya dari raganya yang tak bisa ke mana-mana. Raga yang selalu hanya merepotkan sang ibu; setiap hari memandikan, menyuapi, memotong kuku-kukunya, bahkan untuk sekadar membetulkan selimut.

“Kenapa Ibu tak membuangku saja? Bukankah aku selalu hanya merepotkan?” pernah suatu ketika kesedihan mendesakkan pertanyaan itu.

Jari telunjuk ibunya spontan parker ke mulutnya. “Nak, kau darah dagingku. Bagaimana Ibu bisa membuang darah daging sendiri? Ibu akan mati jika hidup tanpa darah dan daging.”

“Tapi…”

“Nak, janganlah berpikir yang macam-macam. Pikirkanlah sesuatu yang dapat membahagiakan dirimu saja. Sebab itu juga akan membahagiakan Ibu.”

Berhari-hari kalimat ibunya itu bersitegang dengan pikiran-pikiran buruk dalam kepalanya. Sehingga membuatnya sering merasa lelah, merasa sampah, merasa debu, dan hilang dari laju waktu. Hingga akhirnya membuatnya menyerah, dan lalu diserahkannya bulat-bulat dirinya pada apa pun yang ingin menelannya.

Pada kesedihan, dibiarkannya perasaan itu mencabik-cabik hatinya hingga lumat. Pada kesendirian, dibiarkannya kesunyian melilitnya kencang. Bukankah pada mulanya keberangkatan ini memang sendirian? Sesampainya di tujuan juga akan sendirian. Jadi, mengapa mesti sungkan mengakrabi kesendirian?

Hingga suatu ketika, ia pun menemukan kerlip gemintang di sesela lubang jendela itu. Dan bilah-bilah cahaya yang memasuki kamarnya. Sesuatu yang sering ia anggap sebagai sebuah tangan yang terjulur kepadanya. Dan ia menerima uluran tangan itu. Dengan segenap suka cita. Dengan segala kepasrahan. Sebanyak yang ia simpan dalam umurnya yang sudah tiga puluh tiga. (*)

 

 

Kalinyamatan-Jepara 2015

Adi Zam Zam lahir Jepara 1 Januari 1982. Karyanya antara lain dimuat di sejumlah media di Indonesia. Kumpulan cerpen antara lain Sebuah Kata Rahasia (2010), Membunuh Impian cerpen pilihan Annida-online (2011), Tahun Tahun Penjara Antologi Cerpen Joglo 12 -Taman Budaya Jawa Tengah (2012) dan beberapa lainnya.

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: