Cerpen Faisal Oddang (Koran Tempo, 19-20 Maret 2016)

Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku ilustrasi Munzir Fadly
Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku ilustrasi Munzir Fadly

“BAGAIMANA cara mereka memotong lidahmu?”

Bagaimana caranya kau tahu aku di sini? Setelah berpuluh tahun menghilang, kau muncul dengan pertanyaan yang memaksa air mataku jatuh lagi, memaksaku mengenang tahun enam-lima yang memerihkan itu, ketika aku dan kau keluar masuk hutan demi bertahan hidup. Demi pengabdian kepada Dewata sebagai bissu yang suci. Sial, kita diburu karena dianggap mengkhianati Tuhan. Bukankah Dewata juga Tuhan? Lantas, adakah yang lebih setia dari bissu? Lebih hina mana: berpaling dari Tuhan atau dari negara? Kau tentu tak mendengarku, Upe. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi bicara, dan memang orang yang tidak punya lidah tidak bisa bicara, hanya bisa hidup dan menangis, kendati tidak sekali pun menyesali masa lalu.

Aku tidak menjawabmu dengan bahasa selain air mata yang menetes dan punggung yang terguncang. Aku merasa kau khianati, kau lukai, sekali lagi dengan pertanyaan itu. Kau merapat ke simpuhku, memelukku dan ikut menimpalkan tangisan. Pelukanmu itu, sengaja atau tidak, kini membawaku ke masa silam: bangkai-bangkai manusia teronggok di tubir sungai, anyir darah yang membikin perut mual, aroma daging terbakar, dan tentu saja asap mengepul dari rumah-rumah perusuh. Ya, perusuh. Orang merah, kata mereka. Tapi aku tidak percaya mereka.

“Bukankah Dewata mengharamkan siapa saja yang melukai kulit para bissu?” ulangmu dalam pelukan, dan suaramu lesap oleh isakanku.

Ada yang sampai hari ini tidak pernah kau tahu. Atau kau pura-pura tidak tahu?

 

AKU harus menahan isak untuk mengingatnya. Dewata berkunjung. Angin seperti memiuh menyingkap tingkap atap bola arajang, rumah suci tempat menyimpan pusaka serta mendekatkan diri dengan Dewata. Ia akan datang, mungkin besok. Begitu kata Puang Matua Rakka, tetuah sekaligus pimpinan kami. Aku tahu ia yang dia maksud adalah kau. Kami menyiapkan penyambutan untukmu. Sederhana saja, hanya doa-doa dan nasi ketan aneka warna, juga dupa yang tidak berhenti mengepul dari pusat rumah panggung yang beratap alang-alang kering dan berdinding anyaman batang nipah.

Tetapi, kenapa harus kau, Upe? Kenapa Dewata memilihmu menjadi bissu pula? Ada yang mengoyak dadaku. Sesak. Gamang, antara sedih dan senang. Dulu, sebelum jatuh sakit dan berkali-kali didatangi sosok (entah lelaki, entah perempuan) yang dibanjur cahaya seluruh tubuhnya, aku harus mengakui, aku mencintaimu. Tetapi, kau lelaki dan aku jatuh sakit sebelum sempat mengungkapkannya—walaupun sungguh tabu mengakui hal ini. Seperti yang kau tahu, ketika sembuh aku diangkat menjadi bissu, menjadi orang suci yang tidak akan berdarah: baja tak akan mampu menembus kulitku dan aku tidak mungkin datang bulan, sekemayu apa pun tingkahku. Aku dilantik, dan tulah telah menunggu bagi bissu yang jatuh cinta. Aku masih mencintaimu waktu itu.

Kau benar-benar datang, matamu cerlang dan berkali-kali kucoba melarikan pandangan darimu. Aku takut rasa itu mendesak ke permukaan, aku menghindarinya. Tanganku bergetar ketika melingkarkan kafan ke tubuhmu. Kau telah siap irebba, sebagai wujud serahterima ke-bissu-anmu dengan Dewata. Seminggu sebelumnya, kau tentu telah berpuasa tujuh hari tujuh malam dan bernazar untuk setia di hari terakhirmu.

“Kau siap?” tanyaku tanpa menatap matamu, aku menghindar dari perasaanku. Tabu bagi lelaki yang mencintai lelaki. Apalagi aku bukan orang biasa sekarang, lebih dari tabu jika bissu saling mencintai. Tetapi, perasaan ini selalu mendesak hendak keluar. Menyeruak.

Beberapa jenak setelah mengangguk, kafan telah utuh melingkupi badan kecuali wajahmu. Puang Matua Rakka mendekat, ia membisikkan sesuatu ke telingamu. Itu mantra basa to rilangiq, bahasa langit yang hanya mampu dimengerti oleh bissu dan Dewata.

Beberapa hari lagi, setelah sempurna ke-bissu-anmu, sudah pasti aku kehilangan kau sebagai lelaki yang kucintai, kendati tidak pasti aku kehilangan cinta juga. Seandainya kau tak ada di ujung telunjuk takdir sebagai penerus yang akan merawat bola arajang. Seandainya. Aku masih bisa berharap hidup bersamamu, aku tetap sebagai bissu, kau tetap menjadi lelaki biasa yang kemayu. Jika saja itu terjadi, maukah kau jadi To Boto, Upe? Saban waktu menyiapkan sajen untuk upacara adat, dan menjadi teman hidupku yang kucintai? Maukah? Tak pernah kutanyakan itu. Air telanjur terbanjur ke dalam minyak, terlambat. Kau mendekam di dalam loteng, kau serupa mayat, telentang disaput kafan. Dan memang begitulah seharusnya. Kau tidak boleh melakukan apa pun kecuali bernapas. Guci bertuah kugantung di atasmu dengan air yang terus beriak di dalamnya. Kelak di hari terakhir guci itu akan dipecahkan sebagai wujud penerimaanmu.

“Bencong! Pergi kau, main di dapur saja, tak cocok kau main bola sama kami.”

Aku mengenangnya, umpatan dan cibiran macam itulah yang membuat kita dekat. Kau tak punya teman main semasa kecilmu. Begitu pula aku. Bencong! Begitu teman sebaya mengumpati kita, kau pasti segera berlari dengan air mata berderai, mengangsur langkah ke arahku. Aku akan menimpali tangisanmu. Sebab kita sama, Upe, aku merasakannya juga. Tetapi, kini semuanya berbeda, orang-orang akan menunduk, berlaku hormat dan membumbung segan kepada kita. Di Tanah Bugis ini, tak ada yang berani menghujat bissu. Kita hanya butuh meludah untuk menghilangkan kemaluan mereka seperti mengebiri anjing. Dewata ada di setiap tarik-embus napas kita, Upe, percayalah!

 

“BAGAIMANA cara mereka memotong lidahmu?”

Kau masih menanyakannya, pundakku goyah oleh tanganmu. Kita lerai dari pelukan, kulihat air mata telah kering, menyisakan lurik di sepasang pipimu.

Hari pertama kau menjadi bissu. Bersama Puang Matua Rakka, kita ke rumah Tuah Kampung, akan digelar upacara penyambutan untukmu. Daging kerbau dimasak dalam kuali raksasa, berpeluh-peluh orang-orang itu memikul hasil bumi. Penyambung lidah dengan Dewata bertambah lagi, pikir mereka. Kita tampil berdua di muka khalayak. Dengan pakaian kebesaran bissu: kain sutra rupa warna meliliti kita, mahkota berbentuk tanduk kerbau juga dari sutra. Di pinggang kita tertancap pongah badik bertuah yang kelak kita gunakan menusuk batang leher, dan menyayat pergelangan sambil menari bersijingkat mengikuti dendang gendang ketika memeragakan maggiri. Perasaan itu kembali meletup, kututup serapat mungkin, aku harus berpayah-payah, aku takut tulah.

“Asu!”

“Orang merah!”

Kita baru berdoa kepada Dewata agar maggiri dilancarkan, gendang baru saja ditabuh ketika suaranya tiba-tiba hilang ditelan letusan dan bentakan yang entah dari mana. Baru ketika mataku awas ke sekeliling kulihat sepasukan tentara, menyentak-entak berjalan dengan wajah penuh amarah.

“Lari!” kuseru kau dan Puang Matua Rakka. Kalian berdua hanya bergeming. Aku mengingat dua bulan sebelumnya, saat Daeng Aso, guru sekolah di kampung sebelah, dicegat oleh beberapa orang: perusuh kau, orang merah, asu! Aku mendengar jelas umpatan itu. Orang merah, orang merah. Begitu mereka menyebut komunis. Tidak ada yang berani menolong ketika ia diseret dan dilempar ke mobil bak terbuka, istrinya menangis sejadi-jadinya. Malam hari setelah kejadian itu, rumahnya dibakar entah oleh siapa. Hari-hari berikutnya, dari kampung Daeng Aso, santer kabar orang-orang yang dibakar hidup-hidup, ditenggelamkan dan… ah, aku bergidik mengingatnya. Mereka yang tidak ingin mengaku orang-merah, dikuliti.

Kita benar-benar berlari. Napasmu megap-megap. Aku masih kuat. Kita menyusuri pinggir Sungai Segeri. Berlari entah akan ke mana. Yang penting kita selamat dulu, Upe, kataku tanpa memelankan langkah. Kata-kataku diterbangkan angin. Kau terus berlari, wajahmu pasi. Masih jelas di kepalaku saat Puang Matua Rakka diseret dan ratusan warga yang berkerumun tidak mampu berbuat apa-apa.

“Kampung ini aman,” kata salah seorang tentara dengan suara serak yang menakutkan. “Tapi…,” ia menggantung sejenak, kepalanya awas ke orang-orang, ada yang ia cari, “kecuali bissu. Mereka orang merah yang menistakan Tuhan.” Itu mengejutkan seperti duri yang tiba-tiba menusuk kakiku dulu ketika berjalan di pematang sawah. Kita telah menjauh dari kerumunan, di balik pohon asam yang lebih besar dari badan kita berdua, kulihat Puang Matua Rakka diseret, mirip seperti yang dialami Daeng Aso. Air mataku jatuh, kau menatapku pasi, kita lantas berlari memunggungi asap yang membubung, yang kutahu dari arah bola arajang.

Kita menyusuri Sungai Segeri hingga malam seperti mengulam alam. Kelam. Kita tidak membawa perlengkapan apa-apa kecuali pakaian adat dan tubuh yang mulai lemah. Aku terus berdoa, Dewata pasti mendengar.

“Kita menginap di sini saja,” anjurku.

“Kita lari saja terus,” kau menyanggah, masih dengan napas yang terengah.

“Tidak, Upe, kau tahukah kita akan ke mana?”

“Ke Wajo, Bone, atau Soppeng, atau ke mana saja yang ada bissu, mereka pasti mau menampung kita.”

“Butuh seminggu berlari, dan…,” Aku tidak kuat, dadaku seperti dirumpang sesuatu yang membuatku lagi-lagi tidak mampu menahan air mata.

“Dan?” Wajahmu bingung, aku mengerti, kau belum tahu bahwa seminggu sebelumnya, mereka, para bissu di kabupaten lain telah lebih dulu dibunuh. Puang Matua Mammu, pemimpin bissu di Wajo, ditangkap, dan menurut cerita Puang Matua Rakka, kawan karibnya itu diikat pada batu besar lalu ditenggelamkan di Danau Tempe. Aku tidak habis pikir, Tuhan mana yang kami nistakan? Aku berdoa lagi kepada Dewata. Kau diam, aku tahu kau lelah, kita tidur di gubuk yang tidak jauh menjorok ke dalam hutan. Dalam keadaan seperti ini, tetap saja aku tidak bisa menampik perasaanku. Kucium keningmu. Aku mencintaimu, bisikku, sebelum akhirnya ikut terlelap dan meringkuk, di sampingmu. Dini hari, kau pamit dan berjanji akan kembali saat siang. Saya mau ambil makanan atau minta bantuan sama kerabat, dia di seberang sungai, katamu. Aku mengiyakan dan kembali tertidur, mungkin terlalu lelah, aku kembali lelap.

Sejak saat itu, kita benar-benar terpisah dan aku masih mencintaimu hingga tiba hari ini: kau muncul dengan pertanyaan yang bisa saja kau tahu jawabannya. Yang datang pada siang itu bukan kau, melainkan mereka yang sesukanya mengumpatiku dengan nama-nama binatang. Aku berpikir kau telah lebih dulu ditangkap. Mungkin dicegat di tengah jalan. Atau tubuhmu sudah menyatu dengan batu dan dasar Sungai Segeri. Bukan keselamatanku yang kupikirkan ketika berkali-kali mereka mengiris wajahku dengan silet dan tak mempan, bukan diriku, melainkan kau yang memenuhi kepalaku.

 

AKU melihat matamu masih diliputi pertanyaan. Aku ingin menjawabnya. Tapi, bagaimana? Aku tidak punya lidah setelah aku dibawa ke tempat ini. Karena Dewata masih ada pada tarik-embus napasku, tak sedikit pun peluru, silet atau pisau dari mereka mampu menggoresku. Tapi….

“Kau tidak bisa lagi membaca mantra, Asu!” Mereka lantas tergelak dengan tangan yang memerah darah dan bilah bambu yang baru saja mencampakkan lidahku. Kepalaku pusing, mulutku anyir, kulihat sosok yang dibanjur cahaya.

Kau mengguncang pundakku, aku buru-buru menyeka air mata dan merapikan kembali ingatanku.

“Pakailah,” katamu setelah merogoh saku jaket dan mengeluarkan amplop berwarna cokelat. “Gunakan buat hidup kalau nanti masa tahananmu sudah habis. Jadi mantan tapol itu susah berbuat apa pun.”

Aku diam, melongo dan bertanya dalam hati, ini apa?

“Ini sebagian gaji selama kerja jadi kurir sama bantu-bantu sipir di sini. Simpanlah!”

Leherku tercekat mendengarnya. Kau berlalu setelah menepuk pundakku, langkahmu masih kemayu ditelan tembok penjara. Amplop itu sama sekali tidak kusentuh, dadaku nyeri, perih. Aku tidak mau menyentuhnya. Aku semakin yakin, kau yang menunjukkan tempat kita bersembunyi waktu itu.

Tetapi aku masih mencintaimu, Upe. (*)

 

 

Faisal Oddang, tengah menempuh studi sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin, Makassar. Novelnya, Puya ke Puya (2015).

 

Advertisements